Jum'at, 18 April 2014 - 17 Jumadil Akhir 1435 H 09:57:54 WIB
CUCU MAGEK DIRIH

Ramai-ramai jadi Calon Wali Kota Padang

Oleh : H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Padang Ekspres • Minggu, 07/04/2013 06:38 WIB • 1340 klik

H. Sutan Zaili Asril

SEBAGIAN warga Kota Padang dan atau warga Sumatera Barat yang datang ke Padang, mungkin bertanya-tanya menyaksikan ada banyak foto dalam format baliho dipajang di kiri/kanan/tengah (jalur hijau) jalan-jalan di Ibukota Provinsi Sumatera Barat tersebut. Selain itu, foto-foto bentuk headshot (foto kepala) itu dapat dikatakan penuh gaya, karena orang-orang yang memajangkan foto-foto mereka dalam ukuran besar itu tahu benar kalau foto itu dimaksudkan untuk keperluan mejeng (bergaya/penuh aksi/in action). Ada yang cukup dengan wajah kalem—nyaris tanpa senyum, ada yang tagalak sengeang, ada yang bergaya miring—tengah melihat ke mana, dan atau menghadap/memantang. Pokoknya, semua foto-foto itu adalah penampilan wajah dengan penuh gaya dan menarik perhatian bagi yang melihatnya—harapannya pula adalah untuk menimbulkan kesan baik/simpatik.

 

Sangat mungkin, beberapa dari mereka menggunakan jasa kon­sultan gaya atau mantan pera­gawan/peragawati dan atau man­tan Uni/Uda—soal lain kalau ba­yaran tinggi atau biaya badunsanak dan atau konsultannya masih orang dekat/keluarga sendiri. Mereka diharapkan membagi pengalaman tentang bagaimana bergaya di depan kamera—maklum foto ter­baik nanti akan difoto digital uku­ran besar atau baliho, serta akan dipajang di sepanjang jalan atau di perempatan jalan strategis. Me­mang mungkin begitu yang paling aman. Menggunakan jasa kon­sultan ahli/berpngalaman di bi­dangnya. Maklumlah, selain foto-foto itu memang bermasud me­jeng/bergaya dengan penuh aksi/in action, juga ada banyak foto se­rupa—artinya ada persaingan pula di antara foto-foto yang tengah mejeng itu dalam merebut kesan/simpati dari yang melihatnya. Sangat sayang bukan? Kalau tidak bergaya dengan tepat dan benar, nanti bisa menyesal kelak di be­lakang hari nanti?

 

Sebagian dari foto-foto tersebut kebanyakan tanpa alamat/maksud berjelas-jelas—masih disem­bu­nyikan apa maksud/tujuannya. Sebagian dari foto-foto itu sudah agak jelas apa maksudnya. Antara lain karena ada label/lambang partai. Jadi, maksudnya, yang tengah mejeng memberi isyarat, bahwa ia/dia akan bakal menjadi calon anggota legislatif (belum tahu pula, apakah akan menjadi calon anggota DPR-RI dan atau DPRD provinsi/kabupaten/kota dan atau calon anggota DPD-RI—sebab orang dari partai boleh menjadi calon anggota DPD-RI). Ada yang semula belum memberi arah kesan/label, dan baru belakang ini me­nam­bahkan label/logo dari sebuah partai. Lalu, ada banyak foto pula yang masih belum menentukan arah/labelnya, apa maksud foto-foto mereka dalam ukuran besar/baliho dipajang? Ada banyak orang secara spontan menebak, mereka yang foto-fotonya dipajang/tengah mejeng itu kemungkinan calon wali kota (mungkin pula calon wakil wali kota?).  

