Minggu, 20 April 2014 - 19 Jumadil Akhir 1435 H 22:52:23 WIB
TERAS UTAMA

Tabayyun tentang Pesantren Ramadhan

Oleh : DUSKI SAMAD

Ketua Dewan Masjid Indonesia Kota Padang

Padang Ekspres • Minggu, 31/07/2011 10:32 WIB • 624 klik

Duski-Samad

Tajuk Rencana Harian Padang Ekspres Jumat, 29 Juli 2011, di bawah judul ”Menyoal Pesantren Ramadhan” patut diberikan tabayyun  (penjelasan) agar masyarakat mendapat informasi berimbang. Pernyataan awal isi tajuk rencana itu..... sebagai evaluasi tentu berbagai pertanyaan tidak salah dimunculkan, adalah merupakan bentuk kepedulian dan perhatian tentang perlunya penyempurnaan pelaksanaan pesantren Ramadhan dari tahun ke tahunnya.


Memang, akhir-akhir ini masyarakat dikecewakan oleh perilaku menyimpang segelintir pelajar—tentu mereka ada yang alumni pesantren Ramadhan—tawuran pelajar, narkoba, kebut-kebutan dan sebagainya, keadaan seperti ini tentu tidaklah patut digeneralisir bahwa pesantren Ramadhan tidak memberikan kesan berarti bagi pelajar Padang. Begitunya penamaan program ini dengan menyebutkan kata pesantren bila dikaitkan dengan wadah pendidikan masa lalu dan tokoh yang dilahirkan—sebutlah misalnya Buya Hamka—ia tidak alumni pesantren, rasanya juga tidak begitu penting untuk didiskusi saat ini, karena tantangan zaman dulu belum tentu sama dengan kondisi hari ini.


Patut disampaikan mengapa pesantren Ramadhan itu tetap penting dan mendapat apresiasi dan bahkan didorong oleh Gubernur Sumatera Barat  Irwan Prayitno yang juga tokoh pendidikan agar dilaksanakan di kabupaten/ kota, karena banyak manfaatnya yang sudah dirasakan orangtua dan masyarakat Padang. Gerakan massal memindahkan belajar anak-anak dari sekolah ke masjid dan mushala selama bulan Ramadhan ini hendaknya dipahami secara menyeluruh dan dari berbagai sudut pandang pendidikan, sosial, budaya, etika, kemasyarakatan dan pembiasaan pengalaman agama.


Mencermatinya dari sisi pembelajaran agama an-sich, jelas titik lemahnya mudah sekali menunjukkan, karena di masjid dan mushala sarana dan media pembelajaran sangat terbatas. Akan tetapi, bila dicermati dari sisi pembiasaan ibadah, penumbuhan emosi keagamaan anak—misalnya cinta masjid—keterlibatan guru dan tenaga kependidikan mengawasi anak-anak di masjid, keikutsertaan tokoh masyarakat dan warga lingkungan masjid adalah aset sosial keagamaan yang mahal dan berharga sekali.      


Begitu juga jika diikuti pembahasan para pakar dan pemerhati pendidikan dalam berbagai kegiatan ilmiah, hampir sama koornya bahwa sistem pendidikan formal yang ada sekarang dalam realitasnya dirasakan kurang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mendapat kesempatan belajar agama dan moral, karena terbatasnya jam pelajaran agama di SD, SMP, SMA/SMK. Begitu juga di jalur pendidikan informal—pendidikan di rumah tangga dan lingkungan—juga diduga tidak cukup kuat memberikan bekal pendidikan agama dan akhlak kepada anak-anak didik, khususnya di masyarakat perkotaan.


Sisi lain yang juga cukup mendapat sorotan adalah terbatasnya tempat dan waktu sosialisasi antaranak didik dalam lingkungan tempat tinggal mereka. Kesibukan hidup di perkotaan dan padatnya waktu anak-anak belajar di sekolah dan mengikuti kursus-kursus menyebabkan mereka sering kurang mengenal satu dengan lainnya dalam satu kawasan pemukiman.


Realitas sebagaimana disebutkan di atas, ditambah dengan kesadaran akan pentingnya pendidikan agama dan pembiasaan akhlak mulia, serta pembiasaan untuk mencintai rumah ibadah sejak dini menjadi dasar yang kuat perlunya dilakukan pesantren Ramadhan bagi murid kelas IV s/d kelas VI SD, murid-murid SMP/MTs, SMA/MA dan SMK di Padang.  


Pemko Padang di bawah kepemimpinan Fauzi Bahar dengan berani mempelopori pelaksanaan pesantren Ramadhan dengan agenda memindahkan sekolah ke masjid. Keseriusan Pemko diawali dengan lahirnya Instruksi Wali Kota Padang No.451.3022/BINSOS-IX/2004 tertanggal 6 September 2004 yang secara tegas memerintahkan pelaksanaan pesantren Ramadhan bagi siswa di Padang. Implementasi dari Instruksi Wali Kota Padang tersebut dilakukan Dinas Pendidikan Padang dan Kementerian Agama Padang bersama-sama organisasi sosial keagamaan di tingkat Padang dengan mengalang kerja sama. Sebagai mitra utama disepakati bahwa pesantren Ramadhan Kota Padang dilakukan atas kerja sama Pemko Padang dengan Dewan Masjid Indonesia (DMI) Padang, sebagaimana dituangkan dalam surat DMI No.11/DMI/1425/2004 tanggal 30 November 2004, yang memang sejak awal aktif dan proaktif menawarkan program dan mendorong Pemko Padang untuk melakukan program pesantren Ramadhan ini.


