- 14:22 WIB
- 14:21 WIB
- 14:21 WIB
- 14:17 WIB
- 14:19 WIB
- 14:18 WIB
- 14:17 WIB
- 14:16 WIB
- 14:16 WIB
- 13:30 WIB
Rutinitas Ramadhan
Oleh : Nasrian Bahzein
Wartawan Padang Ekspres
Padang Ekspres • Minggu, 22/07/2012 09:16 WIB • 335 klik

Kegairahan beragama terasa hangat setiap Ramadhan tiba. Setan-setan yang biasa berkeliaran selama sebelas bulan, lari terbirit-birit, tunggang langgang, terpere-pere, dan akhirnya terbakar mendengar lantunan ayat-ayat suci Al Quran. Persis seperti film-film horor di layar televisi kita.
Bagaimana kalau Al Kitab Al Quran yang dibaca itu hasil korupsi? Tidak peduli, apa pun jenis setannya, mau setan gundul sekalipun, selama Ramadhan ini semua makhluk jahat sejenis alien pun ketakutan. Tengok saja di semua televisi! Artis-artis nan molek bin seksi, ramai-ramai mengusir setan dengan menutup aurat.
Seperti musim durian, Ramadhan tak ubahnya musim berjilbab ria bagi kalangan selebritis kita. Musim untuk mengerangkeng setan-setan, seperti Hadis Rasululllah, “pada bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu” (HR Muslim).
Kemeriahan beribadah itu mengisi ruang-ruang publik. Ada kesenangan luar biasa di dalam batin menyambut bulan suci Ramadhan. Bukan saja para ustad yang senang lantaran banjir order, para artis pun tersenyum puas karena panen rezeki sebagai bintang iklan dan program-program religi di layar kaca.
Bukan itu saja. Koruptor pun bersuka cita menyambut Ramadhan sebagai momen berganti jubah sebagai pemimpin yang amanah, alim, shaleh, dan sederet sifat terpuji lainnya yang ingin dicitrakan. Gaya setannya boleh saja dibelenggu, tapi hawa nafsu iblis tak lantas berpuasa. Para koruptor boleh jadi bisa menipu rakyat supaya dikatakan pemimpin religi dengan berlagak dermawan, banyak berzakat, berkoko ria, tutur katanya santun selama Ramadhan, tapi lupa menyuap malaikat agar memanipulasi catatan amalannya, hehehe.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, gegap gempita menyambut Ramadhan tidak melahirkan kesalehan sosial pada manusia-manusia Indonesia. Seperti rutinitas, setiap tahun masalah yang dihadapi itu ke itu saja. Umat semakin imun dengan realitas yang dihadapi, karena menganggap sudah biasa.
Sebut saja perbedaan awal puasa dan Lebaran, di benak masyarakat sudah lumrah karena memang sudah begitu saban tahun. Sesuatu yang dulunya sakral, menjadi rutinitas bila dilakukan setiap tahun. Selalu heboh setiap awal Ramadhan, tapi tidak pernah ada solusi konkret.
Rutinitas lainnya, kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok. Konsumen dipaksa terbiasa dengan kenaikan harga komoditas setiap Ramadhan dan Lebaran, seolah-olah memang seperti itu hukum pasarnya. Agar dibilang bekerja, biasanya aparatur pemerintah sibuk menyiapkan pasar murah dan operasi pasar. Bila perlu, dipanggil juga para distributor sembako biar terkesan serius.
Di pasar-pasar tradisional dan pasar-pasar pabukoan, biasanya juga tidak kalah sibuk. Para petugas mulai siap-siap melakukan inspeksi mendadak pada sejumlah pedagang makanan dan daging ternak. Yang lucunya, kadang-kadang rencana inspeksi mendadak diumumkan sebelumnya supaya diliput media.
Rutinitas lainnya, mengawasi pegawai negeri sipil yang bolos pada jam kerja. Setiap akhir libur panjang, kepala daerah show of force melakukan inspeksi anak buahnya yang absen di hari pertama kerja. Bagi kalangan pejabat, menggelar safari Ramadhan dengan konvoi kendaraan yang mengular. Belum terealisasi janji safari Ramadhan tahun lalu, si pejabat telah membuat janji-janji baru pada masyarakat.
