Kamis, 24 April 2014 - 23 Jumadil Akhir 1435 H 12:48:54 WIB
OPINI

Mata Pelajaran PKn dan Keterpurukan Karakter

Oleh : Zulhelminentis

Guru SMPN 2 2x11 Kayutanam

Padang Ekspres • Selasa, 04/12/2012 12:10 WIB • 2296 klik

Mata Pelajaran Pendidikan Ke­warganegaraan (PKn) sudah beberapa kali mengalami  perubahan nama, mulai dari Pendidikan Moral Pancasila (PMP), Kewarganegaraan  (KWN) Pendidikan Pancasila dan Kewar­ga­negaraan (PPKN),  sekarang Pen­di­dikan Kewarganegaraan (PKn), dan  jika kurikulum yang baru diberlakukan  tahun 2013 akan kembali kepada Pendidikan Pancasila dan Kewar­ga­negaraan (PPKn).

 

Mata Pelajaran Pendidikan Kewar­ga­negaraan (PKn) merupakan mata pelajaran yang memfokuskan  pada pembentukan  warga negara yang memahami dan mampu melaksanakan hak dan kewajibannya  untuk menjadi warga negara yang berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945, cerdas dan terampil menurut Helmi Hasan (2004) bahwa Civic Education itu adalah pembelajaran, dimana guru dan siswa harus mampu me­nga­wasi kebijkan pemerintah. Sementara itu menurut Yulinar Nur (2004) meli­hat ada tiga kompetensi yang harus diper­hatikan guru dalam PKn  yang mampu mengotrol kebijakan pe­me­rin­tah, yaitu (1), peserta didik mampu ber­pikir kritis, rasional dan kreatif, dalam merespon isu-isu Kewarganegaraan, (2), peserta didik mampu ber­par­tisi­pasi secara cerdas dan bertanggung  jawab dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dan (3), peserta didik mampu membentuk diri berdasakan kepada karakter-karakter positif masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia yang demokratis. 

 

Sebagai mana lazimnya semua mata pelajaran, mata pelajaran PKn  memiliki visi, misi, tujuan dan ruang lingkup isi, visi mata pelajaran PKn adalah terwujudnya suatu pelajaran yang berfungsi sebagai sarana pem­bi­naan watak bangsa (Nation and Cha­rac­ter Building) dan pemberdayaan warga negara. Adapun misi pelajaran PKn adalah membentuk warga negara yang baik, yakni warga negara yang sanggup melaksanakan hak dan ke­wa­ji­bannya dalam kehidupan berbangsa, dan bernegara sesuai dengan UUD 1945,  sementara tujuan PKn adalah (1), peserta didik memiliki kemampuan berfikir secara rasional, kritis, dan kreatif sehingga mampu memahami berbagai wacana kewarganegaraan, (2), peserta didik memiliki keterampilan intelektual dan keterampilan berpar­ti­si­pasi secara demokratis dan ber­tang­gung jawab, (3), peserta didik memiliki wa­tak dan kepribadian yang baik, sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan ber­ma­sya­rakat dan bernegara.

 

Sejalan dengan tujuan PKn, aspek-aspek kompetensi yang hendak dik­em­bangkan dalam Pembelajaran PKn men­cakup  Pengetahuan Ke­wargane­garaan (civic knowledge)  yang me­nya­ngkut berbagai teori dan konsep politik, hukum, dan moral, Keterampilan Kewarganegaraan  (civic sklils), me­liputi keterempilan intelektual (In­te­lectual Skills ), keterampilan ber­par­tisipasi (Paticipatory skills) dalam ke­hidupan berbangsa dan bernegara. Karakter Kewarganegaraan (civic disposition ) ini merupakan dimensi yang paling substansif dan essensial dalam pembelajaran PKn, karena dengan men­guasai pengetahuan  kewar­gane­ga­raan dan keterampilan kewar­ga­ne­ga­raan akan membentuk watak/karakter, sikap dan kebiasaan hidup sehari-hari yang mencerminkan warga negara yang baik. Misalnya, religius, jujur, adil, demokratis, menghargai perbedaan, menghormati hukum, menghormati HAM, memiliki semangat kebangsaan yang kuat, rela berkorban dan seb­a­gainya.

 

Jika dilihat dari karakteristik pem­be­lajaran PKn di atas, implikasinya lebih banyak kepada pengetahuan kewarganegaraan yang lebih banyak meliputi pengetahuan tentang hak dan kewajiban warga negara, HAM, prin­sip-prinsip dan proses demokrasi, lem­baga-lembaga negara dan keterampilan intelektual dalam merespons berbagai persoalan politik dan hukum, kurang terlihat adanya pembentukan karakter bangsa yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, seperti yang diajarkan dalam Pendidikan Moral Pancasila  (PMP) dan  Pendidikan Pancasila dan Kewar­ga­negaraan  (PPKn).

