Senin, 21 April 2014 - 20 Jumadil Akhir 1435 H 04:01:16 WIB
TERAS UTAMA

Soalnya bukan Sekadar Teori Dakwah

Catatan Kecil untuk al-Mukarram Sutan Zaili Asril

Oleh : Mestika Zed

Sejarawan

Padang Ekspres • Sabtu, 15/09/2012 11:18 WIB • 679 klik

Mestika Zed

KALAU saja esei wartawan senior Zaili Asril me­ngakui bahwa ada yang patut dicemaskan dalam ge­jala dakwah Islam akhir-akhir ini, saya tak perlu me­nang­gapi tulisannya yang bagus itu (Padek 10/9/12). Te­tapi itulah soalnya. Tan Zaili merasa tidak ter­jadi apa-apa dengan kenyataan dakwah dewasa ini, yang bagi saya cukup memprihatinkan. Terutama aki­bat dam­pak ikutan dari manipulasi teknologi media mas­sa terhadap kemerosotan spiritualitas dak­wah.

 

Kalau begitu, orang bisa saja menduga-duga ala­sannya, pertama ia jarang datang ke masjid, kedua ja­­r­ang mengikuti dakwah di tv, ketiga ia adalah ja­ma­ah “surau Palupuah”, yang suka berlinang air ma­ta, bukan karena termakan kaji, melainkan karena “ass”-nya terjepit lantai bambu yang labil itu, sehingga saat jamaah lain bergerak di sekitarnya ia rela me­na­han sakit.

 

Detak hati saya, tak satu pun di antara ketiga du­gaan itu berlaku atas diri wartawan senior kita ini. Tak mungkin. Beliau adalah seorang tholib yang sa­ngat terpelajar dan rajin membaca sejak masa mu­danya.

 

Luas ilmunya dan suka me­nulis tentang apa saja. Ter­le­bih lagi karena posisinya seba­gai juru berita. Te­tapi, ia juga seorang pengamat yang kritis, dan ja­ngan lupa Tan Zaili juga se­o­rang manejer yang ber­hasil, ke­­banggaan banyak orang, ter­l­e­bih karena ke­der­ma­wa­nan­nya, suka menolong teman-te­man lamanya.

 

Kalau ada orang yang bera­ni menyanggah tuli­sannya, itu pas­tilah karena kurang ilmu­nya. Saya menulis esei ini semata-mata hanya karena ber­setuju dengan komen­tar­nya terhadap esei saya sebe­lumnya (Padek, 8/9/12). Ia be­nar ketika mengatakan bah­wa saya ’gamang’ dengan kenya­taan dakwah akhir-akhir ini. Ter­utama dalam kaitannya de­ngan manipulasi teknologi ke­munikasi dakwah Islam.

 

Deviasi atau Keganjilan Kronis?

 

Otoritas akademik tentang s­e­luk-beluk dakwah haruslah di­k­embalikan ke Fakultas Dak­wah di mana pun, khu­susnya di sini, ialah IAIN Imam Bonjol Pa­dang. Bupati Solok Pak Syamsu Rahim, yang meran­cang ide seminar di Solok itu, sa­ngat arif dengan ini. Maka­nya beliau mengajak Fakultas Dakwah IAIN IB Padang untuk menggarap seminar itu. Lalu, di­hadirkan tiga kategori pem­bicara: yang mewakili aka­demisi, praktisi dan pengamat.

 

Saya menolak ketika di­minta mewakili akademisi, semata-mata karena soal etis dan demi menghormati ka­wan-kawan di Fakultas Dak­wah, karena menurut hemat saya, merekalah sejatinya yang di­sebut akademisi di bidang dak­wah, dan kebanyakan me­reka juga praktisi dan mes­tinya juga sekaligus pengamat. Ma­ka saya lebih suka mem­posi­sikan diri saya di luar ketiga kategori yang ditetapkan pani­tia itu. Makalah saya lebih baik diletakkan sebagai suara ’mak­mum’ yang awam, yang me­nga­lami sehari-hari bagai­mana dakwah dijalankan dan ke­gusaran saya terhadap ’ke­gan­jilan kronis’—yang dite­mu­kan dalam kegiatan dak­wah be­lakangan ini. Tan Zaili me­nyebutnya sekadar ’deviasi’ ma­nusianya dan media massa. Te­­tapi kalau gejalanya sudah de­mikian biasa, ia tak lagi da­pat disebut deviasi, pe­nyim­pangan kecil. Ia sudah men­jadi pola umum yang kronis.

