Sabtu, 19 April 2014 - 18 Jumadil Akhir 1435 H 19:51:24 WIB
KOPI MINGGU

Guru

Oleh : Sukri Umar

Wartawan Padang Ekspres

Padang Ekspres • Minggu, 02/12/2012 09:07 WIB • 435 klik

Sukri Umar

Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku

Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku

Sebagai prasasti terima kasihku

Tuk pengabdianmu

 

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan

Engkau laksana embun penyejuk dalam

kehausan

Engkau patriot pahlawan bangsa

Tanpa tanda jasa


Lirik lagu karya Eyang Sartono di atas, sangat lekat pada kita bahkan sejak usia dini ketika menginjakan kaki di bangku sekolah. Kita menyanyikannya dengan penuh perasaan, karena begitu besar jasa guru terhadap anak didiknya. Baik dalam hal membaca, menulis, atau pun ilmu ilmu lainnya sesuai dengan kemampuan guru tersebut. Guru memang diidentikan dengan mereka yang mengajar di sekolah sekolah, berada di depan kelas memberikan pelajaran pada muridnya.

 

Tetapi guru bukan hanya mereka yang berseragam Korpri atau yang memiliki NIP (nomor induk pegawai). Mereka yang tidak memiliki NIP atau yang tidak punya gedung sekolah formal pun kita sebut se­bagai guru.

 

 Misalnya guru mengaji, guru beladiri se­rta guru guru lainnya yang tidak berpakaian se­ragam, tidak punya ruangan khusus dan juga tidak punya pendapatan khusus atas ilmu yang dibe­rikannya.

 

Siapa pun yang memberikan ilmu sebenarnya menjadi seo­ra­ng guru. Pengalaman pun kita sebut sebagai guru, karena ia memberikan pelajaran yang berarti bagi kehidupan se­seo­rang.

 

Secara fisik guru adalah orang yang sangat dihargai bahkan sebagian orang menjadikan guru sebagai idolanya. Terkadang ada juga salah kaprah, menerima apapun yang diucapkan atau disampaikan gurunya, meski yang disampaikan itu keliru dan salah. Namun kepatuhan pada guru yang berlebihan dari waktu ke waktu mulai memudar. Kini demokrasi menerobos hingga ruang ruang kelas, guru sangat demokratis dengan muridnya sehingga berdialog dan adu argumen atas sebuah persoalan sudah menjadi hal biasa. Tak zamannya lagi guru me­ma­rahkan murid lantaran berdebat ke­benaran teori pelajaran yang diberikan.

 

Dalam dunia pendidikan, dialog dan perdebatan antara seorang murid/siswa dengan gurunya sudah lumrah. Ter­kadang murid yang cerdas bisa menguasai materi melebihi gu­runya. Siswa yang rajin mem­baca literatur serta mengikuti perkembangan ilmu pe­nge­tahuan dan pendidikan dengan be­ragam media, ia bisa saja melebihi kemampuan gurunya. Misalnya saja dalam dunia po­litik dan perkembangan se­buah kasus. Jika dibedah pada sebuah kelas belajar maka seorang murid bisa saja penguasaannya mel­ebihi guru. Ia membaca media cetak, mendengarkan radio, menyaksikan televisi atau mem­baca literatur di buku dan di dunia maya.

 

Seorang guru tentu tidak mau malu muka di depan kelas karena menguasai materi yang minim. Seorang guru tidak mau kehilangan muka di depan kelas hanya karena tak menguasai materi pelajaran, tak menguasai informasi dan sebagainya. Seo­ra­ng guru tak mau kehilangan muka di depan kelas hanya ka­rena malas menambah wa­wa­san, malas memperbaharui penguasaan materi dan malas membaca perkembangan yang terjadi di kelas dan di luar ruangan kelas. Justru itu tak zamannya lagi guru malas dari murid jika tak mau malu di depan kelas.

 

Guru memberikan pe­nge­tahuan yang baik pada murid, bukan pengetahuan sesat. Tak salah ada pepatah yang berbunyi ”guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Jika guru mem­berikan pelajaran yang salah sedikit saja, maka alamat buruk muridnya akan melakukan ke­sal­ahan yang lebih besar pula. Justru itu seorang guru harus mampu tampil sebagai tauladan dan contoh bagi murid mu­ridnya.

