Minggu, 19 Mei 2013 - 9 Rajab 1434 H 00:48:35 WIB
OPINI

Puasa Melawan Korupsi

Oleh : Muhammad Kosim

Kolumnis

Padang Ekspres • Jumat, 03/08/2012 13:56 WIB • 354 klik

Korupsi masih saja menjadi penyakit masyarakat yang masih meng­gerogoti negeri ini.  Ironisnya, pelaku korupsi bukan hanya terjadi pada masyarakat awam, tetapi juga dila­kukan oleh orang yang berpendidikan. Tak jarang pula di antara mereka menyandang sederetan gelar akademi, bahkan dengan embel-embel agama.

 

Korupsi mesti dilawan. Perlawanan itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kepribadian yang sehat, cinta kebenaran dan anti­pe­nin­dasan. Salah satu upaya untuk mem­bentuk kepribadian seperti itu ialah melalui puasa.

 

Hakikat puasa adalah mengen­d­a­likan hawa nafsu. Buya Hamka pernah menyebut puasa sebagai pengendali nafsu seks dan nafsu perut. Karena itu, puasa akan batal jika makan, minum atau berhubungan suami istri.

 

Sadar atau tidak, nafsu seks dan nafsu perut turut mendorong seseorang untuk melakukan korupsi. Nafsu seks, misalnya, karena ingin berfoya-foya dan bersenang-senang dengan pe­rempuan memicu seorang laki-laki untuk korupsi. Atau karena tuntutan istri/suami akan harta dan kemewahan bisa pula menyebabkan pasangannya berani korupsi.

 

Begitu pula nafsu perut, kerap kali menjadi alasan untuk menimbulkan hasrat yang berlebihan untuk me­menuhi kebutuhan jasmani. Keinginan yang berlebihan itu akan mendorong pula seseorang terlibat korupsi.

 

Dampak negatif nafsu seks dan perut ini juga diakui oleh sejumlah tokoh asal barat. Tokoh sosialis-ko­munis, Karl Marx (1818 – 1883) mi­salnya, berpendapat bahwa di antara faktor penyebab munculnya berbagai pertentangan dan kekacauan di antara sesama manusia adalah hal-hal yang berhubungan dengan perut.

 

Begitu pula pandangan psikolog modern yang juga ahli saraf (neurologis) asal Australia, Sigmund Freud (1856 – 1883). Menurutnya, keberhasilan dan kegagalan yang dialami oleh manusia serta konflik-konflik yang terjadi ba­nyak dipengaruhi oleh persoalan seks.

 

Puasa di bulan Ramadhan dite­tapkan Allah kepada hamba-Nya agar manusia mampu mengendalikan kedua bentuk nafsu tersebut. Secara umum, para fuqaha mendefinisikan bahwa puasa adalah kegiatan menahan diri dari makan, minum dan bercampur (jima’) dari mulai terbit fajar hingga terbenam matahari.

 

Jadi konsep dasar puasa memang dua hal ini, perut dan seks. Bukan berarti mengenyampingkan yang lain, sebab jika dua hal ini tidak bisa diken­dalikan, maka nafsu selainnya juga tidak akan terkendali ketika berpuasa. Seperti seseorang yang mampu menahan pan­dangannya ketika puasa, sementara ia tidak mampu menahan perut dan seksnya seperti makan, minum, dan atau bercampur (jima’), jelas puasanya batal.

 

Kehadiran Ramadhan yang melatih manusia untuk mengendalikan nafsu syahwat tersebut sejatinya mampu pula mengantisipasi manusia untuk tidak melakukan praktik korupsi. Ketika ia mampu mengendalikan nafsu syah­wat­nya, maka diharapkan ia memiliki sikap batin untuk komitmen melawan segala bentuk praktik korupsi.

 

Selain itu, puasa di bulan Ramadhan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang beriman. Tanpa iman, bisa saja seseorang berlagak puasa, merekayasa penampilan dengan kondisi yang lemah lagi lapar. Kondisi itu tidak akan diketahui oleh orang lain. Puasa hanya diketahui antara diri kita secara indi­vidu dengan Allah SWT.

