- 13:09 WIB
- 11:45 WIB
- 13:09 WIB
- 13:08 WIB
- 13:08 WIB
- 13:07 WIB
- 13:07 WIB
- 13:06 WIB
- 13:04 WIB
- 13:01 WIB
Menghargai Mr Sutan Mohd. Rasjid
Oleh : H. Sutan Zaili Asril
Wartawan Senior
Padang Ekspres • Minggu, 03/03/2013 07:01 WIB • 520 klik

MENYEBUT nama Sutan Mohammad Rasjid, ingatan sebagian besar kita akan segera berkelabat ke Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), satu peristiwa penting bangsa/nasional Indonesia yang berlangsung di wilayah Provinsi Sumatera Tengah (terutama di Sumatera Barat)—semua operasi/logistik dan perlindungan terhadap Ketua PDRI Mr. Syafruddin Prawiranegara dan kabinetnya mendapat dukungan penuh rakyat Sumatera Barat/Provinsi Sumatera Tengah.
Sebagaimana sebagian kita mengetahui, tidak lama setelah Ibu Kota RI di Yogyakarta dikuasai Belanda dalam Agresi Militer Belanda II dan mereka berulangkali menyiarkan berita Republik Indonesia sudah bubar. Karena para pemimpinnya, seperti Soekarno, Hatta, dan Syahrir, serta beberapa menteri, sudah menyerah dan ditahan. Mendengar berita, tentara Belanda menduduki Ibu Kota Yogyakarta, menangkap sebagian besar dari pimpinan pemerintah RI, pada 19 Desember sore itu, Mr. Syafruddin Prawiranegara bersama Panglima Tentara dan Teritorium Sumatera berkedudukan di Aceh Kol. Hidayat, mengunjungi Gubernur Sumatera/Ketua Komisaris Pemerintah Pusat Mr. Tengku Mohammad Hasan di kediamannya, di atas ngarai untuk mengadakan perundingan. Malam itu juga mereka meninggalkan Bukittinggi menuju Nagari Halaban—daerah perkebunan teh sekitar 15 km selatan Kota Payakumbuh.
Sejumlah tokoh pimpinan RI yang berada di Sumatera Barat berkumpul di Halaban. Pada 22 Desember 1948 mereka mengadakan rapat/dihadiri antara lain, Mr. Syafruddin Prawiranegara, Mr. TM, Hassan, Mr. Sutan Mohammad Rasjid, Kolonel Hidayat, Mr. Lukman Hakim, Ir. Indracahya, Ir. Mananti Sitompul, Maryono Danubroto, Direktur BNI Mr. A. Karim, Rusli Rahim, dan Mr. Latif. Walau secara resmi kawat Presiden Soekarno belum/tidak diterima, sampai 22 Desember 1948 itu, sesuai konsep yang disiapkan, dalam rapat di Halaban diputuskan membentuk PDRI. Susunan kabinet: Mr. Syafruddin Prawiranegara, Ketua PDRI/MenhanPertahanan/Menpen/Menlu ad-interim; Mr. TM Hassan, Waka PDRI/Mendagri/Men-PPK/Mennag; Mr. St. Mohd Rasjid, Menkam/Mensos, Pembangunan, dan Pemuda; Mr. Lukman Hakim, Menkeu/Menkeh; Ir. M. Sitompul, Men-PU/Menkes; Ir. Indracaya, Menteri Kemakmuran/Menhub.
Pada 31 Maret 1949, Syafruddin mengumumkan susunan pimpinan PDRI—di antaranya Mr. St. Mohammad Rasjid jadi Menteri Perburuhan dan Sosial. Pejabat militer: Letjen Sudirman, Panglima Besar Angkatan Perang RI; Kol. Abdul Haris Nasution, Panglima Tentara dan Teritorium Jawa; Kol. R. Hidajat Martaatmadja, Panglima Tentara Teritorium Sumatera; Kol. Mohd. Nazir, Kastaf AL; Komodor Udara Hubertus Suyono, Kastaf AU; Komisaris Besar Polisi Umar Said, Kepala Kepolisian Negara. Tanggal 16 Mei 1949, dibentuk Komisariat PDRI Jawa dikoordinasikan Mr. Susanto Tirtoprojo urusan kehakiman dan penerangan); Mr. IJ Kasimo (urusan persediaan makanan rakyat); dan R. Panji Suroso (urusan dalam negeri). Selain dr. Sudarsono, Wakil RI di India, Mr. AA Maramis, Menlu PDRI berkedudukan di New Delhi (India), dan LN Palar, Ketua delegasi RI di PBB.