Di lingkungan pedagang, Ramadhan tak jarang sebagai ajang mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Harga barang dikatrol seenaknya, persetan rakyat susah, yang penting aku senang seperti lagu Bento, Iwan Fals. Masih banyak memang pedagang baik, tapi kok setiap tahun semakin liar dirasakan oleh konsumen.
Tradisi lainnya, makin kuatnya budaya konsumtif selama Ramadhan. Puasa yang logikanya membuat umat berhemat, malah makin boros. Hampir setiap kafe-kafe, restoran, rumah makan hingga hotel biasanya penuh oleh berbuka puasa bersama, di sudut lain gepeng dan anak jalanan pun bertambah di pusat-pusat kota. Pedulikah mereka yang berbuka di tempat-tempat mahal dengan orang-orang miskin di sekitarnya? Begitu seterusnya. Ramadhan hanya semacam musim pencitraan bagi public figure, musim barang naik, musim spekulan pedagang culas, musim konsumtif kaum hedonis, musim anjal bagi kaum pemalas, dan musim-musim rutinitas lainnya.
Meski setiap tahun persoalan itu hadir, hingga kini belum tampak upaya sungguh-sungguh memecahkannya. Sama pula dengan kaji ustad di masjid-masjid yang setiap tahun hanya membahas syarat sah atau tidaknya puasa, seolah-olah dalam kehidupan sehari-harinya tidak bersentuhan dengan tsunami moral yang melanda umat.
Musim rutinitas itu membuat kita lupa memaknai ibadah puasa yang sesungguhnya. Setiap tahun dijalani, rasa-rasanya belum berdampak pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Para koruptor tetap saja berkembang biak. Hanya judul dan lakonnya yang berbeda. Bila Ramadhan tahun lalu kita disuguhi kasus korupsi Nazaruddin, tahun ini korupsi pengadaan Al Quran.
Boleh juga kita berharap pada ustad-ustad selama Ramadhan ini, mengajak para koruptor yang pancasilais, politisi busuk yang budiman, pengusaha culas yang dermawan, kembalilah ke jalan lurus mumpung setan-setan dikerangkeng selama Ramadhan. Ingat, boleh jadi tahun ini Ramadhan terakhir bagi kita. Selamat menunaikan ibadah puasa. (*)
E-mail: nashrian@gmail.com
[ Red/Administrator ]
DARAH sudah muncrat. Demonstrasi yang mengiringi kenaikan harga BBM telah mengakibatkan beberapa orang dari kalangan pendemo, polisi, dan wartawan luka. Ini tentu menyedihkan. Yang lebih menyedihkan, mengapa bangsa kita tak jua bisa lepas dari ”ritual menyakitkan” seperti ini. Dari waktu ke waktu, selalu terjadi trilogi maut: kenaikan harga BBM-pertengkaran politik-demo keras. Ketika para pemangku kepentingan sibuk bertikai, harga barang lain sudah menyelinap naik.
Assalamualaikum wr wb, yth pimpinan RS M Djamil, sekadar masukan demi memajukan M Djamil. Kami baru pulang dari Jakarta dan HD kebetulan di RSCM Pusat kami rasakan disana layanan sangat bagus, perawatnya ramah-ramah, mereka diajarkan ilmu psikologi untuk melayani pasien tidak seperti di M Djamil yang perawatnya tidak familiar, terutama yang berinisial D, amat kasar mulutnya sama pasien. Jadi kalau masih tetap begini pelayanan M Djamil kami yakin tidak akan dapat untuk menjadi status layanan internasional. Semoga para pimpinan memperhatikannya. Wasaallam pasien HD, Selasa-Jumat CC Ibu kepala Dinkes Sumbar
PPS Rawan Diintervensi
Paralu dijago bana tu.........................!
Sumbar Kecipratan Rp48 M
Lai ndak digigik mancik pulo beko tu....!
Tower Tumbang, Listrik Padam
Apo dek itu lampu acok mati kini...............?