 

Sekadar ilustrasi, izinkan saya di sini mengutip tulisan saya lagi. “Di masjid-masjid dan mushala (di kota dan di nagari-nagari) juga terdapat pemandangan ganjil. Terlebih di hari-hari pertama Lebaran (Idul Fitri dan Udul Adha). Hiruk pikuk takbiran lewat alat pe­ngeras suara bergema di mana-mana. Tetapi ketika me­longok lebih dekat ke da­lam­nya, tidak ada orang. Ko­song. Media teknologi dimanipulasi untuk menyemarakkan syiar agama. Sementara mubalig dan umat sibuk dengan diri mereka masing-masing. Lagi-lagi jebakan teknologi media me­ninabobokan dan menge­coh keberagamaan umat dan pengurus masjid.”

 

Kita merasa telah berbuat banyak menyemarakkan syiar agama. Nyatanya kita di situ-situ juga. Yang disuruh bekerja ialah kaset tanpa kenal lelah. Ini sudah kronis sejak lama, tetapi dibiarkan. Sungguh saya sangat mendambakan dan implisit menyarankan agar fre­kuensi menyuruh kaset be­r­takbir dan mengaji kaset Ti­mur Tengah itu dikurangi dan makin lebih banyak me­lan­tunkan suara asli kita, entah itu oleh garin masjid, jamaah atau oleh yang ahlinya. Itu lebih orisinal, lebih afdhal, le­bih attached ketimbang mem­peralat teknologi, sehingga syiar Islam tak kian artifisial. Itu satu.

 

Kedua, kecenderungan pe­nyam­paian dakwah dalam kemasan budaya pop lewat me­dia tv khususnya, makin ma­rak sejak beberapa tahun ter­akhir ini. Sesuai dengan sifat­nya, budaya pop ber­orien­ta­si komersial, dangkal dan mu­siman (terutama di bulan Ramadhan). Yang lebih diuta­ma­kan ialah daya tarik dan fungsi hiburan. Itu lebih ba­nyak ’sarok’-nya ketimbang substansinya. Apalagi dengan di­padati selingan hiburan ’per­mainan’ yang nyaris tak ter­kon­trol, berikut masa jeda de­ngan jor-joran iklan. Yang ter­cipta bukan komunikasi dak­wah yang aslinya membuat orang tergerak untuk berbuat kebajikan, melainkan sekadar senang, sesudah itu tak ada efeknya.

 

Lihatlah pasca-Ramadhan, ham­pir tak ada tanda-tanda bah­wa umat Islam barusan ke­luar dari gemblengan mental-spi­ritual Ramadhan. Juga ti­dak tampak bekas perubahan pe­­rilaku dan perangai umat. Te­­ngoklah kacau balau lalu in­tas di Kota Padang, misalnya, se­perti itu juga. Di jalan orang-orang kurang sabar, kurang to­leransi dan mau menang sen­diri. Tapi ini mungkin tak ter­masuk bagian kaji wirid Ra­madhan. Hasil kerja keras para mubalig, ustad, dan dai seperti sia-sia belaka.

 

Di sini saya berbicara ten­tang materi dakwah, mak­sudnya isi (konten) atau pesan dakwah. Kita memerlukan pe­san dakwah yang mampu me­ne­rangi jalan bagi umat di du­nia dan di akhirat. Tak ter­batas hanya pada aspek nor­matif, spiritualitas hitu­ngan untung rugi fadhilah Ramadhan, atau pa­hala dan dosa, surga dan ne­r­aka, melainkan juga ber­ke­naan dengan persoalan-per­soalan zaman yang dekat de­ngan keseharian umat.

 

Ketiga, lebih menyedihkan lagi, etiskah kalau ustad/us­tad­­zah ikut beriklan menjadi co­­­rong produk komersial ter­ten­­tu? Saya tak perlu jawab soal ini. Teknologi apa pun ben­­tuknya memiliki pisau ber­ma­ta dua. Tetapi kerisauan sa­ya da­l­am hal ini ialah ketika ak­tor dak­wah tidak menyadari be­tapa ia sedang diperalat oleh kuasa pasar atau kuasa politik ter­­tentu. Yang terjadi beri­kut­nya ialah para dai atau ustad su­dah terkontaminasi, keluar dari garis demarkasi dakwah.

