- 12:39 WIB
- 11:28 WIB
- 12:42 WIB
- 13:11 WIB
- 13:10 WIB
- 13:07 WIB
- 13:07 WIB
- 13:05 WIB
- 13:03 WIB
- 12:54 WIB
West Sumatera Incorporated Tiga, dua, satu.....go.....
Oleh : James Hellyward
Mantan Kadis Parsenibud Sumbar dan guru besar Unand
Padang Ekspres • Sabtu, 09/06/2012 11:58 WIB • 210 klik

Begitulah sayup-sayup terdengar ibu Menteri Parekraf secara resmi membuka salah satu perhelatan besar di Indonesia, yaitu Tour de Singkarak (TdS). Dengan bermodalkan tekad yang bulat, masing-masing pebalap mengayuh sepedanya baik mendaki apalagi menurun. Mereka tidak peduli hujan, panas, jalan tidak mulus. Yang mereka pikirkan adalah bagaimana dalam waktu yang lebih singkat dapat mencapai finish dan menjadi juara.
Semua mata tertuju kepada pebalap di saat mereka melalui suatu daerah, meski untuk menyaksikan itu masyarakat harus bersabar untuk beberapa jam. Tetapi....., tidak apa-apa karena hajatan ini hanya berlangsung sekali setahun.
Lalu, apa beda antara TdS tahun keempat ini dengan TdS-TdS sebelumnya. Apakah ada kemajuan atau malah menimbulkan dampak yang kurang baik kepada perekonomian masyarakat. Sejak tahun 2009, pertanyaan ini sudah muncul. Sekarang pertanyaan itu tidak muncul lagi. Yang muncul adalah, apa yang perlu dipersiapkan untuk menyambut even TdS pada masa-masa mendatang.
Penambahan rute yang identik dengan penambahan keikutsertaan daerah kabupaten/kota di Sumbar mengindikasikan bahwa iven ini telah mampu meyakinkan pemerintah baik di tingkat provinsi, kabupaten ataupun kota. Artinya, hajatan ini dapat digunakan tidak hanya sebagai sarana hiburan, olahraga tetapi sekaligus sebagai sarana promosi yang cukup ampuh. Karena, untuk beberapa waktu setiap daerah yang menjadi rute TdS ini otomatis akan diberitakan tidak saja oleh media lokal, namun juga nasional bahkan internasional.
Pada awal dilaksanakannya alek gadang ini, semua pihak terkait terfokus kepada teknis penyelenggaran balapan. Karena hal ini akan berdampak kepada kualitas penyelenggaraan yang berujung kepada klasifikasi balapan itu sendiri. Apakah ia akan meningkat atau hanya sekadar balap saja. Tentu kita ingin menuju kepada kelas yang paling tinggi, sehingga para pebalap dunia akan berduyun-duyun turut serta dalam iven ini.
Perbaikan dalam teknis penyelenggaran tetap dilakukan, namun secara umum kegiatan balapan itu dari tahun ke tahun tidak akan banyak perubahan secara teknis. Tetapi, perubahan yang terjadi lebih banyak dipengaruhi oleh penambahan rute dan daerah yang terlibat.
Kemudian muncul istilah ”West Sumatera Incorporated”, benda seperti apa ini. Mungkin buat sebagian anggota masyarakat istilah ini adalah sebagai barang baru. Sementara, bagi dunia kepariwisataan istilah ini sudah, sedang dan akan terus dikembangkan. Istilah ini penulis pikir erat hubungannya dengan nama baru kementerian Parekraf.
Diharapkan dengan nama baru ini, akselerasi pertumbuhan dunia kepariwisataan di Sumbar semakin cepat. Akan halnya istilah incorporated, tak lain bertujuan bagaimana industri yang turut mendukung kepariwisataan ini saling berkait. Korporasi akan lebih banyak mengarah kepada usaha. Bagaimanapun juga pengembangan sektor pariwisata sudah barang tentu akan menimbulkan multiplier efek terhadap usaha di sektor lain.
Dengan dijadikannya Sumbar sebagai tuan rumah “Seminar Pengembangan Potensi Daerah”, terlihat bahwa memang sektor pariwisata ini sangat menjanjikan untuk pertumbuhan perekonomian provinsi yang kaya dengan keindahan alam, serta budayanya yang unik ini. Meski secara nasional, sektor pariwisata menduduki peringkat keempat kontribusinya terhadap PDRB bangsa, pemerintah bersama masyarakat Sumbar harus mampu membuktikan bahwa dengan mengembangkan sumber daya yang tak akan pernah habis ini secara konsisten dan berkesinambungan, akan menjadikan sektor ini sebagai primadona peningkatan kesejahteraan masyarakat. Korporasi, koordinasi dan komunikasi yang intens, tidak mustahil akan mengapungkan tidak hanya TdS itu sendiri, tetapi sekaligus menjadikan daerah ini sebagai destinasi pilihan bagi wisman dan wisnus.
