Rabu, 23 April 2014 - 22 Jumadil Akhir 1435 H 18:46:41 WIB
TERAS UTAMA

Gempa Pesisir Selatan

Oleh : Badrul Mustafa

Ketua Himpunan Ahli Geofisika Indonesia Sumbar

Padang Ekspres • Sabtu, 09/02/2013 12:10 WIB • 951 klik

Badrul Mustafa

Hari Kamis (7/2) lalu, baru saja selesai azan su­buh (pukul 05.12 WIB), warga Padang dikejutkan gem­pa yang agak kuat dirasakan, yang berlangsung sing­kat (3 sampai 4 detik).  Data dari BMKG beberapa me­­nit setelah itu menye­but­kan bah­wa lokasi epi­sentrum gempa berada pada 56 km barat daya Pesisir Sela­tan dengan keda­laman pusat gem­pa yang sa­ngat dangkal, yak­ni 10 km. 

 

Sebetulnya, magnitudo gem­pa tersebut tidaklah ter­lalu besar, hanya 5,6 SR.  Na­mun karena jaraknya yang sa­ngat dekat dengan pantai ba­rat Sumatera Barat, hanya 56 km, maka intensitas yang dira­s­a­kan cukup membuat warga sedikit panik dan ba­nyak yang berlarian keluar rumah.

 

Dilihat dari posisi episentrum gempa tersebut yang terletak di Selat Mentawai antara Pulau Sipora dan Kabupaten Pesisir Selatan yang berada pada kedalaman ha­nya 10 km di bawah per­mu­kaan laut, maka dapat dipast­i­kan bahwa gempa terse­but bukan pro­duk dari subduksi (tum­bukan) lempeng Indo-Australia de­­n­gan Eurasia, tapi berke­mung­kinan besar produk dari per­geseran pada patahan men­datar di selat tersebut.  Lain hal­nya jika kedalaman gempa­nya lebih dari 60 km, maka ia meru­pakan produk dari subduk­si ini.  Sebab subduksi menyebabkan lem­peng Indo-Australia meng­hun­jam di bawah Mentawai-Su­matra-Kalimantan, sehingga bi­dang pergesekan yang meru­pakan tempat terjadinya akumu­lasi energi (yang juga berarti sumber gempa) miring.  Artinya mulai dari palung di Samudera Hindia gempanya dangkal dan se­makin ke arah Sumatera pusat gem­­panya semakin dalam.  Di Se­lat Mentawai, antara pulau-pu­lau non-volkanik (mulai dari Si­meulue, Nias, Mentawai sam­pai Enggano) dan pulau Suma­tera, kedalaman pusat gempa aki­bat subduksi ini adalah seki­tar 30 km sampai sekitar 80 km.

 

Dua setengah jam setelah gem­­pa di pesisir Selatan, tepat­nya pukul 07.41 WIB, kembali ter­jadi gempa di dekat kota Si­bol­ga dengan M 5,3.  Tapi de­ngan kedalaman 84 km di ba­wah permukaan laut, maka gem­pa ini merupakan produk da­ri sub­duksi.  Jadi berbeda de­ngan gem­pa sebelumnya di Pe­sisir Se­la­tan.  Lalu apa dam­pak dari ke­dua gempa yang terjadi pada hari yang sama tersebut, ter­uta­ma gempa yang di Pesisir Se­latan terhadap kehidupan?  Ba­gaimana kalau muncul gempa su­s­ulan yang lebih besar di s­e­kitar tempat yang sama, apa­kah akan muncul tsunami? Ini perta­nya­an yang sering muncul di te­ngah-tengah masyarakat.

 

Walaupun episentrum gem­pa di Pesisir Selatan itu berada di dasar laut, namun karena ia bu­kan di daerah megathrust, ma­ka ia tidak berpotensi me­nim­bulkan tsunami. Bisa saja gem­pa ini merupakan gempa pen­dahuluan, yang akan diikuti oleh gempa utama, akan tetapi mes­kipun keluar gempa utama yang dari segi kekuatan meme­nuhi syarat untuk menimbulkan tsunami, maka tsunami insya Allah tidak akan timbul.  Sebab ge­rakan batuan yang terjadi di dae­rah patahan geser adalah ho­rizontal, sedangkan gerakan batuan akibat gempa di dasar laut yang memicu tsunami ada­lah vertikal, misalnya di daerah me­gathrust di mana di situ ter­dapat patahan tegak atau miring. 

