Senin, 21 April 2014 - 20 Jumadil Akhir 1435 H 09:00:53 WIB
TERAS UTAMA

Berharap pada Kurikulum 2013

Oleh : Indang dewata

Kadisdik Kota Padang

Padang Ekspres • Kamis, 31/01/2013 12:06 WIB • 894 klik

Indang dewata

Jika kita menginginkan pendidikan bermutu, perubahan kurikulum mutlak dilakukan pemerintah. Perubahan pengembangan kurikulum itu didasari oleh tuntutan perkem­ba­ngan zaman begitu cepat. Ke­men­terian Pendidikan dan­ Kebu­dayaan me­man­dang penting terobosan pe­ning­katan mutu yang ter­ukur dalam me­nen­tukan kom­petensi mi­nimal harus di­capai peserta didik pada sa­­tuan pen­didikan. De­mi­kian pernyataan Wa­men­dik­­bud, Musliar Kasim dan Fas­li Jalal, tokoh pen­didi­kan urang awak ini di Universitas Andalas pada 27 Januari 2013.

 

Di tengah ribuan guru dan praktisi pendidikan Fasli Jalal menyampaikan pandangannya di bawah  tajuk, ”Tantangan dalam upaya peningkatan hasil belajar siswa di Indonesia.”

 

Ditegaskan bahwa guru pa­tut memberi mimpi kemajuan pe­serta didik yang siap bersaing me­lanjutkan pendidikan  kesa­tuan menpendidikan lebih ting­gi, dan pada sisi lain lulusan­nya di­terima di dunia kerja dan in­dustri. Hal ini tak lepas dari pe­ran guru sebagai fasilitator dan ke­sungguhan berbagai pi­hak me­wujudkan percepatan pe­ngem­­bangan bakat minat, dan po­tensi peserta didik.

 

Kurikulum 2006 memang te­lah memberikan kemajuan ber­arti. Namun, untuk men­da­patkan pendidikan bermutu ma­sih banyak hal patut disem­pur­na­kan di sana-sini. Ada be­berapa ce­­lah patut disem­purnakan. Ren­­dahnya tingkat berpikir pe­serta didik yang hanya seka­dar meng­hafal pelajaran tanpa pa­ham aplikasi konteksnya masih tertinggal dibandingkan lulusan sekolah di Asia Tenggara seperti  Malaysia, Thailand, Singapura

 

Di negara maju, sangat ba­nyak kemampuan guru yang telah men­carikan solusi  ham­ba­tan pem­belajaran peserta di­dik. Gu­ru menuangkan penga­la­man­­nya dalam bentuk best prak­­tis. Guru b­e­­lum maksimal me­­laku­kan adop­­­si dan adaptasi mo­del-model pem­­belajaran yang mem­beri pem­­bia­saan peser­ta didik ber­­pikir krea­tif dan inovatif. Se­men­tara, kita berharap banyak agar mutu pe­serta didik mening­kat. Pendidi­kan kita ke depan akan melahir­kan siswa cerdas dan kreatif. Ha­nya orang krea­tiflah memiliki ino­vasi dan kreasi, se­hingga meng­ha­silkan generasi bangsa yang ber­guna.

 

Wamendiknas Musliar Ka­sim dalam sosialisasi kuri­kulum 2013 itu mengaku, pendidikan Indonesia masih tertinggal dari ber­bagai negara bila diukur dari aso­siasi di bawah naungan PBB, se­perti WTO, ASEAN, APEC, CAFTA. Misalnya, nilai mate­ma­tika dan sains Indonesia dini­lai jauh tertinggal. Makanya, untuk me­­n­utup kekurangan kuri­ku­lum 2006 perlu penajaman pada beberapa hal.

 

Perubahan dan penyem­pur­naan kurikulum itu tidak hanya da­ri pusat belajar yang masih ber­tumpu pada guru. Namun, gu­ru harus membelajarkan pe­se­rta didiknya aktif dan kreatif, berpusat pada siswa. Materi kurikulum 2006 ada overlap, dan banyak waktu belajar peser­ta didik dalam PBM. Peser­ta di­dik belum mampu meng­ko­mu­ni­kasikan pendidikan yang telah diperolehnya secara lisan dan tulisan mulai dari pendidikan dasar sampai kepada pendi­di­kan menengah, dan pendi­d­ikan ting­gi. Padahal, kete­rampilan ber­­bi­cara dan menulis mem­bu­tuh­kan pemahaman untuk mem­­pe­roleh hasil pembe­lajaran.

 

Penyempurnaan kurikulum ini, selain isi kurikulum terlalu padat ditandai beratnya beban pe­serta didik harus membawa ba­nyak buku juga merujuk pada ma­teri yang melampuai usia pe­serta didik. Karakter peserta di­dik harus di atas segalanya. Me­todologi pembelajaran aktif ha­rus dimaksimalkan dengan ke­seimbangan soft skills dan hard skills. Kurikulum 2006 be­lum peka menanggapi peru­bahan so­sial yang terjadi pada tingkat lo­kal, nasional, dan global. Mela­lui kurikulum baru ini pemerin­tah ”sudah dan sedang” me­nyiap­kan ruang lingkup mate­ri dan tingkat kompetensi yang di­tuangkan dalam kriteria ten­tang kom­petensi tamatan, kom­pe­ten­si bahan kajian, kom­pe­tensi ma­ta pelajaran, dan silabus pem­belajaran harus dipenuhi peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu (baca: PP 19 Tahun 2005).

