Kamis, 17 April 2014 - 16 Jumadil Akhir 1435 H 11:32:58 WIB
XPRESI

Ligwina Hananto, Konsultan Perencanaan Keuangan

Untuk Indonesia yang Kuat

Padang Ekspres • Minggu, 03/07/2011 10:56 WIB • (*) • 1232 klik

Ligwina Hananto

Saat ini kita beruntung kedatangan seorang tamu yang bukan saja memberikan wawasan, tetapi juga tips praktis untuk menjalankan peran kita atau Anda sebagai orang muda yang termasuk golongan menengah dan menitikberatkan kepada aspek keuangan. Tamu kita sekarang adalah Ligwina Hananto, konsultan perencanaan keuangan. Dia baru saja meluncurkan buku yang berjudul Untuk Indonesia yang Kuat.


Ligwina Hananto mengungkapkan orang muda di Indonesia yang jumlahnya banyak sudah waktunya untuk bergerak. Definisi muda di sini adalah yang masih di bawah 35 tahun dan umumnya golongan menengah. Dia berupaya membangunkan orang muda agar mampu mengelola finansial melalui perencanaan keuangan (Financial Planner). Ini agar mereka bukan menjadi golongan menengah yang kenyang saja tetapi juga kenyang dan kritis.


Menurut Ligwina, jika golongan menengah tersebut kuat maka akan berdampak besar untuk negara. Contohnya, golongan menengah biasanya memiliki pembantu rumah tangga. Dia pernah membuat survei di Jakarta pada 15 temannya, setelah dihitung-hitung ternyata mereka memiliki total 45 pembantu rumah tangga. Jadi bayangkan, di Jakarta setiap satu keluarga memiliki tiga pembantu rumah tangga. Kalau satu keluarga ini kuat, kemudian memperkuat tiga pembantu rumah tangganya, berarti jika ada 15 juta yang kuat maka bisa membuat 45 juta orang kuat lainnya. Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Ligwina Hananto.


Beberapa waktu lalu Ligwina melakukan launching sebuah buku yang sangat populer  disebut The Book di Twitter. Saya datang ke launching tersebut dan kalau saya yang menceritakan prinsip buku itu barangkali tidak akan tersampaikan semua visi dan misinya. Jadi, what is the book about?
The book is a propaganda. Jadi perbedaannya dengan buku lain, biasanya membuat buku perencanaan keuangan hanya berisi hitungan-hitungan saja, tapi saya tidak mau membuat buku yang hitung menghitung saja.

Saya mau buku yang di dalamnya ada misi besar di belakangnya. Misi itu adalah membentuk golongan menengah Indonesia yang kuat. Jadi isi buku ini memang dibuat untuk menjedot-jedotkan kepala orang ke tembok. Negeri ini, yang katanya penuh orang muda semua, sudah waktunya untuk mereka bergerak. Definisi muda di sini adalah yang masih di bawah 35 tahun. Menurut saya, apa yang merongrong negeri ini adalah bangkai-bangkai masa lalu yang masih ada dan tidak bisa kita hilangkan begitu saja. Jadi sudah waktunya yang muda-muda ini yang belum terkontaminasi untuk take over.


Sangat tepat. Mengapa harus dibilang dijedotkan, apa semua orang lesu?
Terlena, sebetulnya. Saya khawatir akan ada masyarakat golongan menengah yang apatis seperti dulu. Selama 30 tahun golongan itu ada dan memiliki uang tapi seperti bayi yang disusui. Selama masih kenyang, dia tidak akan minta apa-apa. Jadi ketika diktator berkuasa selama bertahun-tahun diam saja. Kita tidak mau ada lagi golongan menengah yang seperti itu. Sementara, golongan menengah itu kuncinya ada di anak-anak muda ini. Mumpung masih muda, mumpung masih ada pikiran tentang apa yang sedang terjadi di dunia ini, mari kita bangunkan agar bukan menjadi golongan menengah yang kenyang saja tetapi juga kenyang dan kritis. Finance hanya satu alat saja untuk membuat golongan menengah itu kuat.


