Minggu, 20 April 2014 - 19 Jumadil Akhir 1435 H 12:44:07 WIB
TERAS UTAMA

Banjir Padang

Oleh : Badrul Mustafa

Dosen Unand dan Koordinator Tim Kerja API Perubahan Forum PRB Sumbar

Padang Ekspres • Senin, 05/11/2012 11:36 WIB • 348 klik

Badrul Mustafa

Banjir  adalah suatu keadaan dimana sungai ketika aliran airnya tidak tertampung oleh cekungan yang terbentuk oleh aliran air secara alamiah atau buatan manusia untuk mengalirkan air atau sedimen. Banjir disebabkan oleh berbagai faktor, terutama jumlah curah hujan yang tinggi dalam selang waktu yang pendek (harian) dan lebih banyak mengalir sebagai aliran permukaan (surface run-off).  Pada umumnya banjir  terjadi di dataran, atau hilir suatu DAS (Daerah Aliran Sungai).

 

Walau banjir bukanlah merupakan hal asing di Kota Padang, namun yang terjadi pada Kamis, 18 Oktober lalu adalah sebuah kejadian yang (agak) luar biasa.  Dikatakan (agak) luar biasa karena dengan hujan yang berlangsung tidak terlalu lama (sekitar tiga jam) dengan intensitas tidak terlalu tinggi, tapi agak tinggi, maka hampir semua bagian di kota Padang terendam banjir.  Di daerah-daerah langganan banjir, genangan air lebih tinggi lagi tentunya.  Terlihatlah pemandangan umum dimana-ma­na yakni jalan yang teren­dam sehingga tidak nampak lagi batas antara jalan dan ban­dar/se­lokan, sepeda motor dan ken­da­raan roda empat yang mogok ser­ta macet parah.  Sore itu ba­nyak pelajar dan warga kota lain­nya menumpuk di pinggir-ping­gir jalan raya berbasah-basah me­nunggu angkutan umum.

 

Selain curah hujan tinggi, ada beberapa faktor lagi yang men­jadi penyebab banjir.  Fak­tor-faktor tersebut antara lain: Per­tama, degradasi vegetasi (pohon-pohon besar) di daerah hu­lu sungai sehingga surface run-off meningkat.  Kedua, ter­jadi pendangkalan sungai akibat erosi dan sedimentasi, sehingga su­ngai meluap.  Ketiga, tersum­bat­nya drainase di dalam kota oleh sampah serta dimensi drai­na­se yang tidak memadai di be­be­rapa komplek perumahan.  Di­mensi drainase tidak sesuai dengan jumlah unit rumah dan ang­gota masyarakat yang berada di tempat itu.  Bahkan di bebe­ra­pa tempat tidak terdapat sa­lu­ran drainase di kiri dan kanan ja­lan, misalnya di Jalan Raya Andalas. 

 

Persoalan degradasi vegetasi di hulu DAS sudah terbukti seca­ra nyata seperti yang dilapo­r­kan oleh berbagai media massa, s­e­telah terjadinya galodo di Pa­dang, 24 Juli lalu.  Ketika daerah tang­kapan hujan terbuka akibat di­tebangnya pohon-pohon be­sar, maka waktu hujan turun ham­pir semuanya mengalir di per­mukaan tanpa banyak yang masuk ke dalam tanah melalui akar-akar tanaman.  Selain juml­ah air hujan yang mengalir sa­ngat banyak, ia juga menim­bul­kan erosi (mengikis per­mukaan tanah yang dilalui). Mengatasi persoalan ini, tentu memerlukan wak­tu yang panjang, yakni mela­lui proyek reboisasi. Reboi­sa­si­nya harus dilakukan sekarang, tan­pa menunggu-nunggu lagi, yang hasilnya baru terasa setelah le­bih dari lima tahun.

 

Pendangkalan sungai dise­bab­kan terjadinya erosi di dae­rah hulu sungai, yang kemu­dian di­endapkan di dasar sungai.  Jum­lah endapan ini semakin be­sar di daerah hilir (rendah).  Se­lain itu perilaku masyarakat yang tinggal di pinggir-pinggir su­ngai yang menjadikan sungai se­­b­agai tempat pembuangan sam­­pah juga turut menjadi andil ter­­jadinya pendangkalan ini.  Bah­kan sebagian sampah ini te­rus ke muara dan pantai Pa­dang, se­hingga Pantai Padang menjadi ko­tor.  Beberapa waktu lalu ter­jadi “pertengkaran” antara Di­nas Kebersihan Kota Padang de­ngan Dinas Pariwisata.  Dinas Keber­si­han menuduh objek wisata se­ba­gai biang keladi yang me­nye­babkan Pantai Padang kotor.  Pa­dahal sumber utama­nya ada­lah pembuangan sampah ke b­a­dan sungai yang dilakukan oleh war­ga yang tinggal di sepanjang ping­gir sungai.  Untuk me­ngatasi persoalan ini diperlukan dua ta­hap, yakni jangka pendek dan jang­ka menengah/panjang.  Jang­­ka pendek, yakni dengan melakukan normalisasi dan pe­nge­rukan dasar sungai.  Un­tuk jang­ka panjang me­lakukan so­sia­­lisasi kepada masyarakat yang ting­gal di pinggiran sungai agar me­reka tidak lagi men­jadikan ba­­dan sungai sebagai tempat mem­­buang sampah.  Setelah so­sia­lisasi, langkah berikutnya ada­­lah menyiapkan aturan de­ngan sanksi yang tegas untuk pa­ra pelanggar.

