Rabu, 23 April 2014 - 22 Jumadil Akhir 1435 H 21:22:46 WIB
TERAS UTAMA

Menariknya Pilkada Padang

Oleh : Asrinaldi A

Dosen Ilmu Politik Unand

Padang Ekspres • Rabu, 13/06/2012 11:42 WIB • 828 klik

Asrinaldi A

Salah satu agenda penting bagi masyarakat Kota Padang setahun ke depan adalah pelaksanaan pe­milihan umum kepala daerah (pilkada). Atmos­fer­nya mulai terasa dengan semakin banyaknya ba­kal calon yang mendeklarasikan dirinya siap me­mim­­pin Padang ke depan. Begitu juga dari ka­la­ngan partai mulai memantau dinamika dalam mas­­yarakat untuk menemukan bakal calon yang akan diusung pada pilkada ke depan. Malah partai juga sudah membuat pemetaan dukungan mas­ya­ra­kat baik dengan menggunakan metode kal­kulasi se­derhana hingga survei terkait duku­ngan mas­yarakat kepada bakal calon yang akan didukung. Apa pun namanya, yang jelas semua ini bertujuan un­tuk menghitung peluang agar dapat meme­nang­kan pilkada tersebut. 

 

Pilkada tahun depan me­mang menarik untuk diikuti, ten­tu dengan beberapa alasan. Per­tama, karena pilkada yang di­laksanakan tahun depan cen­derung didominasi oleh wajah baru untuk bersaing menduduki jabatan wali kota dan wakil wali kota. Walaupun, dalam bebe­rapa pertimbangan politik masih ada calon incumbent (petahana) yang diprediksi akan ikut dalam pes­ta demokrasi tersebut, yaitu wakil wali kota yang menjabat sekarang. Sedangkan, wali kota ti­dak dapat lagi mencalonkan di­ri karena sudah menjabat se­lama dua periode sesuai de­ngan pera­turan yang berlaku. 

 

Menariknya justru dengan ma­junya wakil wali kota peta­hana sebagai wali kota pada pil­kada tahun depan, namun per­saingan tetap akan ketat di an­tara para kandidat tersebut. Me­ngapa? Kehadiran petahana jus­tru tidak akan menutup pe­luang bagi kan­didat baru untuk me­me­nangkan pertarungan ini. Apalagi pengaruh wakil wali kota petahana tidaklah sekuat penga­ruh seorang wali kota petahana yang tentu de­ngan leluasa dapat me­­ngon­trol sumber daya pe­me­rintahan, apalagi untuk meme­nangkan kon­testasi politik ini. Dalam rea­litanya, wali kota sekarang ber­beda partai dengan wakil­nya yang sudah tentu juga menyiapkan kader terbaiknya untuk bersaing dalam pilkada tersebut.

 

Perlu diingat, persaingan di antara partai ini akan semakin ta­jam. Sebab, kemenangan pada Pil­kada 2013 ini adalah langkah stra­tegis partai politik untuk me­mudahkan mesin politiknya be­­ker­ja untuk memenangkan pe­mi­lu legislatif tahun 2014. Su­d­ah ten­tu, pilkada tahun de­pan ini me­n­jadi ajang uji coba par­tai po­litik mengukur keam­pu­han stra­tegi dan efektivitas me­sin po­li­tiknya dalam mas­yarakat.  Ka­re­nanya, par­tai politik beru­saha men­­da­patkan bakal calon yang me­­miliki peluang besar untuk me­nang.

 

Lalu, bagaimana dengan kandidat lain di luar partai yang mengajukan diri sebagai calon wa­li kota? Di lihat dari kontestasi an­tarpartai politik yang tajam de­ngan segala strategi dan efek­ti­vitas mesin politiknya, maka sa­ngat kecil peluang bagi calon in­d­ependen memenangkan pil­kada tersebut, kecuali me­miliki mesin politik yang lebih hebat di­bandingkan dengan yang di­miliki partai.

