- 13:24 WIB
- 13:23 WIB
- 13:23 WIB
- 13:22 WIB
- 13:21 WIB
- 13:21 WIB
- 13:16 WIB
- 13:13 WIB
- 13:10 WIB
- 13:02 WIB
Sisi ”Menghibur” Korupsi
Oleh : *
*
Padang Ekspres • Rabu, 20/06/2012 11:41 WIB • 191 klik
TAK henti-hentinya korupsi menampilkan sisi-sisi uniknya. Seperti budaya pop, ”budaya” korupsi juga menampilkan kebaruan-kebaruan nan ”menghibur”. Kali ini dari peradilan atas Soemarmo HS, wali kota Semarang, di Pengadilan Tipikor Jakarta. Sidang kasus korupsi penyuapan anggota DPRD itu menghadirkan istilah-istilah baru. Memberikan selingan dari kebosanan melihat rentetan kasus dunia hitam korupsi.
”Dia bilang jangan melayani permintaan luwak-luwak itu,” kata Rudy Alfonso, pengacara terdakwa Sumarmo. Menurut dia, luwak itu adalah anggota DPRD yang meminta uang. Tapi, faktanya, Sumarmo didakwa memberikan uang Rp 344 juta kepada para ”wakil rakyat” tersebut untuk memperlicin pembahasan APBD 2012. Pemberian uang oleh Sekda A.
Zainuri kepada dua anggota DPRD akhirnya tertangkap basah KPK. Kalau selama ini diidentikkan dengan binatang pengerat tikus, kini luwak dilantik jadi padanan koruptor pula. Sebutan ”luwak” tidak mengacu ke kopi luwak nan sedap, tapi lebih ke sifat predator. Luwak alias musang dicitrakan suka mencuri ayam. Sikapnya pun seolah-olah manis, seperti pepatah musang berbulu ayam. Seperti koruptor berbulu pejabat atau wakil rakyat?
Kasus itu juga memperkaya istilah uang sogokan dengan uang ”nyam-nyam” dan ”susu kaleng”. Dua saksi pegawai Pemkot Semaranglah yang mengungkap istilah tersebut. Istilah itu muncul saat mereka dipanggil sang Sekda saat merancang suap. Sang Sekda kini sudah divonis 1,5 tahun penjara. Tak ada penjelasan kenapa dua istilah itu diidentikkan dengan uang suap. Tapi, mana ada koruptor yang terang-terangan menyebut uang suap, uang korupsi, atau uang jarahan? Yang ada uang rokok, uang map, uang semir, mel-melan, pelicin, uang dengar... Macam-macam. Persis kode rahasia mafia.
Dalam kasus terdahulu, sudah muncul istilah yang cukup entertaining, persembahan untuk ”ketua besar” dan ”bos besar” berupa ”apel malang”, ”apel washington”, dan ”semangka”. Tapi, aneka ”buah suap” itu kepergok KPK dikemas dalam kardus untuk durian (harfiah).
Meski akibat perbuatannya sangat tidak lucu, koruptor memang bisa lucu. Kasus Wali Kota Semarang ini pun tak kalah lucu ketika sampai ke tangan beberapa anggota DPR. Permintaan untuk memindah sidang dari Semarang ke Jakarta dipersoalkan anggota DPR itu.
Mereka tambah ”lucu” ketika memutar-mutarkan dalihnya mempersoalkan pemindahan tersebut dengan alasan prosedur. Ketika disodori bukti oleh aktivis antikorupsi betapa sidang berpotensi tidak fair bila tetap dilangsungkan di Semarang, mereka bersikap lebih lucu: tak peduli.
Bukti itu berupa foto dan video adegan kelompok orang pro Sumarmo yang mendominasi ruang sidang dan melarang orang lain menyaksikan sidang kesaksian si wali kota. Bahkan, ada aktivis yang diusir ketika ingin menyaksikan sidang yang terbuka untuk umum itu.
Lucu bukan, ketika KPK usul sidang dipindah ke Jakarta dan MA oke, malah dipersoalkan. Dalih mereka sama sebangun dengan pengacara kasus korupsi tersebut. Kelucuan itu tak kalah menggelikan dibanding ketika mereka ramai-ramai menolak moratorium remisi untuk koruptor. Ketika rakyat ingin koruptor lebih lama membusuk di penjara, mereka justru ingin koruptor cepat bebas.
Semoga wajah legislator pembuat ”kelucuan” itu diingat dalam pemilu mendatang. Dan, rakyat menertawakan mereka di bilik suara. (*)
[ Red/Administrator ]
PRESIDEN akhirnya menjatuhkan pilihannya kepada Muhammad Chatib Basri untuk mengemban tugas sebagai menteri keuangan (Menkeu). Mencermati situasi perekonomian mutakhir, perekonomian dunia masih labil (eksternal) dan stimulasi dari APBN masih lemah (internal), dapat dikatakan, Chatib berada dalam momentum yang kurang kondusif. Tidak berlebihan jika ada yang menilai Chatib berada pada situasi the right man on the right place, but the wrong time.
![]()
Kepada Yth Manager Pertamina unit pemasaran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.
Pelajar Sindikat Curanmor Diringkus
Kan di sakola ndak adoh diajakan maliang doh..........................................!
Masyarakat Sipil Meradang
Maju taruih.................................................!
Panwaslu Cuek, LSM Kapak Lanjut ke Pusat
Patuik didukuang tu.......................................!