- 12:40 WIB
- 12:38 WIB
- 12:37 WIB
- 12:36 WIB
- 12:36 WIB
- 12:34 WIB
- 12:11 WIB
- 12:05 WIB
- 11:53 WIB
- 11:44 WIB
Menjawab Polemik Rekam Jejak
Oleh : Andre Rosiade
Ketua Gerakan “Ayo, Jadi Pengusaha” Wilayah Sumbar
Padang Ekspres • Senin, 02/07/2012 13:21 WIB • 449 klik
BEBERAPA pekan terakhir saya mencermati perdebatan hangat yang dimulai Erizal, Direktur InCoSt, Institute for Community Studies, dan kemudian ditanggapi Febrinansyah, pengusaha muda di Padang. Lalu, ‘ditengahi’ Endang Suparta, pengamat hukum.
Di tengah kesibukan, saya berupaya ‘menyicil’ tulisan untuk menanggapi opini-opini itu sekaligus membantah pernyataan Erizal, “Menulis merupakan pekerjaan sendiri dan mesti meninggalkan pekerjaan lainnya, apalagi bila belum rutin melakukannya alias belum terbiasa.”
Bagi saya menulis itu bisa di mana dan kapan saja. Sambil mobile pun bisa, karena dengan kecanggihan teknologi sekarang tidak harus nongkrong seharian di depan komputer. Terpenting memahami masalah, referensinya jelas, bukan direkayasa.
Saya menyambut positif adanya opini-opini yang ditulis rekan-rekan saya itu. Namun, sebagai orang yang namanya dilibatkan ketiga penulis dalam opininya, saya merasa perlu menanggapi.
Pertama, saya merasa senang Erizal yang mungkin telah bersusah payah meninggalkan pekerjaan lain, demi menulis tentang saya hingga ‘berkelana jauh’ membandingkan dengan Tere dan Nazaruddin.
Sebagai anak muda yang sudah resmi menyatakan maju pada pilkada Padang 2013 nanti, saya berterima kasih telah diperhatikan Erizal. Ini saya anggap bagian dari tantangan yang mesti saya hadapi sebagai anak muda yang telah berniat, dan didukung berbagai tokoh serta sejumlah pimpinan partai politik untuk memimpin Padang.
Adanya opini-opini itu, setidaknya juga menunjukkan sepak terjang saya sudah diamati berbagai kalangan di kota ini. Saya harus transparan dan siap rekam jejak saya ‘dikuliti’ sehingga warga kota lebih tahu; siapa itu Andre Rosiade!
Sebagai anak muda saya sadar betul harus ada yang mengingatkan dan mengkritis saya. Tapi siapa saja tentu tidak ingin jika dirinya ditulis tidak sesuai fakta sebenarnya. Maka, saya mendukung pendapat Febrinansyah yang menyatakan calon pemimpin Padang masa depan mesti bersaing secara sehat, bukan malah menebar pemikiran minim referensi yang bisa menyesatkan publik.
Begitupula dengan pendapat Endang yang telah mengingatkan dalam opininya; satu hal yang harus diingat, menulis opini di media juga ada etika yang lumrah dipahami oleh masyarakat kebanyakan, yakni jangan sampai perang opini membunuh atau merendahkan karakter salah satu pihak.
“Penulis hanya ingin menyarankan kepada kedua belah pihak agar beropinilah secara cerdas dan tidak menggunakan cara-cara lama dalam menjatuhkan pihak lawan,” tulis Endang.
Selanjutnya saya ikut bangga dengan saudara Erizal yang ternyata kata dia sempat diwawancarai dan masuk televisi swasta, saat pergerakan mahasiswa 2001. Pada masa itu, saya yang diberi amanah jadi Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti juga tengah berada di Istana Negara menuntut mundur Presiden Gus Dur yang diduga tersandung kasus Buloggate dan Bruneigate.
Dalam tulisanya itu, Erizal menyatakan dirinya tidak mengenal saya . Mungkin Erizal tidak mengenal saya, tapi memang benar saya pernah jadi Ketua KAMMI Jakarta Barat dan Presiden Mahasiswa Trisakti tahun 2000-2001.
Saat jadi Presiden Mahasiswa Trisakti, bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seluruh Indonesia menyerukan mogok massal dengan tuntutan Presiden Gus Dur mundur dan mendesak Pansus Buloggate dan Bruneigate menyelesaikan kasus tersebut.
Dalam aksi pada Minggu, 12 Maret 2001 di Istana Negara, bersama rekan saya Taufik Riyadi, Ketua BEM Universitas Indonesia dan Sigit Adi Prasetyo, Presiden Mahasiswa Institut Teknologi Bandung) diterima empat menteri saat itu, yakni Menko Polsoskam Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Pendidikan Nasional Yahya Muhaimin, Mendagri dan Otonomi Daerah Suryadi Sudirja, Menteri Hukum dan Perundang-undangan Baharuddin Lopa di Kantor Kepresidenan.
Setelah pertemuan dengan empat menteri, saya bersama Taufik Riyadi dan Sigit Adi Prasetyo didampingi juru bicara kepresidenan Wimar Witoelar dan Adhie M. Massardi menggelar jumpa pers. Media massa nasional meliput ketika itu.
Setelah jumpa pers, saya diminta dua rekan saya itu menjadi juru bicara BEM untuk menjelaskan tentang hasil pertemuan kami kepada ratusan ribu demonstran. Penjelasan itu kami jelaskan pula di beberapa lokasi di sekitar istana.
