Jum'at, 25 April 2014 - 24 Jumadil Akhir 1435 H 09:45:17 WIB
TAJUK RENCANA

Setelah 14 Tahun Reformasi

Oleh : *

*

Padang Ekspres • Selasa, 22/05/2012 20:44 WIB • 689 klik

HARI ini, 14 tahun yang lalu, Orde Baru tumbang ditandai dengan mundurnya Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998. Sebagian aktivis yang dulu menjadi motor gerakan reformasi 1998 kini menduduki posisi strategis di pemerintahan maupun di lingkaran kekuasaan.

 

Sebagian lagi aktif di partai politik. Namun, tidak sedikit yang bertahan di jalur parlemen jalanan, berkecimpung di LSM, maupun konsisten sebagai aktivis.

 

Para mahasiswa 1998 sebenarnya telah bersepakat bahwa tidak ada sosok yang ditokohkan dalam gerakan reformasi. Tidak seperti Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) 1974 yang menokohkan Hariman Siregar. Aktivis 1998 saat itu bersepakat menghargai seluruh mahasiswa dan masyarakat yang turun ke jalan memperjuangkan reformasi. Menokohkan seorang atau beberapa aktivis sama saja dengan menafikan perjuangan mahasiswa dan masyarakat di seluruh kota di Indonesia yang sama-sama ”berkeringat” turun ke jalan.

 

Penokohan aktivis 1998 kala itu juga dikhawatirkan akan merusak tujuan gerakan reformasi itu sendiri. Apalagi, aktivis yang ditokohkan kemudian bersinggungan dengan kasus-kasus korupsi.

 

Buktinya, beberapa aktivis 1998 kini berurusan dengan masalah hukum. Di antara mereka, Anas Urbaningrum (ketua umum PB HMI 1997–1999) dan Rama Pratama (ketua umum Senat Mahasiswa UI 1997–1998).

 

Karena bersepakat tidak ada tokoh, gerakan reformasi 1998 disebut-sebut memberikan cek kosong kepada pemerintahan yang baru. Karena itu, ketika Soeharto benar-benar jatuh, mahasiswa yang masih larut dalam euforia kemenangan terkejut melihat para pemimpin negeri yang menjadi penerus Soeharto.

 

Indonesia sudah menjalani tiga kali pemilihan umum (pemilu) legislatif, dua kali pemilu presiden, dan setiap daerah rata-rata mengalami dua kali pemilihan kepala daerah (pilkada). Selama 14 tahun juga, rakyat Indonesia merasakan dipimpin oleh empat presiden.

 

Yakni, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan terakhir Susilo Bambang Yudhoyono. Semua pemimpin itu rasanya belum ada yang bisa mewujudkan angan-angan para mahasiswa pada 1998.

 

Pada saat yang sama, tidak sedikit pula kelompok ma­syarakat yang mulai merindukan zaman kepemimpinan Soe­harto. Alasan mereka, setidaknya di zaman Soeharto mu­rah pangan. Ungkapannyinyir bahwa zaman Soeharto le­bih enak tidak bisa dianggap remeh. Ungkapan tersebut me­nunjukkan bahwa masyarakat belum menemukan sosok pe­mimpin yang dianggap berhasil menghadirkan keadilan dan kemakmuran di negeri yang katanya gemah ripah loh ji­­­n­awi (tenteram dan makmur serta sangat subur tanahnya) ini.

 

Tapi, apakah kita harus kembali ke zaman Orde Baru? Tentu tidak. Bangsa ini tidak boleh kembali ke zaman kepemimpinan yang otoriter. Justru kekuasaan Orde Baru selama 32 tahun itulah yang meninabobokan rakyat sehingga kita secara tidak sadar telah tertinggal oleh Singapura, Malaysia, Thailand, maupun Vietnam. Kita harus yakin, di antara 237.641.326 penduduk Indonesia (berdasar Sensus 2012) akan lahir pemimpin yang memang pantas memimpin negara ini. Pasti ada. (*)

[ Red/Administrator ]

Komentar Tajuk Rencana


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Kacamata Kuda KPK

KRITIK dan pujian selalu datang bersamaan setiap kali Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat ”kejutan” baru. Termasuk ketika menetapkan mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo sebagai ter­sangka dalam kasus pajak yang terjadi pada 2004.

Belum Terima Elpiji

YTH bapak Wali Kota Padang yang baru. Kami warga RW 6, Guo Kuranji sampai sekarang belum menerima paket gas elpiji 3 Kg. Tolong di percepat karena minyak tanah harganya sudah naik.

Kamis ,24 April 2014

Tunggu SK Mendagri

Lai ndak ka ta undur lo tu Pak, dek KPK lah manyasar Mendagri lo..........!

 

14 Warga Digigit Anjing Gila

Iah gawat mah pak,lai aman Pak..................................................?

 

UN SLTP, Padang Target Jawara

semoga lah pak, asa ndak pakai jimat se.....................................!