 

Alasan kedua, persaingan untuk menjadi orang nomor satu di Kota Padang ini semakin tajam rivalitasnya karena saat ini pemerintah bersama dengan DPR masih membahas revisi UU Pilkada ini.  Dalam revisi tersebut diusulkan hanya wali kota saja yang dipilih langsung. Sementara, wakil wali kota adalah pejabat karir yang dipilih oleh wali kota yang menang de­ngan syarat-syarat tertentu. Jika disetujui, maka politisasi biro­krasi yang selama ini dikha­wa­tirkan akan semakin marak be­r­langsung. Jelasnya, jabatan wa­kil wali kota bisa menjadi ta­waran yang mengoda bagi biro­krat yang mau membantu me­me­nangkan kandidat terten­tu dalam pilkada tersebut.   

 

Ketiga, walaupun belum ter­jadi perubahan yang sign­ifi­kan da­lam perilaku me­milih mas­yarakat dalam mengikuti pilka­da, namun keberadaan kelom­pok masyarakat sipil yang sema­kin nyata dapat menjadi faktor penentu pilihan masyarakat. Se­cara tidak langsung organisasi mas­­yarakat sipil ini akan terus mem­berikan pencerahan kepa­da masyarakat tentang makna pili­han rasional dalam pilkada. Apa­lagi dalam banyak kesem­patan, organisasi masya­rakat sipil terus mengampanyekan arti pen­ting kehadiran pemimpin yang visioner dalam mem­ba­ngun Padang ke depan.

 

Dengan demikian, mau tidak mau, kandidat wali kota ke de­pan harus memahami realita ini jika ingin memenangkan pil­kada. Hal ini tentu bukan pe­kerjaan mudah dilakukan oleh para calon. Sebab, organisasi masyarakat sipil juga memiliki re­­kam jejak terkait dengan ek­sis­tensi kandidat yang me­ngaju­kan diri menjadi wali kota Pa­dang. Di sinilah akan nampak keju­juran calon wali kota terse­but dalam “menjual diri” melalui jar­gon politiknya yang dikete­ngah­kan ke publik.

 

Keempat, kampanye yang me­libatkan calon wali kota Pa­dang ini jelas akan dihiasi de­ngan visi, misi, program dan ke­giatan yang dapat dinilai ra­sionalitas dan fisibilitasnya. Dari aspek inilah sebenarnya mas­yarakat dapat melihat bagai­mana kelayakan seorang calon wali kota menyelesaikan kom­plek­sitas kota. Dimulai dari upa­ya melanjutkan pekerjaan peme­rin­tah dalam penang­gulangan ben­c­ana yang masih belum tun­tas, hingga membangun kem­bali per­e­konomian mas­yarakat  Pa­dang yang terseok-seok kare­na gempa. Belum lagi masa­lah penataan Padang men­jadi kota yang layak huni, nyaman, aman dan bersih. Apalagi dengan ke­ter­s­ediaan fasilitas umum seper­ti pedestrian zone, pene­rangan dan infrastruktur lainnya yang masih minim dan kurang layak.   

 

Tentunya masyarakat ber­harap, pilkada tahun depan da­pat menghasilkan wali kota yang mau bekerja keras tidak hanya se­kadar mengelola, tapi juga yang mau turun ke mas­yarakat. Kita tidak ingin terjebak untuk ke­sekian kalinya dengan lako­nan demokrasi para calon wali kota yang pura-pura merakyat, namun sebenarnya memiliki agenda lain ketika berkuasa. (*)

[ Red/Administrator ]

Komentar Teras Utama


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Lokomotif tanpa Gerbong

KEPUTUSAN Ketua Umum Partai Persatuan Pem­ba­ngu­nan (PPP) Suryadharma Ali (SDA) berkoalisi dengan Partai Gerindra tanpa syarat, ternyata berbuntut panjang.

Belum Terima Elpiji

YTH bapak Wali Kota Padang yang baru. Kami warga RW 6, Guo Kuranji sampai sekarang belum menerima paket gas elpiji 3 Kg. Tolong di percepat karena minyak tanah harganya sudah naik.

Rabu ,23 April 2014

18 Caleg Incumbent Lolos

Agiah lo kesempatan yang baru-baru ko lai...........................!

 

Kepsek Pemukul Siswa jadi Tersangka

Proses sesuai hukum, Pak polisi...................................!

 

DPRD Pessel Diisi Wajah Baru

Lah tibo lo masonyo mah..............................!