Rabu, 16 April 2014 - 15 Jumadil Akhir 1435 H 17:23:23 WIB
KOPI MINGGU

Calon

Oleh : Montosori

Wartawan Padang Ekspres

Padang Ekspres • Minggu, 28/10/2012 05:06 WIB • 684 klik

-

Pada 2013, tahun depan, ada empat wali kota yang ha­bis masa jabatan (Padang, Padangpanjang, Sa­wah­lunto, dan Pariaman). Untuk Kota Padang, Pa­dang­panjang, dan Sawahlunto,  wali kota yang sedang menjabat sekarang  atau incumbent, tak bisa men­ca­lonkan diri lagi. Soalnya mereka sudah dua periode menjadi wali kota. Tanpa incumbent atau petahana, pertarungan menjadi wali kota berikutnya tentu bakal lebih seru. 

 

Sejauh ini, sejumlah nama kandidat atau yang berminat untuk berkompetisi sudah mulai kelihatan. Ada yang terang-terangan memasang baliho, ada juga yang tampil lewat media massa. Sejumlah lainnya diam-diam bersosialisasi ke tengah masyarakat, tapi tetap terbaca bahwa sasarannya adalah menjadi wali kota.

 

Tak ada yang salah dengan cara-cara yang mereka lakukan.

 

 Justru masyarakat bisa ter­ban­tu: sejak dini mengetahui calon pemimpinnya.

 

Dari empat pemilihan wali kota 2013 itu, tentu saja Kota Padang yang paling “panas”. Bukan karena kota ini terletak di pinggir pantai, tapi karena Pa­dang adalah kota besar yang menjadi Ibukota Provinsi Sum­bar.

 

Oleh sebab itu, tak heran pemilihan wali kota Padang lebih banyak dibicarakan diban­ding tiga pemilihan wali kota lainnya. Walau sebetulnya, bagi masyarakat masing-masing kota, tentu lebih peduli pada per­gantian pemimpin di kota­nya.

 

Menjelang pemilihan wali kota empat daerah itu, ada fenomena menarik yang bisa menjadi semacam rujukan bagi masyarakat pemilih. Yakni, pemilihan gubernur DKI Jakarta yang dimenangi oleh Joko Wi­dodo alias Jokowi. Kenapa Jo­kowi menang sekalipun me­la­wan incumbent yang menurut semua lembaga survei lebih unggul, sudah begitu banyak diulas. Dan, kenapa incumbent yang punya kekuatan ke dalam (birokrasi/PNS) didukung oleh partai besar yang sedang ber­kuasa pula, bisa kalah, juga su­dah terungkap. Inti dari me­na­ngnya Jokowi dapat di­sim­pulkan: Ketika masyarakat (mayoritas) telah menentukan, tak ada kekuatan yang bisa melawan.

 

Lalu, apakah di Padang, dan di tiga kota yang akan men­ye­lenggarakan pemilihan wali kota sudah ada kandidat yang seperti Jokowi? Atau, bisakah muncul “Jokowi-Jokowi” ala Padang, Padangpanjang, Sawahlunto, dan Pariaman? Atau, jangan-jangan pemilih di empat kota itu, tak butuh orang seperti “Jo­kowi”? Ups, entahlah…Namun yang jelas, Padang dan tiga kota yang akan berganti pemimpin itu butuh wali kota yang lebih baik. Tentu, sedapat mungkin lebih baik dari yang akan di­gantikan. 

 

Sejauh ini, sebetulnya opini masyarakat sudah berseliweran soal calon wali kota ini.  Di Padang, misalnya, sederet nama sudah menjadi bahasan mas­yarakat. Walaupun sejauh ini baru sebatas di ruang-ruang publik yang bebas. Seperti di warung-warung, kafe, atau di tempat-tempat publik lainnya.

 

Paling tidak, berikut ini antara lain komentar warga, yang tentu saja bukan orang dekat atau pendukung si calon. “Si A, ah belum cocok jadi wali kota. Dia punya pengalaman apa?” “Si B, selama ini dia ada di mana. Lagi pula dia bisa apa?” “Si C, dia kan hanya pengalaman jadi pegawai perusahaan. Tahu apa soal kota ini?” “Si D, dulu dia pernah jadi pejabat, prestasinya apa? Kalaupun mau maju pakai partai apa?” “Si E, kalau dari partai mungkin sudah aman. Tapi dia kan pemain politik. Nanti semua dimainkan?” “Si F, apalagi. Tak punya modal apa-apa. Hanya nafsu.” “Si G, Si H, Si I, Si J, K……. Sama saja, tak ada hebatnya….”

 

Lalu, apakah ada calon yang dapat komentar baik atau sangat baik? Hmmm, sejauh yang saya dengar, belum. Termasuk untuk Padangpanjang, Sawahlunto, maupun Pariaman. Entah yang membaca tulisan ini. Jangan-jangan, sama juga dengan saya. Hanya mendengar kekurangan para calon saja. Belum kelebihan atau hebat sang calon. He he he...

 

Cuma, waktu masih ada, setidaknya setahun lagi. Ka­lau­pun tak ada “satria piningit” yang akan muncul, paling tidak kan­didat yang  sudah disebut-sebut namanya sekarang bisa berubah. Syukur-syukur beru­bah total menjadi sangat baik, dan sangat hebat. Seterusnya, mendapat dukungan luas dari masyarakat. Apa bisa ya? “Bisa saja. Tapi saya ragu,” begitu tanggapan salah seorang kawan. Yang lain be­ru­jar, “Kalau tak ada yang lebih baik atau baik, ya harus tetap memilih. Meskipun yang buruk dari yang terburuk.” Yups, kita memang harus memilih. (*) 

 

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Kopi Minggu


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!