ADALAH Sutan Mohammad Rasjid, lahir di Jawijawi, kini Jalan Sudirman, Pariaman, Sumatera Barat, 19 November 1911, dan wafat di Jakarta, 30 April 2000 (usia 88 tahun), adalah salah seorang pejuang dan perintis kemerdekaan. Saat perang kemerdekaan II (Clash II), Rasjid menjabat Gubernur Militer Sumatera Barat/Tengah. Dalam Kabinet Darurat menjabat Menteri Keamanan/Sosial dan lalu jadi Menteri Perburuhan dan Sosial. Setelah menamatkan pendidikan MULO di Padang (1929,) Rasjid berangkat ke Batavia dan masuk sekolah menengah atas (AMS/1930). Tamat AMS 1933, Rasjid muda memilih melanjutkan pendidikan ke Sekolah Tinggi Hukum (tamat tahun 1938/mendapatkan gelar Meester in de Rechten atau Mr.). Kelak, terbukti, Mr. Sutan Mohammad Rasjid merupakan salah satu putra bangsa Indonesia berasal daerah Sumatera Barat—seorang tokoh yang membuat orang Piaman sekitarnya merasa sangat bangga karenanya.
Dalam PDRI, Mohd. Rasjid adalah satu tokoh penting/menjabat Gubernur Militer Sumatera Barat/Tengah, dan dalam Kabinet Darurat ia menjabat Menteri Keamanan/Sosial dan Menteri Perburuhan dan Sosial (dari PSI). Tahun 1954, ia diangkat jadi Dubes RI untuk Italia. Tahun 1958, Rasjid memutuskan bergabung dengan PRRI dan akhirnya hidup berpindah-pindah sebagai pelarian politik. Salah satu anaknya, Arwin Rasyid. kini jadi direktur utama Bank CIMB Niaga, dan pernah menjabat sebagai direktur utama Bank Danamon dan Direktur Utama PT Telkom Indonesia. Wafat di Jakarta, Almarhum Mr. Sutan Mohammad Rasjid dimakamkan di TPU Tanah Kusir.
Karier perjuangan signifikan. Tahun1927-1928, Ketua Jong Sumatranen Bond Cabang Padang; tahun 1930-1933, Sekretaris Indonesia Muda Cabang Jakarta; tahun 1944 Jaksa Tinggi di Pengadilan Tinggi Padang; tahun 1946-1948, Residen Sumatera Barat; tahun 1948, Komisaris Negara Urusan Keamanan Dalam Negeri seluruh Sumatera dengan pangkat menteri; tahun 1949-1950, Gubernur Militer Sumatera Barat/Tengah merangkap Menteri Keamanan/Pembangunan/Pemuda/Sosial/Perburuhan PDRI; tahun 1950-1954, Sekjen Deplu; tahun 1954-1958, Dubes RI/berkuasa penuh untuk Italia; tahun 1956-1959, dan Anggota Konstituante Republik Indonesia. Rasjid pun memperoleh beberapa tanda jasa: Bintang Order of Saint Silvestre (dari pemimpin Tahta Suci Vatikan); Bintang Perintis Kemerdekaan; dan Bintang Mahaputra Adipradana.
HARI Kamis (28/2) lalu, Cucu Magek Dirih mengusahakan untuk ikut hadir sebentar di atas fly over Duku, peresmian nama jalan mulai dari bandara sampai fly over Duku menjadi bernama Jalan Mr. Sutan Mohammad Rasjid. Peresmian dilakukan Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) H. Irman Gusman SE MBA. Turut hadir antara lain Gubernur Sumbar Prof. Dr. H. Irwan Prayitno Dt. Rajo Bandaro Basa, Wakil Gubernur Drs. H. Muslim Kasim Dt. Sinaro Basa AK, MM, Bupati Padangpariaman Drs. Ali Mukhni dan sejumlah tamu dan undangan lainnya. Peresmian nama jalan dari menuju bandara Bandara Internasional Minangkabau (BIM), menurut Irman dan juga Irwan, langkah awal karena direncanakan BIM nanti berganti nama menjadi Bandara Mr Sutan Mohammad Rasjid.
