Sabtu, 19 April 2014 - 18 Jumadil Akhir 1435 H 14:03:09 WIB
TERAS UTAMA

Membangun Akhlak Mulia, Puasalah!

Oleh : Salmadanis

Guru Besar IAIN Imam Bonjol Padang

Padang Ekspres • Kamis, 09/08/2012 11:41 WIB • 624 klik

Salmadanis

Membangun akhlak mulia adalah nilai-nilai murni da­lam agama, memiliki tujuan yang sama, yaitu kedamaian dan an­tikekerasan, saling tolong-menolong dan memaafkan. Karena itu, semua agama yang ada di muka bumi ini mengajarkan ke­baikan dan kedamaian hidup manusia. Budha mengajarkan ke­se­derhanaan, Kristen mengajarkan cinta kasih, Konfusianisme me­­ngajarkan kebijaksanaan, dan Islam mengajarkan kasih sa­yang bagi seluruh alam. Secara umum ajaran agama me­nga­jarkan umatnya untuk saling menolong, memaafkan dan s­a­ling mencintai sesama manusia, wadah yang paling tepat ada­lah menunaikan ibadah Ramadhan secara maksimal

 

Ibadah puasa yang bila sudah masuk ke dalam diri manusia men­jadi religiusitas, sangat besar perannya dalam usaha pem­binaan karakter manusia. Itulah sebabnya dalam sejarah bang­sa-bangsa di dunia, ajaran agamalah yang banyak mengajar ke­utamaan merupakan semacam perwujudan cita-cita untuk men­dapatkan orang yang jujur dan saleh di kemudian hari.

 

Karena melalui pintu agama manusia dapat berkarakter baik dan terpuji. Jika ingin mem­ba­ngun karakter bangsa ini tidak ada pilihan, kecuali melalui pintu ag­­a­ma. Agama telah menjadi aja­ran yang pokok, baik dalam pen­didikan keluarga di rumah, for­mal di sekolah maupun non­formal di masyarakat.

 

Masyarakat kita yang dike­nal masyarakat religi sangat erat dengan nilai-nilai agama, tetapi be­berapa pakar mengisyaratkan ke­khawatiran merosotnya nilai-ni­lai luhur yang ada dalam mas­ya­­rakat. Gejala ini ditun­jukkan de­­ngan beberapa tindakan yang ber­sifat antisosial. Bahkan Fromm, mensinyalir bahwa pa­da masyarakat sekarang ini se­ma­kin tidak mampu men­cintai se­­sama manusia. Mereka keliru me­­n­ginterpretasikan tentang ke­kayaan, dianggapnya bahwa orang kaya adalah yang memiliki ba­nyak harta. Padahal seharus­nya orang kaya, orang yang memberi banyak pada orang lain. Begitu juga pejabat dipa­hami selama ini adalah ogahan, pa­dahal adalah pelayan sejati.

 

Dalam bahasa lain, dika­takan bahwa orang mem­punyai orien­tasi hidup yang bermodus ek­sistensi pada to have dan bu­kan­nya to be. Peradaban mo­dern sekarang ini digerakkan oleh jiwa dan semangat kese­r­a­kahan, kesombongan, egois­me, hedonisme, dan keti­dakpedulian akan kebu­tuhan, dan kesusahan se­sama manusia, alam dan kehi­du­pan di masa depan. Tim­bul­nya kecenderungan pada seba­gian kelompok masyarakat yang mu­lai lupa diri, tidak pro­po­r­sional dan terlalu memen­ting­kan diri dan lain sebagainya.

 

Ibadah puasa sebagai suatu sis­tem, di samping menyangkut ma­salah emosi keagamaan, dam­pak puasa pada seseorang yang penting pada “buah”-nya, yak­ni perilaku manusia. Karena puasa selalu mengajarkan nilai ke­bajikan, maka seharusnya orang yang taat menjalankan apa yang terkandung dalam bulan Ra­­madhan akan mempunyai pola perilaku yang menjiwai nilai ma­nusia. Karena ajaran puasa itu se­lalu mengajarkan nilai ke­baj­i­kan, maka seharusnya orang yang taat akan mempunyai pola pe­­rilaku yang menjiwai nilai hu­ma­nitia­nisme, seperti tolong me­no­long, kasih sayang, hargai-meng­­hargai, pe­duli sesama dan lainnya.

 

Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa perilaku mas­ya­ra­kat adalah sebuah tinda­kan yang ber­tujuan untuk mens­e­jah­tera­kan orang lain dengan mem­per­hatikan norma-norma yang ber­laku di lingkungan masyarakat. Di antara perilaku tersebut ada­lah memaafkan kesalahan, to­long-menolong, kasih sayang dan cinta damai, mau menge­luar­kan hartanya untuk mem­ban­tu orang miskin. Ibadah puasa tidak menganjurkan sa­­ling memupuk prasangka buruk, sa­ling menggunjing dan saling men­cari kesalahan yang ujung­nya adalah pembusukan nama baik seseorang. Padahal, sama-sa­ma seakidah, sama-sama se­bang­sa, bahkan sama-sama se­kantor dan sebagainya.

 

Secara general, semua aja­ran agama melakukan puasa se­suai de­ngan caranya pula yang ber­­tu­juan untuk mengajarkan umat­­nya saling menolong. Mi­sal­nya, aga­ma Yahudi manga­j­­ar­kan: “Cin­tailah tetang­gamu se­ba­gai­mana engkau mencintai di­rimu sen­diri” (Le­viticus 19:18). Da­lam aja­ran aga­ma Kristiani dise­butkan: “And as you wish that men would do to you, do so to them (Luke 6:31 dalam Schroe­der et at, 1995).