 

Dengan demikian, puasa melatih seseorang agar memiliki aqidah yang mantap, senantiasa merasa dekat dengan Allah. Ia akan tetap yakin sepenuh hati bahwa setiap apa yang ia lakukan pasti diketahui Allah, meskipun hanya bisikan dalam hati. Ia juga yakin setulus hati bahwa Allah itu dekat, bahkan lebih dekat dari urat lehernya (Qs. Qaaf/50: 16).

 

Karenanya jika nama Allah disebut, maka hatinya akan bergetar (Qs.al-Anfal/8: 2). Ia tidak akan berani mela­kukan sesuatu yang sangat dilarang-Nya. Hal itu pula yang pernah dialami Nabi Yusuf a.s. ketika nama Allah ia ucapkan, seketika nafsu syahwatnya sirna (Qs. Yusuf/12: 23).

 

Jika keimanan telah tertancap kuat dalam kalbu, pasti seseorang tidak berani melakukan korupsi. Sebab seseorang yang melakukan korupsi belum memiliki keyakinan yang me­nancap dalam hatinya bahwa Allah mengetahui setiap tindakannya dan pasti membalasinya.

 

Karena itu, korupsi biasanya tetap dilakukan ketika diperhitungkan tidak ada barang bukti atau tidak diketahui oleh orang lain di luar komunitasnya. Ketakutannya hanya kepada hukum manusia, takut KPK, atau takut hukum pidana produk manusia. Tetapi ia tidak takut (khauf) kepada Allah. Kalau ia takut dengan sebenarnya pada Allah, mustahil ia melakukan larangan-Nya, apalagi perilaku korupsi itu tergolong dosa besar.

 

Puasa juga melatih seorang sha’im (orang yang berpuasa) untuk mera­sakan lapar. Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya syetan itu berjalan pada anak Adam (manusia) seperti jalannya darah, maka persempitlah jalannya itu dengan lapar (Muttafaq ‘alaih).

 

Di antara hikmah lapar dalam konteks puasa ini ialah merasakan apa yang dialami oleh orang-orang miskin. Tujuannya agar kita memiliki kepekaan dan kepeduliaan sosial yang tinggi.

 

Perilaku korupsi dapat menye­bab­kan orang lain jatuh miskin. Apalagi yang dikorupsi itu adalah anggaran negara, maka jelas akan berdampak kepada rakyat banyak yang masih banyak berada dalam kesusahan. Aki­batnya, mereka semakin melarat.

 

Padahal Allah juga telah mengecam orang-orang yang tidak peduli terhadap orang-orang lemah (mustadh’afin) dan menyebut mereka sebagai kelompok pendusta agama (Qs. al-Ma’un). Mereka mengaku beragama, tetapi perilakunya justru memperburuk citra agama itu sendiri, seperti yang dilakukan oleh para koruptor.

 

Namun, para koruptor biasanya tidak peduli akan penderitaan orang lain. Dia hanya mementingkan diri dan kelompoknya sehingga ia berani meng­halalkan segala cara, termasuk korupsi. Koruptor itu juga tidak terlepas dari jeratan dan godaan syetan.

 

Karena itu, korupsi bisa menjadi candu bagi seseorang. Ketika ia berhasil melakukan korupsi dalam satu waktu, maka akan muncul keinginan lagi untuk melakukan korupsi berikutnya, apalagi jika ada peluang. Semua itu tidak terlepas dari tipu daya syetan.

 

Dengan demikian, puasa di bulan Ramadhan melatih kita untuk peduli pada orang miskin. Tidak saja mera­sakan lapar sebagaimana yang dialami oleh mereka, di bulan penuh berkah ini juga harus disempurnakan dengan membayar zakat fitrah. Rasulullah SAW senantiasa membayar zakat fitrahnya kepada fakir miskin. Hal ini me­ngisya­ratkan bahwa ibadah puasa tidak sempurna sebelum berbagi kepada orang-orang yang berada dalam keku­ra­ngan.

