Kamis, 17 April 2014 - 16 Jumadil Akhir 1435 H 13:41:48 WIB
CUCU MAGEK DIRIH

Perubahan Sikap dan Peningkatan Derajat Kemusliman

Oleh : H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Padang Ekspres • Minggu, 29/07/2012 09:48 WIB • 791 klik

H. Sutan Zaili Asril

SALAH sau trend dalam bulan Ramadhan adalah ”menjadi Islami” — mengislamkan apa saja. Bahkan dilakukan secara mencolok dan atau secara ekstrim. Katakan, mengislamkan penampilan, misalnya. Di luar bulan Puasa, penampilannnya relatif ”normal” saja. Misalnya, sebagian dari kaum perempuan yang berusia remaja/dewasa/setengah baya pun, pakaian mereka mungkin relatif membuka aurat. Kepala tidak ditutup karena hendak memperlihatkan rambutnya yang indah, leher indah kelihatan jenjang, dan  belahan dada dan bagian atas kelihatan seperti menyembul dan mengambang. Leher dan dada itu semakin indah karena diberi asesosri. Lalu bahu, ketiak, dan lengan, kelihatan. Begitu pun kedua paha dan betis. Pakaian pun rada memperlihatkan lekuk tubuh karena mungkin menggunakan bahan dasar tipis. Dengan demikian, penampilannya dapat dikatakan modis, sexy, dan cantik menggairahkan. Apalagi gerik sengaja mendukung penampilannya yang cantik mengairahkan alias sexy — karena memang demikianlah maksud penampilan tersebut.

 

Secara ekstrim pe­nam­pilan sexy dan cantik me­ng­gairahkan dengan lebih me­non­jolkan bagian dari tubuh dan menyesuaikan pakaian yang mendukung penampilan tubuh sexy tersebut lebih di­tam­pilkan oleh sebagian dari artis, selebriti, kaum sosialita, dan apa pun sebutan pe­nge­lom­­pokan sejenis. Kelompok da­ri artis, selebriti, dan so­sialita, itu dirasakan lebih tampil secara ekstrim karena ma­reka menjadi pusat per­ha­tian masyarakat — apalagi me­dia makin menonjolkan me­reka.

 

Penampilan dari artis, se­lebriti, dan sosialita tersebut, rupa-rupanya, sangat mem­pe­sona/membius sebagian ma­sya­rakat. Lalu, sebagian ma­sya­rakat berusaha me­ng­iden­tifikasikan diri mereka dengan penampilan para artis/se­leb­riti/sosialita tersebut. Hal itu da­pat disebut sebagai ke­cen­de­ru­ngan yang umum. Sahabat se­nior Cucu Magek Dirih, (alm) Syu’bah Asa, menyebut artis/selebriti sebagai para de­wa dan pengagum/pe­nyan­jung adalah para pengikut atau jamaah mereka.

 

Nah, pada bulan Ra­ma­dhan, sebagian kaum artis/se­lebriti perempuan dan sosialita ter­sebut, mengubah pe­nam­pilan mereka secara drastis menjadi kelihatan Islami. Ram­­but yang indah ditutup jilbab, begitu pun telinga, leher, dan dada. Pakaian yang dipakai juga menutup seluruh tubuh. Tentu termasuk bahu, lengan, ketiak, kedua paha, dan kedua betis, yang biasanya tersingkap.

 

Yang menarik, tentu saja para artis/selebriti — ter­ma­suk para model pe­rem­puan, dan kaum sosialita, mampu menonjolkan diri te­tap/ma­lah semakin menarik per­hatian. Secara umum, pe­na­pilan Is­lami mereka ditam­pilkan se­cara modis dan bah­kan at­rak­tif. Bahkan tidak kalah me­narik perhatian di­ban­dingkan penampilan me­rek yang se­mula lebih me­nonjolkan tubuh me­reka. Gi­la­nya, ke­cen­de­ru­ngan pe­nam­pilan baru para ar­tis/model/selebriti dan so­sia­lita itu pun tetap mempesona/membius sebagian ma­sya­rakat. Ma­sya­rakat pun me­ng­iden­tifi­ka­si­kan diri sesuai pe­nampilan artis/model/se­leb­riti dan kaum so­sialita yang mereka kagumi.

 

BEGITULAH, sebagian da­ri masyarakat beragama Islam — terutama kaum pe­rem­puan — mengubah pe­nam­pilan men­­jadi lebh Is­lami pada/se­lama bulan Ra­madhan. Antara lain dalam hal berpakaian/berbusana. Pe­ru­ba­han tersebut lebih sama ber­sifat luar/dilihat aura dipan­da­ng orang lain dan atau karena me­mang dorongan dari sikap ke­mus­li­man. Untuk para pe­ng­guna penampilan yang lebih Is­la­mi tersebut memberikan rasa kenyamanan dalam pe­nampilannya dan atau dili­hat/di­pandang/di­per­ha­ti­kan oleh masyarakat.

