Jum'at, 18 April 2014 - 17 Jumadil Akhir 1435 H 04:23:15 WIB
OPINI

Hakikat Manusia Menurut Al Quran

Oleh : Muhammad Kosim

(Kolumnis & Guru PAI MTsN Durian Tarung Padang)

Padang Ekspres • Jumat, 30/11/2012 13:23 WIB • 5005 klik

Manusia adalah makhluk yang unik, sehingga kajian tentang hakikat manusia itu tak pernah berakhir. Berbagai disiplin ilmu selalu menggali dan mengkaji hakikat manusia itu sendiri, sesuai dengan corak keilmuan­nya.

 

Alquran juga banyak memberikan informasi tentang manusia. Salah satu di antaranya dapat dilihat dari istilah-is­tilah manusia yang digunakan Al­quran.

 

Menurut Quraish Shihab (1998: 275), ada  tiga  kata  yang digunakan Al-Quran menyebut manusia: 1) kata yang terdiri dari huruf alif, nun,dan sin, semacam insân, ins, nâs, atau unas; 2) kata basyar; dan 3) kata Bani Adam, dan dzuriyat Adam.

 

Jika ditelusuri ayat-ayat Al Quran yang menggunakan istilah atau kata di atas, maka dapat dipahami gambaran tentang hakikat manusia dengan ke­cen­derungan sifat dan kedudukannya.

 

Kata basyar berarti kulit. Kata ini menggambarkan manusia dari sisi fisik biologisnya, seperti dikaitkan dengan makan dan minum (Qs. 23: 33-34), melakukan hubungan lawan jenis (Qs.3: 47), dan  mengadakan penye­baran dari satu tempat ke tempat lain (nomaden)dalam rangka mencari tembat baru, mencari makan dan perjodohan (Qs. 30: 20). Dalam ilmu antropologi dikenal bahwa penyebaran manusia (Rif’at Syauqi, 2011: 5).

 

Kata al-insdisebutkan sebanyak 18 kali dan semuanya dihubungkan de­ngan kata al-jinn.Al-ins dan al-jinn di­cip­takan agar senantiasa beribadah ke­pada-Nya (Qs. 51: 56). Sebagian ada membangkang menjadi penghuni neraka (Qs. 7: 179). Ada pula yang taat menjadi penghuni surga (Qs. 55: 74). Kata ini mengisyaratkan bahwa ma­nu­sia adalah makhluk spiritual yang di­tu­gaskan untuk beribadah kepada-Nya.

 

Aisyah Bint Syati berpendapat kata al-ins mengandung arti “tidak liar” atau “tidak biadab”, sebab manusia keba­li­kan dari jin yang bersifat metafisik. Me­tafisik itu identik dengan “liar” atau “be­bas” karena tak mengenal ruang dan wak­tu. Jadi manusia itu makhluk “ji­nak”.

 

Kata al-unâs, jamak dari kata al-insân,terulang sebanyak 5 kali. Ba­ha­ruddin (2004: 76) menyimpulkan is­tilah al-unâs menggambarkan manusia sebagai makhluk berkelompok sesuai dengan ciri-ciri dan persamaannya seperti persamaan biologis, kebutuhan, kepentingan, suku, bangsa dan se­ba­gainya.

 

Kata al-insân, terulang sebanyak 65 kali. Syed M. Naquib al-Attas (1931) berpendapat al-insân berasal dari nasiya berarti lupa. Manusia lupa memenuhi kewajiban dan tujuan hi­dup­nya setelah bersaksi akan kebe­na­ran perjanjian yang menuntunnya untuk taat pada Allah (Qs. 7: 172 dan 20: 115) karenanya ia bisa ingkar sehingga berbuat ketidakadilan (zhulm) dan kejahilan (jahl) (Qs. 33: 72).

