Sabtu, 25 Mei 2013 - 15 Rajab 1434 H 12:43:42 WIB
OPINI

Menjawab Polemik Rekam Jejak

Oleh : Andre Rosiade

Ketua Gerakan “Ayo, Jadi Pengusaha” Wilayah Sumbar 

Padang Ekspres • Senin, 02/07/2012 13:21 WIB • 449 klik

BEBERAPA pekan terakhir saya mencermati perdebatan hangat yang dimulai Erizal, Direktur InCoSt, Institute for Community Studies, dan kemudian ditanggapi  Febrinansyah, pengusaha muda di Padang. Lalu, ‘ditengahi’  Endang Suparta, pengamat hukum.

 

Di tengah kesibukan, saya berupaya ‘menyicil’ tulisan untuk me­nanggapi opini-opini itu sekaligus membantah pernyataan Erizal, “Menulis meru­pakan pekerjaan sendiri dan mesti meninggalkan pekerjaan lainnya, apalagi bila belum rutin melakukannya alias belum terbiasa.”

 

Bagi saya menulis itu bisa di mana dan kapan saja. Sambil mo­bile pun bisa, karena dengan kecanggihan teknologi sekarang tidak harus nong­krong seharian di depan komputer. Terpenting memahami masalah, refe­ren­sinya jelas, bukan direkayasa.

 

Saya menyambut positif adanya opini-opini yang ditulis rekan-rekan saya itu. Namun, sebagai orang yang namanya dilibatkan ketiga penulis dalam opininya, saya merasa perlu menanggapi.

 

Pertama, saya merasa senang Erizal yang mungkin telah bersusah payah meninggalkan pekerjaan lain, demi menulis tentang saya hingga ‘berkelana jauh’ membandingkan dengan Tere dan Nazaruddin.

 

Sebagai anak muda yang sudah resmi menyatakan maju pada pilkada Padang 2013 nanti, saya berterima kasih telah diperhatikan Erizal. Ini saya anggap bagian dari tantangan yang mesti saya hadapi sebagai anak muda yang telah berniat, dan didukung ber­bagai tokoh serta sejumlah pim­pi­nan partai politik untuk memimpin Padang. 

 

Adanya opini-opini itu, setidaknya juga menunjukkan sepak terjang saya sudah diamati berbagai kalangan di kota ini. Saya harus transparan dan siap rekam  jejak saya ‘dikuliti’ sehingga warga kota lebih tahu; siapa itu Andre Rosiade!

 

Sebagai anak muda saya sadar betul harus ada yang mengingatkan dan mengkritis saya. Tapi siapa saja tentu tidak ingin jika dirinya ditulis tidak sesuai fakta sebenarnya. Maka, saya mendukung pendapat Febrinansyah yang menyatakan calon pemimpin Padang masa depan mesti bersaing secara sehat, bukan malah menebar pemikiran minim referensi yang bisa menyesatkan publik.

 

Begitupula dengan pendapat En­dang yang telah mengingatkan dalam opininya; satu hal yang harus diingat, menulis opini di media juga ada etika yang lumrah dipahami oleh masyarakat keban­yakan, yakni jangan sampai perang opini membunuh atau me­ren­dahkan karakter salah satu pihak.

 

“Penulis hanya ingin menyarankan ke­pada kedua belah pihak agar ber­opi­nilah secara cerdas dan tidak me­ng­gunakan cara-cara lama dalam men­ja­tuhkan pihak lawan,” tulis Endang.

 

Selanjutnya saya ikut bangga de­ngan saudara Erizal yang ternyata kata dia sempat diwawancarai dan masuk televisi swasta, saat pergera­kan ma­ha­siswa 2001. Pada masa itu, saya yang diberi amanah jadi Presiden Maha­sis­wa Universitas Trisakti juga tengah berada di Istana Negara menuntut mundur Presiden Gus Dur yang diduga tersandung kasus Buloggate dan Bru­nei­gate.

 

Dalam tulisanya itu,  Erizal me­nya­takan dirinya tidak mengen­al saya . Mung­kin  Erizal tidak mengenal saya, tapi memang benar saya pernah jadi Ketua KAMMI Jakarta Barat dan Presiden Mahasiswa Trisakti tahun 2000-2001. 

 

Saat jadi Presiden Mahasiswa Tri­sakti, bersama Badan Eksekutif Ma­ha­siswa (BEM) seluruh Indonesia me­nye­rukan mogok massal dengan tuntutan Presiden Gus Dur mundur dan men­de­sak Pansus Buloggate dan Bru­nei­gate menyelesaikan kasus tersebut.

 

Dalam  aksi  pada Minggu, 12 Maret 2001 di Istana Negara, bersama rekan saya Taufik Riyadi, Ketua BEM Universitas Indonesia dan Sigit Adi Prasetyo, Presiden Mahasiswa Institut Teknologi Bandung) diterima empat menteri saat itu, yakni Menko Polsoskam Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Pen­didikan Nasional Yahya Muhaimin,  Mendagri dan Otonomi Daerah Suryadi Sudirja, Menteri Hukum dan Pe­r­undang-undangan Baharuddin Lopa di Kantor Kepresidenan.

 

Setelah pertemuan dengan empat menteri, saya bersama Taufik Riyadi dan Sigit Adi Prasetyo didampingi juru bicara kepresidenan Wimar Witoelar dan Adhie M. Massardi menggelar jumpa pers. Media massa nasional meliput ketika itu.

 

Setelah jumpa pers, saya diminta dua rekan saya itu menjadi juru bicara BEM untuk menjelaskan tentang hasil pertemuan kami kepada ratusan ribu demonstran. Penjelasan itu kami jelaskan pula di beberapa lokasi di sekitar istana.

