Jum'at, 25 April 2014 - 24 Jumadil Akhir 1435 H 13:15:43 WIB
NASIONAL

Taufiq Kiemas, Datuk Basa Batuah Tutup Usia

Padang Ekspres • Minggu, 09/06/2013 03:35 WIB • Redaksi • 2800 klik

Almarhum Taufiq Kiemas

Jakarta, Padek—Politisi senior dikenal salah satunya lewat kelu­wesannya itu telah berpulang. Kemarin, sekitar pukul 19.05 waktu Singapura atau 18.05 WIB, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Taufiq Kiemas meninggal dunia di usia 70 tahun. TK—sapaan akrabnya—wafat setelah sempat menjalani pera­watan di Rumah Sakit Ge­neral Hospital Sin­gapura sejak be­berapa hari se­be­lumnya.

 

“Innalillahi wa Inna Ilaihi Ro­jiun, telah meninggal Bapak Taufiq Kiemas di Singapura,” ujar Tjahjo Kumolo, Sekretaris Jen­deral DPP PDIP di kediaman Taufiq, Jalan Teuku Umar, Ja­kar­ta, kemarin (8/6).

 

Taufik Kiemas lahir dari pa­sangan Tjik Agus Kiemas dan Hamzathoen Roesyda. Ayahnya berasal dari Sumatera Selatan, sedangkan ibunya seorang Mi­na­ngkabau. Ia merupakan peng­hulu kaum keluarga ibunya seo­rang Minangkabau. Ia me­ru­pa­kan penghulu kaum keluarga ibunya di Kenagarian Sabu, Bati­puh Ateh, Tanahdatar bergelar Datuk Basa Batuah.

 

Pagi ini, sekitar pukul 09.00 WIB, jenazah suami Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri tersebut direncanakan akan tiba di Halim Perdanakusumah Ja­karta. Jenazah almarhum yang lahir di Jakarta, 31 Desember 1942 itu rencana dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kali­bata Jakarta.

 

Tjahjo menyatakan bahwa Kiemas akhirnya diterbangkan ke negara tetangga itu setelah men­jalankan tugas negara di En­de, Nusa Tenggara Timur pada 1 Juni 2013 lalu. Yaitu, acara peri­nga­tan hari lahir Pancasila yang ketika itu juga dihadiri oleh Wakil Presiden Boediono. Usai acara, Taufiq merasa kelelahan, akhirnya diba­wa sang istri, Megawati Soe­kar­noputri berobat di Singapura.

 

Kabar meninggalnya man­tan aktivis GMNI yang sempat ta­hanan politik itu sangat men­dadak. Pada pagi hari ke­marin, Taufiq sempat dikabarkan telah meninggal. Kabar itu langsung dibantah oleh Tjahjo pada siang harinya. Menurut dia, pada Jumat (7/6) malam, kesehatan Taufiq berangsur pulih dan bisa sa­dar. “Beliau sempat sadar dan menyapa keluarga yang men­dampingi,” ujar Tjahjo.

 

Namun, pada sore harinya, nampaknya kesehatan Taufiq kembali memburuk. Upaya pemulihan terus dilakukan tim dokter. Hingga akhirnya yang bersangkutan dinyatakan me­ning­gal oleh tim dokter.

 

Tjahjo menyatakan, PDIP merasa kehilangan sosok yang gigih memperjuangkan pen­ting­nya pilar negara dan Pancasila. “Tentu sebagai partai kami me­rasa kehilangan. Beliau se­lama ini gigih memperjuangkan pilar negara dan pentingnya Pancasila selalu dia dengungkan selama ini,” ujarnya.

 

Tjahjo menyatakan, ber­sang­kutan memiliki dedikasi tinggi terhadap partai. Tercatat, tidak kurang dari lima periode kepengurusan, Taufiq terus total membesarkan PDIP. “Waktu 24 jam beliau curahkan untuk partai,” ujarnya.

