Jum'at, 25 April 2014 - 24 Jumadil Akhir 1435 H 14:38:55 WIB
OPINI

Padang Kota Kata

Oleh : Esha Tegar Putra

engajar di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Bung Hatta

Padang Ekspres • Jumat, 20/09/2013 11:55 WIB • 2515 klik

Dublin adalah salah satu kota impian kesusastraan dunia. Ibu kota Republik Irlandia tersebut hadir, dimunculkan, dan ditasbihkan untuk menjadi salah satu tujuan berkunjung bagi peminat kesusastraan. Beberapa penulis karya sastra besar seperti Oscar Wilde, James Joyce, dan Jonathan Swift sengaja ditera menjadi ikon kota tersebut. Setidaknya hingga kini empat hadiah Nobel Sastra dari Akademi Swedia diterima oleh beberapa penulis diaspora atau berhubungan langsung dengan Dublin, Irlandia secara umum: George Bernard Shaw, WB Yeats dan Seamus Heaney, dan Samuel Beckett.

 

Tak ayal, Dublin dinobatkan se­b­a­gai Kota Sastra (City of Literature) oleh UNESCO pada tahun 2010 setelah kota Edinburgh (Skotlandia) pada 2004, Melbourne (Australia) pada 2008, Iowa (Amerika Serikat) pada 2008, dan me­nyusul setelahnya Reykjavik (Is­lan­dia) pada 2011dan terakhir Norwich (Inggris) pada 2012.

 

Dalam situs resminya Dublin City of Literature membanggakan kota tersebut mempunyai iven kesusastraan bergengsi di dunia, yakni IMPAC Dublin Literary Award. Sebuah ajang pemberian penghargaan bagi penulis dari negara manapun di dunia.Ajang bergengsi tersebut diorganisir oleh perpustakaan-perpustakaan di Kota Dublin dan didukung penuh oleh dewan kota mereka. Terakhir (2013) salah seorang penulis berdarah Ir­land­ia­, Kevin Barry melalui novelnya City of Bohane, meraih award tersebut sebesar 100.000 Euro (Rp1,5 miliar). Penulis tersohor Orhan Pamuk asal Turki,yang pernah mendapat peng­hargaan Nobel Sastra 2006 melalui novelnya My Name is Red, sebelumnya juga pernah mendapat penghargaan dari IMPAC Dublin Literary Award melalui novel yang sama tiga tahun sebelumnya.

 

Dublin dengan bangga menye­but­kan bahwa kota mereka adalah rumah bagi beragam lembaga kebudayaan, termasuk Perpustakaan Nasional, Galeri Nasional, Teater Nasional, Musium Penulis Dublin. Kota tersebut benar-benar berusaha membuat warga dunia yang berkunjung bisa meresapi warisan sastra mereka.

 

Untuk memacu gairah kepenulisan di Dublin, dewan kota mengambil kebijakan peng­ha­pu­san pajak bagi karya-karya penulis yang terbit, mem­berikan beasiswa, lembaga se­mi­sal­dewan kesenian memberikan anuitas (pembayaran tetap) selama lima tahun bagi penulis mereka yang ingin terus­melakukan riset dalam berkarya. Media cetak dan komisi penyiaran mereka aktif dalam mem­pro­mosikan kehi­dupan sastra dan budaya mereka.

 

Universitas Dublin selaku istitusi pen­didikan negeri ikut me­nye­ma­rak­kan penerbitan-penerbitan buku, meng­koneksikan antara pelaku dan lem­baga budaya di segala tingkat, melakukan riset terhadap per­kem­bangan sastra-seni-dan budaya kon­tem­porer, dan dengan itu mereka memunculkan citraan kuat sebagai kota sastra dunia. Satu hal lain yang dibanggakan Dublin, tiga jembatan dibangun di atas sungai yang mem­ben­tang di kota tersebut mereka terakan nama tigasastrawan tersohor dunia kelahiran atau diaspora Dublin: Jem­ba­tan James Joyce, Jembatan Sean O’Casey, dan Jembatan Samuel Bec­kett.

 

Kebanggaan Dublin atas pem­bu­kaan akses ruang publik untuk tujuan ke­susastraan tersebut juga dengan gagah digaungkan kota Edinburgh (Skotlandia).Dalam situs resminya se­bagai Kota Sastra, mereka menulis: “Kami sangat berbahagia, kini taman di sekitaran St Andrew Square telah dibuka bagi masyarakat umum untuk pertama kalinya setelah kurun waktu kurang-lebih 230 tahun. Ruang ini sedang dikembangkan sebagai ruang publik untuk merayakan puisi di Kota Sastra… serta untuk Hari Puisi Na­sio­nal.”