 

Bahkan, saat bendera merah putih di Istana Negara diturunkan pada pukul 18.00 WIB, saya atas nama BEM diwawancarai beberapa stasiun televisi, salah satunya Metro TV.

 

Bila Erizal masih meragukan saya, bisa tanyakan rekam jejak saya ke Fahri Hamzah dan Andi Rahmat, aktivis yang juga pernah menjadi Ketua Umum KAMMI Pusat. Tiga pekan lalu, kami makan siang bersama di restoran yang berada di belakang kantor DPR RI Senayan, Jakarta. Kapan perlu ke Najwa Shihab dari Metro TV dan Rosiana Silalahi yang pernah mewan­ca­rai saya seputar tuntutan kepada Presiden Gus Dur, agar mundur dari kursi Kepresidenan. Kalaulah Anda tidak puas, Anda juga bisa konfirmasi kepada Ketua Pansus Buloggate DPR RI ketika itu, Bachtiar Chamsyah atau Ketua DPR RI waktu itu, Akbar Tand­jung. Atau, mungkin ke Direktur Eksekutif LSI (Lembaga Survei Indonesia) Burhanuddin Muhtadi  yang waktu itu menjabat sebagai Presiden Mahasiswa IAIN Jakarta.

 

Kepada Gubernur Sumbar Irwan Prayitno yang saat itu salah satu pimpinan Fraksi Reformasi di DPR RI, pun bisa ditanyakan. Tokoh tersebut beberapa kali kami datangi untuk menyampaikan aspirasi mahasiswa yang menginginkan perubahan kea rah lebih baik. Belum puas,  Erizal juga bisa menanyakan kepada rekan saya Husni Kamil Malik, alumnus Universitas Andalas yang  kini menjabat sebagai Ketua KPU Pusat dan kepada Usman Hamid, mantan Koordinator Kontras atau ke Hariz Asha yang saat ini menjabat Koordinator Kontras.

 

Informasi yang saya sampaikan ini bukan maksud menggadang- gadang­kan diri, tapi apa boleh buat, saya harus menjawab  Erizal yang dalam tulisannya telah mempertanyakan rekam jejak saya, dan menyangsikan saya sebagai seorang aktivis, hingga membanding-bandingkan saya dengan Tere, artis yang mundur sebagai ang­gota DPR RI dari Fraksi Demokrat, dan Nazaruddin, koruptor kasus Wisma Atlet.

 

Semoga saja Erizal dapat melihat dalam kaca mata positif setiap anak muda yang ingin melakukan peru­bahan di kota ini. Mesti kita hindari sikap skeptis berlebihan dan lebih berhati-hati membedah latar belakang seseorang. Untuk itu, sebagai aktivis, seyogianya kita harus sama-sama menjaga idealisme dan tetap me­ngedepankan kepentingan publik dalam bertindak di kehidupan sehari-hari.

 

Saya pun akan berupaya begitu. Berjuang lewat cara saya sebagai pengusaha. Bagaimana agar lewat usaha yang saya geluti sekarang, bisa mem­bantu masyarakat. Salah satunya lewat penyerapan tenaga kerja.

 

Selain itu, mendorong dan mem­bantu rekan-rekan kita generasi muda, termasuk mahasiswa agar bisa menjadi mandiri melalui Gerakan Ayo Jadi Pengusaha. Dan, Alhamdulillah berkat dorong berbagai kalangan, sudah banyak rekan kita mahasiswa yang terbantu dan berubah pola pikirnya untuk menjadi pengusaha atau seorang wirausaha. Mudah-mudahan  Erizal turut mendukung gerakan ini, lewat cara-cara produk­tif lainnya. Mari kita bangun optimism, bukan pesimisme. 

 

Kita ketahui bersama, di samping jadi pengusaha, sebagian rekan aktivis juga ada masuk partai politik. Namun, kita bersama tentu tidak ingin, ketika masuk partai politik lupa pada per­juangan, lupa pada amanat reformasi. Tidak lagi membela kepentingan rak­yat, tapi berbalik membela kepentingan bos-nya di partai. Tak jarang mau saja disuruh merekayasa opini guna m­e­reduksi lawan politiknya yang tengah ber­juang untuk masyarakat. Sungguh sayang disayangkan, jika sampai terjadi seperti itu.

 

Menutup tulisan ini, saya sekali lagi menyatakan terima kasih kepada  Erizal yang telah ‘memancing’ saya untuk menulis sehingga publik tahu yang sebenarnya tentang saya. Ma­ri kita bangun opini yang sehat, se­hingga akan muncul spirit untuk mem­berikan penilaian yang sehat pula, baik terhadap seseorang maupun organisasi maupun lembaga. Opini-opini pro­duktif, dalam memberikan sum­ba­ng­sih lebih besar lagi untuk tanah kela­hiran kita, Kota Padang. (*)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Opini


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Tak Lulus UN, bukan Berarti Kiamat

Kabar gembira bagi Sumbar. Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA sederajat tahun ini, meningkat dibanding tahun lalu. Hanya 230 dari 68.045 peserta yang dinyatakan gagal. Secara nasional, tercatat 8.851 siswa dinyatakan tidak lulus atau persentase kelulusan UN menurun 0,02 persen dibandingkan tahun lalu. Beruntung, persentase kelulusan siswa SLTA di Sumbar mengalami peningkatan 0,32 persen dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu kelulusan 99,40 persen, kini menembus angka 99,72 persen.

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Jumat, 24 Mei 2013

Tiga Polisi Diduga Gelapkan Mobil

Tungkek mambaok rabah mah ...........!

 

Anak Nagari Manggopoh Demo

Jaan amuah dikicuah lai..........................!

 

Masyarakat Sipil Cecar Kajati

Biasonyo rakyaik badarai nan kanai caca taruih.............................................................!