Sabtu, 19 April 2014 - 18 Jumadil Akhir 1435 H 08:49:47 WIB
CUCU MAGEK DIRIH

Kantung Air di Gunung dan Perbukitan

Oleh : H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Padang Ekspres • Minggu, 14/10/2012 08:49 WIB • 803 klik

H. Sutan Zaili Asril

PADA hari Senin, tanggal 4 Oktober 2010, kota Wasior di­han­tam banjir bandang. Wasior adalah pusat keramaian ka­bu­paten Teluk Wondama, se­bu­ah kabupaten baru pemekaran ta­hun 2002, di provinsi Papua Barat. Mencapai kota Wasior dari Manokwari, harus ditempuh dalam waktu satu jam dengan pesawat, delapan jam dengan kapal laut milik Pelni, dan 16 jam dengan kapal pelayaran rakyat. 

 

Banjir bandang Wasior itu, menurut Kepala Pusat Ko­mu­nikasi Publik Kementerian Ke­sehatan RI drg Tritarayati SH, me­nelan korban 29 orang tewas dan 103 lainnya dinyatakan hi­lang. Laporan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Pen­ye­hatan Lingkungan (P2PL) Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P (K), menyebutkan bencana banjir Wasior menghanyutkan staf Kan­tor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kantor Wilayah Kerja (wilker) KKP Wondama ke laut, me­ng­akibatkan kerusakan fasilitas kesehatan seperti Puskesmas Distrik Wasior, mess dokter/perawat dan rumah dinas dokter/paramedis/rumah Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Teluk Wondama rusak.

 

Pada hari Selasa, tanggal 24 Juli 2012, banjir bandang me­ng­hantam beberapa titik lokasi di Kota Padang, sekitar pukul 18.30 WIB, khususnya di sepanjang aliran Sungai Lubukkilangan dan Batang Kurannji meluap. Se­be­lum banjir terjadi, didahului hujan lebat melanda kota Padang selama tiga jam khususnya di sepanjang aliran sungai Batang Kuranji. Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BN­PB Sutopo Purwo Nugroho, peris­tiwa tersebut menelan korban de­lapan orang dilaporkan hilang. Enam orang hanyut terbawa banjir bandang, dua orang di atas perahu hilang di tengah laut, dan satu rumah di Ujung Tanah Lu­buk Begalung hanyut. Wali Kota Padang, Fauzi Bahar, men­yata­kan bencana banjir Selasa 24 Juli 2012 melanda lima kecamatan di Kota Padang, diduga akibat aksi illegal logging (penebangan liar). Enam kecamatan itu, yakni, Pauh, Koto Tangah, Lubuk Kila­ngan, Lubuk Begalung, dan Bu­ngus Teluk Kabung (Bungtekab).

 

Pada Rabu, 12 September 2012, banjir bandang kembali melanda kota Padang Provinsi Sumatera Barat, dan justru kem­bali melanda lokasi sama, se­pan­jang Batang Kurannji. Banjir dilaporkan terjadi di Kecamatan Pauh kota Padang merendam wilayah pada dua lokasi, yaitu di Kotopanjang dan Simpanggadut. Banjir terjadi sekitar pukul 16.23 WIB, Rabu (12/9) itu. Saat banjir sebagian cakrawala kota Padang memang mendung, tapi, banjir diperkirakan terjadi akibat hujan lebat di hulu Batang Kuranji. Yaitu, aliran Sungai Padang Ja­ni­ah dan Padang Karuah. Se­be­lumnya, tim Sekretariat Bersama Pecinta Alam (Sekber Pencinta Alam Provinsi Sumatera Barat yang pernah melakukan ek­s­pe­disi ke bagian hulu Batang Janiah dan Padang Karuah menemukan sisa-sisa batu serta kayu bekas banjir bandang sebelumnya. Sisa material banjir bandang tersebut dikhawatirkan menimbulkan bencana baru, ternyata terbukti.

