Kamis, 24 April 2014 - 23 Jumadil Akhir 1435 H 19:53:27 WIB
CUCU MAGEK DIRIH

Teologi Saling Menolong, Bahagia Ketika Membantu

Oleh : H. Sutan Zaili Asril

Wartawan Senior

Padang Ekspres • Minggu, 06/11/2011 11:21 WIB • 868 klik

H. Sutan Zaili Asril

DI ANTARA amalan sunat bernilai tinggi pada saat menyambut Idul Adha, bagi umat Islam yang tidak sedang mengerjakan ibadah haji: pertama shalat Id dan mendengarkan kotbah. Kedua puasa tasyrik (puasa saat jamaah haji wukuf di Padang Arafah). Ketiga berkurban (yaitu menyembelih seekor kambing atau domba) dan keempat, bersedekah. Berkurban dan bersedekah, selain bernilai ibadah-ilahiyah, juga berdimensi/merupakan ibadah sosial. Yaitu, membantu orang fakir/miskin dan atau yang sangat membutuhkan bantuan dalam berbagai keadaan yang dihadapi.


Memang, Islam termasuk agama yang sangat mementingkan kebersamaan dan atau persaudaraan (al-ikhwan) -- termasuk persaudaraan atas penggunaan nikmat yang diberikan Allah (faasbahtum bi nikmati ikhwana). Islam termasuk agama yang memandang semua rezeki yang didapatkan atas ridha Allah, dan pada rezeki itu terdapat hak fakir/miskin dan yang dikategorikan sebagai membutuhkan dalam berbagai kondisi. Bentuk pengeluaran bagian itu dilakukan melalui amalan yang disebut, zakat (termasuk fitrah) dan infaq-sadaqah. Tiga rukun Islam, seperti zakat, puasa, dan haji, memiliki dimensi ibadah sosial.


 Idul Adha yang berada dalam konteks haji sangat menekan dimensi berkurban -- baik dalam bentuk menyembelih hewan seekor kambing/domba atau sapi atau onta maupun dalam makna mendekatkan diri kepada Allah. Berkurban dalam hal menyebelih hewan ternak, merupakan bentuk yang sudah tua -- sudah berlaku sejak Nabi Adam saat mereka mengorbankan sebagian dari hasil panen sebagai bentuk bersyukur. Daging ternak, walau dapat dimakan sebagian oleh yang berkurban, sebagian besarnya dibagikan kepada fakir/miskin yang boleh jadi tidak pernah memakan daging atau amat jarang memakan daging.


 Yang direferensi oleh Islam adalah peristiwa Nabi Ibrahim mengurbankan dan atau dengan menyembelih anaknya, Ismail, sebagai ujian ketaatan terhadap Allah. Sebagaimana kita mengetahui, ketika Ibrahim akan menyembelih leher Ismail, maka Allah menggantikannya menjadi seekor domba -- Ismail selamat. Jadi, berkurban adalah bentuk upaya mendekatkan diri pada al-Khalik, yang tanpa perhitungan pamrih menunaikan perintah Allah. Ketaatan dan kepatuhan pada Allah tanpa batas/mutlak adalah nilai tertinggi bagi umat Islam dalam perspektif keberimanan/ketaqwaan kepada Allah.


 MEMBANTU sesama -- yang dalam Islam lebih ditampilkan dalam perpeksitif dan konteks saling membantu/saling bertolong-tolongan (taawanu ala al-bieri wa al = taqwa) adalah di antara nilai kemuliaan hati/berpikiran/perbuatan dan menekankan keindahan kebersamaan/persaudaraan -- betapa banyak contoh yang dapat dikemukakan, solidaritas/kesetiakawanan sosial/toleransi --betapa banyak nilai kebersatuan (umatan wahidatan), dan keselamatan/kedamaian -- betapa nilai utama Islam adalah membawa rahmat/kedamaian kepada seluruh alam dan isinya (rahmatan li al-alamin).


