Kamis, 20 Juni 2013 - 11 Sya'ban 1434 H 17:44:09 WIB
KOPI MINGGU

Menangis Darah

Oleh : Sukri Umar

Wartawan Padang Ekspres

Padang Ekspres • Minggu, 03/03/2013 07:00 WIB • 307 klik

Sukri Umar

Peristiwa langka dialami seorang Balita di Majalengka, Jawa Barat. Namanya Cila Melina yang baru berusia 1,5 tahun. Sejak berusia tiga bulan matanya mengeluarkan darah saat menangis. Tangis adalah perasaan atau ungkapan saat merasakan sakit atau sedih, tetapi yang dikeluarkan biasanya hanya berupa air yang bening. Tangisan darah memang peristiwa yang sangat langka, tetapi kalau tangisan mengeluarkan air yang bening sudah biasa di negeri kita.

 

Cila tentuk sangat menderita dengan peyakit aneh ya­ng dialaminya, media massa bersama sama mem­beritakan peristiwa langka tersebut. Jajaran dinas kesehatan juga turun tangan memberikan bantuan medis. Bisa saja dalam waktu dekat dia akan menjadi perhatian siapa pun, apalagi kalau ada momen politik untuk mempopulerkan diri sambil berbakti.

 

Sebagai umat manusia, dan sebagai orangtua yang juga punya anak tentu akan tersentuh dan terenyuh dengan penyakit yang dialami Cila. Sama-sama berdoa dan berharap agar balita tersebut bisa terlepas dari derita, hidup normal dan bisa menikmati kehidupan seperti jutaan balita lainnya.

 

Tangis darah yang dialami Cilia atau mungkin juga dialami beberapa orang lainnya di Indonesia, juga bisa membuka mata kita bersama bahwa masih banyak yang menangis di republik ini.

Tangisan aneh saja ada dan dapat perhatian  khusus, betapa hebatnya negeri ini kalau ta­ngi­san tangisan lain di sekitar lingkungan dapat dihentikan ra­tapnya, diberikan obat ber­sama-sama.

***

Kita masih banyak yang me­na­ngis, republik ini juga me­nangis. Hanya tayangan enter­teint berisi wajah wajah selebriti atau lawak di televisi yang mem­buat kita bisa tertawa sejenak, tertawa tanpa memberikan arti apa-apa. Kita tertawa ketika ada pelawak yang dengan kocak memainkan aksi di televisi, kita ter­tawa ketika film komedi dipu­tar di salahsatu stasiun televisi. Tetapi itu hanya sesaat, ketika acara itu habis kita kembali sadar bahwa negeri ini sedang me­nangis.

 

Tayangan televisi tentang lawak, enterteint dan sebagainya untuk mengeluarkan tawa sebe­nar­nya tak sebanding dengan tayangan lain yang membuat kita bersedih, menangis dan seakan tak ada harapan tinggal di negeri kaya raya, negeri makmur yang tongkat saja ditanam bisa tum­buh menjadi pohon.

 

Kita sedih dengan dagelan politik yang dimainkan elite lit politik di negeri ini. Siapa yang tak menangis banyak petinggi parpol, pejabat tinggi di pemerin­tahan, dan atau pejabat di ling­kungan aparat hukum yang berbuat begitu semena-mena. Melakukan korupsi tanpa ada perasaan sedikit pun terhadap rakyat banyak yang sebenarnya bisa mendapatkan aliran sedikit saja dari dana yang sudah mere­ka blokir di rekening pribadi.

 

Petinggi parpol bermain dalam kancah bisnis, oknum petinggi parpol bermain dalam merealisasikan proyek proyek besar, dan petinggi parpol me­ngo­tori tangannya mene­ng­ge­lamkan pemukiman penduduk menjadi lautan lumpur. De­mi­kian juga dengan oknum petinggi di kepolisian. Jenderal ber­bin­tang dua punya kekayaan ratusan miliar, yang sebenarnya tak sebanding dengan pen­da­pa­tan atau gaji bulanan yang ia terima.

***

Siapa yang tak menangis kalau petinggi parpol melukai hati rakyat, yang semestinya mereka yang berjuang untuk rakyat melalui jalanan wakil-wakil yang ditempatkan di ge­dung rakyat. Siapa yang tak me­nangis ketika jutaan orang me­ngais rezeki di jalanan, di tam­pat tempat kumuh dan kotor, tetapi di tempat lain orang orang dengan tanpa dosa merampas hak rakyat karena dia menjadi wakil rakyat.

 

Negeri kita ini sebenarnya kaya raya jika uang yang dikelola benar benar dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat. Bukan disu­nat dengan dalih untuk kepen­tingan pribadi atau sekelompok orang-orang tertentu. Tidakkah nurani orang orang berdasi itu bergetar ketika melihat di per­sim­pangan jalan menyaksikan orang-orang miskin me­nenga­dahkan tangan untuk men­da­pat­kan seribu rupiah.

