Jum'at, 25 April 2014 - 24 Jumadil Akhir 1435 H 00:31:49 WIB
TAJUK RENCANA

Mandiri Buah dan Sayur

Oleh : REDAKSI

Padang Ekspres • Selasa, 09/04/2013 12:03 WIB • 517 klik

DALAM minggu-minggu ini kebijakan impor hortikultura menjadi sorotan banyak pihak. Mulai pihak internal hingga eksternal. Asosiasi Eksportir Importir Buah dan Sayur Segar Indonesia mendesak otoritas untuk menyederhanakan proses impor. Dari luar negeri, AS mengambil langkah notifikasi dan keberatan kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) atas kebijakan pembatasan impor.

 

Tekanan itu benar-benar menguji pengemban amanah di Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan. Tekanan itu semakin besar ketika maksud baik peraturan menteri untuk melindungi produksi buah dan sayur lokal tersebut berbalik menjadi kritik tajam karena berdampak pada kenaikan harga-harga. Cabai dan bawang memimpin kenaikan.

 

Akhirnya muncul opini bahwa kedua kementerian tidak cakap dalam mengurus supply and demand buah dan sayuran. Bagaimana menyikapi masalah ini? Kebutuhan komoditas hortikultura meningkat seiring kesadaran masyarakat untuk hidup sehat dengan mengonsumsi buah dan sayur yang cukup. Jumlah kelas menengah yang mengonsumsi hortikuktura berkualitas juga meningkat. Secara nasional, per­mintaan buah-buahan tumbuh 12-15 persen per tahun dalam lima tahun terakhir.

 

Konsumsi buah meja untuk rumah tangga men­capai 35-40 persen dari total konsumsi buah-buahan nasional. Di antaranya pisang, jeruk, apel, pepaya, salak, dan pir. Kebutuhan hotel, restoran, dan katering sekitar 20 persen, yang meliputi pepaya, semangka, melon, nanas, dan alpukat. Konsumsi buah untuk industri mencapai 30 persen, seperti untuk industri jus, minuman, dan lain-lain, terutama jeruk, apel, mangga, dan jambu. Konsumsi buah musiman atau eksotik hanya 10 persen, yang meliputi mangga, durian, buah naga, sawo, dan rambutan.

 

Sayang, peluang ini belum diantisipasi pemerintah dan dimanfaatkan secara optimal oleh pengusaha. Komoditas hortikultura nasional dikelola apa adanya, sehingga belum tersedia komoditas berkualitas dan bersaing. Kontinuitasnya belum stabil. Bahkan, biaya distribusike kota-kota besar relatif mahal sehingga daya saingnya rendah. Ini kelemahan hortikultura nasional.

 

Kita seharusnya tak malu belajar dari negeri tetangga, Thailand. Di negeri tersebut hortikultura menjadi daya saing nasional. Turis mancanegara terkesan dengan sajian buah dari Thailand. Bahkan, konsumen Indonesia, tanpa dipaksa, selalu mem­berikan sebutan buah Bangkok, untuk setiap jenis buah yang unggul ukuran dan rasa. Tak peduli buah tersebut berasal dari Indonesia juga sebenarnya.

 

Lihat saja lapak-lapak buah-buahan  baik yang dijual di toko hingga kaki lima, semua diserbu buah impor. Buah-buah lokal terjajah buah bule di negeri sendiri. Keadaan ini tentu saja tak bisa terus-menerus dibiarkan. Sudah saatnya ada langkah komprehensif.

 

Kebijakan menghambat masuknya buah impor harus dibarengi dengan kebijakan peningkatan produktivitas petani lokal, terutama terhadap komo­ditas lokal yang diproteksi. Salah satunya dengan cara membu­didayakan berbagai jenis buah-buahan yang selama ini bergantung pada impor. Pada masa mendatang, diharapkan pemerintah terus konsisten untuk men­jadikan bangsa ini mandiri dalam kebutu­han pangan dan hortikultura. Bila tidak, lansek manih sijunjung dan duku manih dharmasraya yang kini digemari masyarakat Sumbar, bisa tinggal nama karena minimnya kepedulian pemda terkait membu­dida­yakannya.(*)

[ Red/Administrator ]

Komentar Tajuk Rencana


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Kacamata Kuda KPK

KRITIK dan pujian selalu datang bersamaan setiap kali Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat ”kejutan” baru. Termasuk ketika menetapkan mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo sebagai ter­sangka dalam kasus pajak yang terjadi pada 2004.

Belum Terima Elpiji

YTH bapak Wali Kota Padang yang baru. Kami warga RW 6, Guo Kuranji sampai sekarang belum menerima paket gas elpiji 3 Kg. Tolong di percepat karena minyak tanah harganya sudah naik.

Kamis ,24 April 2014

Tunggu SK Mendagri

Lai ndak ka ta undur lo tu Pak, dek KPK lah manyasar Mendagri lo..........!

 

14 Warga Digigit Anjing Gila

Iah gawat mah pak,lai aman Pak..................................................?

 

UN SLTP, Padang Target Jawara

semoga lah pak, asa ndak pakai jimat se.....................................!