- 11:27 WIB
- 12:48 WIB
- 12:47 WIB
- 12:46 WIB
- 12:46 WIB
- 12:45 WIB
- 12:43 WIB
- 12:42 WIB
- 12:42 WIB
- 12:41 WIB
Pramono SS MSi, Peneliti dan Pemerhati Naskah Kuno Minangkabau
Berlomba dengan Kerusakan Naskah
Padang Ekspres • Minggu, 17/07/2011 09:51 WIB • gusriyono • 474 klik

Naskah kuno Minangkabau, yang hampir tersebar di seluruh daerah di Sumatera Barat kecuali Mentawai, mengalami kondisi yang memiriskan dan dilematis. Naskah-naskah tersebut banyak yang telah rusak dan hancur. Tidak banyak yang menaruh perhatian pada karya tulis zaman dulu itu. Sehingga penyelematannya seperti berlomba dengan proses kerusakannya.
Mendapatkan naskah kuno untuk mengidentifikasi sekaligus menyelamatkannya ibarat berburu. Kadang dapat, kadang tidak. Namun, perburuan tetap harus dilakukan. Jika tidak, karya tulis terbaik zaman dahulu itu akan hilang tanpa jejak. Begitulah, yang dirasakan Pramono. Salah seorang peneliti dan pemerhati naskah kuno Minangkabau di Sumbar.
”Prinsipnya, dalam perburuan naskah itu tidak boleh menyerah. Mungkin hari ini kita datang, mereka menolak. Tapi seminggu kemudian, bisa jadi diterima,” katanya.
Pengampu mata kuliah filologi di Program Studi Sastra Minangkabau Unand ini menceritakan bahwa alasan yang sering digunakan agar pemilik naskah mau memperlihatkan naskah koleksinya adalah untuk kepentingan akademik seperti penelitian atau kegiatan lainnya.
”Kalau untuk kepentingan akademik mereka biasanya mau mengeluarkan naskah itu dari tempat penyimpanannya. Bisa juga kita membujuk mereka dengan mengatakan bahwa naskah yang ditulis para ulama atau syekh tersebut merupakan ilmu yang bermanfaat.
Kalau ilmu itu tidak diwariskan tentu pahalanya tidak mengalir kepada ulama atau syekh tersebut. Dengan itu mereka kemudian mau memperlihatkan naskahnya, kecuali beberapa naskah yang dianggap sacral, yang butuh syarat tertentu untuk menurunkannya,” ungkap lulusan Ilmu Budaya program pascasarjana Universitas Udayana, Bali, ini.
Disebut diturunkan, karena rata-rata naskah tersebut disimpan oleh masyarakat pemiliknya di atas pagu atau loteng rumah dan surau. Tempat penyimpanan yang suhunya tidak terukur tersebut ikut mempercepat pelapukan kertas, yang biasanya menjadi alas tulis naskah-naskah Minangkabau. Sehingga banyak yang sudah rusak, bahkan hancur hingga tidak bisa dibaca lagi.
”Kondisinya sangat memprihatinkan. Banyak naskah yang rusak atau mendekati kerusakan. Naskah-naskah yang kebanyakan ditulis pada sekitar abad ke-18 dan 19 tersebut terbuat dari kertas yang secara fisik tidak akan tahan lama. Sementara pemiliknya sendiri hanya mengandalkan pengetahuan tradisional untuk merawatnya. Seringkali naskah yang dimilikinya itu saling bertumpuk dengan benda lain. Sehingga kertasnya menjadi lapuk, robek, dan akhirnya hilang pula pengetahuan yang tersimpan di dalamnya,” paparnya.
Kalaupun terawat, lanjut Pramono, karena naskah-naskah tersebut dianggap sebagai benda keramat yang harus disimpan rapi, kendati isinya tidak pernah diketahui dan dimanfaatkan oleh khalayak umum.
Dalam jumlah yang jauh lebih besar, katanya, naskah kuno di Sumbar terdapat di surau-surau serta tersebar di tangan masyarakat secara perorangan. Hanya sebagian kecil dari ratusan naskah kuno itu yang sudah tersimpan dan dikoleksi oleh lembaga formal di Sumbar, seperti Museum Adityawarman, Badan Perpustakaan dan Kearsipan Sumbar, Fakultas Sastra Unand dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang. Pramono tertarik dengan naskah kuno sejak kuliah S1 di Prodi Sastra Minangkabau melalui mata kuliah filologi (mata kuliah tentang naskah kuno—red), yang dosennya filolog, M Yusuf.
