Minggu, 20 April 2014 - 19 Jumadil Akhir 1435 H 22:51:38 WIB
BERITA DAERAH

Kota Bukittinggi

Minta Tolong dalam Mimpi, Pergi untuk Selamanya

Yul Hayati, Siswa SMK Genus Korban Ombak Pantai Gondoriah

Padang Ekspres • Berita Peristiwa • Sabtu, 11/05/2013 12:01 WIB • Edison Janis • 875 klik

Rumah duka Yul Hayati di Cingkariang Ateh

”Bang, tolong Yul naikkan ke atas Bang. Terimakasih ya, Bang”. Begitulah ungkapan Yul Hayati, 17, salah satu pelajar SMK Terpadu Gema Nusantara (SMK Genus) Bukittinggi yang tewas di Pantai Gondoriah, Pariaman, kepada teman kakaknya, Heru, 28, dalam mimpi beberapa hari sebelum kepergian korban untuk selamanya, Kamis (9/5).

 

Gadis yang pendiam, namun cu­kup berprestasi di sekolahnya itu, di­­kebumikan di kampung hala­man­nya Cingkariang Ateh, Jorong Cing­kariang, Kenagarian Cing­kariang, Kabupaten Banu­hampu, Ka­bupaten Agam, usai Jumat ke­marin, setelah dishalatkan pulu­han masyarakat di masjid yang tidak jauh dari rumahnya.

 

Saat pemakaman, bukan saja war­ga setempat yang terlibat, tapi juga pihak sekolah dan teman-te­man korban di sekolah, sehingga ke­tika jenazah hendak dimasukkan ke liang lahat suasana haru yang di­iringi isak tangis tidak bisa terben­dung. Agar suasana tidak semakin larut, ibu korban, Yas, 48, yang saat itu ikut menyaksikan pemakaman anak­nya, langsung dibimbing hing­ga ke rumah.

 

Di rumah, ternyata sejak jena­zah korban tiba pukul 23.45 WIB, Ka­­mis (9/5) masyarakat pun silih ber­­ganti berdatangan melakukan tak­­ziah ucapan belasungkawa hing­ga pukul 18.00 WIB, Jumat (10/5), termasuk Wali Kota Bukit­ting­gi, Ismet Amzis yang mengi­rim­kan karangan bunga. Pada umum­nya warga, guru dan teman korban yang datang, mengaku tidak me­nyang­ka kepergian korban secepat itu.

 

Innalillah Wainna Ilahi Ro­jiun. Kita juga akan ke sana. Kapan dan dimana tempatnya, Allah-lah yang mengetahui.” Begitu kalimat ja­waban yang didengar koran ini, ke­tika muncul pertanyaan kenapa kor­ban yang begitu masih muda dan sehat walafiat, pergi untuk selama-lamanya.

 

Mengingat rumah korban cu­kup sederhana dan kecil, masya­ra­kat yang melakukan takziah pun ha­r­us antre. Yang lelaki dilayani orang­tua lelaki korban, Anis, 50 dan pe­­rempuan dilayani orangtua pe­rempuan korban, Yas. Agar ke­dua pasangan yang mempunyai enam anak tersebut tidak larut da­lam ke­sedihan, pada umumnya mas­ya­r­akat yang melakukan tak­ziah, mem­­berikan siraman rohani kepa­da keduanya agar bersabar mene­rima musibah yang terjadi.

 

Anis mengatakan, baru perta­ma kali, Yul Hayati, diberikan izin untuk jalan-jalan bersama sekolah. Mulai SD hingga SMP dan SMK, Yun —panggilan akrab Yul Ha­yati— tidak pernah diizinkan jalan-jalan bersama sekolah. Tapi kali ini Yun bermohon agar diberikan izin ka­­rena sudah selesai ujian nasional (UN), sehingga kami memberikan izin. Namun kenyataannya, dia per­gi untuk selamanya,” ujarnya.

 

Ketika Yun pergi jalan-jalan, tam­bah Anis, dia pun mengantar­kan dari rumah hingga ke pinggir ja­lan raya dan naik kendaraan ang­kutan pedesaan (angdes) hing­ga sampai ke sekolah. “Sorenya sekitar pu­kul 17.00 WIB, saya menerima ka­bar dari gurunya, Yun pergi un­tuk selama-lamanya, sehingga saya dan keluarga sangat terenyuh,” jelasnya.

 

Teman dekat kakak korban Epi, Heru, mengatakan, beberapa hari se­belum kepergian korban  untuk se­lama-lamanya, dia bermimpi kor­ban minta tolong ketika menaiki tang­ga sebuah bangunan. Setelah saya tolong, korban langsung me­ngu­capkan terimakasih.

 

“Bang, tolong Yun naikkan ke atas Bang. Terimakasih ya, Bang. Be­gitulah ucapan Yun kepada saya da­lam mimpi. Ternyata mimpi ter­sebut memberikan makna bah­wa Yun akan pergi selama-lamanya,” ujar Heru yang mengaku begitu akrab dengan keluarga korban.

 

Eni, tetangga korban, menye­but­kan, korban sehari-hari dikenal pen­diam, penurut dan berprestasi di sekolah. Namun ketika korban hen­dak pergi jalan-jalan bersama se­kolah, orangtua korban tidak sang­gup melarang, karena diha­ruskan membayar uang jalan-jalan ikut atau tidak ikut.

 

“Dengan pertimbangan korban tidak pernah pergi jalan-jalan bersama sekolah sejak SD hingga SMK, dan diharuskan pula mem­ba­yarkan uang jalan-jalan, ikut atau ti­dak ikut, maka akhirnya orangtua kor­ban terpaksa memberikan izin. Tapi yang terjadi malah korban per­gi untuk selama-lamanya,” ujarnya sedih. 

 

Sementara korban Afdhal, juga dimakamkan kemarin, di rumah duka di Pandai Sikek Koto Baru, kecamatan X Koto, kabupaten Ta­nah Datar. Sama dengan pe­ma­­kaman Yul Hayati, pema­ka­man Afdhal juga diiringi isak tangis keluarga, guru, teman sekolah korban, kemarin (10/5). (***)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!