 Membantu dalam Islam adalah ibadah kauniyah. Ibadah adalah memang perbuatan yang berdimensi ilahiyah -- betapa pun berdimensi sosial (yang mendapatkan bantuan merasa bahagia karena dapat mengatasi kekurangan kebutuhan minimal mereka) dan yang memberi pula kiranya pun juga bersukacita sudah membantu. Dalam Islam, saling membantu/saling bertolongan seakan menonjolkan aspek equalitas. Konotasi saling dapat berarti: yang dibantu pula akan membalas bantuan yang diterimanya, dan atau yang memberi bantuan pula merasa akan menerima bantuan pula kelak dari orang yang pernah dibantunya. Bilamana ada dari kita yang memahaminya demikian, maka itu berarti pamrih. Membantu dan atau menolong dalam Islam bukan dalam perspektif/kerangka pamrih tadi. Tapi, dalam pengertian keberimanan/ketaqwaan dan dalam perspektif lebih teologis (ketauhidan).


 Saling membantu/saling bertolongan dalam Islam lebih ditampilkan di dalam perspektif/dimensi ibadah. Ibadah lebih menekankan keikhlasan. Ibaratnya, tangan kanan yang memberi, tangan kiri tidak mengetahuinya. Tidak boleh ria dengan menunjukkan sudah memberi bantuan/sudah menolong sesama. Kalau ada konotasi yang dibantu/ditolong pula akan balik membantu/menolong, itu artinya mereka yang dibantu/ditolong akan mendoakan yang membantu/menolong mereka kepada Allah, kiranya selalu sehat dan murah rezekinya. Lalu, Allah yang akan membalas keadaan yang membantu/menolong. Jadi, tidak secara linier yang dibantu/ditolong membalasnya secara langsung.


 Jadi, dalam teologi saling membantu/saling betolong-tolongan terhadap pada sesama, adalah ibadah yang dilakukan dengan tulus dengan mengharap redla Allah, dan nilai kelipatgandaan dari amalan baik tersebut dari Allah yang akan memberikan bentuk balasan kepada yang suka atau bahagia membantu atau bersukacita sudah menolong sesama. Allah akan membalas secara langsung pada mereka dalam bentuk kemudahan kehidupan, kesehatan tubuh baik, kemurahan rezeki, dan secara tidak langsung memperoleh balasan melalui orang-orang lain pula yang membantu/menolong atau memberi kemudahan pada kelancaran urusan mereka.


 BAGI Cucu Magek Dirih, mungkin memang mudah untuk mengatakan, dan rupanya tidak mudah untuk melakukan. Mungkin saja masih banyak dari yang menolong dengan ria dan atau mengharapkan pamrih/ada maksud dan tujuan singkat atau ada udang di balik batu. Banyak contoh dapat dikemukakan bagaimana sebagian dari kita membantu sebagai bentuk show tertentu. Atau, ada sebagian kita pula membantu, padahal bukan yang bersangkutan, tapi, justru kewajibannya sebagai pemegang amanah apa. Katakan pejabat publik yang melakukan tugas tidak dapat disebut membantu/menolong rakyat. Atau, ada sebagian kita yang karena hendak mendapat kesan baik di mata masyarakat, lalu ia memberikan bantuan supaya pada saatnya nanti yang membantu akan memetik buah dari bantuan yang diberikannya.


 Karena itu, membantu/menolong mungkin dilakukan dengan senang hati dan atau dilakukan dengan mengupat, yang memang dapat berbeda motif, berbeda bentuk perbuatan, dan berbeda maksud/tujuan, dan sudah pasti tidak ada keikhlasan dan apalagi mengharap keredhaan Allah. Rupanya memang harus pula dibedakan perbuatan membantu/menolong, kendati bukan merupakan pelaksanaan tugasnya yang dimanipulasi sebagai dikatakan membantu rakyat/menolong masyarakat karena materi yang dijadikan media membantu/menolong memang bukan bentuk yang diterima/dambilnya karena jabatannya pun, dari bentuk yang memiliki pamrih dengan membantu/menolong secara tulus ikhlas karena mengharapkan keredlaan Allah.