 

Mungkin, bagi ma­sya­raiat yang melihat/me­man­dang/memperhatikan pu­la merasa senang-senang saja. Secara umum, penampilan berbusana yang lebih islami ar­tis/model/selebriti dan kaum sosialita mungkin se­kali mem­berikan dorongan luas se­hing­ga sebagian ma­syarakat juga mengubah penampilannya dengan ber­bi­sana yang lebih muslimah.

 

Masalahnya, apakah pe­nam­pilan/berbusana yang lebih islami tersebut hanya pada bulan Ramadlan saja atau akan terus berlanjut pas­ca­ramadan sebagai salah satu buah dari perbuatan baik se­la­ma bulan Puasa!? Salah satu nilai berpuasa/beramal shaleh dalam bulan Puasa adalah atau se­mes­tinya/seharusnya ada ke­lan­jutan dan atau pe­ni­ngatan sikap kemusliman da­lam berkehidupan, Dalam hal ini akan diuji, apakah pe­nam­pilan yang lebih Islam da­lam hal berbusana hanya se­ka­dar penampilan luar yang tidak cukup didukukung sebagai sikap kemusliman yang benar? Atau, apa pe­nam­pilan ber­bu­sana yang lebih Islami tersebut ha­nya di­maksudkan sebatas/un­tuk dilihat/dipandang/di­per­hatikan orang banyak dan atau perubahan pe­nam­pilan me­reka tidak me­ru­pa­kan pe­ru­bahan sikap ke­mus­liman!? Karena itu, se­le­pas bulan Ra­ma­dlan, me­reka kembali me­ngu­bah pe­nam­pilan yang lebih Islami menjadi kembali se­ba­gai­mana sediakala!?

 

Idealnya, perubahan pe­nam­pilan luar yang lebih Is­lami yang semula lebih ber­sifat luar/mode/kecen­de­ru­ngan sesaat, terus merasuk ke dalam hati sanubari se­hing­ga diha­rap­kan menjadi pe­rubahan sikap ke­mus­li­man. Artinya, ada dorongan dalam diri yang ber­sa­ng­ku­tan menjadi momentum bu­lan Puasa sebagai me­ngu­bah penampilan luar men­jadi lebih Islami. Lalu, di­dorong semangat berpuasa/amaliah selama Ramadlan, memang terjadi perubahan sikap kemusliman dalam diri masyarakat yang me­ngubah penampilan luar/ber­busana lebih Islami. Ar­ti­nya, pe­nam­pilan luar/ber­bu­sana yang lebih Islami ter­sebut bukan lagi semata penampilan luar, tapi, ka­rena didorong se­ma­ngat sikap kemusliman yang be­nar. Insya Allah, pe­nam­pilan luar/berbusana lebih islami tidak hanya selama Ra­m­a­dhan, tapi, akan terus berlanjut seterusnya selepas Ramadlan.

 

SUNGGUHNYA, dalam pemahaman Cucu Magek Di­rih, Ramadhan dipo­si­sikan sebagai saat atau momentum baik. Artinya, bu­lan Ramadhan memberikan ”situasi me­mak­sa” setiap muslim/mus­limah untuk mengambil/mengisi/me­manfaatkan Ramadhan se­ba­gai momentum yan baik. ”Me­maksa? setiap muslim da­pat dugambarkan dari janji Allah bagi yang ber­puasa/bagi yang men­di­ri­kan Ramadhan dengan benar. Mulai dari nilai ama­liah baik yang di­li­pat­gan­dakan, pengampunan dosa, se­tan dan iblis diamputasi/di­ikat sehingga tidak me­miliki keleluasaan mem­pe­ngaruhi umat Islam me­nu­naikan puasa dan me­nger­jakan ama­­liah baik lainnya da­lam bulan Ra­ma­dhan, dan sampai setiap yang ber­puasa/mendirikan Ra­ma­dhan/meningkatkan ama­liah baik mereka. Di bulan Sya­wal, setiap muslim di­pan­dang me­ning­kat derajat k­e­mus­li­man­nya.

