Jum'at, 25 April 2014 - 24 Jumadil Akhir 1435 H 00:31:02 WIB
TERAS UTAMA

Menyikapi Perbedaan Penetapan Awal Ramadhan

Oleh : Chairuddin

Ketua MUI Padangpariaman

Padang Ekspres • Senin, 23/07/2012 11:07 WIB • 1497 klik

Chairuddin

Berdasarkan berita pers penetapan awal Ramadhan tahun 1433 H (2012 M) ini dapat diyakini tidak akan sama dan berbeda sekitar 4-5 hari. Kelompok Naqsabandiyah di Padang telah mulai puasa hari Rabu 18 Juli 2012, Muhammadiyah Jumat tanggal 20 Juli 2012, pengikut Syattariah maniliak bulan tanggal 20 Juli 2012, kemungkinan mulai puasa hari Sabtu atau Minggu, sedangkan pemerintah/kementerian agama menetapkan berpuasa mulai Sabtu 21 Juli 2012.

 

Selama 7 tahun terakhir ini, telah terjadi beberapa kali beda pendapat antara Muhammadiyah dan pemerintah mengenai Lebaran 1 Syawal, antara lain tahun 2006, 2007, 2008 dan 2011, untuk tahun 2012 insya Allah diharapkan pada hari yang sama, yakni Minggu 19 Agustus 2012. Perbedaan ini timbul karena berbedanya pandangan masing-masing tentang posisi bulan pada 29 Sya’ban (19 Juli 2012), ketinggian bulan 01-27 derajat di saat matahari terbenam hari itu.

 

Pertama, Muhammadiyah yang memakai metode wujudul hilal (hisab hakiki) menetapkan awal Ramadhan hari Jumat tanggal 20 Juli 2012. Alasannya, bulan (hilal) sudah wujud (ada) di atas ufuk waktu matahari terbenam Kamis tanggal 19 Juli 2012, meskipun tidak bisa dilihat dengan teleskop sekalipun, lantaran dekatnya bulan dengan matahari, sehingga cahaya ma­tahari yang begitu kuat (te­rang) menghilangkan rupa/wujud bulan. Metode ini telah ditetap­kan Muhammadiyah pusat pe­rio­de Jarnawi tahun 1969. Ke­tetapan ini diperkuat lagi dalam musyawarah nasional tarjih Muhammadiyah tahun 2005 di Padang, dan disokong Persatuan Islam (Persis).

 

Persis merupakan ormas Islam dengan tokoh terkenal A Ha­san (Hasan Bandung) yang ti­dak te­rikat pada salah satu maz­hab se­­bagaimana Muham­madiyah dan Al-Irsyad. Salah satu tokoh­nya ialah alm Moh Natsir. Unik­nya lagi, dalam menetapan Idul Fi­­tri ta­hun 2007 Persis berle­ba­ran tanggal 13 Oktober sama de­n­gan pe­merintah, sedangkan Mu­­ham­madiyah Lebarannya tang­­gal 12 Oktober 2007 (berita Pa­­dang Ekspres, 9 Oktober 2007).

 

Kedua, pemerintah dan MUI me­netapkan awal bulan Qa­ma­riah dengan menggabungkan hi­sab dan rukyah, disebut de­ngan imkanurrukyah. Arti­nya, MUI juga mem­pedomani posisi bulan tanggal 29 Sya’ban yang dipakai Muhammadiyah (wujud hillal), ditambah satu syarat lagi, yakni wujud hilal itu ada kemungkinan dapat dilihat, minimal tingginya 2 derajat, jarak waktu antara ij­timak akhir Sya’ban dengan ter­benam matahari 8 jam. Me­nurut MUI, hisab bukanlah dalil yang man­diri, tapi sebagai sarana il­miah untuk mengetahui ada­nya ke­mungkinan rukyah (bulan bisa dilihat), tidak pernah de­ngan li wujudih (karena bulan sudah wujud).

