Jum'at, 25 April 2014 - 24 Jumadil Akhir 1435 H 09:47:37 WIB
TERAS UTAMA

Mencari Batasan Maaf Lahir dan Batin

Oleh : Fachrul Rasyid

Wartawan Senior

Padang Ekspres • Sabtu, 25/08/2012 10:41 WIB • 595 klik

Fachrul Rasyid

Tiap datang Idul Fitri di antara kita banyak menerima ucapan “Selamat Idul Fitri, minal ’aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan bathin” via pesan singkat SMS. Banyak di antaranya yang disertai kalimat hikmah dan bahkan pantun-pantun.

 

Seperti tahun sebelumnya, Idul Fitri 1433 H ini saya juga banyak menerima ucapan serupa. Se­ki­tar 200-an. Ada yang dari pejabat peme­rintahan, po­litisi, akademisi, pengusaha, guru sekolah, guru me­ngaji, ulama, ustad, dai, mahasiswa/i, seniman dan budayawan serta teman-teman seprofesi. Se­bagian besar saya balas.

 

Sekilas tak ada yang aneh dari ucapan selamat Idul Fitri itu. Apalagi kalimat minal ’aidin wal faizin sudah diketahui maknanya: semoga kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan mendapat kemenangan (Ramadhan).

 

 Tapi, makna kalimat mohon maaf lahir dan ba­tin karena tak ada hubungannya dengan ucapan mi­nal ’aidin wal faizin, tentu cukup menggelitik. Sa­y­­a co­ba mencari jawabannya selama dua kali Ra­ma­dhan. Entah dianggap hal biasa, tak seorang pun pe­nulis di surat kabar kita dan para ustad yang mem­ba­has hal itu dalam ceramah-ceramah Ra­madhan.

 

Padahal, ucapan mohon maaf lahir dan batin, bu­kan hal sepele. Sebagaimana diketahui kata maaf (Bahasa Arab) berarti rela dan ikhlas me­le­paskan/menghabiskan segala sesuatu: ke­salahan, ke­keliruan (sengaja atau tak sengaja) ke­wajiban atau utang seseorang kepada orang lain. Ka­ta lahir atau zhahir (Bahasa Arab) berati nyata, kasat mata atau tampak dilihat mata dan terasa disentuh anggota tubuh. Batin atau bathin (Bahasa Arab), adalah sesuatu yang bukan kasat mata tapi kasat rasa: perasaan, jiwa dan hati (aspek psikologis)

 

Lantas pertanyaannya, apakah dengan memberi atau menerima ucapan mohon maaf lahir dan batin itu secara ikhlas otomatis akan menghapus semua bentuk dosa/kesalahan yang bersifat perasaan? Kalau kedua belah pihak memang berniat saling memaafkan, boleh jadi dosa dan kesalahan itu sudah hapus.

 

Tapi bagaimana dengan dosa/kesalahan yang bersifat lahiriyah/zhahir? Misalnya, tindak pidana kriminal terhadap seseorang, terhadap orang banyak dan terhadap negara seperti pencurian, penganiayaan, penipuan, pembohongan, manipulasi dan korupsi. Atau yang bersifat keperdataan, seperti utang piutang, sewa menyewa, dan sebagainya. Apakah dosa/kesalahan tersebut akan hapus juga?

 

Pertanyaan yang kelihatan sederhana ini persoalannya tidaklah sederhana. Sebab, bukan tak mungkin satu hari kelak seorang pelaku kejahatan, pencuri atau korupsi, mengirim ucapan selamat dan mohon maaf lahir batin secara tertulis kepada korban atau kepada jaksa atau hakim dan dijawab dengan ucapan senada. Ucapan itu kemudian didalilkan terdakwa menggugurkan kejahatannya. Atau tergugat dalam perkara perdata, mendalilkan ucapan seperti itu untuk menolak gugatan, misalnya utang piutang. Bukankah di antara pelaku dan korban, termasuk jaksa yang mendakwa atau hakim yang mengadili perkara sudah saling memaafkan?

 

Kalau makna ucapan mohon maaf lahir dan batin itu tidak sampai sejauh itu, lantas apa makna sesungguhnya? Apakah itu hanya dipergunakan sekadar pemanis dan pelengkap pergaulan. Lalu buat apa memohon dan memberi maaf kalau tak dimaksudkan menghapus dosa/kesalahan?

 

Serangkaian pertanyaan tersebut di atas ada baiknya dibahas oleh para ahlinya, dalam hal ini pakar hukum dan ulama sehingga umat mendapat batasan yang jelas dan tegas tentang hal itu. Jika tidak, ucapan-ucapan berbau agama, apalagi yang mendalilkan Al Quran dan Hadis, seperti kini banyak muncul di tengah-tengah masyarakat, hanya akan menjadi kata-kata pemanis mulut atau penghias spanduk-spanduk. Padahal, agama dan beragama bukan hanya sebatas ucapan dan spanduk-spanduk itu. (*)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Teras Utama


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Kacamata Kuda KPK

KRITIK dan pujian selalu datang bersamaan setiap kali Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat ”kejutan” baru. Termasuk ketika menetapkan mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo sebagai ter­sangka dalam kasus pajak yang terjadi pada 2004.

Belum Terima Elpiji

YTH bapak Wali Kota Padang yang baru. Kami warga RW 6, Guo Kuranji sampai sekarang belum menerima paket gas elpiji 3 Kg. Tolong di percepat karena minyak tanah harganya sudah naik.

Kamis ,24 April 2014

Tunggu SK Mendagri

Lai ndak ka ta undur lo tu Pak, dek KPK lah manyasar Mendagri lo..........!

 

14 Warga Digigit Anjing Gila

Iah gawat mah pak,lai aman Pak..................................................?

 

UN SLTP, Padang Target Jawara

semoga lah pak, asa ndak pakai jimat se.....................................!