 

Dalam pemahaman Cucu Magek Dirih, setiap umat Islam yang menunaikan ber­puasa di bulan Ramadhan/mendirikan Ramadhan de­ngan benar/mengerjakan ama­liah baik selama Ra­ma­dhan, dikatakan akan kem­bali ke fitrah bukan dalam pe­nger­tian kertas putih!. Dalam per­spektif me­nu­naikan puasa kembali ke fitrah, berarti kem­bali ke fitrah dalam pengertian ker­tas putih sebagai buah dari pengapunan Allah atas do­sa-dosa terdahulu. Lalu, ba­gai­mana hal dengan nilai amaliah ber­puasa/amaliah mendirikan Ramadhan/ama­­liah baik lain­nnya yang dijanjikan Allah akan mem­peroleh nilai yang ber­li­pat­ganda? Apakah men­jadi ban­­­­dingan habis terhadap pe­ngampunan dosa yang ter­da­hulu — bila kembali ke fitrah diartikan sebagai ker­tas putih? Jadi, arti fitrah dalam per­spek­tif umat Islam yang me­nu­nai­kan ber­puasa Ramadhan/men­di­ri­kan Ramadhan/me­nger­ja­kan amaliah baik lain­nya, bu­kan sebatas menjadi ker­tas putih, tapi, kembali ke fitrah dalam arti kertas pu­tih hanya salah satu pe­nger­tian nilai berpuasa Ra­ma­dhan/mendirikan Ra­ma­dhan/me­nger­jakan amaliah baik lain­nya.

 

Selain pembersihan/pe­ngam­punan Allah itu, setiap muslim/muslimah yang me­nu­naikan puasa Ramadhan/men­dirikan Ramadhan/me­nger­jakan amaliah baik lain­nya, mendapatkan ganjaran yang berlipatganda dari Allah dalam perspektif Syawal atau peningkatan derajat. Jadi, se­ti­daknya dalam pe­ma­haman Cucu Magek Di­rih, nilai bagi setiap mus­lim/muslimah yang me­nu­nai­kan ibadah berpuasa pa­da bulan Ramadhan/men­dirikan Ramadhan/me­nger­jakan amaliah baik lainnya selama bulan Ramadhan akan memperoleh pe­ning­ka­tan de­rajat ke­muk­mi­nan/ke­mus­li­man berupa pe­ning­katan ke­taq­waan. Ini­lah nilai ter­tinggi yang di­be­ri­kan Allah bagi se­tiap mus­lim/muslimah yang me­nu­nai­kan ibadah berpuasa Ra­ma­dhan/mendirikan R­a­ma­dhan/mengerjakan ama­lah baik lainnya selam Ra­ma­dhan sehingga setiap mus­­lim/mus­limah yang me­ra­­sakan pe­ning­katan diri da­lam hal kemuk­minan/ke­mus­liman/ketaq­waan itu digambarkan dalam syair Arab sebagai tidak mau Ra­madhan berkhir karena mu­ng­kin saja mereka tidak mem­punyai kesempatan kem­­­bali menjalani Ra­ma­dhan tahun depan.

 

BEGITULAH seharusnya kita memandang/me­man­faat­kan bulan Ramadhan se­bagai momentum ter­pen­ting se­pan­jang tahun ke­hi­dupan — ter­masuk yang mengubah pe­nampilan luar atau berbusana mereka yang lebih Islami dengan harapan memang akan sampai pada perubahan sikap kemus­liman yang bersangkutan. Lebih dari itu, yang ter­penting bahwa menunaikan ibadah puasa Ramadhan/mendirikan Ramadhan/me­ngerjakan amaliah baik lain­nya adalah terjadi pe­ning­katan kemukminan/ke­mus­liman/ketaqwaan dalam se­yoap diri muslim/mus­liman — betapa pun ada per­be­daan tingkatan peningkatan sesuai penilian Allah atas ibadah puasa Ramadhan/mendirikan Ramadhan/me­ngerjakan amaliah baik lain­nya. Sebaliknya, alangkah merugi mulim/muslimah yang berpuasa Ramadhan/mendirikan Ramadhan/me­ngerjakan amaliah baik lain ternyata tidak kembali ke fitrah dan tidak meraih pe­ningkatan derajah ke­muk­minan/kemusliman/ke­taq­waan.

 

Astaghafirulllah.

 

Cucu Magek Dirih selalu menjadi orang yang merasa merugi karena termasuk orang yang tidak akan men­dapatkan nilai yang mak­simal dari menunaikan iba­dah berpuasa Ramadlan/men­dirikan Ramadhan/me­nunaikan amaliah baik lain selama Ramadhan. Dan, merasa sangat takut usianya tidak memberi kesempatan untuk menjalani Ramadhan tahun depan. Ya wa­ilani...***

 

H. Sutan Zaili Asril 

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Cucu Magek Dirih


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!