 

JAUH sebelumnya, di daerah Sumatera Barat, pernah terjadi galodo (banjir bandang ber­cam­pur lumpur dan bebatuan) di bebeapa nagari bagian timur Gunung Merapi pada/di sekitar tahun 1976. Yang paling parah, antara lain, nagari Pasie Laweh, Kecamatan Sungai Tarab dan juga nagari Salimpaung, Ke­ca­matan Salimpaung, Kabupten Tanahdatar, provinsi Sumatera Barat Wilayah administasi Ka­bu­paten Tanahdatar terdiri atas 14 Kecamatan dan 75 nagari. Peris­tiwa banjir bandang dari puncak/pinggang gunung Merapi ter­se­but membuat istilah bajir ban­dang dengan sebutan galodo. Yaitu, air bah yan bercampur lumpur, bebatuan, dan kayu besar-kecil. Saat itu jatuh korban jiwa, dan menimbulkan keru­sakan yan luas seperti jalan/jem­batan dan persawahan/ladang milik rakyat setempat.

 

Lalu, galodo kembali terjadi di Padanglaweh Malalo, Ka­bu­paten Tanah Datar, tepatnya di Jorong Tangah Duo Puluah, Minggu, 26 Februari 2012 sekitar pukul 22.45 WIB yang bersumber dari Bukit Patahgigi. Galodo menghancurkan dua mushalla, jalan lingkar di Padangparak terputus, sekitar 25 ha sawah/15 ha kebun warga rusak terendam air yang bercampur batu-kayu, se­buah mobil Kijang kapsul tertimbun lumpur, dan sebanyak 26 kepala keluarga/KK (82 jiwa) diungsikan dari daerah yang diperkirakan akan terancam terkena hantaman apabila terjadi sewaktu-waktu banjir bandang susulan. Sebelumnya, hari Rabu, 21 Maret 2007, galodo merusak 20 ha sawah gagal panen (dua hari lagi akan dipanen) di Nagari Tambangan, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanahdatar. Galondo juga menghancurkan dua rumah dan 52 KK terpaksa diungsikan. Sebelum bencana galodo (6 Ma­ret 2007), kabupaten Tanah­datar dihantam bencana gempa.

 

Sesungguhnya banjir ban­dang juga menimpa nagari-na­gari di sebelah utara dan barat dari Gunung Merapi, kabupaten Agam. Hanya saja, kabarnya, ada kearifan lokal pada masyarakat sebelah utara dan baratlaut gu­nung Merapi, khususnya di se­kitar IV Angkek Canduang, yang memiliki tradisi naik ke pi­nggang dan terus ke puncak gunung Merapi. Mereka dikabarkan mem­­­bersihkan aliran air dari pun­­cak gunung Merapi dari ham­batan pepohonan yang tumbang dan melintan menyumbat salu­ran air. Hal yang konon kabarnya tidak terjadi pada pinggang dan bagian atas gunung Merapi se­belah timur kabupaten Ta­nah­datar. Sehinga tercipta kantung-kan­tung air yang setiap saat dapat menjadi banjir bandang dan atau galodo. Artinya, kantung-kan­tung air tersebut akan sampai sa­atnya akan penuh dan tidak dapat tertahan penyekatnya, lalu tum­pah dan menimbulkan air bah (banjir bandang atau galodo).

 

BERBICARA dengan pejabat di lingkungan Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB), ketika pekan lalu Cucu Magek Dirih ke Jakarta untuk satu urusan, mendapat informasi yang cukup aneh dan unique. Terakhir, banjir bandang di dae­rah Ambon povinsi Maluku, misalnaya, yang juga terjadi banjir bandang. Penyebabnya adalah, karena kantung-kantung air di kawasan perbukitan di daerah itu pecah/jebol dan me­nim­bulkan banjir bandang. Pihak BNPB meminta BNPB di provinsi Maluku, khususnya di Ambon, kepada gubernur dan muspida — khususnya kepada Komandan Resor Militer (Danrem) Maluku untuk siaga kalau-kalau kantung air yang sudah diketahui masih dapat setiap saat jebol dan me­nim­bulkan kembali banjir ban­dang.