 

MEMANG, helat atau kenduri besar pemilihan umum kpala dae­rah (Pemilukada/Pilkada) wali kota Padang memang insya Allah di­gelar akhir tahun 2013 ini. Wali Kota petahana (incumbent) Dr. H. Fauzi Bahar M.Si. tidak akan maju kembali untuk periode yang akan datang, karena ia sudah dua kali masa jabatan. Petahana Wakil Wali Kota Padang H Mahyeldi An­sha­rullah SP yang akan bertarung untuk naik kelas menjadi calon wali kota Padang menggantikan Fauzi Bahar. Hanya saja, kabar-kabarnya, saingannya sangat banyak. Apakah Mahyeldi mempunyai untuk ter­pilih? Entahlah—tidak ada jaminan petahana wali kota dan atau wakil wali kota akan memenangkan Pe­mi­lukada Kota Padang!? Patahana bisa dipandang sebagai modal dasar bilamana selama masa ja­batan ia/dia dipandang sukses. Selain saingan-saingan banyak—mungkin juga relatif berat, para pemilih di Kota Padang, kabar-kabarnya, sangat cerdas/pintar dalam menentukan siapa pili­hannya. 

 

Sampai saat terakhir, kabar-kabarnya, sudah hampir 30 bakal calon akan bertarung mem­pere­butkan kursi calon wali kota. Ke­napa masih disebut ”mem­pe­re­but­kan bakal calon wali kota”. karena, pada tahap seleksi calon ada yang disebut memperebutkan kursi calon dari partai-partai. Sama ada partai tersebut memenuhi minimal kursi di DPRD Padang/prosentase minimal perolehan suara pada Pemilu 2009 lalu, dan atau koalisi partai-partai. Secara sederhana, maksimal calon wali kota dari partai sekitar lima pasang atau bahkan kurang—itu pun sudah termasuk kumpulan sisa suara pada Pemilu 2009 yang tidak sam­pai memperoleh satu kursi di DPRD Padang. Bilamana partai yang cukup minimal electoral threshold dan atau jumlah kursi minimal di DPRD Kota Padang kemungkinan masih tetapi ber­koalisi untuk memperkuat basis dukungan, misalnya. Itu, bisa saja terjadi. Jadi, tetap ketat untuk memperebutkan satu kursi pasang untuk satu partai (tanpa koalisi) dan atau koalisi partai—bahkan di antara para kader sendiri/sesama kader dari partai yang sama.

 

Lalu, persaingan calon wali kota menjadi semakin ketat, bilamana terdapat sejumlah pasangan calon wali kota/calon wakil wali kota melalui jalur bebas partai alias dari calon independen. Secara pe­ra­turan-perundangan, sesiapa bakal calon wali kota/calon wakil wali kota yang mampu memenuhi per­syaratan, maka mereka akan dite­tapkan KPUD Kota Padang untuk menjadi calon. Karena Pemilukada tingkat kota/kabupaten dengan wilayah jangkauan yang lebih sem­pit, maka kemungkinan akan ter­dapat/terbuka peluang untuk ba­nyak calon pasangan. Jadi, sekitar 30 calon wali kota tersebut, nan­tinya akan mengerucut menjadi lima pasangan dari partai koalisi partai dan kemungkinan pula ada tiga-empat (?) calon pasangan dari jalur independen. Jadi, bisa saja ada tujuh atau delapan atau sem­bilan pasangan calon wali kota/calon wakil wali kota!? Jadi, per­saingan akan sangat ketat.

 

Tidak hanya sangat ketat, ke­mungkinan juga tidak akan dipe­roleh satu pasangan calon wali kota/calon wakil wali kota yang mampu mendapatkan minimal 30 persen ditambah satu suara—tentu kemungkinan tetap ada!? Jadi, kemungkinan energi para pasangan calon wali kota/calon wakil wali kota akan dikuras/terkuras secara alang kepalang. Sebetulnya, juga energi para pemilih/warga Kota Padang akan dikuras. Terkuras akut (melelahkan) bilamana pe­milukada wali kota/wakil wali Kota Padang berlangsung sampai dua kali putaran. Kemungkinan, baik KPUD Kota Padang dan atau mau­pun para semua pasangan calon wali kota/calon wakil wali kota mempersiapkan diri atau me­ngan­tisipasi dengan cermat/seksama. Para pasangan calon wali kota/calon wakil wali kota berpeluang sama untuk memasuki putaran kedua. Jangan sampai, saat sa­buang salapeh ari patang justru keok/energi habis—lampu pa­dam!?