Bahkan, saat bendera merah putih di Istana Negara diturunkan pada pukul 18.00 WIB, saya atas nama BEM diwawancarai beberapa stasiun televisi, salah satunya Metro TV.
Bila Erizal masih meragukan saya, bisa tanyakan rekam jejak saya ke Fahri Hamzah dan Andi Rahmat, aktivis yang juga pernah menjadi Ketua Umum KAMMI Pusat. Tiga pekan lalu, kami makan siang bersama di restoran yang berada di belakang kantor DPR RI Senayan, Jakarta. Kapan perlu ke Najwa Shihab dari Metro TV dan Rosiana Silalahi yang pernah mewancarai saya seputar tuntutan kepada Presiden Gus Dur, agar mundur dari kursi Kepresidenan. Kalaulah Anda tidak puas, Anda juga bisa konfirmasi kepada Ketua Pansus Buloggate DPR RI ketika itu, Bachtiar Chamsyah atau Ketua DPR RI waktu itu, Akbar Tandjung. Atau, mungkin ke Direktur Eksekutif LSI (Lembaga Survei Indonesia) Burhanuddin Muhtadi yang waktu itu menjabat sebagai Presiden Mahasiswa IAIN Jakarta.
Kepada Gubernur Sumbar Irwan Prayitno yang saat itu salah satu pimpinan Fraksi Reformasi di DPR RI, pun bisa ditanyakan. Tokoh tersebut beberapa kali kami datangi untuk menyampaikan aspirasi mahasiswa yang menginginkan perubahan kea rah lebih baik. Belum puas, Erizal juga bisa menanyakan kepada rekan saya Husni Kamil Malik, alumnus Universitas Andalas yang kini menjabat sebagai Ketua KPU Pusat dan kepada Usman Hamid, mantan Koordinator Kontras atau ke Hariz Asha yang saat ini menjabat Koordinator Kontras.
Informasi yang saya sampaikan ini bukan maksud menggadang- gadangkan diri, tapi apa boleh buat, saya harus menjawab Erizal yang dalam tulisannya telah mempertanyakan rekam jejak saya, dan menyangsikan saya sebagai seorang aktivis, hingga membanding-bandingkan saya dengan Tere, artis yang mundur sebagai anggota DPR RI dari Fraksi Demokrat, dan Nazaruddin, koruptor kasus Wisma Atlet.
Semoga saja Erizal dapat melihat dalam kaca mata positif setiap anak muda yang ingin melakukan perubahan di kota ini. Mesti kita hindari sikap skeptis berlebihan dan lebih berhati-hati membedah latar belakang seseorang. Untuk itu, sebagai aktivis, seyogianya kita harus sama-sama menjaga idealisme dan tetap mengedepankan kepentingan publik dalam bertindak di kehidupan sehari-hari.
Saya pun akan berupaya begitu. Berjuang lewat cara saya sebagai pengusaha. Bagaimana agar lewat usaha yang saya geluti sekarang, bisa membantu masyarakat. Salah satunya lewat penyerapan tenaga kerja.
Selain itu, mendorong dan membantu rekan-rekan kita generasi muda, termasuk mahasiswa agar bisa menjadi mandiri melalui Gerakan Ayo Jadi Pengusaha. Dan, Alhamdulillah berkat dorong berbagai kalangan, sudah banyak rekan kita mahasiswa yang terbantu dan berubah pola pikirnya untuk menjadi pengusaha atau seorang wirausaha. Mudah-mudahan Erizal turut mendukung gerakan ini, lewat cara-cara produktif lainnya. Mari kita bangun optimism, bukan pesimisme.
Kita ketahui bersama, di samping jadi pengusaha, sebagian rekan aktivis juga ada masuk partai politik. Namun, kita bersama tentu tidak ingin, ketika masuk partai politik lupa pada perjuangan, lupa pada amanat reformasi. Tidak lagi membela kepentingan rakyat, tapi berbalik membela kepentingan bos-nya di partai. Tak jarang mau saja disuruh merekayasa opini guna mereduksi lawan politiknya yang tengah berjuang untuk masyarakat. Sungguh sayang disayangkan, jika sampai terjadi seperti itu.
Menutup tulisan ini, saya sekali lagi menyatakan terima kasih kepada Erizal yang telah ‘memancing’ saya untuk menulis sehingga publik tahu yang sebenarnya tentang saya. Mari kita bangun opini yang sehat, sehingga akan muncul spirit untuk memberikan penilaian yang sehat pula, baik terhadap seseorang maupun organisasi maupun lembaga. Opini-opini produktif, dalam memberikan sumbangsih lebih besar lagi untuk tanah kelahiran kita, Kota Padang. (*)
[ Red/Administrator ]
Tak Lulus UN, bukan Berarti Kiamat
Kabar gembira bagi Sumbar. Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA sederajat tahun ini, meningkat dibanding tahun lalu. Hanya 230 dari 68.045 peserta yang dinyatakan gagal. Secara nasional, tercatat 8.851 siswa dinyatakan tidak lulus atau persentase kelulusan UN menurun 0,02 persen dibandingkan tahun lalu. Beruntung, persentase kelulusan siswa SLTA di Sumbar mengalami peningkatan 0,32 persen dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu kelulusan 99,40 persen, kini menembus angka 99,72 persen.
![]()
Kepada Yth Manager Pertamina unit pemasaran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.
Tiga Polisi Diduga Gelapkan Mobil
Tungkek mambaok rabah mah ...........!
Anak Nagari Manggopoh Demo
Jaan amuah dikicuah lai..........................!
Masyarakat Sipil Cecar Kajati
Biasonyo rakyaik badarai nan kanai caca taruih.............................................................!