 

Lantunan ayat suci atau tah­lilan kemarin malam ber­ku­mandang di kediaman Taufiq dan Mega. Sejumlah tamu se­ca­ra bergiliran nampak hadir di kediaman di kawasan Menteng nomor 27A itu. Selain Tjahjo, beberapa tamu yang pertama kali nampak adalah Wakil Sek­jen DPP PDIP Hasto Kristiyanto, Wakil Ketua MPR Hajriyanto Thohari, Wakil Ketua MPR Melani Leimena Suharli, po­liti­kus senior PDIP Sidharto Da­nusub­roto, politikus PDIP yang juga artis Sonny Tulung dan sejumlah famili.

 

Adik Mega yang juga putra bungsu mantan Presiden Soe­karno Guruh Soekarnoputra men­yatakan, Taufiq adalah sosok pejuang hingga akhir hayat. Taufiq selalu men­cur­ah­kan hidupnya demi urusan ba­ng­sa, bahkan sejak usia muda.

 

“Beliau dari muda istilahnya orang politik bahkan sampai sekarang. Pak Taufiq memang seorang aktivis,” ujarnya saat hadir sekitar pukul 20.30 WIB malam.

 

Menurut Guruh, sejatinya pihak keluarga sudah pernah menyarankan Taufiq Kiemas untuk pensiun dari kesi­bukan­nya. Kesibukan sebagai Ketua MPR sangat menguras fisik, mengingat usianya yang sudah menginjak 70 tahun dan riwayat sakit diderita. Informasi beredar di keluarga, Taufiq dilarang untuk kelelahan, karena akan mengganggu kesehatannya.

 

“Sebetulnya di usianya ini, keluarga pernah menyarankan sudah waktunya beliau beris­ti­rahat tetapi karena sampai sekarang beliau memegang jabatan sebagai Ketua MPR, ya tidak mungkin,” ujar Guruh.

 

Guruh menuturkan, ko­mu­nikasi terakhirnya dengan Tau­fiq terjadi saat Taufiq me­min­tanya menjadi perwakilan keluarga mantan Presiden Soe­karno pada acara peringatan hari lahir pancasila di Ende. Namun, Guruh tidak bisa hadir dalam acara terakhir yang dihadiri Taufiq itu. “Saat itu saya tidak bisa karena juga sedang sakit tipus,” kata Guruh.

 

Simpati dan ucapan bela­su­ngkawa seketika mengalir deras dari banyak tokoh tanah air. Bukan hanya dari kalangan keluarga besar PDI Perjuangan, ucapan kehilangan atas ke­pergian ketua dewan per­tim­ba­ngan pusat (Deperpu) DPP PDIP itu juga banyak datang dari berbagai pihak.

 

“Kami sangat kehilangan beliau, bangsa dan negara ini sungguh sangat kehilangan putra terbaiknya,” ucap Wakil Ketua MPR Hajrianto Tohari sesaat setelah kabarnya meni­nggal tersiar. Menurut dia, Kiemas adalah seorang pe­mim­pin politik senior terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini. Yang bersangkutan mampu me­nga­yomi semua golongan.

 

“Beliau selalu menjadi ruju­kan para politisi Indonesia dari partai politik manapun, apakah itu parpol berdasar agama atau nasionalis kebangsaan,” kata politisi Partai Golkar itu.

 

Hajriyanto menegaskan ka­lau Kiemas bukan hanya milik PDIP. Menurut dia, kepe­dulian­nya kepada Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tu­ng­gal Ika sangat mengesankan. “Untuk keempat pilar negara itu Pak Taufiq Kiemas siap mela­ku­kan apa saja, berkorban apa saja. Beliau tokoh besar Indonesia saat ini,” tandasnya.

 

Komitmen Taufiq terhadap empat pilar itu juga ditangkap sejawat lainnya sesama pim­pi­nan MPR Lukman Hakim Sai­fuddin. Menurut dia, atensi al­marhum terhadap sosialisasi 4 pilar yang saat ini lagi sedang terus gencar dilaksanakan MPR. “Hampir 2-3 hari sekali beliau mengontak saya via telepon hanya untuk memonitor pelak­sanaan program-program MPR, dan saya yakin semua itu dia lakukan tak hanya kepada saya, tapi juga kepada pimpinan MPR lainnya,” kata wakil ketua MPR dari PPP tersebut.