Persis seperti yang mau saya tanya. Apa hubungannya antara penguasa diktator dengan orang yang sadar keuangan? Bukankah kalau melawan penindasan itu harus mengibarkan bendera merah putih?
Justru itu yang saya tidak mau. Kita kapok melihat kengerian pada 1998 atau 1965. Kita tidak mau itu terjadi untuk ketiga kalinya. Aku kutip dari Aristoteles yang hidup pada masa 306 SM, “Maka jelaslah bahwa komunitas politik terbaik, terbentuk oleh warga kelas menengah dan bahwa negara-negara yang berkemungkinan dikelola baik adalah yang memiliki kelas menengah besar, dimana kelas menengah ada dalam jumlah besar lebih kecil terjadi kemungkinan perpecahan atau keretakan.” Jadi sewaktu membuat definisi apa itu kelas menengah, saya sempat membuat definisi kecil-kecilan berdasarkan beberapa riset besar dan artikel-artikel yang saya kumpulkan. Di situ menunjukkan bahwa jika golongan menengah kuat maka kemungkinan besar negara akan lebih stabil. Tapi definisi kuat tidak hanya uang saja, tapi kuat secara finansial dan juga kuat secara pemikiran politik. Kalau orang belum makan kenyang, belum bisa menyekolahkan anaknya, dan belum tahu apa yang akan dilakukan setelah pensiun, bagaimana dia ingin memikirkan politik?


Realistis sekali. Jadi tidak ada pengertian berkorban untuk nusa dan bangsa, biar kita mati untuk bendera, betulkah?
Sudah tidak zaman. Mungkin itu untuk 1942, bahkan bukan tahun 1945. Kalau sekarang ceritanya tidak seperti itu. Kita butuh uang untuk hidup. Jadi mari kita kelola. Sambil mengelola ternyata hal-hal kecil ini bisa kita kembangkan menjadi sangat besar. Ternyata, kalau kita ingin membuat golongan menengah ini kuat, maka jumlahnya akan besar sekali.


Seperti orang naik pesawat, kalau terjadi sesuatu maka sebelum membantu bayi Anda, bantulah diri Anda sendiri. Apakah titik berat Wina pada kesadaran nasionalisme atau ada inefisiensi dalam penggunaan uang yang Anda ikuti?
Ketika saya mulai dengan ide tentang golongan menengah yang kuat pada Mei 2008, I’m a feminist yaitu selalu mau mendukung perempuan yang kuat juga. Terkait saya kecewa dengan tokoh-tokoh perempuan di kancah politik kita, sehingga saya suka dengan Hillary Clinton. Namun saat saya menonton televisi pada Mei 2008, saya melihat pidato Barack Obama. Pidato  Obama tersebut benar-benar membangunkan saya, judulnya Change Within Rich. Sebenarnya ada beberapa point, dan tidak semuanya ada di buku saya karena terlalu Amerika. Tetapi ada dua point yang menurut saya universal. Orang di seluruh dunia pasti menginginkan pemimpin yang ketika berkampanye tidak hanya memasang baliho di pinggir jalan, tapi justru menunjukkan  programnya.


Ada dua program penting Obama dimana di Amerika Serikat (AS) sendiri juga sangat kontroversial. Pertama, tentang rencana fasilitas kesehatan yang bisa menjamin asuransi setiap orang AS. Jadi ketika sakit, kita tidak berpikir akan meninggal. Kedua, tentang pendidikan. Sewaktu berkampanye Obama ingin memberikan pendidikan berkelas dunia dengan merekrut pasukan guru baru serta diberikan penghasilan dan dukungan yang lebih. Itu supaya guru-guru juga terangkat martabatnya. Dua hal tersebut universal dan seharusnya dilakukan kalau kita mau mempunyai pemimpin yang seperti itu. Lalu, apakah masyarakatnya sudah siap? Jadi daripada kita terus mengeluh tentang pemimpin kita, seperti DPR atau bupati kita, mari perbaiki dulu kondisi pribadi kita. Saya percaya, pemimpin adalah refleksi dari masyarakatnya. Jadi sebelum kita menemukan presiden atau pemimpin daerah yang betul-betul mewakili dan punya program, kita lihat dulu bagaimana keadaan kita.