 

Kemudian, tujuan dari ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah meraih posisi taqwa. Sementara karakter muttaqin itu adalah antipenindasan (al-Baqarah/2: 177).Karakter itu akan terefleksi pada perilaku melawan ko­rupsi.

 

Allah juga menjanjikan bahwa orang-orang yang bertakwa itu akan selalu di­mudahkan berbagai urusannya di du­nia ini. Begitu pula rezekinya akan di­mu­dahkan Allah dari arah yang tidak di­sangka-sangka (Qs. Ath-Thalaq/65: 2-3).

 

Berbeda halnya dengan orang yang tidak bertaqwa. Ketika ia terbentur pada masalah duniawi, ia akan melakukan berbagai cara, meskipun dengan cara yang dikutuk Allah. Untuk meraih jabatan, misalnya, ia rela menyogok jutaan, ratusan juta, bahkan milyaran rupiah.

 

Ia yakin dan rela untuk mem­perlan­car urusannya dengan cara sogok-menyogok. Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa Allah melak­nat orang yang menyogok dan mene­rima sogok. Lagi-lagi, perbuatan korup­si itu dengan mudahnya dilakukan ketika karakter takwa tidak menghiasi dirinya.

 

Memang tidak mudah pula men­capai derajat taqwa itu. Perlu keinginan dan perjuangan keras. Salah satu cara yang harus ditempuh adalah dengan puasa.

 

Ketika posisi takwa telah diraih, maka Allah akan memberi kekuatan pada diri kita untuk melawan korupsi. Paling tidak perlawanan itu terbangun dalam diri secara pribadi. Ia meng­haramkan dirinya dari segala bentuk praktik korupsi, meskipun posisinya secara duniawi tak begitu dikenal dan disanjung orang.

 

Biarlah harta bendanya tak ber­lim­pah, hidupnya sederhana. Pangkat dan jabatan tak kunjung disandang, hanya tampil layaknya rakyat awam. Tetapi keimanan dan ketakwaan yang dimi­li­kinya akan menjadikannya bernilai tinggi di hadapan Allah.

 

Jika terbentuk pribadi-pribadi yang komitmen berkarakter muttaqin, maka diharapkan ia mampu menjadi contoh-teladan di tengah-tengah keluarga dan masyarakatnya. Keteladanan dari se­seo­rang juga efektif untuk mengubah perilaku masyarakat. Kalau masyarakat mampu pula meneladani karakter muttaqin itu, maka Allah juga men­janjikan negeri mereka akan aman dan sejahtera(Qs. Al-A’raf/7: 96).

 

Demikian puasa menjadi jalan bagi setiap mukmin untuk membentuk pribadi yang konsisten menegakkan kebenaran dan melawan kebatilan, termasuk melawan praktik korupsi. Sebab, korupsi sangat dikecam Tuhan. Sia-sialah puasa seseorang jika peri­la­kunya masih mencuri dan merampas hak orang lain yang bukan miliknya. Wallahu a’lam.

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Opini


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Unas bukan Segalanya

HIRUK pikuk ujian nasional (unas) seolah tidak ada habisnya.

Ketika publik menanti sikap tegas pemerintah seiring dengan amburadulnya pelaksanaan Unas 2013, muncul keputusan lain yang tak kalah mengejutkan. Yakni, sikap tegas pemerintah menghapus unas untuk level sekolah dasar (SD) dan sederajat. Ya, mulai tahun depan tidak ada lagi unas bagi siswa SD!

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Sabtu, 18 Mei 2013

Wako: Tertibkan Baliho

Mada bana, sapu habih se lai  ..........!

 

Polda Diminta Usut Temuan BPK

Lai ndak adoh main mato ......................?

 

Kapolres Bantah Pembunuh 2 Gadis Kabur

Bisa lo nyo luluih di lubang mancik tu........?