 

Persoalan drainase di kota Pa­dang hampir sama dengan per­soalan sungai. Selain kebe­ra­daan drainase absen di bebe­rapa tempat/jalan, kondisi drainase itu sendiri sangat mem­priha­tin­kan karena minimnya pera­wa­tan.  Banyak drainase sering me­nga­lami pendangkalan (seba­gian tersumbat) akibat sedi­mentasi.  Ini lagi-lagi akibat sam­pah yang dibuang sem­barangan.  Kali ini warga kota punya andil un­tuk timbulnya sumbatan atau pendangkalan drainase ini.  Se­bab tidak sedikit warga kota yang membuang sampah ke jalan raya.  Sampah-sampah di jalan raya ini, mulai bungkus permen, bung­kus rokok, gelas dan botol plas­tik minuman, kaleng-kaleng mi­numan, bungkus makanan ri­ngan, dan lain sebagainya oleh angin atau air hujan akan ter­sapu masuk ke dalam drai­nase sehingga terjadi pendangkalan dan penyumbatan.  Untuk jang­ka pendek, dalam mengatasi per­soalan ini selain melakukan pe­ngerukan drainase dari sam­pah/sedimen,  sudah seha­rus­nya kembali diterapkan atu­ran dan sanksi yang tegas bagi warga kota yang membuang sampah ke jalan atau ke drainase.

 

Curah hujan tinggi merupa­kan faktor alamiah yang tidak da­­pat dikendalikan oleh ma­nu­sia.  Namun faktor lainnya di­se­babkan oleh perilaku ma­nusia, yang tentu bisa diantisipasi de­ngan melakukan upaya yang sistematis dan efektif.

 

Kita saat ini berada di bulan No­vember. November sampai Ma­ret biasanya di Indonesia me­rupakan musim hujan.  Di Su­ma­tera Barat puncaknya biasa­nya terjadi bulan November.  Jadi, hujan yang menimbulkan ban­­jir di banyak tempat di Kota Pa­­dang kemarin, itu baru per­mu­­laan. Terbukti lima hari beri­kutnya terulang kejadian yang sama.  Artinya, kalau tidak ada usa­ha efektif yang dilakukan pe­me­rintah dan warga kota  dalam wak­tu dekat, maka banjir akan da­tang lagi secara beruntun di kota tercinta ini.  Bahkan bisa saja dengan tinggi genangan yang lebih besar lagi, mengingat intensitas hujan di bulan November biasanya lebih tinggi dari bulan-bulan yang lain.

 

Selain itu, dampak dari pe­ma­n­asan global adalah terja­dinya perubahan iklim.  Pe­manasan global karena me­ningkatnya ERK (Efek Rumah Kaca) berakibat pada suhu bumi menjadi semakin panas. Akibat­nya, air menjadi cepat menguap, membentuk awan, dan cepat turun menjadi hujan. Intensitas hu­jan yang meninggi dalam pe­riode memendek menjadi salah satu penyebab timbulnya banjir.  Pe­m­anasan global dan peru­bahan iklim ini sudah menja­di pembicaraan para ilmuwan dan prak­tisi lingkungan hidup di mana-mana.

 

Banjir  menimbulkan me­nim­bulkan banyak kerugian.  Kom­ponen yang terancam ada­lah manusia, prasarana umum dan harta benda.  Kerugian ter­se­but antara lain: tergangg­u­nya b­a­nyak aktivitas, kerugian ma­teri­al akibat rusaknya harta ben­da (perabot seperti lemari, sofa, pa­kaian, TV, kendaraan bermo­tor), bisa juga korban jiwa pada banjir besar (meninggal, hilang, luka-luka atau mengungsi), ter­se­dotnya anggaran untuk pemu­lihan.  Selain itu prasarana trans­portasi tergenang, rusak atau hanyut (jalan, jembatan, terminal, stasiun).  Fasilitas sosial ter­g­e­nang, rusak atau hanyut se­perti se­­kolah, pasar, rumah iba­dah, pus­kesmas, rumah sakit, dll.  Be­gitu juga dengan fasilitas pe­­me­rintahan, industri-jasa dan ber­­bagai fasilitas pelayanan pu­blik tidak dapat memberikan la­ya­nan.

 

Di sektor pertanian, rusak­nya sawah yang tergenang akan menyebabkan penurunan atau ke­hilangan produksi.  Tambak, pe­kebunan, ladang, perikanan yang tergenang lebih dari tiga hari akan rusak atau turun/hi­lang produksinya.  Rumah  ting­gal tergenang, rusak dan hanyut.  Har­ta benda seperti modal-b­a­rang produksi dan per­dagangan, ken­­daraan dan perabotan ru­mah tangga bisa tergenang, ru­sak atau hilang. 

 

Karena demikian banyaknya kerugian yang telah dan akan tim­bul akibat banjir, maka se­mua kita harus menganggap se­rius masalah ini.  Dengan de­mi­kian penanganannya juga mesti se­­rius. Tidak boleh sete­ngah-se­­­tengah. Langkah-lang­kah yang penulis kemu­kakan di atas tadi selayaknya dapat di­apli­­kasikan. (*)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Teras Utama


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!