Konsep dasar buku ini seperti yang tadi sudah dijelaskan, yaitu kalau orang ingin ikut berbicara sebagai warga negara, maka dia sendiri harus memiliki kemampuan diri yang stabil dalam bidang keuangan. Secara praktis, apa arti stabil itu dan pada umur berapa?
Saya membuat 100 langkah untuk tidak miskin yang bisa kita ikuti satu demi satu dan tidak harus secara urut. Dari 100 langkah itu ada langkah-langkah yang sangat sederhana. Misalnya, pertama, memiliki penghasilan. Jadi rencana keuangan tidak dapat dibuat untuk orang yang tidak punya uang. Sebelum protes, kita harus membuat perubahan dari dalam diri sendiri terlebih dahulu. Secara state of mind juga bukan tipe orang yang berkata, “Aduh saya susah.” Namun kita harus tipe orang yang berpikir, “Kalau susah berarti saya harus berbuat apa?” Dua state of mind yang sangat berbeda.  Kedua adalah memisahkan pengeluaran bulanan dengan pengeluaran mingguan. Ketiga, pergi ke Anjungan Tunai Mandiri (ATM) seminggu sekali. Keempat, mengerti cara kerja kartu kredit. Kelima, utang kartu kredit lunas setiap bulan. Itu adalah lima hal yang sangat sederhana. Selain lima hal sederhana tersebut, di bawahnya juga ada lagi hal-hal sederhana lainnya seperti membayar pajak sebagai kontribusi kepada negara. Ada yang mengatakan, “Jangan bayar pajak, nanti dikorupsi.” Tidak ada urusan dengan korupsi, membayar pajak adalah kewajiban kita.


Bukankah justru para koruptor yang tidak membayar pajak?
Iya, kita harus berbeda dengan mereka. Ke bawah lagi ada pergi liburan tanpa berutang. Lalu ketika kita ingin mempunyai bisnis, bisnisnya mau seperti apa? Di acara launching buku kemarin saya mengundang teman-teman yang sangat empowered seperti Raditya Dika yang sudah menjadi penulis sejak kuliah, sehingga menghasilkan uang sendiri. Ada Widi Mulia, seorang diva yang dulu membeli sepatu dan tas bermerek, tapi setelah belajar tentang rencana keuangan, Widi membatasi diri kapan harus berhenti belanja. Untuk seorang Widi, hal itu merupakan prestasi besar karena dengan sadar ia belanja menurut kemampuannya.


Berikutnya ada Nabila Shihab yang memiliki bisnis dengan visi berbisnis yang bermanfaat bagi masyarakat. Selalu ada sesuatu dibalik bisnis yang tidak hanya make money. Bagi Nabila, hal itu menjadi kepuasan pribadi dan mission atau jihad. Dia berbisnis, punya uang, dan ada orang yang terbantu. Lalu, ada Rene Suhardono yang selalu berbicara tentang passion. Rene berupaya jangan sampai di luar sana ada teman-teman yang bekerja dari pagi hingga malam tapi tidak suka dengan pekerjaannya. Yang terakhir ada Pandji Pragiwaksono yang selalu dapat mengingatkan saya untuk terus cinta kepada negeri ini dan perubahan seperti apa yang dapat kita lakukan. Mereka adalah very inspiring people. Jadi definisi golongan menengah untuk saya bukan dia punya uang berapa, tetapi mereka adalah orang-orang yang berdaya.


Anda juga aktif di Twitter, apakah itu sebagian dari misi Anda atau rekreasi untuk melepas lelah?
Diantaranya untuk mengeluarkan isi kepala supaya tidak terlalu penuh agar saya bisa menulis. Saya tidak bisa menulis ketika terlalu banyak hal di kepala.


Saya melihat The Book adalah karya yang massive sekali. Bagaimana hubungan buku itu dengan pekerjaan Anda?
Sempat hang. Buku tersebut ditulis sejak 2008 tetapi baru selesai pada 2011. Tersendat-sendat karena di dalamnya ada beberapa hal yang cukup sulit untuk dicari. Misalnya, apa itu golongan menengah. Di dalam buku tersebut ada chapter di tengah yang berwarna abu-abu, itu adalah presentasi saya yang saya sadur. Isinya adalah hitungan. Bagian depan, kita isi dengan banyak propaganda dan begitu ke tengah kita kembali ke finance. Menurut salah satu dosen saya, “Jangan mensastrakan finance.” Jadi tetap harus ada hitungannya.