 

Rupa-rupanya, BNPB ber­sa­ma berbagai pihak/instansi men­da­patkan informasi, bahwa be­berapa banjir bandang yang terjadi di beberapa tempat/lokasi yang cukup membuat heboh, seperti di kota Wasior, Kabupaten Telouk Wondama Provinsi Papua Barat dan atau di kota Padang Provinsi Sumatera Barat, lebih dikategorikan sebagai banjir bandang dan atau juga dapat disebut galodo karena bercampur lumpur/bebatuan/kayu. Dengan mudah, tudingan dari para ber­bagai pihak — termasuk juga dari para pejabat dan lembaga-lem­baga swadaya masyarakat (LSM) yang berorientasi kepada pen­ye­lamatan lingkungan, bahwa pe­nye­bab banjir-anjir bandang/galodo tersebut disebabkan ke­rusakan hutan di kawasan hutan di bagian hulu anak-anak sungai dan atau sungai akibat pe­ne­bangan liar (illegal logging).

 

Mungkin saja, pada dasarnya, penyebab utama banjir bandang dan atau galodo tersebut me­mang adalah karena kerusakan kawasan hutan di bagian hulu sungai-sungai yang pada saat musim kemarau kering dan pada saat musim hujan banjir — bah­kan hujan  tidak sampai ber­hari-hari pun sudah langsung me­nga­kibatkan banjir bandang dan atau galodo besar yan me­nelan korban jiwa dan me­nim­bulkan korban harta benda serta infrastruktur yang dibangun pemerintah de­ngan amat mahal. Kemudian dapat dikatakan, bah­wa banjir bandang dan atau galodo, rupa-rupanya, juga ka­rena pengen­dalian hulu anak-panah sungai/sungai yang berada di pinggang/puncak gunung dan atau per­bu­kitan yang tanpa dike­tahui ter­dapat kantung-kantung air/te­laga yang terbentuk karena ada kayu atau runtuhan tanah yang menyumbat aliran air turun ke bawah.

 

Pada saatnya reruntuhan tanah dan atau tumpukan ke­kayuan yang menyekat yang menahan tidak kuat lagi, lalu jebol, air tumpah menimbulkan banjir bandang dan atau galodo yang dapat mengakibatkan ben­cana yang mengerikan. Survei yang dilakukan tenaga BNPB, konon menemukan kantung-kantung air di hulu Batang Ku­ranji dan hulu Lubukkilangan, dan atau di sungai Wasior, dan juga di Ambon. Sejak jauh hari, rupanya, hal serupa sudah di­an­tisipasi dengan kearifan lokal masyarakat di bagian utara dan atau barat laut Gunung Merapi, misalnya. Hanya saja, seandainya tenaga yan melakukan survei dengan helikopter, misalnya, mendapatkan ada kantung-kan­tun air di pergunungan dan per­bukitan kawasan hutan yang menjadi hulu dari anak-anak sungai atau sungai, apakah peme­rintah sudah mempunyai cara untuk mengatasi agar kantung itu itu tidak menungu jebol dan membawa akibat mengerikan/menimbulkan korban!?

 

BAGI Cucu Magek Dirih, agaknya demikian pula halnya dengan sebagian besar kita yang peduli penyelamatan lingkungan dan atau bencana yang me­nga­kibatkan bencana besar dan atau menelan korban jiwa/harra-benda/infrastruktur, mungkin terutama disebabkan kerusakan hutan. Sama ada kerusakan hu­tan karena kebijakan pengelolaan hutan yang mungkin belum se­penuhnya tepat dan atau karena kerusakan hutan oleh perusakan hutan atau penebang liar. Agak­nya, cukup perlu mendapat per­hatian bahwa banjir bandang dan atau galodo juga lebih dise­babkan fenomena alam seperti terbentuk kantung-kantung air di kawasan hutan pada bagian hulu anak-anak sungai atau sungai di ping­gang atau bagian puncak gunung atau kawasan perunungan/per­bukitan. Masalahnya, hanya ba­gaimana menatasi kantung-kan­tung air tersebut tidak di­tungu jebol sampai me­nimbulkan banjir bandang dan atau galodo!?***

 

H. Sutan Zaili Asril

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Cucu Magek Dirih


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!