 

Kurikulum 2013 dilak­sana­kan bulan Juli 2013 ini. Ting­k­at SD dimulai dari kelas 1 dan kelas IV. Untuk tingkat SLTP dan ting­kat SLTA sederajat dimulai dari kelas X. Guru  dan kepala seko­lah dijadikan motor peng­gerak pe­laksanaan kurikulum ini de­ngan sebutan guru master. Pe­na­­jaman­nya adalah mewu­jud­kan peserta didik yang berakhlak mu­lia. Peser­ta didik harus me­mi­liki keteram­pilan relevan. Ma­teri yang diberi­kan dalam sila­bus di­sesuai­kan dengan ting­kat per­kemba­ngan peserta didik. Si­fat pembe­lajaran­nya kon­tekstual. Alasan peru­ba­han kurikulum ini, agar peserta didik mampu men­jadi bagian masyarakat global. Kemajuan tek­nologi dan informasi dijad­ikannya se­bagai wadah pengemb­angan bakat, minat, dan kompetensinya. Dengan demikian, akan lahir warga negara beretika, toleransi, dan bertanggung jawab.

 

 Sosialisasi terus dilakukan ke­pada berbagai pihak. Peme­rin­tah melibatkan dosen, wid­yaiswara, pengambil kebi­jakan, gu­ru, dan lainnya. Pemerintah ti­dak hanya memberikan sila­bus, ran­cangan program pembe­lajaran (RPP), tetapi juga me­nye­­diakan buku pegangan guru dan buku pegangan peserta di­dik. Hal ini ditujukan agar pe­serta didik memiliki standar kom­petensi lulusan minimal dan berkualitas, baik dari penge­ta­huan, sikap, maupun kete­ram­pilan dalam pengembangan IPTEK dan IMTAQ –nya.

 

Filosofi  perubahan kuriku­lum pendidikan ini berba­sis pada nilai-nilai luhur, nilai aka­demik, kebutuhan peserta didik dan masyarakat. Perubahannya ber­tumpu pada metodologi pem­belajaran. Melalui meto­do­logi itulah tujuan pembe­lajaran ber­­proses, sehingga menjadi il­mu yang dapat diuji kebe­na­ran­nya berdasarkan indi­kator.

 

Indikator juga harus dimak­nai guru sebagai pen­dorong pe­ningkatan mutu belajar. Indika­tor yang telah ditetapkan dijadi­kan penanda pencapaian kom­pe­tensi dasar (KD) ditandai pe­ru­bahan perilaku yang dapat di­ukur mencakupi sikap, pe­ngeta­huan, dan keterampilan. Dengan memahami standar isi, guru me­mahami ruang lingkup mate­ri dan tingkat kompetensi, kom­pe­tensi tamatan, kom­petensi ba­han kajian, kompetensi mata pelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.

 

Wamendiknas menekankan bah­wa kemampuan berpikir kri­t­is peserta didik harus diwu­jud­kan. Penyempurnaan kuriku­lum dan metode pembelajaran be­r­da­sarkan nilai-nilai budaya bang­sa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa. Ele­me­n perubahan dinyata­kannya bah­wa untuk tingkat SD dikem­bangkan kompetensi tematik in­tegratif dalam semua mata pela­jaran. Pembelajaran dilak­sana­kan dengan pendekatan sains. Jum­l­ah pelajaran dari 10 men­jadi 6 mata pelajaran. Pramuka di­jadikan ekstrakurikuler wajib. Se­­lain itu, ada juga ektraku­ri­ku­ler UKS, PMR, dan bahasa Inggris.

 

Pada tingkat SLTP dikem­bangkan kompetensi mata pela­ja­ran. Pengembangan diri terin­tegrasi pada setiap mata pela­j­a­ran dan ekstrakurikuler. Pela­ja­ran IPA dan IPS diajarkan se­cara ter­padu. Pramuka dijadi­kan eks­trakurikuler wajib. Selain itu, juga ada kegiatan ektrakurikuler OSIS, PMR, UKS. Pada tingkat SLTA adanya mata pelajaran wa­jib dan pilihan. Penjurusan telah ada seja kelas X, terjadi pengu­ra­ngan mata pelajaran yang di­ikuti peserta didik. Pramuka dijadikan ekstrakurikuler wajib. Selain itu, juga ada ektraku­rikuler OSIS, PMR, UKS. Juga, me­ngacu kepada 10 bidang OSIS pem­­binaan kesiswaan. Satuan pen­didikan SMK dikembangkan me­lalui kompentensi mata pela­jaran wajib, pilihan, dan vokasi. Pe­nye­suaian keahlian berda­sar­kan spektrum kebutuhan saat ini.

 

Inti kurikulum 2013 menj­a­dikan peserta didik produk­tif, krea­tif, inovatif, dan efektif di da­lam mengaplikasikan sikap, me­miliki keterampilan, menam­bah dan mengembangkan kemam­puan­nya. Jelasnya, rancangan tu­­juan perubahan kurikulum akan bermakna di tangan guru. Bu­kankah guru yang hebat me­la­hirkan peserta didik yang hebat? Bukankah hakikat guru profesional itu memiliki empat kompetensi dasar yang memberi la­yanan lebih dalam mendidik, me­ngajar, melatih, dan mem­biasakan siswa ke arah yang lebih baik?. Semoga. (*)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Teras Utama


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!