 

Sebagai seorang guru PKn saya tak habis pikir, kenapa Pancasila sampai diabaikan dalam  kehidupan berbangsa dan  bernegara umumnya dan dalam dunia pendidikan khususnya, padahal Pancasila merupakan Idiologi bangsa dan Dasar Negara.  Pancasila sebagai Idiologi negara atau falsafah hidup bangsa hendaknya memiliki peranan besar dalam membangun karakter bangsa yang mengalami dekadensi mo­ral, begitupun dalam dunia pendidikan formal yang lebih mengedepankan Ranah Kognitif sebagai hasil akhir dari belajar, tetapi mengeyampingkan Ranah afektif dan psikomotor yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Perumusan Pancasila oleh The Founding Father digali dari kepribadian asli bangsa Indonesia sendiri yang diru­mus­kan ke dalam 5 dasar/sila yang su­dah sangat tepat dan fleksibel sebagai  nilai-nilai dan karakter bangsa. Apalagi di era globalisasi sekarang ini, Pancasila hendaknya dijadikan kepribadian agar kita mampu memfilter setiap pengaruh yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.

 

Pancasila sebagai dasar negara merupakan nilai dasar yang normatif terhadap seluruh penyelenggaraan ketatanegaraan, yang menjadi dasar falsafah  negara yang memuat norma-norma paling mendasar untuk me­nentukann keabsahan pe­nyele­ng­garaan negara dan kebijakan-kebijakan penting yang diambil dalam proses pemerintahan, dalam hal ini ke­du­du­kan Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum, artinya segala sikap dan perilaku para penyelenggara negara atau pemerintah dan semua warg­a negara Indonesia  harus merujuk kepada pancasila dan tidak boleh bertentangan dengan Pancasila.

 

Dengan adanya gagasan peme­rin­tah tentang pendidikan karakter yang entah bagai mana penerapannya yang pasti dalam pendidikan, semakin mengaburkan nilai-nilai murni Pan­casila sebagai Ideologi bangsa, karena se­panjang pengetahuan saya pen­di­dikan karakter yang akan diterapkan itu dirumuskan lagi point-point nya, padahal sudah ada Pancasila dengan 36 butir nilai-nilainya yang dapat dija­di­kan butir-butir pendidikan karakter, pemerintah tinggal memikirkan bagai mana penerapan yang tepat sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini.

 

Dalam pendidikan formal, mata pelajaran Pendidikan Kewaganegaraan (PKn), atau  lebih tepat PPKN  atau PMP kembali  merupakan satu-satunya Mata Pelajaran yang langsung mem­berikan pendidikan tentang kewar­ga­negaraan dan membangun karakter pe­serta didik (Character Building)   sesuai dengan Pancasila. Jika pergantian kurikulum ikut mengubah nama dan materi PPKN dengan meninggalkan Pancasila sebagai karakter  yang mesti diterapkan kepada peserta didik, dikhawatirkan ke depannya generasi muda Indonesia semakin mengalami keterpurukan karakter atau karakter yang buruk (bad character) dapat dibayangkan apa yang akan terjadi dengan negara ini, sekarang saja sudah  terlihat dampaknya, maraknya tawu­ran pelajar yang sudah menjurus kepada tindakan kriminil, pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pelajar dan sebagainya.

 

Sebagai guru PKn saya berharap, jika kurikulum baru diberlakukan tahun 2013 nanti, dimana Mata Pela­ja­ran PKn akan kembali kepada PPKN materinya lebih banyak kepada mem­ba­ngun karakter siswa, bukan ranah kognitif/ teori, tetapi lebih banyak ranah afektif dan psikomotornya, agar peserta didik memiliki karakter Pan­casila yang diharapkan mampu me­nempatkan dirinya dalam arus glo­ba­lisasi, terutama sekali dalam menyikapi kemajuan teknologi informasi. *

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Opini


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Kacamata Kuda KPK

KRITIK dan pujian selalu datang bersamaan setiap kali Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat ”kejutan” baru. Termasuk ketika menetapkan mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo sebagai ter­sangka dalam kasus pajak yang terjadi pada 2004.

Belum Terima Elpiji

YTH bapak Wali Kota Padang yang baru. Kami warga RW 6, Guo Kuranji sampai sekarang belum menerima paket gas elpiji 3 Kg. Tolong di percepat karena minyak tanah harganya sudah naik.

Kamis ,24 April 2014

Tunggu SK Mendagri

Lai ndak ka ta undur lo tu Pak, dek KPK lah manyasar Mendagri lo..........!

 

14 Warga Digigit Anjing Gila

Iah gawat mah pak,lai aman Pak..................................................?

 

UN SLTP, Padang Target Jawara

semoga lah pak, asa ndak pakai jimat se.....................................!