 

Kata al-insân juga me­nggambarkan ha­kikat manusia secara totalitas, berdimensi jasmani juga rohani(Qs. 95: 4 dan 23: 12-14). Agaknya karena itu pula dalam kajian tasawuf-falsafi, kata yang dipakai untuk menggambarkan “manusia sempurna” menggunakan kata al-insân, yaitu al-insân al-kâmil.

 

Kata al-nâs, terulang sebanyak 243 dan di antaranya diikuti katayâ ayyuhâ (wahai manusia). Maknanya manusia sebagai makhluk sosial (zoon politicon) yang tidak bisa hidup normal kecuali dalam kebersamaan dengan sesa­ma­nya(Qs. 49: 13).

 

Kata banî adam atau dzurriyat adamterulang 7 kali berarti “anak keturunan Adam”. Isitilah ini ber­mak­na manusia adalah makhluk yang melebihi kelebihan dan keistimewaan dari makhluk lainnya. Keistimewaan itu meliputi fitrah keagamaan, pera­da­ban, dan kemampuan memanfaatkan alam. Istilah ini juga bermakna ke­lebi­han manusia dari segi intelektualnya. Sebab Nabi Adam a.s. merupakan seorang yang menerima pengajaran dari Allah (Qs. 2: 31).

 

Jalaluddin (2003: 27) menegaskan bahwa konsep Bani Adam mengacu kepada penghormatan kepada nilai-nilai kemanusiaan. Jadi istilah ini bermakna manusia itu memiliki ber­ba­gai potensi yang membuatnya lebih mulia dari pada makhluk lainnya.

 

Selain dari istilah-istilah yang menunjukkan makna manusia, Al Quran juga menggambarkan dimensi kepribadian manusia. Al-Attas me­nye­but “manusia memiliki hakikat ganda atau dwi hakikat (dual nature): jiwa dan raga.

 

Pertumbuhan dan perkembangan jasmani manusia dijelaskan surat al-Mukminun ayat 12-13. Dimensi jas­mani berasal dari tanah atau berbentuk ma­teri. Karenanya manusia mem­bu­tuhkan hal-hal yang bersifat materi, se­perti sandang, pangan, papan, pasa­ngan, keturunan, dan sebagainya.

 

Ikhwan al-Shafa’ berpendapat jism bersifat duniawi dan memiliki natur buruk, sebab ia penjara bagi ruh, kesibukannya mengganggu kesibukan ruh untuk beribadah kepada Allah SWT, dan  dengan kesendiriannya, jasad tidak mampu mencapai makrifat Allah (Ikhwan al-Shafa’). Meskipun tidak menjadi esensi dari manusia itu, tetapi Islam tetap mengakui eksistensi ­al-jism, sehingga kebutuhannya harus tetap dipenuhi sesuai dengan ajaran-Nya.

 

Jika unsur jasmani berasal dari bumi/tanah atau materi, maka dimensi rohani manusia berasal dari ruh (cip­taan) Allah (Qs. 32: 9).

 

Menurut Achmadi (2008: 44), ketika ditiupkan ruh kepada manusia terjadilah getaran Ilahi sehingga ma­nusia hidup sebagai makhluk jasmani dan rohani yang mulia melebihi makh­luk lainnya. Kelebihan manusia itu terutama karena memperoleh percikan sifat-sifat kesempurnaan Ilahi:“al-asmâ’ al-husnâ”.

 

Hasan Langgulung (2002: 216) juga berpendapat sama sehingga ia meng­kri­tik psikologi Barat yang hanya memandang manusia dari dua dimensi saja, yaitu dimensi jasmaniah (seperti kekuatan, kelajuan, berat, sistem saraf, penglihatan, pendengaran, dan lain-lain) dan dimensi psikologikal (seperti intelek, kreativiti, emosi, sosial, daya hujah, belajar, sikap, dan lain-lain). Sedangkan dimensi rohani senantiasa hilang. Dimensi rohaniah yang dimak­sud adalah dimensi yang memuat sifat-sifat yang terdapat dalam “al-asmâ’ al-hus­nâ”.