Kendati telah beberapa kali dilakukan upaya inventarisasi dan pelestarian atas naskah-naskah tersebut, nyatanya hingga kini masih banyak yang belum teridentifikasi, dan apalagi tersusun dalam sebuah katalogus naskah. Untuk penyelamatan tersebut, Pramono bersama timnya dari lintas instansi telah mengadakan kerjasama dengan beberapa Negara seperti Malaysia, Singapura, dan Jepang.
”Bahkan, kita telah melakukan preservasi naskah kuno melalui kerjasama dengan pemerintah Jepang sebagai upaya penyelamatan naskah pascagempa 2009 lalu. Sebab, penyelamatan naskah kuno pascagempa itu luput dari perhatian banyak pihak, karena lebih cenderung pada penyelamatan bangunan gedung, sementara naskah dibiarkan saja,” tuturnya.
Pentingnya naskah kuno ini, ungkapnya, secara kultural naskah-naskah itu merupakan identitas, kebanggaan dan warisan yang berharga. Naskah merupakan hasil kegiatan intelektual dalam masyarakat tradisional (local genius) yang mencerminkan realitas dan perkembangan zaman. Dilihat dari jenis teksnya, kebanyakan naskah kuno yang ditemukan memuat teks keislaman. Kemudian mengandung teks-teks adat dan undang-undang Minangkabau, azimat, perobatan, mantra dan surat-surat perjanjian.
Dengan banyaknya jumlah naskah yang memuat teks keislaman memperlihatkan bahwa dominasi Islam di Sumatera Barat cukup signifikan. Khazanah naskah-naskah Islam tersebut penting baik secara akademis maupun kultural. Secara akademis melalui naskah-naskah itu dapat diungkap nilai-nilai yang relevan dengan kehidupan sekarang. ”Nilai-nilai yang relevan berupa kearifan lokal masyarakat Minangkabau dalam menyikapi perbedaan paham keagamaan,” katanya.
Dalam upaya pewarisan nilai-nilai tersebut ke masyarakat, transliterasi naskah kuno Minangkabau sudah banyak yang dibuat suntingan naskahnya. Seperti teks Tambo Minangkabau oleh Edwar Djamaris, Undang-Undang Minangkabau oleh Umar Junus, Kaba Tuanku Nan Muda Pagaruyung oleh M Yusuf dan banyak lagi yang lainnya. ”Saya sendiri juga telah membuat puluhan suntingan naskah keislaman, terutama yang bertema polemik keislaman yang pernah terjadi di Minangkabau,” ujarnya.
Konservasi naskah kuno ini juga tidak lepas dari persoalan yang dilematis, terutama terkait penjualan naskah ke luar negeri. Persoalan ini muncul karena kepedulian yang setengah hati dari pemerintah untuk melestarikannya. Sehingga naskah tersebut berpindah tangan ke kolektor di luar negeri. Di tangan mereka naskah-naskah tersebut lebih terawat dengan baik, sehingga umurnya bisa lebih lama. Sementara di sisi lain, akibat penjualan naskah, Sumbar menjadi kehilangan bukti intelektualitas masyarakatnya di masa lampau, yang ditunjukkan melalui karya tulis tersebut.
”Sangat perlu perpustakaan khusus, paling tidak untuk mengoleksi arsip digitalnya. Karena untuk mendapatkan naskah yang asli sangat sulit. Kita masih kalah cepat dengan para kolektor naskah. Sekedar perbandingan saja, misalnya pihak Malaysia telah lama mempersiapkan lembaga-lembaga strategis untuk melaksanakan program-program pengembangan koleksi Melayusiana,” tukas penulis buku Sufi Saint of Sumatera ini. Buku direktori filologi dan Islam di Indonesia itu ditulisnya bersama peneliti dari Rusia, Irina R Katkova, tahun 2009 lalu. (***)
[ Red/Redaksi_ILS ]
Kebangkitan, Manufacturing Optimisme
BERBICARA kebangkitan nasional di hari-hari seperti sekarang mungkin segera tergelincir ke arah pesimisme. Derasnya arus informasi memungkinkan manusia Indonesia menerima informasi jenis apa pun. Tetapi, kecenderungan ”naluriah” manusia selalu suka mengerumuni insiden. Karena itulah, jalanan kadang macet berat ketika ada kecelakaan, sekalipun orang yang celaka sudah minggir.
![]()
Kepada Yth Manager Pertamina unit pemasaran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.
Pelapor Bisa Ajukan Praperadilan
Jaan patah samangaik .................!
Disdik Siapkan PPDB Online
Lai dijamin ndak adoh titipan lai..............?
Lelang Proyek Gedung Parkir Dipertanyakan
Ado lo tacium baun busuk tu................................?