- 06:26 WIB
- 06:25 WIB
- 06:24 WIB
- 06:23 WIB
- 06:19 WIB
- 06:16 WIB
- 06:08 WIB
- 06:06 WIB
- 06:05 WIB
- 12:39 WIB
Kantong Budaya yang Menyentil Pemerintah Kota
Dari Festival Nan Jombang Tanggal 3
Padang Ekspres • Rabu, 06/03/2013 13:33 WIB • GANDA CIPTA • 396 klik

Kalau tidak hidup, saya akan mati dengan kesenian. Itu diucapkan koreogafer Sumbar, Ery Mefri, saat menceritakan perjuangan grup tarinya, Nan Jombang Dance Company yang telah mendunia di Ladang Nan Jombang, Rimbo Tarok, Kuranji, Padang, Minggu (3/3) malam. Saat itu, diadakan Festival Nan Jombang Tanggal 3.
SUDAH 30 tahun Ery Mefri memimpin Nan Jombang mengarungi dunia tari kontemporer. Mereka jalani kehidupan berkesenian dengan berbagai suka dan dukanya. Di antara rentang waktu yang tidaklah singkat tersebut, 25 tahun merupakan hari-hari yang melelahkan bagi Nan Jombang.
Namun sekitar tahun 2007, Ery Mefri dan Nan Jombang mendapat kesempatan untuk go international dengan dua karyanya, Sarikaik dan Ratok Piriang. Sejak saat itu, hingga kini tak terhitung lagi kota dan negara-negara di Australia, Eropa, dan Amerika yang telah mereka singgahi untuk mempertunjukkan karya-karya mereka.
Hanya saja, meski telah mendunia dia tidak lupa dengan akar tradisi yang dia miliki. Yakni, tradisi Minangkabau. Baginya, itulah yang membuat dia bisa mendunia, selain konsitensi, disiplin, kesungguhan, dan keyakinan dalam berkarya.
“Yang menjadikan saya seperti sekarang ini adalah tradisi Minangkabau. Asli tradisi. Di mana bapak saya penari tradisi dan ibu seorang penenun. Saya pun tidak pernah belajar di luar tradisi Minangkabau, seperti balet atau semacamnya. Saya juga tidak pernah sekolah ke luar negeri,” sebut nak rang Solok itu.
Sebagai bentuk tanda terima kasih terhadap seni tradisi Minangkabau yang telah memberikan banyak hal atas keberhasilannya sebagai seorang seniman tari, Ery Mefri pun menggagas sebuah kegiatan bulanan yang bertajuk Festival Nan Jombang Tanggal 3.
Bersama rekan-rekan seniman di Padang dan Sumbar umumnya, lalu didukung pula oleh budayawan, dan entrepreneur Sumbar, Ery berencana menggelar festival tersebut setiap bulan pada tanggal 3. Festival ini sebuah iven budaya, yang akan menampilkan berbagai seni tradisi Minangkabau, serta dilengkapi dengan berbagai seni modern atau kontemporer yang berkembang saat ini di Ladang Nan Jombang.
Untuk pertama kalinya Festival Nan Jombang Tanggal 3 itu dilaksanakan, Minggu (3/3) malam. Iven yang pertama ini menghadirkan seni tradi Saluang Dendang, yang dilengkapi dengan penampilan Pentassakral (musik puisi), kelompok musik teater Imam Bonjol Padang, serta pembacaan puisi oleh Esha Tegar Putra, Rahmi Septiari, dan Tya Setyawati.
Nan Jombang sendiri tidak mau ketinggalan menampilkan potongan karya tari mereka Tarian Malam dengan durasi 7,5 menit. Ratusan penonton yang tidak hanya dari kalangan seniman, terlihat menikmati pertunjukan demi pertunjukan yang disuguhkan.
Selain sebagai tanda terima kasih seorang Ery Mefri terhadap tradisi Minangkabau, Festival Nan Jombang Tanggal 3 berangkat dari keprihatinan akan minimnya ruang ekspresi di Minangkabau. Suku bangsa Minangkabau yang kaya dengan seni-budaya ini, ternyata tak punya iven budaya. Atau katakanlah festival yang berkesinambungan dengan pengelolaan yang serius.
Jika pun ada, kata ketua pelaksana festival tersebut, Nasrul Azwar, tak lebih dari sekadar proyek-proyek yang dikelola dinas-dinas pariwisata. Untuk itu, Nan Jombang mencoba mengisi celah yang kosong itu, dengan menaruh perhatian pada seni-seni tradisi Minangkabau.
Selain pertunjukan seni tradisi Minang, pada Festival Nan Jombang Tanggal 3 ini, juga akan diupayakan menghadirkan bincang-bincang dengan format diskusi grup bersama pelaku seni, maestro seni, aktivis budaya, wartawan, dan masyarakat umum. Yang tak kalah pentingnya dari kegiatan Nan Jombang tersebut adalah pendokumentasian kegiatan ataupun aktivitas yang dilakukan di Ladang Nan Jombang
“Upaya pendokumentasian adalah salah satu cara “penyelamatan” dari punahnya seni-seni tradisi itu, selain tentu saja ‘menurunkannya’ ke generasi muda,” kata Nasrul Azwar.
