Rabu, 19 Juni 2013 - 10 Sya'ban 1434 H 14:27:12 WIB
KOPI MINGGU

Rutinitas Ramadhan

Oleh : Nasrian Bahzein

Wartawan Padang Ekspres

Padang Ekspres • Minggu, 22/07/2012 09:16 WIB • 335 klik

Nashrian Bahzein

Kegairahan beragama terasa hangat setiap Ramadhan tiba. Setan-setan yang biasa berkeliaran selama sebelas bulan, lari terbirit-birit, tunggang langgang, terpere-pere, dan akhirnya terbakar mendengar lantunan ayat-ayat suci Al Quran. Persis seperti film-film horor di layar televisi kita.

 

Bagaimana kalau Al Kitab Al Quran yang dibaca itu hasil korupsi? Tidak peduli, apa pun jenis setannya, mau setan gundul sekalipun, selama Ramadhan ini semua makhluk jahat sejenis alien pun ketakutan. Tengok saja di semua televisi! Artis-artis nan molek bin seksi, ramai-ramai mengusir setan dengan menutup aurat.

 

Seperti musim durian, Ramadhan tak ubahnya musim berjilbab ria bagi kalangan selebritis kita. Musim untuk mengerangkeng setan-setan, seperti Hadis Rasululllah, “pada bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu” (HR Muslim).

 

Kemeriahan beribadah itu mengisi ruang-ruang publik. Ada kesenangan luar biasa di dalam batin menyambut bulan suci Ramadhan. Bukan saja para ustad yang senang lantaran banjir order, para artis pun tersenyum puas karena panen rezeki sebagai bintang iklan dan program-program religi di layar kaca.

 

Bukan itu saja. Koruptor pun bersuka cita menyambut Ramadhan sebagai momen berganti jubah sebagai pemimpin yang amanah, alim, shaleh, dan sederet sifat terpuji lainnya yang ingin dicitrakan. Gaya setannya boleh saja dibelenggu, tapi hawa nafsu iblis tak lantas berpuasa. Para koruptor boleh jadi bisa menipu rakyat supaya dikatakan pemimpin religi dengan berlagak dermawan, banyak berzakat, berkoko ria, tutur katanya santun selama Ramadhan, tapi lupa menyuap malaikat agar memanipulasi catatan amalannya, hehehe.

 

Seperti tahun-tahun se­belumnya, gegap gempita me­nyam­but  Ramadhan tidak melahirkan kesalehan sosial pada manusia-manusia Indonesia. Seperti rutinitas, setiap tahun masalah yang dihadapi itu ke itu saja. Umat semakin imun dengan realitas yang dihadapi, karena menganggap sudah biasa.  

 

Sebut saja perbedaan awal puasa dan Lebaran, di benak masyarakat sudah lumrah ka­rena memang sudah begitu saban tahun. Sesuatu yang dulunya sakral, menjadi ru­tinitas bila  dilakukan setiap tahun. Selalu heboh setiap awal Ramadhan, tapi tidak pernah ada solusi konkret.

Rutinitas lainnya, kenaikan harga barang-barang kebu­tuhan pokok. Konsumen di­pak­sa terbiasa dengan ke­naikan harga komoditas setiap Ramadhan dan Lebaran, seo­lah-olah memang seperti itu hukum pasarnya. Agar di­bilang bekerja, biasanya apa­ratur pemerintah sibuk me­nyiapkan pasar murah dan operasi pasar. Bila perlu, di­panggil juga para distributor sembako biar terkesan serius. 

 

Di pasar-pasar tradisional dan pasar-pasar pabukoan, biasanya juga tidak kalah si­buk. Para petugas mulai siap-siap melakukan inspeksi men­dadak pada sejumlah pe­da­gang makanan dan daging ternak. Yang lucunya, kadang-ka­dang rencana inspeksi men­dadak diumumkan se­belumnya supaya diliput media.

 

Rutinitas lainnya, me­nga­wasi pegawai negeri sipil yang bolos pada jam kerja. Setiap akhir libur panjang, kepala daerah show of force mela­kukan inspeksi anak buah­nya yang absen di hari pertama kerja. Bagi kalangan pejabat, menggelar safari Ramadhan dengan konvoi kendaraan ya­ng mengular. Belum terealisasi janji safari Ramadhan tahun lalu, si pejabat telah membuat janji-janji baru pada mas­yarakat.           

