- 14:22 WIB
- 14:21 WIB
- 14:21 WIB
- 14:17 WIB
- 14:19 WIB
- 14:18 WIB
- 14:17 WIB
- 14:16 WIB
- 14:16 WIB
- 13:30 WIB
Truk Barang Buru Solar
Subsidi di Padangpanjang
Padang Ekspres • Rabu, 06/03/2013 13:32 WIB • • 266 klik
SEJAK diberlakukannya Permen ESDM No 1 Tahun 2013 yang melarang pembelian solar subsidi terhadap kendaraan pengangkut hasil perkebunan, pertambangan dan kehutanan memicu meningkatnya penjualan solar di Padangpanjang dan sekitarnya. Sebab, banyak truk dari daerah lain sengaja membeli solar ke Padangpanjang yang belum menyediakan solar nonsubsidi.
SPBU 14-271-536 Ngalau, misalnya, hingga kemarin masih terjadi antrean panjang truk. “Suplai solar tetap, permintaan yang bertambah. Makanya kami harus membatasi maksimal Rp 200 ribu masing-masing truk dan 2 jeriken bagi pembeli eceran kebutuhan usaha penggilingan padi,” ungkap Kepala SPBU, Fhilipus T kepada Padang Ekspres, kemarin (5/3).
Hingga kini SPBU Ngalau belum menyediakan solar nonsubsidi karena keterbatasan lahan dan mesin pompa.
“Lagian Kota Padangpanjang bukan perlintasan angkutan industri dan hasil perkebunan, sehingga solar nonsubsidi belum mendesak benar. Kelangkaan solar terjadi karena sejumlah truk, bus dan mobil berat entah dari mana, mengisi solar di sini,” ungkapnya.
Sementara Kepala SPBU 14-271-528 PT Anam Sianseto di Kecamatan X Koto, Muchtar menegaskan tidak melayani pembelian solar dengan jeriken, terkecuali usaha penggilingan padi.
“SPBU ini berada di pinggir jalan lintas Padangpanjang-Bukittinggi yang padat kendaraan, baik solar maupun premium. Sehingga jika suplai BBM macet, maka dalam sekejap terjadi antrean panjang. Karena itu kita menerapkan sistem pembatasan penjualan dan larangan pengisian jeriken,” tegas Muchtar.
Terkait suplai solar, Muchtar mengaku tiga hari belakangan mendapat pasokan lebih dari biasanya. Dari 14 ton per tiga hari, naik jadi 28 ton sejak 3-4 Maret. Atau mendapat pasokan 14 ton setiap hari selama dua hari berturut-turut.
Sama halnya SPBU Ngalau, Muchtar juga belum menyediakan solar nonsubsidi mengingat daerahnya bukan jalur lintasan truk Padang-Padangpanjang-Bukittinggi.
“Karena itu kami lebih memilih menyiapkan pertamax. Meski mesinnya belum beroperasi, layanan pertamax untuk mobil dinas sudah dilakukan dengan sistem literan. Kini mobil dinas Pemko Padangpanjang telah mengisi di sini sejak 1 Maret dengan tarif Rp 11.400 per liter. Kita menerapkan sistem kupon mengingat harga pertamax yang kerap berubah,” tambahnya. (wrd)
[ Red/Administrator ]
DARAH sudah muncrat. Demonstrasi yang mengiringi kenaikan harga BBM telah mengakibatkan beberapa orang dari kalangan pendemo, polisi, dan wartawan luka. Ini tentu menyedihkan. Yang lebih menyedihkan, mengapa bangsa kita tak jua bisa lepas dari ”ritual menyakitkan” seperti ini. Dari waktu ke waktu, selalu terjadi trilogi maut: kenaikan harga BBM-pertengkaran politik-demo keras. Ketika para pemangku kepentingan sibuk bertikai, harga barang lain sudah menyelinap naik.
Assalamualaikum wr wb, yth pimpinan RS M Djamil, sekadar masukan demi memajukan M Djamil. Kami baru pulang dari Jakarta dan HD kebetulan di RSCM Pusat kami rasakan disana layanan sangat bagus, perawatnya ramah-ramah, mereka diajarkan ilmu psikologi untuk melayani pasien tidak seperti di M Djamil yang perawatnya tidak familiar, terutama yang berinisial D, amat kasar mulutnya sama pasien. Jadi kalau masih tetap begini pelayanan M Djamil kami yakin tidak akan dapat untuk menjadi status layanan internasional. Semoga para pimpinan memperhatikannya. Wasaallam pasien HD, Selasa-Jumat CC Ibu kepala Dinkes Sumbar
Siswa Luar Serbu Padang
Batambah macet Padang mah.....................................!
Angin Ribut Landa Solok
Hati-hati beko talendo..........................!
Hanya 67 Persen Nikmati Air Bersih
Lai ndak sakik diare salabiahnyo tu..........................................?