Bagi Cucu Magek Dirih, lebih dari sekadar salah seorang warga Pariaman sekitarnya (Paris), selain gagasan memberikan nama Mr Sutan Mohammad Rasjid menjadi nama BIM, adalah langkah-langkah persiapan mengajukan beliau menjadi Pahlawan Nasional. Alasan utama, Mr. Mohammad Rasyid bukan hanya Gubernur Militer Sumatera Barat/Tengah yang termasuk dalam rombongan ke Suliki, kabupaten Limapuluhkota—ia termasuk selamat saat Suliki dibombardir Belanda. Sebagaimana sebagian kita mengetahui, setelah mengumumkan kabinet darurat di Halaban, Ketua PDRI Syafruddin membagi kabinetnya dalam dua rombongan. Rombongan Syafruddin menuju Bangkinang lewat Pangkalan. Rombongan kedua, St. Mohd. Rasyid menuju ke Suliki. Pembagian dua rombongan memecahkan perhatian Belanda, dan Belanda menyangka Syafruddin tengah berada di Suliki, dan membombardir Suliki—banyak korban berjatuhan. Lalu, Belanda mengetahui Syafruddin berada di Bangkinang, dan dibombardir pula—pada saat itu Syafruddin dan rombongan sudah menyeberangi Sungai Kampar di Taratakbuluh.
Setelah menyeberang Sungai Kampar/menenggelamkan mobil-mobil masuk ke Sungai Kampar, mobil jip ganti untuk Syafruddin sempat terbalik sampai kacamatanya pecah—ia mendapatkan ganti dari seorang dokter di Teluk Kuantan. Rombongan Syafruddin terus ke Sungaidareh, Kotobaru, terus ke Bidaralam (Solok Selatan sekarang). Sementara itu, justru Mr. Sutan Mohammad Rasjid dan rombongan di Suliki yang mengadakan rapat dengan Panglima TT Sumatera yang berkedudukan/datang dari Bandaaceh ke Suliki Kol. R. Hidajat Martaatmadja, mengadakan rapat di Suliki, mengambil keputusan penting/sangat strategis mengubah pemerintahan provinsi jadi provinsi milter dengan gubernur/wakil gubernur militer. Melalui radio, keputusan rapat Mohd. Rasjid dan rombongan dengan Kol Hidayat di Suliki itu diberitahukan/disetujui Ketua PDRI yang berada di Bidaralam.
Jadi, setidaknya bagi Cucu Magek Dirih, selayaknya/sudah sepantasnya tokoh Mr. Sutan Mohammad Rasjid diusulkan menjadi Pahlawan Nasional—dilakukan langkah/persapan ke arah itu. Memang, semula ada ganjalan, karena Mr. Sutan Mohammad Rasjid termasuk tokoh yang dengan amat tegar memilih mendukung/bergabung dengan Pemerintahan Revolusioner Repubik Indonesia (PRRI) saat ia menjadi Dubes RI di Italia—sebagaimana H. Mansur Daud (HMD) Dt. Palimo Kayo juga memilih menjadi Dubes RI di Irak. Toh, Mr. Syafruddin dan Mohd. Natsir—bahkan juga Prof. Dr. Hamka sudah terlebih dahulu menjadi Pahlawan Nasional. Artinya, Bupati Ali Mukhni dapat mengkonsolidasikan masyarakat Padangpariaman/masyarakat kota Pariaman memperjuangkan Mr. St. Mohammad Rasjid menjadi Pahlawan Nasional. Memang, setelah PDRI didudukkan sebagai persitiwa penting bangsa Indonesia berskala nasional/internasional yang terjadi di dan atau dipikul oleh provinsi/penduduk Sumatera Barat/Tengah, PRRI pun harus didudukkan posisinya. (*)
[ Red/Administrator ]
Tolak Pemekaran dengan Kerusuhan
SIDANG paripurna DPR akhirnya mengesahkan Kabupaten Musi Rawas Utara di Provinsi Sumatera Selatan pada 11 Juni lalu. Disaksikan Mendagri Gamawan Fauzi, seluruh fraksi menyatakan setuju. Palu sidang pun diketok Ketua DPR Marzuki Alie. Muratara –begitu kabupaten baru tersebut populer dipanggil– menjadi kabupaten/kota ke-505. Sementara provinsi mencapai 34.
Assalamualaikum wr wb, yth pimpinan RS M Djamil, sekadar masukan demi memajukan M Djamil. Kami baru pulang dari Jakarta dan HD kebetulan di RSCM Pusat kami rasakan disana layanan sangat bagus, perawatnya ramah-ramah, mereka diajarkan ilmu psikologi untuk melayani pasien tidak seperti di M Djamil yang perawatnya tidak familiar, terutama yang berinisial D, amat kasar mulutnya sama pasien. Jadi kalau masih tetap begini pelayanan M Djamil kami yakin tidak akan dapat untuk menjadi status layanan internasional. Semoga para pimpinan memperhatikannya. Wasaallam pasien HD, Selasa-Jumat CC Ibu kepala Dinkes Sumbar
PPS Rawan Diintervensi
Paralu dijago bana tu.........................!
Sumbar Kecipratan Rp48 M
Lai ndak digigik mancik pulo beko tu....!
Tower Tumbang, Listrik Padam
Apo dek itu lampu acok mati kini...............?