Keterlibatan Dewan Masjid Indonesia Padang sudah berlangsung dalam dua periode kepemimpinan. Hal ini dapat dilihat dari penandatangan sertifikat pesantren Ramadhan tahun 2004 dan 2006 oleh Wali Kota Padang bersama Irsyam Idroes selaku Ketua Umum DMI Padang. Sejak  2006 sampai 2010 sertifikat ditandatangani Fauzi Bahar bersama Duski Samad, Ketua Umum DMI Padang dan begitu juga di 2011 ini.      


Pihak penyelenggara pesantren Ramadhan terus-menerus menyempurnakan pelaksanaan pesantren Ramadhan sebagai wadah penciptaan anak didik yang berkarakter Islami dan berakhlak mulia, hal ini ditunjukkan dengan upaya serius melibatkan semua pihak. Panduan tentang pesantren Ramadhan pertama kali—tahun 2004—dibuat Pusat Penelitian IAIN Imam Bonjol Padang. Kemudian dilakukan review dan perbaikan setiap tahunnya. Memasuki 2009, pelaksanaan pesantren diarahkan pada penguatan hafalan ayat-ayat pendek dan hafalan asmaul husna, kini sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat hampir semua anak SD sudah hafal ayat pendek juz terakhir. Tahun 2010 pelaksanaan pesantren Ramadhan diperkuat lagi dengan disediakan Rencana  Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) bagi semua tingkatan. Memasuki tahun 2011 ini pembelajaran dimantapkan lagi dengan disediakan bahan ajar, yang diharapkan guru pengajar lebih maksimal dalam mencapai tujuan pendidikan.


Dari sisi manajemen dan sarana pendukung setiap tahunnya pesantren Ramadhan mendapat alokasi anggaran dan manajemen yang terukur oleh Pemko Padang melalui bagian Kesra. Bantuan berupa pembiayaan uang sejumlah Rp1.000.000 setiap masjid dan mushala, monitoring, pemberian hadiah bagi pelaksana terbaik di tingkat kelurahan, kecamatan dan kota, pemberian sertifikat bagi anak didik, guru, pengasuh dan panitia terus diberikan setiap tahunnya.


Setelah tujuh kali—2004 sampai 2010—pelaksanaan pesantren Ramadhan di Padang, dengan segala kekurangan dan kelebihanya dapat dikatakan plusnya jauh melebihi minusnya. Ketika pendidikan berkarakter menjadikan perbincangan hangat sejak tahun 2010 lalu, ternyata Padang sudah memulainya tujuh tahun yang lalu. Pesantren Ramadhan dapat dikatakan sebagai pendidikan berkarakter, karena pelaksanaannya disamping memberikan penguatan kognitif keagamaan, tetapi juga menekankan pada pembentukan sikap (afektif) melalui shalat berjamaah, sosialisasi antarteman sebaya, membiasakan duduk belajar di masjid dan mushala. Pendidikan berkarakter melalui pesantren Ramadhan juga dapat ditemukan dari keterlibatan semua pihak dalam penyelenggaraannya, guru sekolah, mubalig, ustad, RT, RW, lurah, orangtua, tokoh masyarakat, pengurus masjid dan mushala. Ini semua secara tidak langsung memberikan kesan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab semua komponen masyarakat.


Pesantren Ramadhan selama tujuh tahun terakhir di Padang telah dengan nyata melahirkan suasana dan nuansa keberagamaan yang baik di tengah masyarakat. Ramainya rumah ibadah siang dan malam, meriahnya suara merdu anak-anak mengaji dan menghafal ayat Allah di masjid dan mushala, aktifnya remaja masjid, tumbuhnya partisipasi masyarakat untuk membantu biaya pelaksanaan pesantren Ramadhan dan kegiatan lainnya adalah modal sosial yang sarat makna dan berguna untuk pengamanan jaringan sosial.


Akhirnya, kami menyadari bahwa program tahunan pesantren Ramadhan perlu terus disempurnakan, guna mendapatkan hasil yang lebih baik bagi masa depan anak bangsa. Program multilintas ini dirasakan akan sangat besar manfaatnya bila masyarakat Sumatera Barat dapat melakukannya, karena filosofi Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah tidak mungkin dapat terwujud tanpa ada pembiasaan keberagamaan yang baik. Menjadikan pesantren Ramadhan sebagai salah satu alternatif pendidikan penguatan pendidikan agama adalah pilihan bijak yang patut dipertimbangkan dan dikembangkan terus menerus, untuk masa depan  anak bangsa. (*)

[ Red/Redaksi_ILS ]

Komentar Teras Utama


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!