 

Kalau kita lihat data dari BMKG dan USGS, ternyata tang­gal 31 Januari dan 2 Januari 2013 yang lalu serta 23 November 2012 telah terjadi gempa di tem­pat yang kurang lebih sama de­ngan Mag­nitudo 5,0.  Hanya saja, ketiga gem­pa sebelumnya ini tidak terasa sam­pai ke Pa­dang.  Adanya gem­pa-gempa de­ngan waktu yang berdekatan ini de­n­gan kekuatan se­kitar 5 SR, ma­ka penulis yakin bah­wa di sini ada patahan men­datar (sesar trans­form). 

 

Adanya sesar ini sebagai kon­sekuensi logis akibat tum­bukan lempeng Indo-Australia yang oblique (menyerong) di de­pan Sumatera, sehingga meng­h­a­silkan patahan seperti pa­ta­han Sumatera (sesar Se­mangko) dan patahan Mentawai.  Kedua pa­tahan besar ini ditemukan ta­hun 1947 (sesar Semangko) dan 1990 (sesar Mentawai).  Hanya saja, di dalam Selat Mentawai be­lum dilakukan survei seismik un­tuk memetakan struktur di dasar lautnya, sehingga kebe­ra­daan sesar-sesar yang sejajar de­ngan sesar semangko dan se­sar Mentawai belum dike­tahui.  Se­bab kapal yang digunakan un­tuk penelitian sesar Mentawai du­lu (KM Baruna Jaya) nam­paknya tidak efektif digunakan di dalam se­lat. Dan untuk melakukan pe­nelitian seismik di laut ini dibu­tuh­kan biaya yang besar, sehing­ga biasanya Indonesia harus be­kerjasama dengan negara lain se­perti Perancis, Jepang, dll.

 

Pertanyaan lain yang juga sering muncul adalah, apakah ia (gempa akibat sesar geser di Se­lat Mentawai ini) dapat memicu atau mempercepat keluarnya ener­gi di segmen Siberut yang ter­simpan?  Mengingat bahwa me­kanisme terjadinya gempa di s­e­sar geser ini berbeda dengan gem­pa di segmen Siberut yang me­rupakan produk dari subduk­s­i, maka bisa dikatakan bahwa ke­cil kemungkinan ia dapat me­micu keluarnya energi gempa yang tersimpan di segmen Sibe­rut.  Kalau akhirnya gempa besar di segmen Siberut ini keluar, ini me­mang sudah waktunya, kare­na ia sudah berada pada periode ulang 200-250 tahun sekali.  Te­r­akhir kali gempa yang terjadi di seg­men ini adalah tahun 1797 de­ngan kekuatan 8,7 SR.  Kala itu gempanya diikuti oleh tsuna­mi yang sampai ke pesisir pantai Su­­matera Barat. Di Padang ge­lom­­bang tsunami masuk sam­pai sekitar satu kilometer ke darat.

 

