Minggu, 20 April 2014 - 19 Jumadil Akhir 1435 H 15:15:40 WIB
OPINI

Pendidikan yang Berketeladanan

Oleh : Dina Maria Astuti

Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PPI) Sumbar

Padang Ekspres • Selasa, 22/11/2011 12:47 WIB • 594 klik

Sesungguhnya, sebuah pemikiran itu akan berhasil diwujudkan manakala kuat rasa  keyakinan kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, semakin bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal dan berkorban dalam mewujudkannya.  (Asy Syahid Hasan Al-Banna)


LEBIH kurang 13 tahun lalu, peristiwa 1998 yang telah mengantarkan Indonesia pada babak baru kehidupan. Peristiwa kerusuhan yang dipicu oleh penembakkan aparat terhadap mahasiswa Universitas Trisakti di Jakarta pada 12 Mei 1998 dan menewaskan empat orang mahasiswa. Peristiwa ini menjadi puncak pergerakkan mahasiswa se Indonesia untuk segera mengantarkan Negara ini menuju reformasi 1998.

Saat itu, seluruh organisasi gerakan  mahasiswa bersatu di bawah payung pro penghapusan rezim Soeharto dan reformasi struktural Negara ini secara komprehensif. 21 Mei 1998 merupakan graduated day bagi mahasiswa khususnya dan masyarakat Indonesia secara umum, yaitu mundurnya presiden Soeharto dari kursi kepresidenan.


Gerakkan reformasi 1998 memberikan dampak yang sangat besar di semua aspek kehidupan bangsa Indonesia. Kita lihat dari segi politik, peristiwa ini menjadi perekat pemersatu gerakkan mahasiswa se Indonesia yang awalnya hanya bersifat sporadis dan tidak terintegrasi. Gerakan ini menjadi gerakkan moral mahasiswa yang memiliki power besar di tengah-tengah masyarakat luas. Mengapa tidak? Karena toh gerakkan inilah yang menjadi embrio lahirnya reformasi di segala bidang, penghapusan korupsi kolusi dan nepotisme (KKN), reformasi di bidang ekonomi, dan hukum. Tujuan reformasi adalah membentuk pemerintahan dan masyarakat yang lebih baik dan lebih bersih, agar tujuan nasional bangsa ini bisa tercapai.


Merunut pada sejarah sebelumnya, lebih jauh kita lihat kiprah mahasiswa di pentas perjuangan Indonesia mulai dari gerakan kebangkitan nasional tahun 1908, Indonesche Vereeninging tahun 1922, Gerakan mahasiswa Orde Lama-Orde Baru dan kemudian organisasi mahasiswa semakin mencuat pada saat Indonesia menuju reformasi 1998. Sehingga akhirnya mahasiswa menjadi makhluk elite di kehidupan bumi Indonesia.


Pergerakkan-pergerakkan itu secara tidak langsung memproklamirkan mahasiswa sebagai kekuatan sektoral yang berada dalam kelas mapan secara intelektual, yang memiliki  kemampuan menghubungkan kelas atas dan kelas bawah, sehingga membuat kaum muda terdidik ini menjadi kelompok strategis dalam perubahan sosial politik. Dan tidak dapat dipungkiri juga, bahwa di setiap perubahan bangsa, faktor-faktor pendukung yang lain juga berpengaruh terhadap keberhasilan dari pergerakan mahasiswa Indonesia.


Semuanya adalah sejarah. Sejarah mereka, bukan sejarah kita.
Realita menjelaskan ‘reformasi jalan ditempat’. Artinya, mahasiswa gagal dalam mengisi dan mengawal reformasi. Padahal, daya dobrak Gerakan mahasiswa 1998 yang berhasil menggulingkan rezim Orde Baru merupakan momen penting sebagai starting point dalam rangka menyelamatkan bangsa dalam kondisi sedang sekarat. Pada kenyataan, mahasiswa lengah dan membuang kesempatan tersebut. Pergerakkan mahasiswa mengalami dekadensi eksistensi di tengah masyarakat .

Inilah potret sejarah kita untuk Indonesia, beberapa tahun terakhir ini muncul istilah : Negara Gagal (Failed State).Status Negara Gagal buat NKRI sebenarnya sudah mulai dinukilkan sejak 2007, setelah majalah Foreign Policy yang bekerjasama dengan Amerika Serikat The Fund for Peace, mengumumkan daftar 60 index Negara Gagal. Indonesia masuk dalam daftar 60 Negara Gagal itu bersama Sudan, Somalia, Zimbabwe, Kongo, Ethiopia, Uganda, Irak, Timorleste, Myanmar, juga sederetan negara di Amerika Latin seperti Haiti yang amat memilukan. Kenapa ini bisa terjadi? Pertanyaan buat kita semua yang telah ketularan mendapat label “pahlawan” dari mahasiswa pejuang reformasi 98. Memang setiap generasi memiliki persoalan dan tantangannya sendiri. Tapi bagaiman kemudian generasi itu menghadapi tantangan tersebut? Itu yang jadi masalah utama.


Reformasi 1998 memang berhasil, namun sampai sekarang persoalan Indonesia tak kunjung selesai. Hal-hal yang dikritik demonstran sebagai sebuah kesalahan pada masa rezim Soeharto seperti maraknya korupsi, kolusi,mafia hukum, kemiskinan, dan sebagainya justru kembali berulang saat ini. Sejarah itu kembali terukir di hadapan kita semua. Bahkan dengan aroma yang lebih menyengat. Root of  failed  reformasi sepantasnya mendapat perhatian serius dan analisis yang mendalam. Kenapa kemudian gerakan kaum intelektual muda seperti mahasiswa saat ini seolah belum menemukan pola baku untuk menjalankan semua wacana mereka menuju ranah realitas? Karena memang Perubahan tidak cukup hanya sekedar  berwacana.


