Minggu, 26 Mei 2013 - 16 Rajab 1434 H 08:38:01 WIB
RAKYAT SUMBAR

Kantong Budaya yang Menyentil Pemerintah Kota

Dari Festival Nan Jombang Tanggal 3

Padang Ekspres • Rabu, 06/03/2013 13:33 WIB • GANDA CIPTA • 396 klik

Tarian Malam karya Ery Mefri ditampilkan di Festival Nan Jombang Tanggal 3.

Kalau tidak hidup, saya akan mati dengan kesenian. Itu diucapkan koreogafer Sumbar, Ery Mefri, saat menceritakan perjuangan grup tarinya, Nan Jombang Dance Company yang telah mendunia di Ladang Nan Jombang, Rimbo Tarok, Kuranji, Padang, Minggu (3/3) malam. Saat itu, diadakan Festival Nan Jombang Tanggal 3.

 

SUDAH 30 tahun Ery Mefri me­mimpin Nan Jombang mengarungi dunia tari kontemporer. Mereka jalani kehidupan berkesenian dengan ber­bagai suka dan dukanya. Di antara rentang waktu yang tidaklah singkat tersebut, 25 tahun merupakan hari-hari yang melelahkan bagi Nan Jombang.

 

Namun sekitar tahun 2007, Ery Mefri dan Nan Jombang mendapat kesempatan untuk go international dengan dua karyanya, Sarikaik dan Ratok Piriang. Sejak saat itu, hingga kini tak terhitung lagi kota dan negara-negara di Australia, Eropa, dan Amerika yang telah mereka singgahi untuk mempertunjukkan karya-karya mereka.

 

Hanya saja, meski telah mendunia dia tidak lupa de­ngan akar tradisi yang dia miliki. Yakni, tradisi Minang­kabau. Baginya, itulah yang membuat dia bisa mendunia, selain konsitensi, disiplin, kesungguhan, dan keyakinan dalam berkarya.

 

“Yang menjadikan saya seperti sekarang ini adalah tradisi Minangkabau. Asli tra­disi. Di mana bapak saya pe­nari tradisi dan ibu seorang penenun. Saya pun tidak per­nah belajar di luar tradisi Minangkabau, seperti balet atau semacamnya. Saya juga tidak pernah sekolah ke luar negeri,” sebut nak rang Solok itu.

 

Sebagai bentuk tanda teri­ma kasih terhadap seni tradisi Minangkabau yang telah mem­berikan banyak hal atas keberhasilannya sebagai se­orang seniman tari, Ery Mefri pun menggagas sebuah kegia­tan bulanan yang ber­tajuk Festival Nan Jombang Tanggal 3.

 

Bersama rekan-rekan seni­man di Padang dan Sumbar umumnya, lalu didukung pula oleh budayawan, dan entrepreneur Sumbar, Ery beren­cana menggelar festival terse­but setiap bulan pada tanggal 3. Festival ini sebuah iven budaya, yang akan menamp­il­kan berbagai seni tradisi Mi­nangkabau, serta dilengkapi dengan berbagai seni modern atau kontemporer yang ber­kem­bang saat ini di Ladang Nan Jombang.

 

Untuk pertama kalinya Festival Nan Jombang Tanggal 3 itu dilaksanakan, Minggu (3/3) malam. Iven yang pertama ini menghadirkan seni tradi Saluang Dendang, yang dileng­kapi dengan penampilan Pen­tas­sakral (musik puisi), ke­lompok musik teater Imam Bonjol Padang, serta pem­bacaan puisi oleh Esha Tegar Putra, Rahmi Septiari, dan Tya Setyawati.

 

Nan Jombang sendiri tidak mau ketinggalan menam­pil­kan potongan karya tari me­reka Tarian Malam dengan durasi 7,5 menit. Ratusan penonton yang tidak hanya dari kalangan seniman, terlihat menikmati pertunjukan demi pertunjukan yang disuguhkan.

 

Selain sebagai tanda terima kasih seorang Ery Mefri terha­dap tradisi Minangkabau, Festival Nan Jombang Tanggal 3 berangkat dari keprihatinan akan minimnya ruang ekspresi di Minangkabau. Suku bangsa Minangkabau yang kaya de­ngan seni-budaya ini, ternyata tak punya iven budaya. Atau katakanlah festival yang ber­kesinambungan dengan pe­ngelolaan yang serius.

 

Jika pun ada, kata ketua pelaksana festival tersebut, Nasrul Azwar, tak lebih dari sekadar proyek-proyek yang dikelola dinas-dinas pari­wisa­ta. Untuk itu, Nan Jombang mencoba mengisi celah yang kosong itu, dengan menaruh perhatian pada seni-seni tra­disi Minangkabau.

 

Selain pertunjukan seni tradisi Minang, pada Festival Nan Jombang Tanggal 3 ini, juga akan diupayakan meng­hadirkan bincang-bincang dengan format diskusi grup bersama pelaku seni, maestro seni, aktivis budaya, wartawan, dan masyarakat umum. Yang tak kalah pentingnya dari kegiatan Nan Jombang terse­but adalah pendokumentasian kegiatan ataupun aktivitas yang dilakukan di Ladang Nan Jombang

 

“Upaya pendokumentasian adalah salah satu cara “pe­nyelamatan” dari punahnya seni-seni tradisi itu, selain tentu saja ‘menurunkannya’ ke generasi muda,” kata Nasrul Azwar.

