Selasa, 21 Mei 2013 - 11 Rajab 1434 H 17:27:09 WIB
OPINI

Pengaruh Ortu terhadap Belajar Anak

Oleh : Supri HS

Guru SD 14 Sungai Geringging Kab. Padang Pariaman

Padang Ekspres • Kamis, 02/08/2012 12:47 WIB • 485 klik

Dalam keseluruhan proses pen­didikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling po­kok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik.

 

Setiap orang tua tentu meng­h­a­rap­kan anaknya mampu berprestasi di sekolah. Keinginan itu bisa terwujud jika sang anak mampu belajar dengan cara yang baik dan tepat.

 

Proses belajar yang dimaksudkan tidak lah dalam arti sempit yakni belajar di sekolah saja. Akan tetapi termasuk kegiatan belajar yang dila­kukan anak di rumah atau di luar lingkup sekolah.

 

Oleh karena itu perlu diketahui bahwa ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi proses belajar anak. Tidak hanya di sekolah akan tetapi faktor-faktor itu bisa saja datang dari luar, yaitu dari masyarakat dan ke­luarga.

 

Slameto pernah menyatakan bahwa salah satu faktor tersebut di antaranya adalah cara orang tua mendidik anak. Hal ini sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan belajar anak.

 

Orangtua yang kurang/tidak mem­perhatikan pendidikan anaknya, mi­sal­nya mereka acuh terhadap belajar anaknya, tidak memperhatikan sama sekali akan kepentingan-kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan anaknya dalam dalam belajar, tidak mengatur waktu belajarnya, tidak menyediakan/melengkapi keperluan belajarnya, tidak memperhatikan apakah anak belajar atau tidak, tidak mau tahu bagaimana kemajuan belajar anaknya, kesulitan-kesulitan yang dialami dalam belajar dan lain-lain dapat menyebabkan anak tidak/kurang berhasil dalam be­lajar­nya.

 

Mungkin anak tersebut sebetulnya pandai, akan tetapi karena cara bela­jarnya tidak teratur, akhirnya kesu­karan-kesukaran menumpuk sehingga akhirnya tertinggal dalam belajar dan akhirnya malas belajar. Hasil yang didapatkan, nilai tidak memuaskan bahkan mungkin gagal sama sekali. Hal ini dapat terjadi pada anak dari ke­luarga yang kedua orangtuanya terlalu sibuk mengurus pekerjaan sendiri tanpa memperhatikan anaknya.

 

Di samping itu ada pula orang tua yang mendidik anak dengan cara yang terkesan memanjakan. Ini  adalah cara mendidik yang tidak baik. Orangtua yang terlalu kasihan terhadap anaknya tak sampai hati untuk memaksa anak­nya belajar, bahkan membiarkan saja jika anaknya tidak belajar dengan alasan segan atau kasihan. Hal ini jika dibiarkan berlarut-larut maka be­rakibat anak tidak memiliki perhatian untuk belajar, berbuat seenaknya saja, dan pastilah hasil belajarnya kacau.

 

Sebaliknya mendidik anak dengan cara yang terlalu keras juga merupakan cara mendidik yang salah. Anak di­paksa agar belajar kemudian ada pula ganjaran berupa hukuman yang berat bila ia tidak belajar. Hal demikian membuat anak diliputi ketakutan dan akhirnya membenci kegiatan belajar itu sendiri. Bahkan jika ketakutan itu semakin serius anak bisa mengalami gangguan kejiwaan sebagai akibat dari tekanan-tekanan itu.

 

Untuk menghindari masalah-ma­salah ini, hal yang diperlukan adalah adanya perhatian orangtua terhadap aktivitas belajar yang dilakukan anak sehari-hari. Maka sepatutnya orangtua mengetahui apa-apa saja bentuk per­hatian yang harus diberikan sebagai dukungan terhadap aktivitas belajar anak di rumah demi menunjang keber­hasilan belajarnya.

 

Pertama, pemberian bimbingan belajar. Bimbingan ini merupakan bantuan yang diberikan orang tua kepada anaknya untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Bimbingan belajar juga berarti pem­berian bantuan kepada anak dalam membuat pilihan-pilihan secara bijak­sana dalam menyelesaikan tuntutan-tuntutan belajar. Ini dimaksudkan agar aktivitas belajar anak jadi lebih terarah.

