Minggu, 26 Mei 2013 - 16 Rajab 1434 H 05:20:25 WIB
TERAS UTAMA

West Sumatera Incorporated Tiga, dua, satu.....go.....

Oleh : James Hellyward

Mantan Kadis Parsenibud Sumbar dan guru besar Unand

Padang Ekspres • Sabtu, 09/06/2012 11:58 WIB • 210 klik

James Hellyward

Begitulah sayup-sayup terdengar ibu Men­­teri Parekraf secara resmi membuka salah satu per­­helatan besar di Indonesia, yaitu Tour de Sing­ka­­rak (TdS). Dengan bermodalkan tekad yang bu­lat, masing-masing pebalap mengayuh sepe­danya baik mendaki apalagi menurun. Mereka tidak pe­duli hujan, panas, jalan tidak mulus. Yang mereka pi­­kirkan adalah bagaimana dalam waktu yang lebih singkat dapat mencapai finish dan menjadi juara.

 

Semua mata tertuju kepada pe­balap di saat mereka melalui sua­tu daerah, meski untuk me­nyak­­sikan itu masyarakat harus ber­­sabar untuk beberapa jam. Te­tapi....., tidak apa-apa karena ha­jatan ini hanya berlangsung se­kali setahun.

 

Lalu, apa beda antara TdS ta­hun keempat ini dengan TdS-TdS sebelumnya. Apakah ada ke­­majuan atau malah me­nim­bul­­kan dampak yang kurang baik kepada perekonomian mas­ya­rakat. Sejak tahun 2009, per­ta­nyaan ini sudah muncul. Seka­rang pertanyaan itu tidak mun­cul lagi. Yang muncul adalah, apa yang perlu dipersiapkan untuk me­nyambut even TdS pada ma­sa-masa mendatang.

 

Penambahan rute yang iden­tik dengan penambahan keikut­ser­taan daerah kabu­paten/kota di Sumbar mengindikasikan bah­­wa iven ini telah mampu me­yakinkan pemerintah baik di ting­­kat provinsi, kabupaten atau­pun kota. Artinya, hajatan ini dapat digunakan tidak hanya se­bagai sarana hiburan, olahraga te­tapi sekaligus sebagai sarana pro­mosi yang cukup ampuh. Ka­rena, untuk beberapa waktu se­tiap daerah yang menjadi rute TdS ini otomatis akan dibe­rita­kan tidak saja oleh media lo­kal, na­mun juga nasional bahkan in­ternasional.

 

Pada awal dilaksanakannya alek gadang ini, semua pihak ter­kait terfokus kepada teknis pe­nyelenggaran balapan. Kare­na hal ini akan berdampak kepa­da kualitas penye­lenggaraan yang berujung kepada klasifikasi b­a­l­apan itu sendiri. Apakah ia akan meningkat atau hanya se­kadar balap saja. Tentu kita ingin menuju kepada kelas yang paling tinggi, sehingga para pebalap dunia akan berduyun-duyun turut serta dalam iven ini.

 

Perbaikan dalam teknis pe­nye­lenggaran tetap dilakukan, namun secara umum kegiatan ba­lapan itu dari tahun ke tahun ti­d­ak akan banyak perubahan se­cara teknis. Tetapi, perubahan yang terjadi lebih banyak dipe­nga­ruhi oleh penambahan rute dan daerah yang terlibat.

 

Kemudian muncul istilah ”West Sumatera Incorporated”, ben­da seperti apa ini. Mungkin buat sebagian anggota mas­ya­rakat istilah ini adalah sebagai ba­­rang baru. Sementara, bagi du­nia kepariwisataan istilah ini su­­dah, sedang dan akan terus di­kem­­bangkan. Istilah ini penu­lis pi­kir erat hubungannya dengan na­ma baru kementerian Pa­rekraf.

 

Diharapkan dengan nama baru ini, akselerasi pertum­bu­han dunia kepari­wisataan di Sum­bar semakin cepat. Akan hal­nya istilah incorporated, tak lain bertujuan bagaimana indus­tri yang turut mendukung kepa­ri­wisataan ini saling berkait. Kor­po­rasi akan lebih banyak menga­rah kepada usaha. Bagai­mana­pun juga pengembangan sektor pa­riwisata sudah barang tentu akan menimbulkan multiplier efek terhadap usaha di sektor lain.

 

Dengan dijadikannya Sum­bar sebagai tuan rumah “Seminar Pengembangan Potensi Dae­rah”, terlihat bahwa me­mang sek­­tor pariwisata ini sangat men­­janjikan untuk pertum­bu­han perekonomian provinsi yang kaya dengan keindahan alam, serta budayanya yang unik ini. Meski secara nasional, sektor pariwisata menduduki peringkat keempat kontribusinya terhadap PDRB bangsa, pemerintah ber­sama masyarakat Sumbar harus mam­pu membuktikan bahwa dengan mengembangkan sum­ber daya yang tak akan pernah habis ini secara konsisten dan berkesinambungan, akan men­ja­dikan sektor ini sebagai pri­ma­do­na peningkatan kese­jahteraan mas­yarakat. Kor­porasi, koor­di­nasi dan komunikasi yang in­tens, tidak mustahil akan me­nga­pungkan tidak hanya TdS itu sen­diri, tetapi sekaligus men­ja­dikan daerah ini sebagai des­ti­nasi pili­han bagi wisman dan wisnus.