 

Siapa pun pejabat di negeri ini, sehari-hari tentu melewati jalanan atau kawasan yang pe­man­dangannya membuat kita menangis. Anak anak usia seko­lah berkeliaran di jalanan ber­modal gitar kecil dan pakaian sekolah kumuh melantunkan lagu-lagu yang tak jelas vokal dan nadanya. Mereka mengetuk pintu kaca mobil sambil tangan. Apakah pejabat kita terketuk atau mereka cukup memberi selembar uang seribuan, atau sama sekali tak menga­cuh­kannya.

 

Pejabat atau elite politik kita memang banyak yang sibuk, bahkan untuk keluarga pun tak ada waktu lagi. Di atas mobil menumpuk surat-surat penting, bercampur proposal dari banyak orang. Memang mereka tak bisa disalahkan tak mengacuhkan pengemis atau pengamen yang mengetuk pintu mobil. Sopirnya pun terkadang marah, membuka sedikit kaca lalu menghardik pengemis yang menganggu kosentrasi atasannya membaca proposal-proposal penting.

 

Wahai pejabat, penguasa, petinggi apa pun namanya di negeri ini bukanlah mata untuk melihat secara jernih tangisan tangisan rakyat yang semakin panik menghadapi kehidupan ini. Rakyat kecil yang antre mendapatkan minyak tanah kini mulai berpikir untuk men­dapatkan elpiji sebagai bahan pengganti. Sopir sopir truk besar yang dulu nyaman-nya­man saja membawa kendaraan, kini mulai bertarung untuk mendapatkan solar yang se­makin langka. Makin hari se­makin banyak rakyat yang me­nangis di atas sadisnya para penguasa, pejabat yang semena mena berbuat zalim pada rak­yat.

 

Uang seribu rupiah sangat berharga bagi rakyat agar me­reka tak menangis menahan haus. Uang seribu rupiah sangat berharga untuk belanja anak pergi sekolah. Seribu seribu rupiah itu sangat berarti untuk kelangsungan hidupnya. Na­mun seribu demi seribu lem­baran rupiah itu dikumpulkan oleh mereka mereka yang pintu hatinya sudah tertutup me­nerima kebenaran. Seribu demi seribu uang itu menjadi ratusan juta, bahkan menjadi ratusan miliar rupiah. Uang itulah yang digunakan untuk membeli ru­mah rumah seharga miliaran untuk ditempati istri-istri yang tertutup dengan rapi.

 

Cila Melina air matanya masih berupa darah. Orang-orang hebat dari sisi medis beru­paya dengan kemampuannya un­tuk mengembalikan balita tersebut dalam kehidupan normal. Jutaan rakyat Indonesia termasuk masyarakat Sumatera Barat masih menangis karena tak bisa hidup dengan cukup, nyaman dan sejahtera. Dalam keheningan malam di antara mereka berharap pada yang Maha Kuasa agar penguasa-penguasa membukakan hati untuk peduli pada mereka. Entah sudah berapa banyak air mata mereka mengalir, ber­harap untuk kehidupan yang lebih baik. (*)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Kopi Minggu


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Nakhoda Baru Komisi Yudisial

KOMISI Yudisial (KY) baru saja memilih pemimpin baru. Lembaga pengawas para hakim itu kini dipimpin Suparman Marzuki. Dia menggantikan Eman Suparman yang sudah 2,5 tahun menjadi ketua KY. Pria kelahiran 2 Maret 1961 tersebut sebelumnya menjabat ketua bidang pengawasan hakim dan investigasi. Suparman akan dibantu Abbas Said sebagai wakil ketua KY.

Perawat tak Familiar

-

Assalamualaikum wr wb, yth pimpinan RS M Djamil, sekadar masukan demi memajukan M Djamil. Kami baru pulang dari Jakarta dan HD kebetulan di RSCM Pusat kami rasakan disana layanan sangat bagus, perawatnya ramah-ramah, mereka diajarkan ilmu psikologi untuk melayani pasien tidak seperti di M Djamil yang perawatnya tidak familiar, terutama yang berinisial D, amat kasar mulutnya sama pasien. Jadi kalau masih tetap begini pelayanan M Djamil kami yakin tidak akan dapat untuk menjadi status layanan internasional. Semoga para pimpinan memperhatikannya. Wasaallam pasien HD, Selasa-Jumat CC Ibu kepala Dinkes Sumbar

Kamis, 20 Juni 2013

Hasil Pleno PAN Tuai Polemik

Namo e politik tu iyo ado polemik......!


333 JCH Batal Berangkat

Basaba sajo,  nan pantiang adoh niaik ...............................................!


Bemokrat Serahkan Hand Traktor

Lai ndak udang balik bak wan tu..............?