 

Kalau popularitas “dai  kon­­dang” sebagai figur publik atau “opinion leader” sudah di­­belokkan motifnya untuk men­­dapatkan fulus, saya kha­wa­tir kader-kader dakwah ma­s­a depan akan mengikut pola “Indonesian Idol” produk ti­r­uan asli Amerika yang dige­mari kawula muda kita. Motif uta­manya tak lain soal “fulus” dan “fulus”. Dan itu toh sedang terjadi saat ini. Akibatnya ialah, hubungan dai dan ja­maah sama dan sebangun dengan hubungan antara artis dan fans mereka. Di situ nilai-nilai spiritual-religius berdak­wah kian terkikis.

 

Keempat, karena sejauh ini ti­dak ada kode etik dakwah yang dapat dipedomani, sem­ba­r­ang orang bisa maju naik mim­bar. Tak ada yang mela­rang. Sebab, hadis juga mem­be­narkan agar “sam­paikanlah yang dari aku ... walaupun satu ayat”. Tetapi itu maksudnya ba­rangkali bukan semuanya ha­rus dengan naik mimbar. Dak­­wah bisa berlangsung di ma­na saja dalam setiap inte­rak­si dengan sesama umat dan bah­kan dengan saudara-sau­dara kita nonmuslim. Di Ing­gris dewasa ini banyak perem­puan bule masuk Islam karena se­lain indahnya berjilbab, juga me­lindungi diri mereka dari ma­ta maksiat kaum lelaki.

 

Ada juga yang masuk Islam k­a­rena mengagumi tata aturan ajaran Islam yang hebat dalam kon­sep halal dan haram. Kita di­suruh makan yang halal dan baik. Semuanya sangat sejalan dengan konsep higienis mo­dern. Namun kalau semuanya mau maju naik mimbar atau imam shalat, maka yang tersia-sia ialah pakem dakwah itu sen­diri, termasuk pesan dak­wah. Bukankah ajaran Islam su­dah mengingatkan, “tung­gulah kehancuran jika menye­rahkan urusan kepada yang tidak ahlinya”. Jika kode etik ajaran Islam tak diindahkan, ma­ka hal-hal buruk tak bisa di­hin­darkan. Entah itu “ba­caan ayat imam shalat yang mubalig itu kerap tidak fasih, alias ke­liru tajwidnya. Atau fatwa-fat­wa yang keluar dari kea­wa­man, sehingga bisa memicu ko­n­flik sosial, tersembunyi atau terang-terangan.

 

Syukurlah jika ’kega­ma­ngan’ terhadap gejala yang di­lu­kiskan sepintas di atas ha­nya men­jadi kerisauan pri­badi saya dan tak perlu merisaukan Tan Zaili sebagai orang media atau selaku anggota umat. Te­tapi kalau membuka lebih da­lam lembaran dakwah Islam kita dewasa ini, rasanya tidak adil menyalahkan ulama dan mu­balig semata. Persoalannya jauh lebih kompleks daripada yang dikira. Juga kurang etis ra­sanya menguliahi ulama dan mu­balig tentang apa itu dak­wah. Sebab, mereka telah me­nger­jakannya sebelum Tan Zaili menuliskannya. Tapi sungguh dari esei Bung saya da­pat belajar banyak. Ke­priha­tinan saya di sini ha­nyalah ke­pri­hatinan seorang ’mak­mum’ yang awam merin­dukan mu­balig dalam sosok pe­mimpin ru­haniah bergezag ’sufi’ dan ’fa­­kih’ yang alim, pemegang oto­­ritas keagamaan yang di­per­­caya umat. Bukan mu­balig dadakan atau “ustad kon­dang” yang banyak peng­gemarnya, te­tapi akhlak­nya seolah-oleh bu­kan urusan publik. Padahal, inti total dakwah itu harus mu­lai dan berakhir pada pe­r­bai­kan akhlak umat. (*)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Teras Utama


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!