Kamis, 24 April 2014 - 23 Jumadil Akhir 1435 H 19:54:21 WIB
KOPI MINGGU

Slogan Perubahan

Oleh : Nashrian Bahzein

Wartawan Padang Ekspres

Padang Ekspres • Minggu, 17/06/2012 09:55 WIB • 954 klik

Nashrian Bahzein

Bosan juga mendengar slogan-slogan peru­bahan di Republik ini.  Sejak reformasi, kata-kata perubahan boleh jadi paling populer di ruang publik. Yang paling gemar mengucapkan kata-kata ini, ya siapa lagi kalau bukan para pemimpin dan calon pemimpin?!

 

Sedikit-sedikit perubahan. Ketika orang yang dipimpin sudah berubah, eh malah si pemimpin tadi yang belum berubah. Mereka asyik saja dengan gaya lamanya, memimpin perubahan dengan retorika. Memimpin perubahan dengan baliho, stiker dan iklan-iklan pencitraan. Wajar saja masyarakat era digital mulai imun dengan virus perubahan.

 

Seruan perubahan yang dikumandangkan oleh para umarah, hanya ditanggapi sinis umat. Mantra perubahan tidak sakral lagi. Ya, kehilangan greget dan daya magisnya di telinga masyarakat. Orasi yang berapi-api, meledak-ledak, berkobar-kobar hingga membara sekalipun, bila perlu dibumbui curahan hati yang mengiba, bukan jaminan bisa menggerakkan perubahan itu.

 

Coba simak, setiap ada suksesi kepemimpinan, tagline perubahan mendadak populer. Mulai dari suksesi ke­pemimpinan di sebuah organisasi hingga ke­pemimpinan tertinggi negara, semuanya latah hendak melakukan perubahan.

 

Nah, musim janji-janji peru­bahan itu kini bersemi di be­be­rapa daerah di Sumbar, yang sebentar lagi memilih calon pemimpin. Rakyat Indonesia sudah hafal betul kurenah para pemimpinnya. Setiap kali pesta demokrasi digelar, banyak orang sekelas manager mengaku-ngaku pemimpin. Kapasitas hanya seorang politisi karbitan, pede habis bisa memimpin perubahan. Hanya pejabat pe­merintah biasa, narsisnya minta ampun ingin mengubah daerah dengan air ludah dan baliho.

 

Tiga kali tertipu memilih pemimpin pascareformasi, su­dah cukup bagi rakyat belajar dari perilaku para pe­mim­pin­nya. Keledai saja tidak mau terjerembab ke lubang yang sama dua kali, masak Anda mau? Ternyata, selama ini kita hanyalah memilih seorang pe­mimpi. Belum lekang baliho seruan perubahan pemimpin yang dipajang di pinggir-pinggir jalan, si pungguk belum juga melihat bulan hingga masa jabatan pemimpinnya berakhir.

 

     ***

 

Bila pemimpin dan calon pemimpin belum juga berubah, kita yang harus mengubah kure­nah para pemimpin itu. Bolak balik ingin membangun sikap optimistis lewat pergantian pemimpin melalui pilkada, tetap saja rasa pesimis masyarakat lebih besar melihat realitas yang ada.

 

Pesimis pada perilaku elite-elite politik dan pemerintah,  lebih pesimis lagi melihat ge­lombang permisivisme mas­yarakat kelas menengah ter­ha­dap persoalan daerah dan ba­ngsa. Perubahan apa yang bi­sa diharapkan dari kultur sosial semacam itu?   

 

Ketika penguasa dan politisi gagal membangun harapan dan perubahan, saatnya kekuatan masyarakat sipil di daerah ter­jaga dari tidur panjang. Sa­ya­ngnya, gerakan perubahan dan pembaruan yang ditunggu-tunggu datang dari kaum mene­ngah dan terdidik, ternyata kini sedang kecanduan facebook, twitter dan BBM di kantor-kan­tor, kampus, sekolah, pusat per­belanjaan dan di rumah-rumah.

 

Kicauan kelompok ini hanya nyaring di dunia maya, tapi sayup terdengar dalam dunia nyata. Kekuatannya belum ter­organisir menjadi kelompok penekan dan penyeimbang ter­hadap penguasa. Penghuni face­book terbesar kedua dan twitter kelima terbesar di dunia saat ini, tak lebih seperti buih yang terombang-ambing oleh pem­buat isu.    