 

ADA sejumlah nama yang be­ken/cukup beken dan atau juga kawakan—setidaknya dalam ang­gapan/pandangan seorang Cucu Magk Dirih—yang kelihatan/naga-naganya akan maju dalam pe­milukada wali kota/wakil wali kota Padang (kelihatan/kemungkinan pemilihan wali kota/wakil wali kota Padang masih belum akan meng­gunakan pemilihan lewat DPRD, walaupun draft academic ran­cangan perubahan undang-undang Nomor 32/2004 tentang Pe­me­rintah Daerah dan atau ran­cangan undang-undang pemilukada sen­diri saat ini masih tengah dibahas di DPR-RI, dan kemungkinan akan bersepakat menetapkan pemilihan bupati/wakil bupati dan atau wali kota/wakil wali kota dipilih oleh DPRD saja, serta pemilihan gu­bernur/wakil gubernur yang tetap secara langsung). Nama-nama tersebut yang sudah beredar dan berpendar. Bahkan, sebagian nama sudah beredar/berpendar sejak lebih awal. Apa boleh buat, me­ngenal wajah untuk para pemilih adalah sebuah kelaziman/ke­nis­bian!!

 

Yang secara nyelekit—setid­ak­nya bagi Cucu Magek Dirih yang kuno/tidak mengerti—masih tetap mengherankan: kenapa begitu banyak mereka yang melihat jalur pengabdian sebagai kepala daerah (gubernur/wakil gubernur dan bupati/wakil bupati dan atau wali kota/wakil wali kota) sebagai begitu exciting base/memukau!? Apa sesungguhnya yang menjadi daya pikat/pukau posisi/jabatan kepala daerah—hatta ada yang sampai habis-habisan!? Adakah keinginan untuk mengabdi/men­dermabaktikan diri/tenaga dan pikiran/hati serta waktu/perhatian yang begitu besar dan atau ada latar belakang atau motif lain!? Latar belakang/motif apa, selain ke­inginan untuk mengabdi atau men­dermabaktikan diri/tenaga, hati/pikiran, dan waktu/perhatian? Karena Cucu Magek Dirih me­ngetahui betul, tidak mungkin latar belakang/motif honorarium/tun­jangan dan bdana taktis yang mesti tercatat/diperiksa/diper­tang­gungjawabkan? Honor/tunjangan setiap kepala daerah, di luar ber­bagai fasilitas dinas/resmi, minimal sekitar Rp 70-80 juta/bulan.

 

Sebagai salah seorang eksekutif bisnis puncak/pengusaha pula, honorarium/berbagai tunjangan dan fasi­litas resmi seorang Cucu Magek Dirih mungkin sekitar enam-tujuh kali lipat seorang ke­pala daerah (bahkan seo­rang gu­bernur). Hanya kepala daerah dibayarkan semua kegiatannya, di kantor dan di rumah dinas. Kalau soal perjalanan dinas, sama di­bayarkan kantor. Jadi, secara ting­kat peng­hasilan, posisi/jabatan kepala daerah benar-benar tidak menarik bagi seo­rang Cucu Magek Dirih—maklum Cucu Magek Dirih seorang surau dengan pikiran lurus yang kuno/takut bersalah kepada orang banyak dan apalagi berbuat dosa/masuk neraka/siksa Allah sangat pedih! Jadi, Cucu Magek Dirih tidak berani menduga-duga kalau motif/latar belakang seorang bakal calon kepala daerah adalah bias/deviatif. Mudah-mu­dahan memang benar demikian—soal lain kalau ada sejumlah gu­bernur/bupati/wali kota dan atau wakil-wakilnya yang terjaring KPK atau kejaksaan tinggi karena mani­pulasi jabatan/korupsi. (*)

[ Red/Administrator ]

Komentar Cucu Magek Dirih


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!