 

Rasa kehilangan juga disam­paikan Ketua DPR Mar­zuki Alie. “Yang tidak bisa kita lupakan juga dari almarhum adalah sosoknya yang egaliter, merak­yat, terbuka, tidak eksklusif, dialogis, dan senantiasa berpikir mencari jalan keluar yang kon­struktif ,” kata Marzuki.

 

Menurut politisi Partai De­mok­rat itu, cara berpikir Tau­fiq yang solutif itu bukan hanya sebatas ketika ada sebuah ke­bun­tuan politik. Tetapi, sudah banyak jalan-jalan keluar yang konstruktif yang telah dihasilkan yang bersangkutan untuk ke­baikan bangsa dan negara secara lebih luas.

 

Pengakuan atas kapasitas Taufiq di dunia politik juga me­luncur dari Anggota Badan Pe­meriksa Keuangan (BPK) Ali Masykur Musa. Menurut dia, yang bersangkutan adalah po­litisi ulung dan senior yang dihormati di internal PDIP dan disegani partai di luar PDIP. “Bagi politisi lintas partai, Pak TK juga mampu men­jadi peme­cah karang kebekuan politik, khususnya antara Bu Mega dengan Pak SBY selama ini, karena skenario beliau lah ke­dua­nya jadi beberapa kali ber­temu meski kelihatan kaku,” kata man­tan politisi PKB ter­sebut.

 

Khusus untuk kalangan NU, ketua umum Ikatan Sarjana NU itu, Taufiq juga dikenal sebagai politisi santun yang meng­hor­mati kiai. Khususnya, ala­mar­hum Gus Dur. “Bagi saya, yang saat itu sebagai politisi muda sering diajak bicara tentang perkembangan politik, jadi Pak TK adalah guru politik para politisi muda, sungguh sulit dicari pembanding politisi ulung seperti beliau,” imbuh Ali Mas­y­kur.

 

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya Taufiq Kiemas. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyebut almarhum sebagai santri, yang menjunjung nilai-nilai kesantunan dalam ber­politik.

 

“Pak Taufiq pernah umroh bareng dengan saya, haji juga bareng, dan saya tahu persis beliau fasih membaca Al Quran, salatnya juga rajin. Pantas jika beliau disebut santri yang taat beribadah,” kata Said Aqil.

 

Ketaatan beribadah yang bersangkutan juga terefleksi dalam politik yang dijalan­kan­nya. Di mata Said Aqil, dia termasuk dikenal sebagai politisi yang santun. “Sekarang ketika Bu Mega belum bisa sepenuhnya akur dengan Pak SBY, Pak Tau­fiq juga berkenan menjadi Ketua MPR RI, menjembatani, jadi penengah antara kepentingan par­tainya dengan pemerintah. Tidak semua politisi bisa seperti itu,” urainya.

 

Aspek kesantrian lain dari sosok Taufiq dalam berpolitik juga tercermin dari usulannya mendirikan Baitul Muslimin, sayap PDIP untuk mewadahi kader partai yang beragama Islam. “Ketika belum banyak partai politik memiliki sayap untuk kadernya yang Muslim, Pak Taufiq sudah mengusulkan dibentuknya Baitul Muslimin di PDIP. Itu luar biasa,” tandas peraih gelar doktor lulusan Universitas Ummur Qura’ Mekah itu.

 

Wapres Terbang ke Jakarta

 

Sementara itu, Mendagri Gamawan Fauzi punya kesan mendalam dengan Taufik Kie­mas Datuk Basa Batuah. Ia me­ngenal Taufik Kiemas sebagai seorang negarawan, berjiwa besar dan tidak suka men­ying­gu­ng orang lain.

 

Di sela-sela mendampingi Wapres Boediono di Padang kemarin (8/6), Gamawan Fauzi mengungkapkan duka men­da­lam atas kepergian Taufik Kie­mas. Bahkan, Gamawan ber­sa­ma Wapres Boediono, diin­for­masikan membatalkan berbagai acara di Padang yang sebe­nar­nya dijadwalkan hingga siang hari ini (9/6). “Besok pagi (pagi ini, red), saya sama pak Boe­dio­no rencananya balik ke Jakarta, mau melayat ke rumah al­mar­hum pak Taufik Kiemas,” kata Gamawan, tadi malam (8/6).

