Minggu, 20 April 2014 - 19 Jumadil Akhir 1435 H 22:50:53 WIB
RAKYAT SUMBAR

Diminati Dunia, Miskin Dukungan Daerah

Ketika Pendekar Bule Belajar Silek

Padang Ekspres • Sabtu, 24/08/2013 11:33 WIB • Yulicef Anthony • 1670 klik

Cormac MC, pesilat asal Finlandia, berduel dengan pesilat Sumbar.

Masyarakat Minang boleh berbangga, ilmu bela diri silek mendunia. Bila di negeri orang silek kian mendapat tempat di hati masyarakat dunia, di negeri asalnya malah meredup pamornya.

 

Matahari mulai con­dong ke ufuk barat. Namun , pria jangkung berkulit putih itu, masih bersemangat lati­han, Kamis (22/8). Pakaian ala “pendekar Minang” ser­ba­hitam, tak kunjung lepas dari badannya sejak pagi. Sesekali, ia menyerobot dan ngotot ingin ikut bermain alat musik talempong, gendang, puput bansi.

 

Tak lama berselang, Cor­mac MC, si bule asal Finlandia ini pun membaur dengan se­samanya di pojok posko pa­nitia, berdiskusi, dan ber­cengkerama dalam bahasa Inggris. Cormac MC sudah tiga hari berada di Talang Babungo mengikuti Minangkabau Silek Camp Festival dan Jambore International. Selama me­ngi­kuti iven ini, para pendekar bule ini diasuh pesilat asal Bukittinggi, Edwardo Guci.   

 

“Saya datang ke sini (Ta­la­ng Babungo) untuk menyak­sikan atraksi silat oleh para pen­dekar Minang, sekaligus mem­pe­lajarinya bila diizinkan. Sebab, silat tradisi Minangkabau terlihat cukup bagus, gayanya klasik,” ujar Cormac men­jawab Padang Ekspres, seusai pe­nutupan Festival Silat Mi­na­ng­kabau di Gelanggang Bunian, Ta­lang Babungo, Kabupaten Solok, Ka­mis (22/8).

 

Keinginan Cormac mempelajari silek tak main-main. Dia berangkat dari negaranya bermodalkan Rp 70 juta, demi mengunjungi sasana-sasana silat di Sumbar. Kegigihan Cormac berlatih silat, mulai mem­perlihatkan kemajuan.

 

Sekarang, pria mahir kick boxing itu, bisa mem­pe­ra­gakan jurus-jurus silek Mi­nang.

 

“Setelah beratraksi ber­sama puluhan pendekar lain­nya di sini, rencana kami juga akan bertandang ke sejumlah sasana silek di beberapa dae­rah di Sumbar. Saya mau kok menjadi pendekar Minang,” imbuh Cormac senang.

 

Lain lagi pandangan Joh­nny, pesilat asal London. Silat Minang mengasyikkan bagi­nya. Banyak hikmah bisa di­petik, di antaranya melatih kesabaran dan optimisme. Johnny bertekad mengajarkan silek pada anak-anak dan te­man-temannya di London. “Di negeri saya tidak ada silat, yang ada kick boxing, karatek, kung­fu, wushu. Makanya, saya ingin mempelajari seni bela diri tradisional asal Minang ini,” tutur Johnny.

 

Puncak pergelaran Festival Silek Minangkabau di Ga­lang­gang Aluang Bunian, Talang Ba­bungo ini berlangsung Ka­mis (22/8). Wajar, seluruh pendekar utusan dari berbagai perguruan silat se-Sumbar dan mancanegara menampilkan kebolehannya di atas pang­gu­ng. Seusai acara puncak, para pesilat dunia dan lokal ini anjangsana ke beberapa sa­sana silek di nagari-nagari di Kabupaten Solok. Kunjungan perdana, dipusatkan di tiga tempat sasana silek di Nagari Talang Babungo. Setelah itu, baru ke nagari lainnya.

 

Kunjungan ke sasana-sa­sana perguruan silat, menurut Ketua Panitia Jufrizal, ber­tujuan menjalin hubungan persaudaraan, sekaligus uji coba kebolehan pertanda ko­munitas silek Minang satu keluarga.

 

Kabupaten Solok sendiri memiliki 15 aliran silek. Se­luruhnya tergabung dalam silek langkah ampek, dan langkah duo. Seperti aliran silek kurambik di Sasana Silek Nagari Talang Babungo.

 

“Kami ingin menjadikan Na­gari Talang Babungo se­bagai Kampung Pendekar Mi­nangkabau, sehingga terlahir bibit-bibit baru untuk me­ng­hidupkan kembali marwah silek. Setelah sebelumnya, silat tradisi Minang kian meng­hilang hampir di seluruh dae­rah se-Sumbar,” tukas Jufrizal.

 

Selaku penggagas Mi­na­ng­kabau Silek Camp dan Festival Internasional, Jufrizal me­ngaku sempat berkecil hati. Sebab, jalannya festival nyaris tidak mendapat respons se­bagaimana diharapkan dari Pemkab Solok, Pemprov Sum­bar, serta dinas instansi terkait lainnya.

 

“Entah kenapa, acara ini berlangsung tanpa dukungan pemerintah. Sampai-sampai untuk menutupi rasa malu, 40 peserta di antaranya 15 dari Malaysia, 25 Thailand, ter­paksa ditolak. Jujur, acara ini gaungnya saja yang besar ber­kat dukungan teman-teman pers. Kenyataannya di la­pa­ngan, justru bertolak be­la­kang,” timpal Edwardo, pe­nga­suh silek asal Bu­kittinggi.

 

Meski serbaterbatas, iven Minangkabau Silek Camp dan Festival tetap dilangsungkan hingga 29 Agustus mendatang. “Kami bertekad, acara ini dija­dikan agenda tahunan,” pu­ngkas Edwardo.  (***)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!