 

Demikian juga dengan aja­ran agama Islam, Allah berfir­man: “Tolong meno­longlah ka­mu dalam (mengerjakan) ke­bajikan dan takwa, dan jangan­lah kamu tolong-me­nolong da­lam perbuatan dosa....”(QS: 5;2). Ayat lainnya juga Allah ber­fir­man perumpamaan harta yang di­keluarkan di jalan Allah, se­rupa dengan sebutir benih yang me­numbuhkan tujuh bilir, pada se­tiap bulir seratus biji...”( QS: 2; 261). Begitu dalam hadis Rasu­lullah bersabda bahwa: “Hamba yang paling dicintai Allah adalah orang yang bermanfaat untuk orang lain, dan  amal yang pa­ling baik adalah memasukkan ra­sa bahagia kepada mukmin, me­­nutupi rasa lapar mem­bebas­kan ke­sulitan atau memba­yar­kan utang.” (HR Muslim). Da­lam hadis lain: Sesungguhnya Allah se­nantiasa menolong ham­ba­nya se­lama hambanya meno­long orang lain (HR Muslim).

 

Dimaksudkan dengan akh­lak mulia adalah lebih difoku­s­kan pada keda­maian. Dalam me­nyebarkan ajaran Islam, para na­bi itu menyebarkannya secara da­mai, diikuti para dai, mubalig, us­tad dan ustazah, tanpa me­nya­lah­kan, tanpa memojokkan, bu­kan saling menghujat, apalagi me­reka mengatakan bahwa iba­dahnyalah yang paling baik dan sebagainya, kecuali bila sa­ngat ter­paksa, karena orang ka­fir me­lakukan tindakan ofen­sif. Me­reka terpaksa melawannya de­ngan perang pula.

 

Di samping puasa yang sarat de­ngan pesan damai, ajaran pua­sa sangat ramah dan meng­hargai keanekaragaman sebagai rea­litas (hukum alam). Dalam hal ini, konsep rahmatan lilala­min, merupakan landasan kultu­ral akhlakul karimah dalam aja­ran Islam. Untuk men­jalankan mi­si kemanusiaannya. Dapat di­pahami ajaran Ramadhan me­larang orang bergunjing, fit­nah, mencari kesalahan orang lain, bila hal dilakukan juga ter­kesan pua­sanya hanya seka­dar mena­han lapar dan haus saja.

 

Maka misi universal ajaran puasa adalah untuk membawa rahmat bagi seluruh alam—rahmatan lil ‘alamin (Al Anbiya’ 21:107). Rahmat yang dijanjikan Is­lam adanya kedamaian yang me­miliki dua implikasi. Perta­ma, perdamaian bukanlah se­sua­tu yang hadir tanpa keter­libat­an manusia. Ia akan men­ja­di realita kehidupan kalau ma­nu­sia berperan aktif dalam me­wujudkan cita-cita dari nilai pua­sa itu. Kedua, kehidupan damai menurut ajaran puasa terbuka ke­pada semua individu, komu­nitas, ras, penganut agama, dan bangsa yang mendambakannya.

 

Para pakar dan praktisi reso­lusi konflik memahami perda­maian tidak hanya bebas dari pe­perangan, tapi juga meliputi ada­n­ya keadilan ekonomi, sosial, dan budaya, serta bebas dari dis­kriminasi ras, kelas, jenis kela­min, dan agama dan lainnya.

 

Tidak mungkin nilai puasa itu terwujud secara maksimal ke­­cuali bersumber dari keya­ki­nan yang fundamental bahwa Allah adalah baik dan terbaik untuk semua alam semesta, se­hing­ga dalam ajaran puasa mem­­buat orang sama-sama ke mas­­­jid, sama shalat, sama-sama ber­­zakat, semua dilandasi ke­ima­nan. Itu pula sebabnya, puasa tertuju kepada orang yang ber­iman. Karena orang yang beriman hidup dalam damai se­sama manusia.

 

Hubungan mesra dengan Allah sebagai sumber nilai-nilai ke­manusiaan merupakan sum­ber ketenangan batin sese­orang. Na­mun untuk menciptakan nilai-nilai akhlak mulia itu secara kom­prehensif, manusia juga ha­rus mengolah lingkungan so­sial de­ngan etika juga. Keingi­nan utama manusia kepa­da akhlak mulia adalah berhubugan erat dengan diri mereka sendiri dan ke­luarga mereka, keinginan un­tuk bermar­tabat dan adil, dan ter­penuhi kehidupan material la­yak yang memungkinkan me­re­ka untuk me­menuhi kebu­tu­han keluarga me­reka. Seba­liknya, per­tum­pahan darah dan keker­a­san, dis­kriminasi, dan ketidakadilan ber­tentangan dengan kehendak akh­lak, me­nen­tang Allah dan primor­dial ilahi-kesadaran sifat manusia. Dengan demikian, ibadah puasa menciptakan kesadaran untuk tidak menindas dan menolak se­ga­la bentuk penindasan, keke­ra­san, sikap agresif;  merupakan ele­men penting untuk me­wu­jud­kan akhlak mulia. (*)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Teras Utama


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!