 

Mantan Gubernur Sumbar itu mengaku punya pengalaman yang dia sebut sebagai utang moral pada Taufik Kiemas. Hal itu berawal, ketika dia dica­lon­kan Partai Bulan Bintang (PBB) sebagai Gubernur Sumbar, tapi suara tidak cukup. Gamawan pun datang ke rumah tokoh PDIP itu.

 

“Ketika ketemu, beliau ta­nya, saya dengar Uda mau calon gubernur. Saya bilang rencana, tapi kursi PBB cuma 5, jadi tidak cukup. Lalu, langsung beliau bilang, sudah tambah saja de­ngan PDIP, nanti saya bilang ibuk (Megawati Soekarno Putri). Tidak sampai 10 menit ke­mu­dian, langsung beliau setujui. Karena beliau sudah kenal juga sebelumnya,” cerita Gamawan, kemarin.

 

Gamawan yang ketika itu berpasangan dengan Marlis Rahman pun terpilih pada pilka­da gubernur pertama yang di­pilih langsung oleh rakyat. Lalu, saat menjadi gubernur, Ga­ma­wan Fauzi menyampaikan en­dor­cement untuk pasangan SBY-Boediono di Bandung.

 

Gamawan Fauzi baru berte­mu kembali dengan Taufik Kie­mas saat terjadi bencana gempa di Sumbar tahun 2009. Taufik datang ke Sumbar. “Beliau tahu kalau saya sebelumnya men­yam­paikan endorcement untuk pak SBY.  Tapi, saat ketemu di Padang saat bencana gempa itu, beliau bilang saya tidak marah sama Uda kalau Uda jadi men­teri,” ungkap mantan Bupati Solok dua periode itu.

 

Saat menjadi Mendagri, kata Gamawan, Taufik Kiemas pun memberikan ucapan selamat. Keduanya juga sering bertemu  dalam berbagai acara. “Kalau ketemu di berbagai acara itu, sikap beliau tidak pernah beru­bah. Beliau orang yang baik, ber­jiwa besar dan tidak mau men­ying­gung orang,” kata Ga­ma­wan.

 

Di sisi lain, Ketua DPD RI Irman Gusman menyatakan rasa duka cita mendalam atas meninggalnya Ketua MPR RI, Taufiq Kiemas. “Indonesia ke­hila­ngan sosok bapak bangsa yang memiliki kepedulian ter­hadap NKRI dalam segala aspek kehidupan, baik itu dalam pe­nga­malan Pancasila, UUD 1945 dan semangat menjaga kedau­latan negara. Satu pendapat saya ten­tang almarhum, Taufik Kie­mas ya Empat Pilar  Kebang­saan,” kata Irman saat melayat di rumah duka. (jpnn/esg)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Menunda Akuisisi BTN

MASIH teringat dari layar TV, wajah Budi Gunadi Sadikin semringah sepekan lalu. Kegembiraan bos Bank Mandiri yang baru berumur 40 tahun itu disebabkan terwujudnya impian yang dia idam-idamkan sejak lama. Yakni, mem­bawa bank yang dipimpinnya menjadi salah satu bank yang patut diperhitungkan di kancah ASEAN.

Butuh Listrik

Yth. Bapak kepala PLN...Kapan kampung kami (Kabupaten Pessel, Kecamatan Sutera Kenagarian Koto Nan 3 Selatan) akan dialiri listrik, padahal kampung kami bukan kampung terpencil..kami sekampung sangat berharap perhatian dan tindak lanjut dari bapak. Atas perhtian Bapak kami skmpg mengucapkan terima kasih. Wassalam.

Jumat ,25 April 2014

Perempuan Berpeluang Pimpin DPRD

Agiah lo kesempatan yang baru-baru ko lai.............................!

 

Puluhan Hektare Sawah Terancam Gagal Panen

Jan sampai ndak panen lo Pak, ka kida suok beko...............................!

 

Korban Gigitan Musang Meninggal

Inalilallahi, awak ikuik baduka pak.................................................!