Ketika dikatakan bahwa perjuangan mahasiswa masa lalu petanya begitu jelas terpampang sehingga mereka mudah menempuh jalannya. Itu salah besar, kita ingat perkataan Bung Karno bahwa “ Perjuangan ku dulu tidak sulit karena hanya mengusir penjajah, tapi perjuangan kalian akan lebih berat karena musuh  kalian adalah bangsa kalian sendiri”.


Hasil dari suatu perbuatan, itu tergantung dari siapa yang melakukannya. Ketika perbuatan itu dilakukan oleh orang yang memahami, tentu saja hasilnya juga akan sangat memuaskan. Begitu juga analoginya dengan pergerakkan yang dilakukan oleh mahasiswa. Ketika dulu kebangkitan nasional dipelopori oleh Pemuda, pertanyaannya sederhana saja, pemuda yang bagaimana yang kemudian bisa melakukannya? Ketika reformasi berhasil dilakukan oleh mahasiswa, mahasiswa seperti apa yang melakukannya? Bicara perubahan, kita tidak bisa lepas dari aspek sumber daya manusia. Dan bicara sumber daya manusia hal yang paling krusial adalah kualitas dari SDM tersebut.  Membahas kualitas, tentu akan identik dengan pendidikan yang ada. Semuanya sistemik. Mulai dari perubahan, tingkah laku/akhlak. SDM dan pendidikan. Inti dari semuanya adalah pendidikan kita. Pendidikan antara sistem dengan orang yang menjalankan sistemnya.


Pendidikan memiliki peran yang sangat besar dalam mengubah tatanan kehidupan. Sebagaimana yang dikatakan oleh Aziz Suganda dalam bukunya Pendidikan Tinggi Era Indonesia baru” bahwa pendidikan memiliki peranan yang signifikan dalam memepersiapkan dan mengubah tatanan kehidupan dalam segala aspek, SDM, etika dan hukum”. Merupakan sebuah kemustahilan ketika kita bicara sumber daya manusia, etika dan hukum dalam masyarakat mengabaikan urgensi pendidikan. Karena dengan pendidikanlah kualitas SDM bisa ditingkatkan, demikian juga dengan etika atau akhlak, pemahaman dan keinginan untuk berakhlaqul karimah ditumbuhkan, dengan pendidikan juga masyarakat memilki kesadaran dn keinginan untuk menegakkan hukum.


Jika kita bertanya tentang manfaat pendidikan, maka saya sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Plato (Filosuf Yunani), bahwa pendidikan membuat orang menjadi baik dan orang baik tentunya berperilaku mulia. Kita bisa melihat bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat vital dalam membangun peradaban yang berkarakter. Kita tidak bisa bayangkan tanpa pendidikan dunia akan menjadi seperti apa. Menurut ahli sosiologi pendidikan sebagaimana yang dikutip oleh Ahmad Sauqi dalam bukunya “ Pendidikan Multi Kultural, Konsep dan Aplikasi” bahwa terdapat relasi resiprok antara dunia pendidikan dengan kondisi sosial masyarakat. Relasi ini bermakna bahwa kondisi masyarakat, baik dalam aspek kemajuan peradaban, dan sejenisnya tercermin dalam kondisi pendidikan.    


Namun, persoalanya sekarang, dunia pendidikan sendiri yang menjadi tumpuan harapan perubahan justru sedang sarat dengan berbagai persoalan yang tidak kalah rumitnya. Rumitnya persoalan pendidikan berdampak pada output yang dihasilkannya. Rendahnya kualitas SDM adalah karena pendidikan yang bermasalah. Kenapa pendidikan bermasalah? Karena SDM nya tidak berkualitas. Bisa saja begitu. Bangsa ini sudah terlalu lelah  dengan  permasalahan yang tak kunjung ada jalan keluarnya. Kasus century yang hilang ditelan bumi, korupsi yang tidak dapat diberantas, mafia pajak dan hukum, isu pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) dan akhir-akhir ini para penegak hukum dipusingkan dengan beredarnya video porno sampai kasus tabung gas yang meledak setiap harinya. Memprihatinkan sekali!!


Lebih jauh lagi kita lihat, pendidik  dengan pendidikan merupakan dua hal penentu nasib bangsa ini. Pendidik berfungsi sebagai subjek dan pendidikan adalah metode yang dilakukan atau digunakan oleh subjek.  Ketika pendidik adalah orang yang mampu memberikan keteladanan yang baik dalam menjalankan proses pendidikan tentu saja akan menghasilkan pahlawan-pahlawan yang berketeladanan juga. Bangsa kita hanya kehilangan teladan dalam perjuangannya. Perubahan menunggu jemputan pahlawan-pahlawan mahasiswa yang Berketeladanan. Seorang guru akan didengarkan nasehatnya oleh murid ketika sang guru adalah orang yang mampu memberikan contoh yang baik juga di hadapanya. Begitulah sederhananya. Pendidik yang berketeladanan akan menghasilkan pendidikan yang berketeladanan, dan kemudian output terakhirnya adalah peserta didik (SDM) yang juga berketeladanan. Pahlawan tidak hanya berteriak perjuangkan rakyat miskin, sementara kehidupan mereka sangat hedonis, pahlawan tidak sekedar memekikkan berantas korupsi sementara tiap gerak langkah perjuangannya adalah gerakan pragmatisme dan kepentingan-kepentingan. (*)

[ Red/Redaksi_ILS ]

Komentar Opini


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!