 

Keputusan MUI di atas dite­tap­k­an dalam fatwa MUI No 02 Ta­hun 2004 tanggal 24 Januari 2004 bahwa penetapan awal bu­lan didasarkan pada metode hi­sab dan rukyah, dilakukan pe­me­rintah c.q Departemen Aga­ma dan berlaku secara nasio­nal. Kon­ferensi Islam di Istambul ta­hun 1978 yang dihadiri 18 ne­gara Is­lam/muslim termasuk In­do­ne­­sia, memutuskan per­syaratan yang lebih tinggi, yakni keting­gian bulan minimal 5 derajat (MUI hanya 2 derajat). Ban­ding­kan dengan ketinggian bu­lan Kamis 19 Juli 2012, hanya 01 derajat.

 

Pandangan penulis, perta­ma, perbedaan satu hari antara Mu­hammadiyah dengan pe­me­rin­tah masih dipandang wa­jar. Ta­pi, jika perbedaan itu sampai 4 atau 5 hari memang mem­pri­ha­tinkan di tengah-tengah ke­ma­juan teknologi dan ilmu as­tro­nomi di zaman canggih ini. Per­­bedaan menyolok itu timbul ka­­rena; pertama, adanya prinsip ruk­yah yang kaku; kedua, ada pula hisab yang hanya berda­sar­kan angka dan rumus-rumus ter­tentu yang tidak jelas sum­ber­nya dan tidak pula ada kaitan­nya sama sekali dengan ilmu as­tronomi/falakiah. Ketiga, per­bedaan awal Ramadhan lebih ringan dari perbedaan 1 Syawal, karena bagaimanapun juga, syiar agama di hari Lebaran lebih kentara dari hari memulai puasa.

 

Perbedaan yang menyolok per­nah pula terjadi pada Idul Adha 2007/1428 H. Mu­ham­ma­diyah dan peme­rintah me­ne­tap­kan hari yang sama (Ka­mis, 20 Desember), sedangkan ma­jelis Mujahidin, Hizbut Tah­rir dan De­wan Dakwah Islam (DDII) me­laksanakannya hari Rabu tang­gal 19, yang dida­sar­kan pada hari wuquf di Ara­fah (Arab Saudi) Selasa tanggal 18. Pe­netapan awal bulan berda­sar­kan penanggalan di negeri Arab merupakan penda­pat yang syaaz (mengganjil).

 

Imbauan penulis: Perbe­daan pendapat tentang awal Ra­ma­dhan dan Syawal ja­nganlah men­jadi sumber kon­flik. Lebih-le­bih menuduh pihak lain ber­buat haram. Umpamanya, si A yang mulai puasa hari Jumat menuding si B yang mulai puasa hari Sabtu, se­bagai fasik karena masih makan dan minum di 1 Ra­madhan. Se­baliknya, bila si A nan­tinya ber­buka (Lebaran) lebih dahulu dari si B, si B akan menuding si A ber­buat haram karena makan dan minum di siang hari yang masih dalam bulan Ramadhan.

 

Yang benar menurut penulis ada­lah, haram berpuasa bagi orang mempercayai bahwa hari itu su­dah memasuki 1 Syawal, dan ha­ram pula makan dan minum ba­gi orang yang mempercayai hari itu awal Ramadhan. Prisip­nya; “Jan disorongan kupiah awak ka kapalo urang lain, alun tantu sasuai doh”. Akhirul kalam:

 

“Burung si antiang-antiang Cino

Hinggok di ujuang-ujuang dahan

Karano Ramadhan alah tibo

Ridho jo maaf ambo mo­hon­kan

 

“Lawan pendapat adalah lawan berpikir”. Terima kasih. Wassalam. (*)

[ Red/Administrator ]

Komentar Teras Utama


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Kacamata Kuda KPK

KRITIK dan pujian selalu datang bersamaan setiap kali Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat ”kejutan” baru. Termasuk ketika menetapkan mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo sebagai ter­sangka dalam kasus pajak yang terjadi pada 2004.

Belum Terima Elpiji

YTH bapak Wali Kota Padang yang baru. Kami warga RW 6, Guo Kuranji sampai sekarang belum menerima paket gas elpiji 3 Kg. Tolong di percepat karena minyak tanah harganya sudah naik.

Kamis ,24 April 2014

Tunggu SK Mendagri

Lai ndak ka ta undur lo tu Pak, dek KPK lah manyasar Mendagri lo..........!

 

14 Warga Digigit Anjing Gila

Iah gawat mah pak,lai aman Pak..................................................?

 

UN SLTP, Padang Target Jawara

semoga lah pak, asa ndak pakai jimat se.....................................!