 

Kampanye Literarsi

 

Referensi tentang Dublin, Edin­burgh, Melbourne, Iowa, Reykjavik, dan Norwich yang tergabung dalam jaringan City of Literature UNESCO adalah catatan pembuka tentang kam­panye literasi Padang Kota Kata. Wacana ini muncul dari ide beberapa orang akademisi, sastrawan, seniman dan budayawan di Kota Padang. Pem­baca tentu akan menyangkal bahwa kota-kota besar sastra tersebut hanya Utopia belaka jika dibandingkan de­ngan Kota Padang.

 

Tapi ini bukan soal mem­ban­ding­kan, lebih pada strategi penduduk kota yang peduli terhadap keberlanjutan kota melalui misi kebudayaan: kota yang mempunyai tujuan. Strategi ini mungkin akan jadi acuan bagi pe­mang­ku dan dewan kota dalam upaya me­mun­culkan karakteristik kota. Ter­ma­suk membaca persoalan kota lewat jalur kebudayaan.

 

Ide Padang Kota Kata tersebut sempat dibacakan Sudarmoko, aka­de­misi dari Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas, saat agenda Sahur Puisi—perayaan Hari Puisi—di Ladang Nan Jombang beberapa waktu lalu. Padang Kota Kata tak jauh berbeda dengan kampanye literasi yang di­wa­ca­nakan di kota-kota yang tergabung dalam City of Literature. Padang Kota Kata, sebut Sudarmoko, secara garis besar adalah kampanye literasi dan seni budaya, menuju Kota Padang yang memiliki sejarah panjang ke­su­sas­te­raan. Usaha untuk mengumpulkan karya-karya sastra yang pernah ditulis oleh para pengarang Sumatera Barat secara luas. Menumbuhkan apresiasi dan gerakan sastra sehingga men­ja­dikan Kota Padang sebagai tempat yang nyaman untuk proses kreatif dan kajian-kajian sastra.

 

Termasuk me­nga­dakan berbagai peristiwa sastra, me­nga­jak masyarakat untuk mencintai sastra. Mencipta lingkungan serta pasar-pasar sastra melalui bentuk-bentuk yang diinginkan masyarakat.

 

Bahkan tidak mungkin kampanye lite­rasi ini akan bermuara pada pe­na­waran atau pengajuan agar Padang dapat terhubung terhubung dalam jejaring City of Literaturedi negera lain. Secara spesifik, UNESCO, selaku ba­gian lembaga PBB yang berkonsentrasi terhadap dukungan perdamaian dan keamanan dengan mempromosikan kerjasama antar negara melalui pen­di­dikan, ilmu pengetahuan, serta budaya, telah membuat ketentuan karakteristik bagi kota-kota dunia yang tertarik bergabung dalam City of Literature.

 

Karakteristik tersebut meliputi (1) kualitas dan kuantitas dari ke­be­ra­gaman inisiatif editorial serta lembaga-lembaga atau rumah-rumah pe­ner­bi­tan; (2) kualitas dan kuantitas program kependidikan yang fokus pada ke­sus­as­traan daerah (lokal) atau asing (internasional) mulai dari sekolah dasar, menengah, hingga perguruan ting­gi; (3) lingkungan perkotaan di­ma­na penulisan karya sastra, pertunjukan drama (teater), serta pembacaan-pembacaan puisi memainkan peran secara integral; (4) berpengalaman sebagai tuan rumah menyelenggaraan festival nasional dan internasional dengan tujuan mempromosikan karya-karya sastra nasional dan dunia; (5) perpustakaan, toko-toko buku, dan pusat-pusat lembaga kebudayaan umum serta pribadi didedikasikan untuk pelestarian, promosi dan pe­nyebaran karya-karya sastra nasional dan dunia; (6) uapaya aktif dari sektor pe­nerbitan dalam melakukan pe­ner­jemahan terhadap karya-karya sastra nasional (daerah) dan karya-karya sastra dunia; (7) keterlibatan aktif media-media, baik media baru dalam mempromosikan karya sastra dan kegiatan kesusastraan serta mem­per­kuat pasar untuk produk-produk ke­su­sas­traan.

