Senin, 21 April 2014 - 20 Jumadil Akhir 1435 H 11:42:07 WIB
OPINI

Ekonomi Kerakyatan dan Bank Sampah

Oleh : DR H Indang Dewata MSi

Kepala Bapedalda Padang

Padang Ekspres • Kamis, 27/10/2011 11:49 WIB • 431 klik

Ekonomi kerakyatan adalah ekonomi tradisional yang menjadi basis  kehidupan masyarakat lokal dalam mempertahankan kehidupanya, kegiatan ekonomi kerakyatan tersebut dalam bentuk  usaha yang dilakukan oleh rakyat kebanyakan dengan cara swadaya sendiri mengelola sumber daya ekonomi apa saja yang dapat diusahakan atau dikuasainya, seperti berdagang dan jualan koran, bengkel sepeda, tambal ban, jual baju bekas, jual kertas koran, botol plastik bekas, ban bekas dan lain-lainya. 

Istilah ekonomi kerakyatan menjadi makin nampak oleh karena gagasan ini timbul dan berkembang sebagai upaya alternatif para ahli ekonomi  Indonesia untuk menjawab kegagalan yang dialami oleh negara berkembang untuk mengejar pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju.

Permasalahan di Indonesia  yang terjadi  adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak serta merta dapat dinikmati oleh rakyat dilapisan masyarakat yang paling bawah hal ini dapat di ukur dengan angka kemiskinan tidak pernah dapat  dan bisa terkikis walaupun berpuluh-puluh program yang tumpang tindih untuk pengentasan kemiskinan telah dimunculkan oleh pemerintah setempat, bahkan kesenjangan  antara golongan ekonomi sikaya dengan simiskin makin melebar yang secara merata hampir terlihat di sejumlah kota-kota besar di Indonesia.


Melebarnya kesenjangan ini tak kunjung makin mengerucut, bahkan makin melebar karena arus demokrasi yang sudah tidak lurus dengan ditandai semakin meningkatnya program yang kegiatannya  berprioritas sekitar orang dekat, sekitar kelompok, sekitar golongan, maka  rakyat kecil yang tak punya akses tak tersentuh sama sekali. Salah satu solusi permasalahan ini  yaitu melalui  pengembangan ekonomi kerakyatan  yaitu ekonomi yang tidak lagi berbasis kepada locomotive paradigm berupa dana-dana grand atau hibah yang tidak terukur, tetapi melalui pendekatan pengembangan foundation paradigm yang artinya pengembangan ekonomi rakyat tidak lagi bertumpu kepada uluran tangan pemerintah, modal asing, konglomerat tapi penguatan ekonomi masyarakat dengan mengembangkan sumber daya yang ada pada masyarakat itu sendiri, dan program ini telah membuktikan keampuhanya ketika para konglomerat berjatuhan ditimpa krisis dunia tetapi masyarakat dengan pola ekonomi kerakyatan tetap bertahan, malahan dapat menopang pertumbuhan ekonomi pemerintahan dari ancaman kelumpuhan.


Bank Sampah
Sampah adalah limbah padat yang berasal dari hasil sisa-sisa yang tak termanfaatkan oleh kegiatan manusia baik  di perkotaan maupun perdesaan yang semakin begitu konsumtif. Menurut hitung-hitungan MENLH (2000) produksi sampah rata-rata diperkotaan mencapai 0,5 kg/orang/hari  sampai 0,8 kg/orang/hari,  dari konstanta tersebut maka sudah dapat diperkirakan berapa banyak volume sampah yang dihasilkan oleh sebuah kota setiap hari mengalikan dengan jumlah penduduk yang ada. Jumlah sampah  setiap hari dan rata-rata yang terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hanya sekitar 60-70 persen, maka sisanya  akan berakhir di tempat pembakaran atau sampah akan berada di sungai-sungai sambil menunggu musim hujan kemudian menjadi sumber penyebab  banjir dan  sumber penyebaran penyakit. 

Salah satu cara mengubah perilaku masyarakat (social behavior) agar tidak membuang sampah ke sungai, selokan, membakar  dengan cara penerapan strategi 3R (reuse, reduce dan recycle), namun konsep ini tidak berjalan dengan baik karena imej yang tertanam bagi masyarakat “sampah “ itu adalah barang tidak berharga, tidak bermanfaat, tidak mempunyai  nilai ekonomi sehingga solusi yang paling mudah dan gampang adalah “ buang” atau asal tak berada dilingkungan sendiri. Image atau stigma ini diyakini dapat dirobah dengan menjadikan sampah menjadi berkah  dengan  upaya mengembangkan ekonomi kerakyatan diperkotaan melalui  pengembangan Bank Sampah.