Jadi,  ancaman bencana alam geologis (gempa dan tsuna­mi) yang terbesar tetap dari seg­men Siberut.  Sebab dari hasil ana­lisa berbagai pakar, walau­pun sejum­lah gempa cukup be­sar di segmen ini sudah terjadi se­jak 10 April 2005 sampai 30 sep­tember 2009, namun nam­paknya ener­gi­nya belum setara de­ngan yang biasanya terjadi se­suai periode ulangnya, seperti yang ter­akhir ter­jadi tahun 1797 de­ngan kekua­tan 8,7 SR. Akan tetapi, tidak seorang pakar pun ta­hu kapan waktunya gempa be­sar tersebut ke­luar. Kita juga ti­dak tahu apa­kah energi yang ter­sim­pan itu akan keluar dalam ben­tuk sebuah gempa sangat be­s­ar, atau ia keluar dalam ben­tuk sejumlah gempa yang tidak terlalu kuat.  Kita juga tidak tahu apakah akan terjadi tsunami atau tidak, walau­pun yang keluar ada­lah gempa besar.  Sebab ter­jadi atau tidak­nya tsunami dari segmen Siberut ini tergan­tung di mana episen­trum gempanya.  Ka­­l­au terjadi di selat antara Ke­pu­lauan Mentawai dan Suma­tera, kecil kemung­kinan tsunami akan terjadi.  Be­gitu juga kalau epi­sentrumnya di selat-selat sem­pit antar pulau-pu­lau di Ke­pulauan Mentawai itu, bila terjadi tsunami maka inten­si­tas­nya juga tidaklah besar, se­bab rup­ture yang terjadi juga ti­dak be­sar, tidak seperti yang terjadi di Aceh yang sampai lebih dari 800 km.

 

Namun begitu, untuk keper­luan mitigasi, agar risiko dapat di­kurangi seminim mungkin, ma­ka langkah safety harus di­am­bil.  Misalnya dengan mene­tap­kan zona merah tsunami dile­bih­kan dari hasil perhi­tungan yang didapatkan para pakar.  De­ngan demikian, di dalam benak ma­s­yarakat akan muncul ke­arifan bahwa ia harus berupaya me­ngevakuasi diri dari zona me­rah dengan ketinggian yang dire­komendasikan tersebut.

 

Sebagai kesimpulan dari tu­lisan ini dapat disampaikan se­ba­gai berikut: gempa dangkal di Se­lat Mentawai kemungkinan di­­sebabkan oleh aktivitas sesar ge­ser, yang tidak berbahaya un­tuk kepulauan Mentawai ma­u­pun Pulau Sumatera.  Ia juga ti­dak berpotensi tsunami.  Na­mun gem­pa kuat dan dangkal di  Ke­pu­lauan Mentawai sampai ke dae­rah palung sebelah barat ke­pulauan (Samudera Hindia) bisa berbahaya baik untuk Sumatera, terutama bagi Mentawai sendiri.  Intensitas gempa ini akan tinggi di Mentawai dan menurun ke arah Sumatera.  Ini berpotensi me­nimbulkan tsunami.  Inten­sitas tsunami juga lebih tinggi di Mentawai daripada di Sumatera. 

 

Untuk itu, kewaspadaan ha­rus selalu ditingkatkan.  Miti­gasi harus dilakukan dengan sebaik-baik­nya, misalnya dengan me­ning­katkan kapasitas mas­yara­kat untuk menghadapi setiap ke­mungkinan yang akan terjadi, ter­utama bagi masyarakat yang ting­gal di Kepulauan Mentawai.  S­e­­bab daerah inilah yang me­mi­liki kerentanan dan anc­aman pa­ling tinggi, baik dalam hal in­ten­sitas gempa maupun tsu­na­mi, le­bih tinggi dibandingkan 6 kota dan kabupaten lainnya di pesisir Sumbar. (*)

[ Red/Administrator ]

Komentar Teras Utama


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Lokomotif tanpa Gerbong

KEPUTUSAN Ketua Umum Partai Persatuan Pem­ba­ngu­nan (PPP) Suryadharma Ali (SDA) berkoalisi dengan Partai Gerindra tanpa syarat, ternyata berbuntut panjang.

Belum Terima Elpiji

YTH bapak Wali Kota Padang yang baru. Kami warga RW 6, Guo Kuranji sampai sekarang belum menerima paket gas elpiji 3 Kg. Tolong di percepat karena minyak tanah harganya sudah naik.

Rabu ,23 April 2014

18 Caleg Incumbent Lolos

Agiah lo kesempatan yang baru-baru ko lai...........................!

 

Kepsek Pemukul Siswa jadi Tersangka

Proses sesuai hukum, Pak polisi...................................!

 

DPRD Pessel Diisi Wajah Baru

Lah tibo lo masonyo mah..............................!