 

Jadi dimensi rohaniah inilah yang menjadi modal dasar utama bagi manusia untuk mampu menjalankan tugas dan perannya sebagai hamba (‘abd) Allah dan khalîfah-Nya di muka bumi.

 

Hasan Langgulung juga berpen­da­pat dimensi rohaniah itu memiliki beberapa potensi penting, di antaranya adalah ruh, qalb, aql, dan nafs. Posisi yang tertinggi adalah ruh, lalu diikuti oleh qalb, aql, dan yang terendah adalah nafs. Hakikat nafs pada dasar­nya sama tarafnya dengan ruh sebelum nafs berhubungan dengan badan. Tapi bila nafs terhubung dengan badan, maka kedudukan nafs menjadi lebih rendah.

 

Ruh merupakan sesuatu yang suci sebagai anugerah dari Allah SWT kepada manusia sehingga manusia itu menjadi mulia, ketika ia mampu me­non­jolkan natur ruh tersebut. Jika dite­laah pemikiran dari tokoh intelektual Islam lainnya, masih banyak ragam interpretasi tentang hakikat dimensi ruhaniah manusia ini, terutama po­tensi-potensi yang ada di dalamnya.

 

Dengan keterbatasan kemampuan akal manusia, kajian terhadap hakikat ma­nusia, terutama dari dimensi ru­ha­niah­nya tidak akan pernah tuntas di­ba­has, karena hanya Allah yang dapat me­­ngetahui secara sempurna (Qs. 17: 85).

 

Dari kajian ayat-ayat di atas, dapat dipahami bahwa Alquran meng­infor­ma­sikan bahwa hakikat manusia ada­lah makhluk ciptaan Allah yang di­mu­lia­kan. Manusia memiliki ragam po­ten­si yang harus dikembangkan sesuai atu­ran-Nya. Manusia adalah makhluk so­sial yang eksistensinya semakin mu­lia tatkala banyak memberi manfaat ba­gi sesama dan lingkungannya berda­sar­kan ajaran-Nya (amanu wa ‘amil al-sh­a­lih).

 

Maka manusia harus bergerak berlandaskan firman-firman Tuhan dan menuju keridhaan-Nya. Ia berin­te­rak­si dengan alam sebagai bentuk ke­tun­dukannya kepada Allah sehingga pe­­rilakunya menciptakan kema­s­la­ha­tan.

 

Ia senang membantu atas dasar dorongan fitrah-nya sebagai makhluk yang sama-sama diciptakan Allah. Ia membuka peluang kesuksesan bagi orang lain, bukan justru menutup rapat peluang saudaranya untuk menjadi lebih baik dan berprestasi.

 

Itulah pentingnya mengenali diri sendiri, sebab “barang siapa yang kenal dengan dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya”. Itulah puncak kebahagiaan tertinggi.

 

Ketika manusia tidak memahami hakikat dirinya, maka ia akan disi­buk­kan untuk memenuhi kepentingan jasmaniahnya berdasarkan dorongan nafsu syahwat. Potensi al-asmâ’ al-husnâyang melekat pada dimensi ruhaniahnya justru membuatnya ang­kuh, bahkan berlagak seperti “Tuhan”: merasa memiliki dan hanya me­man­dang orang lain hina-dina.

 

Akibatnya, manusia lain dija­dikan­nya sebagai sapi perahan, didekati selagi menguntungkan, disingkirkan jika merugikan. Kekayaan alam diek­s­plo­itasi secara zalim tanpa memikirkan nasib generasi mendatang.

 

Orientasi hidup hanya jangka pen­dek. Kenikmatan yang diperjuangkan hanya urusan perut ke bawah, sehingga perilakunya sama dengan hewan ter­nak, bahkan lebih rendah darinya (Qs. 7: 179).Na’udzu bi Allah min Dzalik.

[ Red/Administrator ]

Komentar Opini


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!