Apakah Anda mempunyai latar belakang pendidikan finance?
Alhamdulillah orang tua saya diberi rezeki untuk menyekolahkan saya ke Australia. Jadi how I’m opinionated sangat terpengaruh dari Australia. Saya sekolah di sana tentang finance dan marketing, bukan finance dan accounting. Jadi cocok sekali karena ada kombinasi senang mengobrol dan berhitung.


Apakah ini satu dari sekian buku Anda atau ini adalah klimaks dari usaha Anda sekian tahun?
Saya dulu pernah menulis buku yang sifatnya teknikal dan hanya hitung-hitungan saja. Terdiri dari lima seri. Terasa sekali ketika menulis buku yang pertama dengan buku yang sekarang ada passion yang sangat berbeda. Itu karena di belakang The Book ini kita memiliki misi yang sangat besar, yaitu mewujudkan golongan menengah Indonesia yang kuat. Ketika menulis juga sangat emosional, sangat menguras pikiran dan tenaga. Orang-orang yang saat launching saya panggil ke atas panggung dan saya kasih bunga juga ikut merasakan ketika membuat buku ini benar-benar dengan sepenuh hati dan kerja keras. Desainernya sempat ngambek bekerja selama tiga minggu. Jadi ketika sampai bab tiga dia pusing dan berhenti selama dua minggu, ketika sampai daftar seratus langkah dia juga sempat berhenti beberapa minggu.


Bagaimana kaitan financial plan dengan ketegaran golongan menengah?
Kalau kita menjadi golongan menengah yang kuat, tidak baik jika hanya kuat untuk diri sendiri. Bagaimana agar kuat untuk orang lain juga. Seperti yang saya sampaikan, rencana keuangan itu hanya untuk orang yang mempunyai uang. Padahal di luar sana banyak sekali orang yang tidak memiliki uang. Bagaimana untuk orang yang tidak memiliki uang? Mereka tidak butuh rencana keuangan, mereka butuh bantuan. Jika kita memberi bantuan berupa uang, itu seperti memberi ikan untuk makan hari ini. Jika kita memberi kail dan orang itu juga belajar memancing, maka orang tersebut tidak hanya makan satu hari tetapi seumur hidup. Bagi saya, penjajahan adalah ketika kita membuat orang bergantung seratus persen dengan kita. Contoh sederhana, golongan menengah biasanya memiliki pembantu rumah tangga. Saya pernah membuat survei di Jakarta pada 15 teman saya, setelah dihitung-hitung ternyata mereka memiliki total 45 pembantu rumah tangga. Jadi bayangkan, di Jakarta setiap satu keluarga memiliki tiga pembantu rumah tangga. Kalau satu keluarga ini kuat kemudian memperkuat tiga pembantu rumah tangganya, berarti jika ada 15 juta yang kuat maka bisa membuat 45 juta orang kuat lainnya.


Jadi orang tidak perlu merasa bersalah untuk tidak menyumbang ke panti asuhan selama dia berbuat baik untuk orang-orang di sekitarnya, betulkah?
Menurut saya, we have the right to choose which charity to support. Jadi tidak perlu merasa bersalah ketika ada yang meminta-minta dan tidak kita berikan karena kita mempunyai prinsip. Menurut saya, yang kita butuhkan adalah memastikan orang itu masa depannya seperti apa. Contohnya adalah dua orang yang saya tulis di buku. Pertama, Bi Fat yaitu seorang pembantu rumah tangga. Ketika diberikan uang, dia menolak dengan alasan, “Saya punya pekerjaan, saya bukan pengemis. Jadi tolong jangan kasih saya sedekah.” Akhirnya dijelaskan bahwa uang itu diberikan sebagai beasiswa untuk anak Bi Fat, barulah ia mau terima. Itu luar biasa karena ia punya martabat. Kemudian, minggu selanjutnya dia datang dengan membawa surat laporan dari sekolah anaknya yang menunjukkan penggunaan uang tersebut. Jadi tanggung jawab keuangan ada pada orang seperti Bi Fat.


Kedua, cerita tentang dua orang yang bernama Taufik dan Takbir. Awalnya, kedua orang tersebut bekerja sebagai tukang kebun. Lalu si majikan berpikir apa mereka mau menjadi tukang kebun terus seumur hidupnya. Keduanya disekolahkan. Ternyata Taufik sekolahnya malas-malasan, sedangkan Takbir terus bersekolah. Terakhir Takbir mengabarkan ada di Jakarta, sebelumnya mereka ada di Sulawesi, dan mohon pamit ingin pergi ke Amerika untuk training. Padahal sebelumnya orang tersebut adalah remaja putus sekolah, lalu boleh bekerja tapi tetap harus sekolah. Akhirnya, ia bekerja di suatu perusahaan sebagai supervisor sampai akhirnya ia dikirim ke Amerika untuk training.


