Kamis, 17 April 2014 - 16 Jumadil Akhir 1435 H 16:56:13 WIB
METROPOLIS

Kiat Peternak Ayam Atasi Flu Burung

Beri Vitamin dan Desinfektan Setiap Pagi

Padang Ekspres • Jumat, 11/03/2011 21:09 WIB • Eka Rianto • 1573 klik

BERI MAKAN AYAM: Karyawan peternakan ayam  memberikan makanan pada ayam


Sejak merebaknya wabah flu burung, praktis membuat peternak kalang kabut. Tidak cermat dalam penanganan dan anstisipasinya, dalam sekejap ternak-ternak ayam di kota ini tersapu tsunami yang bernama flu burung itu. Bagaimana peternak ayam menyikapinya?


Bau kotoran ayam langsung menyergap hidung. Di bawah kandang model panggung itu, menumpuk kotoran ayam. Kandang berdinding anyaman bambu itu, dilapasi terpal berwarna orange.
Di kandang itu, terdapat ribuan ayam berbulu putih. Ayam-ayam itu baru saja diberi makan oleh pemiliknya. Kandang ayam yang terletak di Gunungnago ini, milik Anto. Pria berumur 30-an tahun ini telah mengelola peternakan ayam potong sejak tahun 1995 silam.


Anto memiliki tiga kandang ayam. Dua di antarnya terletak di Pisang. Setiap kandang memiliki kapasitas berbeda. Di Pisang, kapasitasnya sekitar 5 ribu ayam, sedangkan di Gunungnago mencapai 12 ribu ekor ayam sekali periode. Satu periode selama dua bulan. Sebulan untuk membesarkan ayam dan sebulan untuk sterilisasi kandang.
Jika ditotalkan sekali periode dengan tiga kandang, Anto bisa mengelola sekitar 30 ribu ekor ayam. Tapi kini, usahanya mulai tersendat sejak mewabahnya virus flu burung sebulan lalu.
Sedia payung sebelum hujan. Itulah prinsip Anto dalam mengantisipasi virus H5NI itu.


Selain mengikuti standar operasional prosedur pencegahan flu burung, ia telah menekan kontrak kerja dengan perusahaan penampung. “Jadi, saya hanya membesarkan ayam (plasma) itu dengan perjanjian pemasaran ayam akan diambil perusahaan tersebut. Bahkan harganya pun telah ditetapkan sebelum dipanen,” terang Anto.


Untuk periode ini, satu kilo ayam dipatok Rp14 ribu. Jika sekarang harga ayam turun drastis hingga Rp11 ribu per kg, usahanya tidak mengalami kerugian berarti. “Ambo hanyo rugi wakatu jo upah karajo karyawan, Diak. Biasonyo alun sampai sabulan ayam dipaliharo, ayam lah dipanen. Tapi panen patang ko, yo talambek babarapo hari. Sebab parusahaan takuik juo untuk panen sakali sadonyo. Kalau biasonyo di musim panen, sahari tu bisa mancapai 2 ribu ayam, kini ndak sampai sagitu lai,” ungkapnya pada Padang Ekspres di kandang ayamnya di Pisang, kemarin.


Anto menambahkan, jika terlambat panen tentu menambah biaya operasional untuk pakan dan pekerja. Berbeda dengan peternak mandiri (modal sendiri), merasakan betul dampak dari wabah flu burung.
Dari pengalamannya beternak ayam, modal untuk satu ekor ayam itu mencapai Rp12 ribu. Jika ayamnya sehat, berat ayam tersebut mencapai 1,5 kg per ekor. Jika harga ayam Rp11 ribu, tentu pengusaha mandiri akan kalang-kabut.


Kendati tidak berdampak besar pada usahanya, Anto tetap saja kelabakan karena bagaimanapun panennya akan terganggu. Jika satu tahun bisa panen lima atau enam kali, kini bisa-bisa hanya empat kali. Jumlah ayam yang dipelihara pun boleh jadi juga dikurangi pihak perusahaan.


Usaha peternakan ayam milik Anto, termasuk yang disiplin merawat kesehatan ayam-ayamnya. Ia rutin memberikan vaksinasi setiap hari, pada pukul 10.00. Begitu juga menyemprotkan desinfektan untuk membunuh virus atau bakteri, seperti flu burung ini. Untuk sekali semprot, bisa mencapai 30 liter untuk satu kandang.


Anto juga rajin memberikan ayamnya vitamin. Seperti menyuntik, ditetes dan melalui makanan dan minuman ayam. Jika masih saja ayam mati dikandang, itu bukan disebabkan virus. Tapi karena sesaknya udara atau bibit yang tidak bagus.


“Jiko dirato-ratoan, ayam yang mati tu ndak kalabiah dari dua persen. Biasonyo ayam tu mati dek dek ayam lain. Jadi kesehatan ayam lah dijamin, apo lai kami diawasi oleh perusahaan,” ungkapnya.
Untuk keuntungan, sebelum mengeluarkan biaya operasional seperti biaya pekerja dan biaya lainnya, diperkirakan satu ekor ayam yang siap panen bisa mencapai keuntungan Rp2 ribu. Karena itu, semakin banyak ayam dipelihara, semakin besar pula keuntungannya. (***)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!