 

Kita dapat melihat indikasi ke arah itu dari berita yang di­tayangkan baik melalui media ce­­tak maupun elektronik. Berita­nya tidak lagi didominasi oleh tek­nis perlombaan saja, tetapi su­dah menyentuh ranah eko­nomi kreatif dan kebanggaan tiap daerah yang dilewati oleh TdS tersebut. Ajang unjuk ke­suk­sesan dan penam­pilan kreasi dan kebuda­yan dae­rah, telah men­jadikan TdS ini se­ba­gai co­rong promosi daerah ini se­ca­ra menyeluruh.

 

TdS yang menonjolkan “sport tourism” telah membuka mata dinas dan instansi di setiap dae­rah kabupaten dan kota serta pro­vinsi. Yang tak kalah pen­ting­nya adalah promosi terse­lubung yang dilakukan oleh “orang Mi­nang” di perantauan. Rasa bang­ga dan surprise-nya itu di­sam­pai­kan kepada penulis de­ngan pe­nuh haru. Yang kami ton­ton ada­lah “meriahnya kam­puang dan masyarakat” serta peman­da­ngan alam yang mem­pesona.

 

Tekad bulat dan “sense of belonging” terhadap TdS harus kita patrikan dalam sanubari setiap insan di Ranah Minang ini. Siapa lagi yang akan menga­wal alek gadang ini kalau bukan kita. Sumbar sudah mengukir se­jarah dalam kancah nasional da­lam sektor pariwisata dan olah­raga. Kita mengharapkan di ta­hun mendatang, seluruh kabu­pa­ten dan kota (masih tersisa lima) di Sumbar turut mera­maikan helatan ini. Bak pepatah urang Minang “Sambia ma­nyilam minum aia, sambia ba­diang nasi masak”.

 

Fenomena baru dalam pe­nye­lenggaraan TdS adalah bere­butnya daerah menjadi tuan rumah dalam acara pembukaan dan acara penutupan. Jelas......, ada udang di balik batu. Dengan sedikit menambahkan anggaran da­lam kedua acara tersebut, ten­tu diikuti pula dengan kesi­a­pan dalam faktor pen­dukung lain, se­perti trans­portasi dan ako­mo­dasi, maka akan semakin terasa so­liditas dalam keberagaman yang dimiliki oleh setiap daerah.

 

Sesuai dengan kultur yang di­­miliki oleh masyarakat Mi­nang­­kabau, mereka akan se­lalu men­cari kesempatan da­lam se­tiap peluang bisnis yang mun­cul. Mu­lai dari penyediaan ako­mo­dasi, rumah makan, cen­dera­mata sampai kepada oleh-oleh.

 

Mudah-mudahan Kemen­te­rian Parekraf dapat men­jadikan pro­vinsi urang awak ini men­jadi “icon” dalam me­ngem­bang­kan ekonomi krea­tif. Kare­na me­mang, tidak dipung­kiri bah­wa dengan jiwa entrepreneur-nya, mas­yarakat akan berkreasi un­tuk menghasilkan sesuatu yang di­perlukan oleh orang lain. Se­hingga TdS akan semakin meng­h­arumkan nama bangsa ini di te­ngah badai promosi yang dila­ku­kan oleh negara lain.

 

Mari kita berdoa dan beru­sa­ha bahu-membahu untuk me­ning­katkan taraf pelaksanaan TdS ini dari 2.2 menjadi 2.1. Mung­kin masih ada sebagian ang­gota masyarakat yang ber­tanya, apa pula angka berkoma itu maksudnya. Yang jelas, mari ber­sama kita kawal TdS ini de­ngan baik dan benar lalu kita su­guh dan promosikan daerah ini. Ka­lau kita semua “sarimbum sa­rampak, sarangkuah da­yuang”, insya Allah apa yang menjadi tujuan dari gagasan diadakannya TdS ini akan terwujud. Amin. (*)

[ Red/Administrator ]

Komentar Teras Utama


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Tak Lulus UN, bukan Berarti Kiamat

Kabar gembira bagi Sumbar. Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA sederajat tahun ini, meningkat dibanding tahun lalu. Hanya 230 dari 68.045 peserta yang dinyatakan gagal. Secara nasional, tercatat 8.851 siswa dinyatakan tidak lulus atau persentase kelulusan UN menurun 0,02 persen dibandingkan tahun lalu. Beruntung, persentase kelulusan siswa SLTA di Sumbar mengalami peningkatan 0,32 persen dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu kelulusan 99,40 persen, kini menembus angka 99,72 persen.

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Sabtu, 25 Mei 2013

Konvoi-Coret Baju Sulit Dibendung

Anak didik kini mada-mada..................!

 

Lagi, Bukittinggi Terbaik Sumbar

Lai ndak adoh nan coret baju..................?

 

Nilai UN masih Meragukan

Baa baitu, caliak kunci  tu.............................?