 

Jika merujuk pada ketentuan ­U­NES­CO, tentu beberapa poin penting sudah dimiliki oleh Kota Padang, dengan kesejarahan kesusastraan yang cukup panjang. Terlebih, Padang selaku pusat dari wilayah administrasi pemerintahan provinsi Sumatera Ba­rat, yang notabenenya didomininasi oleh puak Minangkabau adalah ma­sya­rakat yang tumbuh dan besar dari rahim kata-kata. Merujuk istilah Jane Drakard, peneliti sejarah budaya dan politik Melayu (Sumatera) dari Monash University, Minangkabau merupakanA Kingdom of Word—Minangkabau sebagai sebuah kelompok masyarakat dalam kesejarahannya mampu me­la­ku­kan pertahanan politik dan budaya me­lalui ‘kata-kata’.

 

Budayawan Sumbar, Nasrul Azwar, mengatakan bahwa sesungguhnya Kota Padang mampu untuk memunculkan karakteristik ini ke depannya. Kam­pa­nye literasi Padang Kota Kata me­nu­rut­nya harus menjadi tawaran baru bagi pe­mangku kota dan dewan kota; Pa­dang dengan perpustakaan yang di­ke­lo­la oleh pemerintah atau secara in­de­pen­den di berisikan buku-buku karya pe­nulis dari beragam penjuru dunia; Padang dengan menyemarakkan ke­gia­tan penerjemahan karya-karya penulis da­e­rah ke berbagai bahasa dan se­ba­lik­nya; Padang dengan iven-iven ke­su­sas­traan nasional dan internasional yang dikelola dengan baik dan bukan se­kedar pelepas tanya; Padang dengan ke­te­rsediaan ruang-ruang publik di­ma­na diskusi dan pembacaan karya sastra diselenggarakan dengan bahagian oleh warga kota; Dan tentu, Padang dengan penghadiran karya-karya kreatif ber­ba­sis sastra yang dapat diambil ke­bai­kan­nya melalui pengembanganannya melalui pasar-pasar ekonomi kreatif.

 

Barangkali pembaca akan mengira penulis hibuk dengan kota utopia belaka. Setidaknya Padang sudah mempunyai bekal untuk mejadikan utopia itu nyata.

 

Padang (atau Sumbar) te­rus me­lahirkan seniman dan sas­tra­wan, komunitas-komunitas sastra dan teater terus berkembang, ruang publik cukup, bahkan beberapa entrepreneur muda di Padang mulai me­ngem­bang­kan pasar-pasar ekonomi kreatif de­ngan basis kesusastraan—sebut saja be­be­rapa distro dan clothing pakaian de­ngan bangga menajak puisi-puisi serta prosa dalam karya kreatif mereka.

 

Saya membayangkan, nantinya, kita juga dengan bangga menyebutkan: “Di Padang, kami punya Jalan Marah Rusli, Jalan Tulis Sutan Sati, Jalan AA Navis (perpustakaannya ada di Unand), Jalan Wisran Hadi, Jembatan Rusli Marzuki Saria, Darman Moenir  Convention Hall, M. Ibrahim Ilyas Theater, Yusrizal KW Library, Taman Khairul Jasmi, dan kami punya iven sastra internasional seperti Sutan Zaili Literary Awar, dst.”Dan semua itu hidup dalam diri masyarakat, tidak cuma fi­sik­nya, tapi gairah hidup ber­ke­bu­da­yaan. (*)

[ Red/Administrator ]

Komentar Opini


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Menunda Akuisisi BTN

MASIH teringat dari layar TV, wajah Budi Gunadi Sadikin semringah sepekan lalu. Kegembiraan bos Bank Mandiri yang baru berumur 40 tahun itu disebabkan terwujudnya impian yang dia idam-idamkan sejak lama. Yakni, mem­bawa bank yang dipimpinnya menjadi salah satu bank yang patut diperhitungkan di kancah ASEAN.

Butuh Listrik

Yth. Bapak kepala PLN...Kapan kampung kami (Kabupaten Pessel, Kecamatan Sutera Kenagarian Koto Nan 3 Selatan) akan dialiri listrik, padahal kampung kami bukan kampung terpencil..kami sekampung sangat berharap perhatian dan tindak lanjut dari bapak. Atas perhtian Bapak kami skmpg mengucapkan terima kasih. Wassalam.

Jumat ,25 April 2014

Perempuan Berpeluang Pimpin DPRD

Agiah lo kesempatan yang baru-baru ko lai.............................!

 

Puluhan Hektare Sawah Terancam Gagal Panen

Jan sampai ndak panen lo Pak, ka kida suok beko...............................!

 

Korban Gigitan Musang Meninggal

Inalilallahi, awak ikuik baduka pak.................................................!