 

Guru merupakan sosok yang menjadi panutan bagi siswanya, ia dituntut untuk memiliki ilmu pengetahuan yang selalu ber­kem­bang dan mengikuti ke­ma­juan jaman. Sudah tidak wak­tunya lagi guru yang kaku, me­miliki pengetahuan terbatas, dan tidak mau terbuka dengan ke­ma­juan teknologi. Menurut UU No 14/2005 Tentang guru dan dosen, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama men­didik, mengajar, mem­bimbing, mengarahkan, me­­latih, menilai, dan me­ng­eva­luasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan for­mal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

 

Penghargaan Buat Guru

 

Profesi guru dari dulu hingga sekarang sangatlah terhormat. Guru disebut sebagai pahlawan tan­pa tanda jasa. Ia telah mem­berikan ilmu, mengantar mu­ridnya menjadi orang yang be­rilmu, berguna dan sukses di masa depannya. Secara estafet mu­lai dari tingkat dasar hingga ti­n­gkat atas guru telah me­la­hir­kan orang orang yang ber­guna. Seorang mantan murid yang berhasil tak mampu lagi berpikir seperti apa ucapan terima kasih yang mesti dibe­rikan pada man­tan mantan gu­runya.

 

Murid yang sudah me­ning­galkan almamater puluhan ta­hun terkadang tak punya waktu mencari mantan guru yang mungkin sudah pensiun atau bahkan mencari pusaranya kar­ena sudah meninggal dunia. Mungkin masih di suasana peri­nga­tan hari guru 25 November kita semua bisa menyanyikan lirik lagu yang barangkali di an­tara kita masih ada yang hafal.

 

Terima Kasih Guru

Terima Kasihku Ku Ucapkan,

Pada Guruku Yang Tulus

Ilmu Yang Berguna Slalu

Di Limpahkan

Untuk Bekalku Nanti

Setiap Hariku Di Bimbingnya

Agar Tumbuhlah Bakatku

Kan Ku Ingat Slalu Nasihat Guruku

Trima Kasihku Guruku

 

Sebenarnya pemerintah te­rus memberikan perhatian ter­hadap para guru, termasuk pe­ningkatan kesejahterannya. Jika dulu guru sebagai profesi yang mulia tetapi kurang sejahtera maka kini guru sudah menjadi profesi yang diiringi dengan ke­sejahteraan. Tunjangan pro­fesi yang diberikan negara telah merubah kehidupan guru. Jika dulu pemberi kredit takut be­ru­rusan dengan guru maka kini guru menjadi target utama yang cukup besar jumlahnya. Jika dulu guru hanya mampu me­milik rumah di Perumnas, kini mereka bisa memilih kawasan yang lebih mahal. Jika dulu banyak guru yang ngojek dan berjualan di lingkungan sekolah untuk tambah pendapatan, kini guru sudah bisa hidup dengan layak.

 

Seperti apapun perubahan pendapatan dan kesejahteraan tentu saja di momentum sua­sana hari guru, para guru yang ada tidak lupa dengan tugas dan tang­gung jawabnya men­cer­daskan anak anak bangsa. Mulai dari guru yang mengajar di tingkat usia dini melalui program PAUDIN maupun yang mengajar di tingkat atas. Ke­sejah­teraan yang meningkat adalah hak bagi guru guru kita yang telah memberikan kont­ri­busi besar bagi keserdasan anak bangsa. Tetapi memberikan pelajaran terbaik bagi murid muridnya adalah kewajiban yang tak bisa ditawar tawar sebagai seorang guru.

 

Pada era modern sekarang ini, seorang guru harus mampu merajut kembali fitrah konsep tentang guru sejati yaitu seorang pendidik dan pengajar yang profesional dan berhati mulia. Konsep ini nampaknya sangat sederhana, tetapi memiliki tun­tu­tan yang sangat berat dengan se­gala konsekuensinya. Untuk menjadi seorang guru yang profesional saja tidaklah mudah, apa­lagi juga sekaligus berhati mulia.  Secara strategis guru me­miliki fungsi dan peran yang sangat fleksibel, bahkan bersifat mul­tifungsi. Di bidang pen­didikan, khususnya di sekolah, seo­rang guru bukan hanya ber­fungsi dan berperan sebagai pen­didik dan pengajar, tetapi juga sebagai pengganti orangtua bagi anak-anak. Di dalam ke­hi­dupan politik dan sosial, seo­rang guru sering dapat di­manfaatkan untuk aneka ke­pentingan. (*)

[ Red/Administrator ]

Komentar Kopi Minggu


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!