Pelaksanaan Bank sampah  sesungguhnya mengandung potensi ekonomi (economic opportunity) kerakyatan yang cukup tinggi karena kegiatan bank sampah  dapat memberikan out-put nyata bagi masyarakat dalam kesempatan kerja (job creation), penghasilan tambahan bagi pegawai bank sampah dan masyarakat penabung sampah (nasabah) dan yang paling terpenting lingkungan terjaga dengan baik terbebas dari sampah, penyakit malaria, sumber penyakit lainnya dan terbebas dari banjir/genangan serta  tekanan volume sampah terhadap TPA semakin berkurang sehingga umur TPA bisa lebih panjang. Sebagai pembanding untuk kegiatan Bank sampah Barokah- Assalam di Komplek perumahan Dangau Teduh-Indarung Kota Padang,  yang mempunyai nasabah sebanyak 44 KK telah berputar uang sebanyak lebih kurang 2 juta/bulan, kegiatan teller hanya dibuka selam 2 jam dalam seminggu yaitu Hari Sabtu dan Minggu dengan memperkerjakan sebanyak 5 orang tenaga kerja.  Kegiatan ini dapat   mengurangi volume sampah berupa botol plastik, kaca, kardus, koran bekas dan lain sebagainya  yang dapat mengurangi sampah sampai 70-80 persen untuk tidak di buang ke TPA  dan  sampah telah dimanfaatkan sebagai sumber ekonomi kerakyatan bagi masyarakat dalam bentuk tabungan Bank Sampah yang merupakan tambahan penghasilan.

Kegiatan yang sama juga telah dilaksanakan oleh Bank Sampah Hidayah di Bandarbuat dan  Bank Sampah Sahabat Alam di Pangambiran kota Padang serta telah mengembangkan kegiatan Bank Sampah kearah Koperasi simpan-pinjam antar anggota. Namun demikian walaupun kegiatan ini telah bekembang dari paradigm foundation tentu dengan keterbatasan Sumber Dayamanusia (SDM) yang ada pada masyarakat maka sangat dibutuhkan bantuan pemerintah berupa pemberdayaan masyarakat dibidang management, pelatihan kreasi, penjagaan mutu serta menjembatani hasil kreasi dengan pasar dan diperlukan perhatian dunia usaha dalam frame Corporate Social Resposibilty (CSR) sesuai dengan semangat UU Nomor 32/2009 tentang Perlindungan Pengelolaan Lingkungan hidup melalui prinsip “polutant pay principle” yaitu pencemar wajib membayar, maka industri penghasil plastik, sampo, sabun mandi, kaleng, botol harus ikut mengsukseskan kegiataan perberdayaan ekonomi kemasyarakatan melalui Bank Sampah ini sebagai lambang tanggung jawab dunia usaha dalam pemulihan lingkungan yang telah dicemari.


Tujuan membangun Bank Sampah sebenarnya bukanlah Bank Sampah itu sendiri, tetapi adalah strategi  dalam megembangkan dan  membangun kepedulian masyarakat  agar dapat “berteman” dengan sampah bukan “bermusuhan” dengan mengembangkan ekonomi kerakyatan berupa penjualan hasil sampah serta mengembangkan kerajinan kreatif dan inovatif berupa pemanfaatan sampah menjadi kerajinan tangan, pembuatan kompos, usaha tanaman hias dan manfaat lain yang mempunyai nilai ekonomi kreatif. Penciptaan keadaan ini diharapkan tidak hanya mengembangkan ekonomi kerakyatan yang kuat tetapi juga pembangunan lingkungan yang bersih dan hijau untuk menciptakan masyarakat yang sehat. (*)

[ Red/Redaksi_ILS ]

Komentar Opini
Dari : awang
Rabu, 16/11/2011 - Jam 15:17 WIB
satu sisi yang memeang mendidik masyarakat untuk mampu bertahan dalam kerasnya kehidupan,namun saya menyoroti sikap pemerintah yang tidak mampu untuk mengurus rakyatnya,untuk apa kita punya pemerintah kalo ngga bisa ngatur...yang bisanya hanya ngrecokin permasalahan tanpa adanya solusi yang tepat. paayah


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan artikel ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Selesaikan Pemilu, Jangan Terlena Koalisi

LUPAKAN sejenak hiruk pikuk isu koalisi partai politik. Proses pemilihan umum legislatif 2014 masih berlangsung. Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum menyelesaikan rekapitulasi suara. Rencananya, KPU menetapkan hasil rekapitulasi suara pada 7 Mei 2014. Proses tersebut pun harus terus dikawal. Sebab, itulah yang nanti menjadi pijakan untuk proses berikutnya, yakni pengisian pejabat DPR dan pemilihan umum presiden (pilpres). Hasil penghitungan cepat memang bisa menjadi pedoman awal. Namun, bukan itu yang berlaku secara nasional.

Perbaiki Layanan RS Ahmad Muchtar

YTH bapak pimpinan Rumah Sakit Ahmad Muchtar Bukittinggi. Apa begitu pelayanannya, adik saya masuk rumah sakit pagi jam 9 dan pulang jam 4 sore tapi siangnya tidak dikasih makan. Padahal kami bayar cash. Tolong dijelaskan.

Senin, 21 April 2014

Jadilah Konsumen Cerdas

Parhatian bana kalau ka mambali-bali tuh. Jan sampai takicuah pulo........................................................!

 

Kadis dan Kabid DKP jadi Tersangka

Itulah Pak, jan buang sampah jo sambarangan.......................................!

 

Caleg Nasdem Dilaporkan Money Politic

 Lah ka salasai pemilu ko, banyak nan saliang malapor mah..........................!