Eri Mefri menekankan, Sumbar dikenal sebagai gudangnya seni tradisi dan seniman di Indonesia. Tapi gudang tersebut tidak pernah terurus. Maka, apa yang dilakukan dengan Festival Nan Jombang Tanggal 3 adalah salah satu upaya untuk mengurus gudang tersebut dan melestarikan isi-isi yang ada di dalam gudang itu.
Niat kuat dan besar pun telah dipancangkan para seniman dan orang-orang yang telah mendukung adanya iven bulanan tersebut di Ladang Nan Jombang. Bagi mereka, apa pun yang terjadi, kegiatan ini akan dilakukan terus sesuai rencana, sampai mereka mampu melaksanakannya.
Penyelenggaraan perdana Festival Nan Jombang Tanggal 3 disambut baik dan repons positif dari berbagai kalangan.
Sastrawan Darman Moenir menyebut kegiatan ini sebagai sesuatu yang mencerahkan. Kantong kesenian Ladang Nan Jombang ini benar-benar baru untuk Padang dan Sumbar. Belum pernah ada sebelumnya.
Menurutnya, agar pertunjukan Festival Nan Jombang Tanggal 3 berkualitas, panitia memerlukan kurator. Ini tidak lepas dari nama Ery Mefri yang telah berlevel internasional dan perlu dipertahankan. “Ini sudah saya sampaikan kepada Ery. Bahwa perlu ada kurator untuk setiap cabang seni yang akan ditampilkan di sini (di Ladang Nan Jombang),” tutur penulis novel Bako itu.
Dia juga berpesan agar Festival Nan Jombang Tanggal 3 ini setia pada waktu. Bila dijadwal acara bermula pukul 20.00, mulailah tepat waktu. “Ada atau tidak ada penonton, bukanlah persoalan. Dengan tepat waktu itu, wibawa Festival Nan Jombang Tanggal 3 jadi tampak,” pesannya.
Di sisi lain, praktisi seni tradisi Minangkabau, Mak Katik berpendapat, Festival Nan Jombang Tanggal 3, adalah sebuah jawaban dari pandangan dunia luar akan seni tradisi Minangkabau, merupakan seni tradisi yang dekat dan lekat dengan alam.
“Ini hal yang luar biasa. Apalagi, jika ini betul-betul dilakukan setiap bulan. Di mana pada akhirnya, ini akan bisa membantu Padang dan Sumbar untuk mempromosikan kesenian Minang ke luar daerah, secara tidak langsung,” ujarnya.
Ke dalam, sambung Mak Katik, pastikan akan terjadi beberapa macam pembinaan-pembinaan terhadap anak nagari yang ada di sekitar Ladang Nan Jombang, semisal latihan silat, tari piriang dan sejumlah seni tradisi lainnya. Pada akhirnya, ini akan bisa menjadi kawasan wisata yang bisa dijual, kalau diurus dengan benar dan berkesinambungan.
Menurut Mak Katik, pemerintah Sumbar perlu membangun mental spiritual kebudayaan orang-orang di selingkar kantong-kantong kebudaayaan itu. Artinya, melakukan pembinaan dengan membuat buhul-buhul kesenian di setiap kelurahan, nagari, dan kecamatan.
“Seandainya pembinaan ini berhasil menghidupkan seni tradisi di setiap buhu-buhul tampil di kantong-kantong kebudayaan seperti Ladang Nan Jombang, harus dilakukan kuratorial,” tukas Mak Katik.
Dia pun berharap sekali melangkah Minggu malam lalu, hendaknya Nan Jombang tidak tertarung.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Padang, Mahyeldi Ansharulah yang juga hadir pada Festival Nan Jombang Tanggal 3 tersebut, mengaku merasa tersentil dengan langkah Ery Mefri dan kawan-kawan senimannya, serta entrepreneur Sumbar.
“Nah, kalau di sini diadakan setiap tanggal tiga, maka di rumah dinas wakil wali kota akan diadakan pula pagelaran seni tradisi setiap minggu ke tiga. Jadi, mari ramaikan kembali pertunjukan seni tradisi kita ini. Dan, kami sangat mengapresiasi sekali kegiatan Nan Jombang ini,” ujarnya. (***)
[ Red/Administrator ]
Tak Lulus UN, bukan Berarti Kiamat
Kabar gembira bagi Sumbar. Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA sederajat tahun ini, meningkat dibanding tahun lalu. Hanya 230 dari 68.045 peserta yang dinyatakan gagal. Secara nasional, tercatat 8.851 siswa dinyatakan tidak lulus atau persentase kelulusan UN menurun 0,02 persen dibandingkan tahun lalu. Beruntung, persentase kelulusan siswa SLTA di Sumbar mengalami peningkatan 0,32 persen dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu kelulusan 99,40 persen, kini menembus angka 99,72 persen.
![]()
Kepada Yth Manager Pertamina unit pemasaran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.
Konvoi-Coret Baju Sulit Dibendung
Anak didik kini mada-mada..................!
Lagi, Bukittinggi Terbaik Sumbar
Lai ndak adoh nan coret baju..................?
Nilai UN masih Meragukan
Baa baitu, caliak kunci tu.............................?