Rabu, 23 April 2014 - 22 Jumadil Akhir 1435 H 21:22:29 WIB
RAKYAT SUMBAR

Mangrove-Terumbu Karang Rusak

Prasjal Tarkim Tegur Kontraktor Jalan Mandeh

Padang Ekspres • Jumat, 31/05/2013 13:45 WIB • Redaksi • 394 klik

Pessel, Padek—Pemba­ngu­nan jalan Mandeh-Sungai Pi­nang-Su­ngai Pisang di Pesisir Selatan di­tuding menyebab­kan rusaknya hutan mangrove dan terumbu ka­rang di perai­ran tersebut. Sebab, tanah dan batu yang dipecah dari bukit itu langsung dibuang ke laut.

 

Akibatnya, mangrove dan te­rum­bu karang tertutup oleh tanah merah dan batu, air laut pun men­jadi keruh. Para pecin­ta lingkungan di kawasan Koto XI Tarusan me­min­ta pekerja proyek memper­hatikan lingkungan dan mem­per­baiki kerusakan.

 

Pantauan Padang Ekspres, pendangkalan pesisir pantai karena tertimbun tanah bukit terjadi di sekitar Nagari Setara. Jika kita masuk lokasi pem­bangunan jalan dari simpang Mandeh Resort, sekitar 2,5 km akan ditemui lokasi tersebut.

 

Terlihat beberapa pohon di tebing perbukitan terjatuh ke pantai. Tanah merah per­bu­kitan terus terkikis ke laut hingga menimbun mangrove dan terumbu karang. Padahal, mangrove dan terumbu karang itu dirawat oleh Pemuda Man­diri Cinta Bahari (PMCB) Koto XI Tarusan. 

 

“Jalan ini dibuat untuk menunjang pariwisata di ka­wa­san Mandeh dan sekitarnya. Nyatanya, malah merusak terumbu karang dan mangrove. Kalau seperti ini, usaha pelestarian yang kami lakukan sia-sia. Kami minta kontraktor untuk memperhatikan kelesta­rian lingkungan,” ujar Darpius, aktivis pecinta lingkungan yang tergabung dalam PMCB, ketika ditemui Padang Eks­pres di lokasi, Rabu (29/7).

 

Dia meminta kontraktor tidak ­membuang material se­enaknya. Sebab, jika hal itu terus dilakukan, masyarakat dapat menggugat pelaksana kegiatan. Hal itu diatur dalam Pasal 69 UU Nomor 27 Tahun 2007, menyebutkan, dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab pengelolaan wilayah Pesisir dan pulau-pulau kecil, organisasi kemasyarakatan berhak mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan.

 

Jika terbukti terjadi peng­ru­sakan mangrove dan terum­bu karang, pelaku dapat dihu­kum maksimal 10 tahun pen­jara atau denda maksimal Rp 10 miliar. “Jadi kami minta me­re­ka memperbaiki kerusakan yang telah mereka lakukan. Sudah bertahun-tahun kami merawatnya, sekarang dirusak seenaknya. Kalau sampai ma­sih ada kerusakan, kami akan menggugat mereka,” ujar salah seorang aktivis PMCB lainnya.

 

Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Dinas Pras­jal­tarkim Sumbar, Yunita me­nga­takan, pihaknya sudah memberikan teguran kepada kontraktor terkait pem­bua­ngan tanah dan material per­bukitan ke laut. Menu­rutnya, rekanan tersebut menyadari kesalahannya dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.

 

“Teguran tersebut dibuat se­cara tertulis agar tidak me­ngu­langi lagi,” terang Yunita. (ad)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Lokomotif tanpa Gerbong

KEPUTUSAN Ketua Umum Partai Persatuan Pem­ba­ngu­nan (PPP) Suryadharma Ali (SDA) berkoalisi dengan Partai Gerindra tanpa syarat, ternyata berbuntut panjang.

Belum Terima Elpiji

YTH bapak Wali Kota Padang yang baru. Kami warga RW 6, Guo Kuranji sampai sekarang belum menerima paket gas elpiji 3 Kg. Tolong di percepat karena minyak tanah harganya sudah naik.

Rabu ,23 April 2014

18 Caleg Incumbent Lolos

Agiah lo kesempatan yang baru-baru ko lai...........................!

 

Kepsek Pemukul Siswa jadi Tersangka

Proses sesuai hukum, Pak polisi...................................!

 

DPRD Pessel Diisi Wajah Baru

Lah tibo lo masonyo mah..............................!