Minggu, 20 April 2014 - 19 Jumadil Akhir 1435 H 12:44:15 WIB
EKONOMI BISNIS

Utang Indonesia Menggunung

Tahun Ini Tambah Rp 390 Triliun

Padang Ekspres • Kamis, 06/06/2013 08:42 WIB • Redaksi • 470 klik

Jakarta, Padek—Merosot­nya penerimaan negara dan membengkaknya belanja mem­buat defisit APBN mem­bengkak. Pemerintah pun ha­rus menutupnya dengan utang. Wakil Menteri Keuang­a­n Mahendra Siregar menga­ta­kan, tahun ini pemerintah membutuhkan pinjaman un­tuk pembiayaan RAPBN Peru­bahan 2013 Rp 390 triliun. ”Defisit kita memang tinggi,” ujarnya kemarin (4/5).

 

Menurut Mahendra, meski rencana kenaikan harga BBM direalisasikan, kebutuhan sub­sidi BBM masih naik dari Rp 193,8 triliun menjadi Rp 209,9 triliun. Dengan begitu, total subsidi energi yakni BBM dan listrik menjadi Rp 358,2 tri­liun. ”Jadi kalau harga BBM tidak naik, beban subsidinya tambah besar,” katanya.

 

Dari segi kemampuan fis­kal, lanjut dia, Indonesia masih dapat membayar utang secara berkelanjutan. Namun, besar­nya beban subsidi membuat utang harus dialokasikan un­tuk sektor yang tidak produk­tif, yakni subsidi. ”Utang boleh saja, tapi alokasinya harus untuk kegiatan produktif se­perti pembiayaan proyek in­fras­truktur,” ucapnya.

 

Hingga Mei 2013, jumlah utang pemerintah sudah tem­bus Rp 2.023,72 triliun. Jum­lah itu naik dibandingkan po­sisi akhir 2012 Rp 1.975,42 tri­liun. Anggota Komisi XI DPR Arif Budimanta menye­but, dari Rp 390 triliun utang baru tersebut, Rp 341,7 triliun akan dilakukakan dengan me­ner­bitkan surat utang (obliga­si). ”Lalu Rp 49 triliun lainnya da­ri utang luar negeri,” ujar­nya.

 

Dengan utang tersebut, berarti 22,6 persen belanja dalam APBN Perubahan 2013 Rp 1.722 triliun akan dibiayai dengan utang. Dengan angka tersebut, kewajiban pem­baya­ran bunga utang dengan asum­si bunga 5 persen per tahun bakal mencapai Rp 17,5 triliun.

 

Di tempat terpisah, Men­teri Perdagangan Gita Wirja­wan mengatakan tahun ini Indonesia belum mampu keluar dari tekanan defisit neraca perdagangan bila harga BBM tidak segera dinaikkan. Jika harga BBM tidak naik, dia memperkirakan pada akhir tahun defisit neraca perda­gangan bisa USD 3 miliar (sekitar Rp 29,4 triliun).

 

”Kalau kondisinya masih seperti saat ini, hingga akhir tahun Indonesia akan terus defisit. Penyebabnya, nilai impor migas yang semakin mem­bengkak,” kata Gita di kantornya kemarin. Tahun lalu defisit neraca perdagangan ter­catat USD 1,56 miliar. Rin­cian­nya, defisit migas USD 5,6 mi­liar dan surplus nonmigas USD 4,41 miliar. Sedangkan periode Ja­nuari hingga April 2013 ter­catat defisit USD 1,85 miliar.

 

Selain impor migas mem­bengkak, Gita menyebutkan beberapa indikator yang me­nye­babkan defisit neraca per­dagangan. Salah satunya tren pe­rekonomian global yang ma­sih melemah. Pelemahan ter­se­but berdampak langsung ter­­hadap kinerja ekspor.  ”Ero­pa masih ada guncangan, se­dangkan AS tumbuh tipis tiga persen. Tiongkok juga masih mengalami perlambatan, bah­kan target pertumbuhan Tiong­kok diturunkan dari 7,5 persen menjadi 7 persen,” katanya.

 

Kendati defisit, yang masih melegakan Gita yakni neraca perdagangan nonmigas me­nunjukkan surplus. Selama periode Januari hingga April, eskpor nonmigas menun­juk­kan pertumbuhan signifikan. Beberapa komoditas yang ber­kontribusi terhadap pertum­buhan ekspor nonmigas yakni karet, sawit, batu bara, produk ki­mia, kertas, dan barang-ba­rang rajutan. Kendati demi­kian, Gita mengaku saat ini sedang berhati-hati terhadap impor barang modal yang te­rus naik.

 

Berdasar data Kemen­teri­an Perdagangan, sepuluh tu­juan ekspor terbesar yakni Tiongkok (USD 6,8 miliar), Jepang (USD 5,4 miliar), India (USD 5 miliar), Singapura (USD 4,4 miliar), dan Amerika Serikat (USD 3,8 miliar). Ke­mudian Korea Selatan (USD 2,5 miliar), Thailand (USD 1,8 miliar), Filipina (1,3 miliar), dan Taiwan (USD 1,3 miliar). Sepuluh negara itu berkon­tribusi 69,3 persen dari total ekspor non-migas. (owi/uma/oki/jpnn)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!