 

Eri Mefri menekankan, Sumbar dikenal sebagai gu­dang­nya seni tradisi dan se­niman di Indonesia. Tapi gu­dang tersebut tidak pernah terurus. Maka, apa yang dila­kukan dengan Festival Nan Jombang Tanggal 3 adalah salah satu upaya untuk me­ngurus gudang tersebut dan melestarikan isi-isi yang ada di dalam gudang itu.

 

Niat kuat dan besar pun telah dipancangkan para seni­man dan orang-orang yang telah mendukung adanya iven bulanan tersebut di Ladang Nan Jombang. Bagi mereka, apa pun yang terjadi, kegiatan ini akan dilakukan terus sesuai rencana, sampai mereka mam­pu melaksanakannya.

 

Penyelenggaraan perdana Festival Nan Jombang Tanggal 3 disambut baik dan repons positif dari berbagai kalangan.

 

Sastrawan Darman Moenir menyebut kegiatan ini sebagai sesuatu yang mencerahkan. Kantong kesenian Ladang Nan Jombang ini benar-benar baru untuk Padang dan Sumbar. Belum pernah ada sebelum­nya.

 

Menurutnya, agar pertun­jukan Festival Nan Jombang Tanggal 3 berkualitas, panitia memerlukan kurator. Ini tidak lepas dari nama Ery Mefri yang telah berlevel internasional dan perlu dipertahankan. “Ini sudah saya sampaikan kepada Ery. Bahwa perlu ada kurator untuk setiap cabang seni yang akan ditampilkan di sini (di Ladang Nan Jombang),” tutur penulis novel Bako itu.

 

Dia juga berpesan agar Festival Nan Jombang Tanggal 3 ini setia pada waktu. Bila dijad­wal acara bermula pukul 20.00, mulailah tepat waktu. “Ada atau tidak ada penonton, bukanlah persoalan. Dengan tepat waktu itu, wibawa Festival Nan Jombang Tanggal 3 jadi tampak,” pesannya.

Di sisi lain, praktisi seni tradisi Minangkabau, Mak Katik berpendapat, Festival Nan Jombang Tanggal 3, ada­lah sebuah jawaban dari pan­dangan dunia luar akan seni tradisi Minangkabau, meru­pakan seni tradisi yang dekat dan lekat dengan alam.

 

“Ini hal yang luar biasa. Apalagi, jika ini betul-betul dilakukan setiap bulan. Di mana pada akhirnya, ini akan bisa membantu Padang dan Sumbar untuk mempro­mosi­kan kesenian Minang ke luar daerah, secara tidak langsung,” ujarnya.

 

Ke dalam, sambung Mak Katik, pastikan akan terjadi beberapa macam pembinaan-pembinaan terhadap anak nagari yang ada di sekitar Ladang Nan Jombang, semisal latihan silat, tari piriang dan sejumlah seni tradisi lainnya. Pada akhirnya, ini akan bisa menjadi kawasan wisata yang bisa dijual, kalau diurus de­ngan benar dan berke­sinam­bungan.

 

Menurut Mak Katik, pe­merintah Sumbar perlu mem­bangun mental spiritual kebu­dayaan orang-orang di se­lingkar kantong-kantong ke­budaayaan itu. Artinya, me­laku­kan pembinaan dengan membuat buhul-buhul kese­nian di setiap kelurahan, na­gari, dan kecamatan.

 

“Seandainya pembinaan ini berhasil menghidupkan seni tradisi di setiap buhu-buhul tampil di kantong-kan­tong kebudayaan seperti La­dang Nan Jombang, harus dilakukan kuratorial,” tukas Mak Katik.

 

Dia pun berharap sekali melangkah Minggu malam lalu, hendaknya Nan Jombang tidak tertarung.

 

Sementara itu, Wakil Wali Kota Padang, Mahyeldi An­sharulah yang juga hadir pada Festival Nan Jombang Tanggal 3 tersebut, mengaku merasa tersentil dengan langkah Ery Mefri dan kawan-kawan seni­mannya, serta entrepreneur Sumbar.

 

“Nah, kalau di sini di­ada­kan setiap tanggal tiga, maka di rumah dinas wakil wali kota akan diadakan pula pagelaran seni tradisi setiap minggu ke tiga. Jadi, mari ramaikan kem­bali per­tun­jukan seni tradisi kita ini. Dan, kami sangat mengapresiasi sekali kegiatan Nan Jombang ini,” ujarnya. (***)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Tak Lulus UN, bukan Berarti Kiamat

Kabar gembira bagi Sumbar. Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA sederajat tahun ini, meningkat dibanding tahun lalu. Hanya 230 dari 68.045 peserta yang dinyatakan gagal. Secara nasional, tercatat 8.851 siswa dinyatakan tidak lulus atau persentase kelulusan UN menurun 0,02 persen dibandingkan tahun lalu. Beruntung, persentase kelulusan siswa SLTA di Sumbar mengalami peningkatan 0,32 persen dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu kelulusan 99,40 persen, kini menembus angka 99,72 persen.

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Sabtu, 25 Mei 2013

Konvoi-Coret Baju Sulit Dibendung

Anak didik kini mada-mada..................!

 

Lagi, Bukittinggi Terbaik Sumbar

Lai ndak adoh nan coret baju..................?

 

Nilai UN masih Meragukan

Baa baitu, caliak kunci  tu.............................?