 

Di lingkungan pedagang, Ramadhan tak jarang sebagai ajang mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Harga ba­rang dikatrol seenaknya, per­setan rakyat susah, yang pen­ting aku senang seperti lagu Bento, Iwan Fals. Masih ban­yak memang pedagang baik, tapi kok setiap tahun semakin liar dirasakan oleh konsumen. 

 

Tradisi lainnya, makin ku­atnya budaya konsumtif se­lama Ramadhan. Puasa yang logikanya membuat umat ber­hemat, malah makin boros. Hampir setiap kafe-kafe, res­toran, rumah makan hingga hotel biasanya penuh oleh berbuka puasa bersama, di sudut lain gepeng dan anak jalanan pun bertambah di pusat-pusat kota. Pedulikah mereka yang berbuka di tem­pat-tempat mahal dengan orang-orang miskin di se­ki­tar­nya?   Begitu seterusnya. Ra­mad­han hanya semacam mu­sim pencitraan bagi public figure, musim barang naik, musim spekulan pedagang culas, mu­sim konsumtif kaum he­donis, musim anjal bagi kaum pemalas, dan musim-musim rutinitas lainnya.

 

Meski setiap tahun per­soa­lan itu hadir, hingga kini belum tampak upaya sungguh-sung­guh memecahkannya. Sama pula dengan kaji ustad di mas­jid-masjid yang setiap tahun hanya membahas syarat sah atau tidaknya puasa, seolah-olah dalam kehidupan sehari-harinya tidak bersentuhan dengan tsunami moral yang me­landa umat.

 

Musim rutinitas itu mem­buat kita lupa memaknai iba­dah puasa yang sesungguhnya. Setiap tahun dijalani, rasa-rasanya belum berdampak pada kehidupan bermas­ya­rakat, berbangsa dan ber­negara yang lebih baik. Para koruptor tetap saja ber­kem­bang biak. Hanya judul dan lakonnya yang berbeda. Bila Ramadhan tahun lalu kita disuguhi kasus korupsi Na­zaruddin, tahun ini korupsi pengadaan Al  Quran.

 

Boleh juga kita berharap pada ustad-ustad selama Ra­madhan ini, mengajak para ko­ruptor yang pancasilais, po­litisi busuk yang budiman, pengusaha culas yang der­ma­wan, kembalilah ke jalan lurus mumpung setan-setan dike­rang­keng selama Ra­mad­han. Ingat, boleh jadi tahun ini Ra­mad­han terakhir bagi kita. Se­lamat menunaikan ibadah pua­sa. (*)

E-mail: nashrian@gmail.com  

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Kopi Minggu


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Masokisme Politik BBM

DARAH sudah muncrat. Demonstrasi yang me­ngi­ringi kenaikan harga BBM telah mengakibatkan beberapa orang dari kalangan pendemo, polisi, dan wartawan luka. Ini tentu menyedihkan. Yang lebih menyedihkan, mengapa bangsa kita tak jua bisa lepas dari ”ritual menyakitkan” seperti ini. Dari waktu ke waktu, selalu terjadi trilogi maut: kenaikan harga BBM-pertengkaran politik-demo keras. Ketika para pemangku kepentingan sibuk bertikai, harga barang lain sudah menyelinap naik.

Perawat tak Familiar

-

Assalamualaikum wr wb, yth pimpinan RS M Djamil, sekadar masukan demi memajukan M Djamil. Kami baru pulang dari Jakarta dan HD kebetulan di RSCM Pusat kami rasakan disana layanan sangat bagus, perawatnya ramah-ramah, mereka diajarkan ilmu psikologi untuk melayani pasien tidak seperti di M Djamil yang perawatnya tidak familiar, terutama yang berinisial D, amat kasar mulutnya sama pasien. Jadi kalau masih tetap begini pelayanan M Djamil kami yakin tidak akan dapat untuk menjadi status layanan internasional. Semoga para pimpinan memperhatikannya. Wasaallam pasien HD, Selasa-Jumat CC Ibu kepala Dinkes Sumbar

Selasa, 18 Juni 2013

PPS Rawan Diintervensi

Paralu dijago bana tu.........................!


Sumbar Kecipratan Rp48 M

Lai ndak digigik mancik pulo beko tu....!


Tower Tumbang, Listrik Padam

Apo dek itu lampu acok mati kini...............?