Jadi Wina bisa menulis banyak karena punya pengalaman yang banyak juga. Mungkin bisa diceritakan sedikit, apa yang biasa dilakukan seorang financial consultant seperti Ligwina?
Perencana keuangan independen seperti saya kerjanya merancang. Ibarat membangun sebuah rumah, ada arsitek dan juga kontraktor untuk membangun. Perencana keuangan adalah arsiteknya, atau yang menggambar. Saya punya contoh dana pendidikan, apa saja yang harus dilakukan untuk bisa menyekolahkan anak dari play group sampai pendidikan strata satu (S1)? Saat ini biaya uang pangkal masuk play group di Jakarta adalah Rp 7 juta. Lalu, berapa biaya tersebut untuk dua tahun lagi? Itu dihitung oleh perencana keuangan, yaitu dua tahun lagi akan menjadi Rp 10 juta. Untuk mengejar Rp 10 juta mungkin orang masih bisa membayangkan cara mendapatkannya, tapi kalau sampai Rp 1 milyar dalam 17 tahun, tentu orang tidak dapat membayangkan untuk bagaimana cara mendapatkannya. Pilihannya ada dua, mau menabung Rp 1 milyar dibagi 17 tahun dan dibagi lagi dengan 12 bulan, atau dengan cara investasi yang mungkin hanya Rp 350 ribu per bulan.


Apa bentuk investasinya?
Investasi standarnya menggunakan reksadana. Reksadana adalah wadah dimana masyarakat dapat berinvestasi secara kolektif dan aturan hukumnya jelas. Jadi banyak sekali investasi yang aturan hukumnya tidak jelas. Ini yang biasanya membuat orang bingung, terpeleset, marah, kecewa, tetapi sebenarnya mungkin hanya tidak mengerti. Reksadana memiliki aturan hukum yang jelas dan diatur oleh Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Kementerian Keuangan. (***)


Apa jenis orang yang memerlukan atau bisa dibantu oleh konsultasi Wina, misalnya dari segi penghasilan, berapa penghasilan yang paling kecil dan paling besar?
Range atau tingkat biayanya berbeda-beda. Program kita ada yang konsultasi per jam, yaitu antara Rp 400 ribu sampai 750 ribu per jam. Jadi itu sebetulnya cukup affordable  tetapi tentu tidak bisa membuat rencana keuangan yang komprehensif. Selain itu, ada program untuk membuat contract plan selama satu tahun, mulai dari Rp 7,5 juta sampai Rp 56 juta per tahun. Kita membuat subsidi silang supaya orang yang mempunyai uang lebih banyak membayar lebih mahal sehingga orang yang uangnya lebih sedikit dapat membayar lebih rendah.


Berapa pendapatan orang yang bisa membayar Rp 7,5 juta per tahun?
Biasanya income mereka diatas Rp 10 juta per bulan. Yang penting sebenarnya bukan income, tapi berapa uang cash yang dia punya. Biasanya Rp 50 juta ke atas karena Rp 7,5 juta bukanlah jumlah yang sedikit. Kalau orang baru memiliki deposito Rp 10 juta dan harus membayar Rp 7,5 juta, kasihan. Uangnya akan habis.


Namun kalau hanya mempunyai uang Rp 60 ribu lebih baik membeli buku saja, betulkah?
Exactly. Itu karena saya tidak mau bisnis ini hanya sekadar membuat plan. Saya mau bisnis ini agar orang berkenalan dengan  financial investment supaya orang mempunyai wawasan finansial yang berkembang. Jadi saya tidak membatasi orang untuk membuat plan karena saya tahu tidak semua orang mampu, tetapi untuk berkenalan dengan wawasan finansial tidak ada batasan. Yang gratis banyak, misalnya di twitter gratis. Di website kami yaitu www.qmfinancial.com juga gratis.  Bahkan, itu gratis sampai kalkulatornya. (***)

[ Red/Redaksi_ILS ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!