 

Penghuni dunia maya hanya sibuk bercurhat ria, gonta ganti foto narsis, main games, me­lihat-lihat akun orang lain, ki­rim-kiriman pesan, hingga chatting tak tentu arah.  Candu baru kelompok potensial itu dila­kukan jam-jam kerja, kuliah dan sekolah yang pada gilirannya menggerus etos kerja bangsa. 

 

Tak heran, sikap apatis dan hilangnya budaya kritis kaum terpelajar yang direprestansikan lewat pengguna jejaring sosial itu, disusupi petualang politik dan pemburu kekuasaan untuk mencari simpatik. Alih-alih mengontrol kinerja penguasa dan calon pemimpin, malah pengguna jejaring sosial yang menjadi panggung pencitraan oleh elite-elite penguasa.

 

Kisah sukses gerakan sejuta dukungan facebookers terhadap Bibit-Chandra, pimpinan KPK periode lalu, sejatinya terus digalang kekuatan masyarakat sipil di daerah. Hiruk-pikuk kampanye antipolitisi busuk, pengusaha rakus dan penguasa garong di dunia maya, harus tetap melengking hingga ke ruang-ruang publik dan gedung-gedung pemerintah.

 

Empati dan simpati user jejaring sosial terhadap orang-orang tertindas dan terzalimi, sangat dibutuhkan Ranah Mi­na­ng dan bangsa ini aksi nyatanya dalam kehidupan sehari-hari. Kisah sukses koin untuk Prita, sedianya terus bergulir ke dae­rah-daerah hingga kini.

 

*** 

 

Perubahan tidak hanya di­ten­­tukan oleh pemerintah.  Me­lainkan, sangat bergantung pada perubahan perilaku selu­ruh bangsa, kekuatan bangsa di luar pe­merintah. Rendahnya ke­sa­daran dan kepedulian semua elemen terhadap bangsa, dipe­ngaruhi oleh persepsi seseorang terhadap bangsanya. Seperti apa persepsi diri kita sebagai bangsa, persepsi mengenai kehidupan lingkungan kita sebagai bangsa, begitulah cara kita mem­per­lakukan bangsa ini.

 

Melihat cara wakil rakyat dan penguasa yang cenderung mementingkan diri sendiri dan kelompok, menegaskan persepsi mereka tercerabut dari ke­hi­dupan berbangsa. Manusia-manusia seperti itu belum me­rasa bagian dari bangsanya. Pemimpin semacam itu belum mengenali diri sendiri, ling­kungan sekitar, regional dan global sebagai bangsa.

 

Mana mungkin bisa ber­harap terhadap pemimpin yang tidak merasa bagian dari ba­ng­sanya, untuk melakukan tra­n­sformasi sosial yang menjadi esensi perubahan?  Entah ini teori siapa, saya percaya hanya pe­mimpin yang merasa hidup­nya bagian dari lingkungan masyarakat dan bangsanya, mengenali persoalan dan as­pirasi masyarakatnya untuk melakukan perubahan.

 

Persepsi itu pula yang me­ng­ge­layuti kelompok kelas me­ne­ngah di Sumbar maupun rakyat Indonesia, yang merasa nyaman dengan kenikmatan pribadi, tanpa harus berkeringat dan berteriak lagi di ruang publik menyuarakan perubahan dae­rah dan bangsanya. Jarak pe­ng­huni dunia maya ini makin jauh saja dari dunia nyata. (*)

 

[ Red/Administrator ]

Komentar Kopi Minggu


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Kacamata Kuda KPK

KRITIK dan pujian selalu datang bersamaan setiap kali Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat ”kejutan” baru. Termasuk ketika menetapkan mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo sebagai ter­sangka dalam kasus pajak yang terjadi pada 2004.

Belum Terima Elpiji

YTH bapak Wali Kota Padang yang baru. Kami warga RW 6, Guo Kuranji sampai sekarang belum menerima paket gas elpiji 3 Kg. Tolong di percepat karena minyak tanah harganya sudah naik.

Kamis ,24 April 2014

Tunggu SK Mendagri

Lai ndak ka ta undur lo tu Pak, dek KPK lah manyasar Mendagri lo..........!

 

14 Warga Digigit Anjing Gila

Iah gawat mah pak,lai aman Pak..................................................?

 

UN SLTP, Padang Target Jawara

semoga lah pak, asa ndak pakai jimat se.....................................!