 

Kedua, pengawasan terhadap akti­vitas belajarnya. Orang tua perlu mengawasi aktivitas belajar anak, sebab tanpa adanya pengawasan yang kontinyu besar kemungkinan aktivitas belajar tidak akan berjalan lancar. Pengawasan ini dalam arti mengontrol atau mengawasi semua kegiatan yang dilakukan oleh anak baik secara lang­sung maupun tidak langsung.

 

Dengan melakukan pengawasan terhadap belajar anak, orang tua akan mengetahui hal-hal apa saja yang sedang dialami anak. Misalnya kesu­litan, kemajuan, atau kemuduran belajar, kebutuhan-kebutuhan anak serta hal lainnya yang berkaitan dengan proses belajar anak. Beberapa hal ini selayaknya diketahui orang tua untuk dibantu membenahi atau me­ning­katkannya.

 

Pengawasan orang tua bukanlah berarti pengekangan terhadap kebe­basan anak untuk berkreasi tetapi lebih ditekankan pada pengawasan ke­wajiban anak yang bebas dan ber­tanggung jawab. Ketika anak sudah mulai menunjukkan tanda-tanda pe­nyim­pangan maka tugas orang tua adalah segera mengingatkan anak akan tanggung jawabnya terutama pada akibat-akibat yang mungkin timbul sebagai efek dari kelalaiannya. Mi­salnya ketika anak tampak malas belajar, maka orang tua harus me­ngingatkan anak akan kewajibannya belajar. Memberi pengertian pen­ting­nya belajar dan akibat jika tidak belajar.

 

Ketiga, pemberian motivasi dan penghargaan. Memotivasi belajar bukan hanya tanggungjawab guru semata tetapi orang tua juga ber­kewajiban memotivasi anak agar lebih giat belajar. Jika anak memiliki prestasi yang bagus maka hendaknya orang tua menasehati supaya meningkatkan aktivitas belajarnya. Dalam hal men­dorong semangat belajar anak orang tua juga bisa memberikan semacam hadiah untuk menambah minat belajar bagi anak itu sendiri.

 

Namun jika prestasi belajarnya kurang maka tanggung jawab orang tua adalah memberikan motivasi atau dorongan agar anak lebih giat lagi belajarnya. Dorongan diperlukan su­paya prestasinya tidak semakin me­nurun hingga pada akhirnya me­nimbulkan keputusasaan.

 

Keempat, pemenuhan kebutuhan belajar. Kebutuhan belajar merupakan segala alat dan sarana yang diperlukan untuk menunjang kegiatan belajar anak. Kebutuhan tersebut bisa berupa ruang belajar, seragam sekolah, buku-buku pelajaran, alat-alat belajar dan lain-lain.  Dengan terpenuhinya kebu­tuhan belajar anak maka dapat mem­permudah baginya untuk belajar de­ngan sebaik-baiknya. Selain itu ter­sedianya fasilitas dan kebutuhan be­lajar yang memadai akan berdampak positif dalam meningkatkan semangat belajarnya.

 

Demikianlah beberapa hal yang selayaknya diketahui dan dilakukan oleh para orang tua demi mewujudkan keberhasilan belajar anak. Orang tua hendaknya tidak sebatas menuntut anak supaya meraih prestasi yang baik akan tetapi ikut terlibat dan berperan dalam upaya mencapai tujuan itu. Dan peran orang tua adalah memberi dukungan berupa perhatian yang sebaik-baiknya agar proses belajar anak membuahkan hasil yang optimal. (*)

[ Red/Administrator ]

Komentar Opini


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Harapan Realistis di Piala Sudirman

PEREBUTAN lambang supremasi bulu tangkis dunia beregu campuran, Piala Sudirman, mulai berlangsung Minggu (19/5) di Kuala Lumpur, Malaysia. Tim-tim unggulan dengan mudah melewati hadangan pertama dengan mengalahkan rival-rivalnya secara meyakinkan. Tiongkok yang berada di grup 1 A secara meyakinkan menggilas India dengan skor telak 5-0. Begitu juga Denmark yang menjadi unggulan di grup 1 D menundukkan Singapura 4-1.

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Selasa, 21 Mei 2013

Kesejahteraan Dokter Minim

Pi umumnyo dokter ko kayo ndak........?

 

Dana Bantuan tak Kunjung Turun

Juluak lah rami-rami .................................!

 

Lareh Sago Halaban Berjaya

Rakyaik lai sejahtera lo................................?