Kamis, 24 April 2014 - 23 Jumadil Akhir 1435 H 19:52:13 WIB
TERAS UTAMA

Hikmah Berkurban

Oleh : Irwan Prayitno

Gubernur Sumbar

Padang Ekspres • Rabu, 31/10/2012 12:16 WIB • 288 klik

Irwan Prayitno

PENGURUS Masjid Al Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan tak mampu mengeluarkan kata-kata. Tak terasa air matanya mengalir ketika pasangan suami istri Yati, 55, dan Maman, 35, turun dari bajaj, lalu membopong dua ekor kambing untuk dijadikan hewan kurban Idul Adha di masjid itu.

 

Tentu saja Juanda, 50, salah seorang pengurus Mas­jid Al Ittihad, tak mampu menahan haru ta­ngisnya. Yati dan Maman adalah pasangan suami is­tri yang sehari-hari berprofesi sebagai pemulung. Yati dan Maman tinggal di sebuah gubuk triplek ber­ukuran 3 x 4 meter di kawasan tempat pem­buangan sam­pah wilayah Tebet.

 

Tak ada barang berharga di gubug mereka, di sudut ruang teronggok sebuah televisi tua yang telah lama rusak.

 

Kondisi Yati dan Maman tentu sangat kontras dengan Masjid Ittihad yang berdiri kokoh dan megah di kawasan elite Tebet tersebut. Namun dua ekor kambing berwarna putih dan cokelat yang diserah­kan pasangan suami istri ini, adalah kambing terbesar di antara kambing kurban yang ada di sana saat itu. 

 

Menurut Yati dan Maman, ke­inginan untuk ikut ber­kurban te­lah lama ia impi­kan. Karena itu me­reka menabung dengan me­nyisihkan sebagian peng­hasilan sebagai pemulung mereka yang tak seberapa jumlahnya. “Kami ma­lu setiap tahun hanya men­jadi penerima daging kur­ban,” ujar Yati. “Suatu saat kami juga ingin menjadi peserta kurban,” ujarnya.

 

Niat pasangan suami istri ini sering mendapat cemooh dari re­kan-rekannya. “Kita ini pe­mu­lung sampah, miskin, gembel, jangan mimpilah,” begitu rekan-rekannya berkomentar. Namun Yati dan Maman tak patah sema­ngat. Setelah berusah payah menabung selama tiga tahun, ak­hirnya mimpi mereka itu men­jadi kenyataan, mereka akhirnya mampu membeli dua ekor kambing untuk dijadikan hewan kurban. Masing-masing dibeli seharga Rp 1 juta dan Rp 2 juta. Subhanallah....!

 

Hingga saat ini tak ada fakta yang menunjukkan bahwa ber­kur­b­an, berinfak, berzakat dan bersedekah yang membuat se­seorang menjadi fakir dan mis­kin, termasuk pemulung sekali­pun. Yang terjadi justru banyak contoh membuktikan bahwa se­seorang yang menyum­bangkan har­tanya atau berkurban secara ikhlas, semakin terbuka pintu rezeki baginya, semakin deras rezeki itu mengalir ke arahnya.

 

Chairul Tanjung adalah sa­lah seorang pengusaha muda garda terdepan di Indonesia saat ini. Dalam usianya yang relatif masih muda (kini 50 tahun) ia telah menjadi pemilik sejumlah pa­brik, Trans TV Group, Bank Me­ga, Carefur dan sejumlah pe­ru­sahaan besar lainnya. Karya­wan­nya saat ini berjumlah 35.000 orang lebih. Ia bercita-cita memiliki 150.000 karyawan. Ia seperti manusia bertangan emas dalam cerita dongeng. Apa yang dia sentuh seakan-akan lang­­sung berubah menjadi emas. Perusahaan-perusahaan yang nyaris gulung tikar, setelah diambil alih Chairul Tanjung umumnya sukses ia perbaiki menjadi perusahaan penghasil “emas”.

 

Apa rahasia sukses Chairul Tan­jung? Rahasia pertama me­nurut CT, begitu ia biasa dipang­gil, adalah “bekerja keras dan sungguh-sungguh”, rahasia ke­dua adalah kepedulian sosial. Ia sa­ngat yakin berkah dari Tuhan itu datang akibat amal dan kerja sosial yang ia lakukan. Karena itu, ia tak segan-segan mem­be­rikan bantuan, sumba­ngan, ber­k­urban dan berbagai peker­jaan sosial sebagai peleng­kap kerja keras yang ia lakukan. Sebuah yayasan ia dirikan khusus untuk menjalankan aktivitas sosialnya. Banyak contoh kisah sukses tokoh lain juga melakukan hal serupa.

 

Masyarakat Jepang juga memiliki dua kunci sukses da­lam kehidupan mereka, yaitu be­kerja keras dan bersungguh-sung­guh, serta memiliki kepe­du­lian sosial yang tinggi. Mem­berikan cendera mata, saling memberikan sesuatu serta saling to­long-menolong telah menjadi bu­daya masyarakat Jepang. Ten­tu saja budaya kerja keras me­reka tidak diragukan lagi.

 

 Sikap peduli dan berbagi dengan masyarakat sekitar kita juga bisa mencegah kejahatan dan kriminalitas. Kesenjangan so­sial, jurang yang terlalu dalam an­­tara si kaya dan si miskin, ser­ta k­etidakpedulian kita de­ngan ling­kungan sekitar, cenderung me­micu timbulnya kriminalitas. Bisa dipastikan perampokan, per­kosaan, pembunuhan, salah sa­tu penyebabnya adalah ke­cem­buruan dan kesenjangan sosial.

 

Belajar dari berbagai penga­laman tersebut, mari jadikan Idul Adha sebagai momentum pengorbanan dan kepedulian sosial, pembuka pintu berkah, serta pembuka jalan menuju kehidupan yang damai, nyaman dan bahagia dunia dan akhirat bagi kita semua. Amin ya Rab­bal Alamin. (*)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Teras Utama


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Kacamata Kuda KPK

KRITIK dan pujian selalu datang bersamaan setiap kali Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat ”kejutan” baru. Termasuk ketika menetapkan mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo sebagai ter­sangka dalam kasus pajak yang terjadi pada 2004.

Belum Terima Elpiji

YTH bapak Wali Kota Padang yang baru. Kami warga RW 6, Guo Kuranji sampai sekarang belum menerima paket gas elpiji 3 Kg. Tolong di percepat karena minyak tanah harganya sudah naik.

Kamis ,24 April 2014

Tunggu SK Mendagri

Lai ndak ka ta undur lo tu Pak, dek KPK lah manyasar Mendagri lo..........!

 

14 Warga Digigit Anjing Gila

Iah gawat mah pak,lai aman Pak..................................................?

 

UN SLTP, Padang Target Jawara

semoga lah pak, asa ndak pakai jimat se.....................................!