Kita dapat melihat indikasi ke arah itu dari berita yang ditayangkan baik melalui media cetak maupun elektronik. Beritanya tidak lagi didominasi oleh teknis perlombaan saja, tetapi sudah menyentuh ranah ekonomi kreatif dan kebanggaan tiap daerah yang dilewati oleh TdS tersebut. Ajang unjuk kesuksesan dan penampilan kreasi dan kebudayan daerah, telah menjadikan TdS ini sebagai corong promosi daerah ini secara menyeluruh.
TdS yang menonjolkan “sport tourism” telah membuka mata dinas dan instansi di setiap daerah kabupaten dan kota serta provinsi. Yang tak kalah pentingnya adalah promosi terselubung yang dilakukan oleh “orang Minang” di perantauan. Rasa bangga dan surprise-nya itu disampaikan kepada penulis dengan penuh haru. Yang kami tonton adalah “meriahnya kampuang dan masyarakat” serta pemandangan alam yang mempesona.
Tekad bulat dan “sense of belonging” terhadap TdS harus kita patrikan dalam sanubari setiap insan di Ranah Minang ini. Siapa lagi yang akan mengawal alek gadang ini kalau bukan kita. Sumbar sudah mengukir sejarah dalam kancah nasional dalam sektor pariwisata dan olahraga. Kita mengharapkan di tahun mendatang, seluruh kabupaten dan kota (masih tersisa lima) di Sumbar turut meramaikan helatan ini. Bak pepatah urang Minang “Sambia manyilam minum aia, sambia badiang nasi masak”.
Fenomena baru dalam penyelenggaraan TdS adalah berebutnya daerah menjadi tuan rumah dalam acara pembukaan dan acara penutupan. Jelas......, ada udang di balik batu. Dengan sedikit menambahkan anggaran dalam kedua acara tersebut, tentu diikuti pula dengan kesiapan dalam faktor pendukung lain, seperti transportasi dan akomodasi, maka akan semakin terasa soliditas dalam keberagaman yang dimiliki oleh setiap daerah.
Sesuai dengan kultur yang dimiliki oleh masyarakat Minangkabau, mereka akan selalu mencari kesempatan dalam setiap peluang bisnis yang muncul. Mulai dari penyediaan akomodasi, rumah makan, cenderamata sampai kepada oleh-oleh.
Mudah-mudahan Kementerian Parekraf dapat menjadikan provinsi urang awak ini menjadi “icon” dalam mengembangkan ekonomi kreatif. Karena memang, tidak dipungkiri bahwa dengan jiwa entrepreneur-nya, masyarakat akan berkreasi untuk menghasilkan sesuatu yang diperlukan oleh orang lain. Sehingga TdS akan semakin mengharumkan nama bangsa ini di tengah badai promosi yang dilakukan oleh negara lain.
Mari kita berdoa dan berusaha bahu-membahu untuk meningkatkan taraf pelaksanaan TdS ini dari 2.2 menjadi 2.1. Mungkin masih ada sebagian anggota masyarakat yang bertanya, apa pula angka berkoma itu maksudnya. Yang jelas, mari bersama kita kawal TdS ini dengan baik dan benar lalu kita suguh dan promosikan daerah ini. Kalau kita semua “sarimbum sarampak, sarangkuah dayuang”, insya Allah apa yang menjadi tujuan dari gagasan diadakannya TdS ini akan terwujud. Amin. (*)
[ Red/Administrator ]
Tak Lulus UN, bukan Berarti Kiamat
Kabar gembira bagi Sumbar. Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA sederajat tahun ini, meningkat dibanding tahun lalu. Hanya 230 dari 68.045 peserta yang dinyatakan gagal. Secara nasional, tercatat 8.851 siswa dinyatakan tidak lulus atau persentase kelulusan UN menurun 0,02 persen dibandingkan tahun lalu. Beruntung, persentase kelulusan siswa SLTA di Sumbar mengalami peningkatan 0,32 persen dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu kelulusan 99,40 persen, kini menembus angka 99,72 persen.
![]()
Kepada Yth Manager Pertamina unit pemasaran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.
Konvoi-Coret Baju Sulit Dibendung
Anak didik kini mada-mada..................!
Lagi, Bukittinggi Terbaik Sumbar
Lai ndak adoh nan coret baju..................?
Nilai UN masih Meragukan
Baa baitu, caliak kunci tu.............................?