 Masalahnya, perbuatan membantu/menolong sudah tercemar dari posisi/konteks ibadah kauniyah. Jadi, tidak dapat diharapkan/dikaitkan dengan perbuatan masuk kategori ibadah kauniyah. Aspek dan dimensi ibadahnya sudah tak ada lagi, dan semata menjadi nisbi: perbuatan manusia yang menampilkan dirinya sebagai orang baik yang membantu/menolong dengan mengharapkan balasan dari yang dibantu/ditolong. Bahkan, kalau dalam perspektif kekuasaan, seperti dikatakan filsuf Inggris Betrand Russel, ada orang yang rezekinya melimpah menyisihkan sedikit hasil usahanya untuk diberikan bagi perbuatan mulia -- seperti membantu program pemerintah dan atau langsung mebantu masyarakat yang membutuhkan -- di antaranya jadi faktor pertimbangan raja memberikan gelar air kepada yang berhati/berbuat mulia itu.


 Mungkin dapat dianalogikan dalam perspektif Corporate Social Responsibility (CSR -- dahulu bernama community developmnent/CD) seperti diatur dalam UU (Undang-undang) No 40/2007 tentang Perseroan Terbatas. Artinya, kewajiban bagi entitas bisnis yang mengeksplorasi sumberdaya alam di satu tempat, yang diharuskan menyisihkan/memberikan sedikit biayanya dan atau labanya untuk masyarakat sekitarnya. Betapa pun, CSR (atau CD) dari entitas bisnis yang melakukan lebih menjadi kewajiban. Katakan seperti perusahaan Amerika Serikat (AS) PT Freeport di Timika lebih ringan membantu polisi sebesar 14 juta dolar AS -- polisi bertugas sudah dibiayai negara, misalnya, tidak memiliki semangat sama/lebih besar terhadap rakyat sekitar perusahaan dan atau tidak memberikan upah buruh yang selayaknya.


 MUNGKIN, merasa bahagia sudah dapat membantu dan menolong dalam perspektif Islam, lebih menekankan aspek/dimensi ibadah (kauniyah) -- semua perbuatan baik (al-amal al-ashalihat) bernilai ibadah dengan niat berbuat baik dan membaca nama/dilakukan atasnama Allah, yang menekankan ketulus-ikhlasan dan mengharap keredlaan Allah. Menurut Cucu Magek Dirih, bukanlah termasuk membantu/menolong (saling membantu/saling bertalong-tolongan) dalam arti dan makna ibadah kauniyah dalam agama Islam. mengambil momentum merayakan Idul-Adha, marilah kita bersukacita/merasa bahagia dapat membantu sesama dan atau menolong mereka yang membutuhkan.


 Betapa pun, semangat membantu/menolong sudah banyak tercemar, dan mereka yang memiliki kemampuan untuk membantu/menolong sesama dan atau yang amat mebutuhkan sesuai situasi/kondisi tertentutidak merasa terpanggil -- sebut saja hartanya melimpah, tetaplah kita mengetuk semua yang punya kondisi kemampuan berlebih dari kebutuhannya, terketuk hatinya untuk berkurban dan bersedekah, membantu/menolong sesama, insya Allah. Merasa bahagia karena dapat membantu/bersukacita karena dapat menolong, membantu/menolong sesama sebagai perbuatan baik lagi mulia. Syukran! Syukran laka, syukran laki, syukran lakum jamia.


H. Sutan Zaili Asril

[ Red/Redaksi_ILS ]

Komentar Cucu Magek Dirih


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Kacamata Kuda KPK

KRITIK dan pujian selalu datang bersamaan setiap kali Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat ”kejutan” baru. Termasuk ketika menetapkan mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo sebagai ter­sangka dalam kasus pajak yang terjadi pada 2004.

Belum Terima Elpiji

YTH bapak Wali Kota Padang yang baru. Kami warga RW 6, Guo Kuranji sampai sekarang belum menerima paket gas elpiji 3 Kg. Tolong di percepat karena minyak tanah harganya sudah naik.

Kamis ,24 April 2014

Tunggu SK Mendagri

Lai ndak ka ta undur lo tu Pak, dek KPK lah manyasar Mendagri lo..........!

 

14 Warga Digigit Anjing Gila

Iah gawat mah pak,lai aman Pak..................................................?

 

UN SLTP, Padang Target Jawara

semoga lah pak, asa ndak pakai jimat se.....................................!