Rabu, 19 Juni 2013 - 10 Sya'ban 1434 H 13:41:18 WIB
PRO SUMBAR

Berpacu Beli Solar, 3 Bersaudara Tewas

Padang Ekspres • Rabu, 06/03/2013 11:26 WIB • • 1015 klik

Kondisi mobil Mitsubishi Pikup Nopol BA 8312 CM pasca kecelakaan

Limapuluh Kota, Padek—Tiga kakak beradik tewas setelah mobil yang mereka gunakan untuk membeli solar, menabrak pagar Madrasah Aliyah Swasta Yapiguna Guguak di KM 11 Jalan Tan Malaka Payakumbuh-Guguk, Kabupaten Limapuluh Kota, Selasa (5/5) dini hari.

 

Ketiga korban adalah Fir­man MZ, 31, Daus MZ,  28, dan Taufik Hidayat alias Dayat MZ, 26. Mereka putra pasangan Muhammad Zaini dan Yurnianti yang tinggal di Paloguntuang, Jorong Tanjuangjati, Nagari VII Koto Talago, Kecamatan Gu­guak.

 

Polisi meyakini ketiga ber­sau­dara itu meninggal dalam kecelakaan tunggal atau tidak melibatkan kendaraan lain. “Kendati demikian, kami tetap melakukan penyelidikan,” kata Kapolres Limapuluh Kota AKBP Partomo Iriananto didampingi Kasat Lantas AKP Agustober kepada Padang Ekspres, Selasa siang.

 

Informasi yang dihimpun Padang Ekspres menyebutkan, kecelakaan ini bermula saat Firman MZ yang bekerja di sebuah usaha peternakan ayam milik Haji Yon, berniat membeli solar untuk kebutuhan mesin pengolah pakan ternak dan rice milling sekitar pukul 02.30 WIB.

 

“Karena sejak beberapa hari terakhir solar sangat sulit dida­patkan, Uda terpaksa menda­tangi SPBU tengah malam. Sebelum berangkat ke SPBU, Uda pamit kepada saya,” kata Nurmaesi alias Esi, 30, istri Firman yang tinggal di belakang Balai Talago, Nagari Guguak VII Koto Talago.

 

Esi mengatakan, saat Fir­man pamit membeli solar ke SPBU Tabekpanjang, Nagari Kotobaru Simalanggang, dia sempat melarang. “Saya mela­rang karena hari sudah malam. Tapi Uda tetap semangat karena menurutnya, pasokan solar di SPBU masih banyak,” cerita ibu satu anak itu.

 

Setelah pamit kepada sang istri, Firman yang menge­mudi­kan pick-up Colt T 120 SS de­ngan nomor polisi BA 8312 CM, langsung menjemput Daus dan Dayat. Kedua adiknya itu dijem­put Firman ke rumah orang­tuanya di Paloguntuang, Jorong Tanjuangjati, Nagari VII Koto Talago.

 

“Saat menjemput Daus dan Dayat, Firman tidak masuk ke rumah. Dia hanya menunggu dari mobil. Begitu Daus dan Dayat minta izin sama saya, mereka langsung berangkat,” ucap Yurnianti, ibu kandung Firman yang ditemui Padang Ekspres di rumah duka, Selasa sore.

 

Setelah berangkat dari Tan­juangjati menuju SPBU Tabek­panjang yang berjarak sekitar 10 km, Firman diperkirakan me­ngemudi dengan kecepatan tinggi. “Sepertinya, mereka ngebut karena takut kehabisan solar,” kata Kasubag Humas Polres Limapuluh Kota Ipda Zulkarnaini.

 

Firman diduga tidak bisa mengendalikan mobil saat bera­da di KM 11 Jalan Tan Malaka, persisnya di depan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Dini­yah Awaliyah (MDA) dan Mad­ra­sah Aliyah Swasta (MAS) yang dikelola Yayasan Pendidikan Islam Guguak Bona (Yapiguna).

 

“Kami memperkirakan, saat berada di depan madrasah milik Yapiguna, pengemudi menge­rem mendadak mobilnya, se­hingga terpental ke pagar tem­bok sekolah agama tersebut. Atau bisa jadi juga, pengemudi mengantuk dan jalan ditutup kabut, sehingga tidak melihat pagar di depannya,” kata AKBP Partomo Iriananto.

 

Tidak ada saksi mata yang melihat terjadinya kecelakaan. Bahkan, satu-satunya keluarga yang tinggal di samping MAS Yapiguna Guguak, tidak tahu persis seperti apa kecelakaan itu terjadi. “Sekitar jam sete­ngah tiga, saya mendengar dentuman keras. Karena kaget, saya bersa­ma anak mengintip dari jendela. Kami heran, kok ada mobil menghadap ke ru­mah saya, di­biarkan hidup mesinnya, tapi de­pannya han­cur. Saya pikir, mo­bil siapa pula ini,”  kata seorang perem­puan yang tinggal di sam­ping MAS Yapiguna Guguak.

 

Lantaran penasaran, perem­puan yang tidak ingin identi­tasnya ditulis itu membuka pintu rumahnya. “Tidak lama, saya melihat, orang-orang sudah ramai di samping rumah, dekat pagar MAS Yapiguna. Rupanya, ada tiga mayat terbujur di sana. Tapi mayat baru dibawa ke puskesmas sekitar pukul 04.30,” kata perempuan yang rumahnya persis di depan SDN 03 Guguak VIII Koto tersebut.

 

Soal jenazah yang baru di­evakua­si sekitar 2 jam setelah kecelakaan, Padang Ekspres juga mendapat informasi dari seorang warga Guguak, Dt Sati. “Ya, jenazah memang agak lam­bat dievakuasi karena terlambat diketahui dan harus menunggu ambulans,” kata Datuak Sati.

 

Ketiga jenazah dima­kam­kam dalam satu liang lahat di pandam pekuburan milik ke­luar­ga di kawasan Tanjuangjati. Sampai kemarin sore, mobil nahas yang mengangkut ketiga saudara masih dibiarkan berada di TKP, dengan ditutupi terpal. Sehingga menjadi tontonan bagi ribuan masyarakat dan pe­nge­mudi kendaraan yang lewat di tempat tersebut.

 

“Di tempat ini memang se­ring terjadi kecelakaan lalu-lintas. Sekali enam bulan, pasti ada saja kendaraan yang terlibat kecelakaan di sini. Selain jalan­nya lurus, di kanan-kiri juga terdapat sekolah,” kata Joni Amir, seorang warga yang dite­mui Padang Ekspres, di tempat kejadian. (frv)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Masokisme Politik BBM

DARAH sudah muncrat. Demonstrasi yang me­ngi­ringi kenaikan harga BBM telah mengakibatkan beberapa orang dari kalangan pendemo, polisi, dan wartawan luka. Ini tentu menyedihkan. Yang lebih menyedihkan, mengapa bangsa kita tak jua bisa lepas dari ”ritual menyakitkan” seperti ini. Dari waktu ke waktu, selalu terjadi trilogi maut: kenaikan harga BBM-pertengkaran politik-demo keras. Ketika para pemangku kepentingan sibuk bertikai, harga barang lain sudah menyelinap naik.

Perawat tak Familiar

-

Assalamualaikum wr wb, yth pimpinan RS M Djamil, sekadar masukan demi memajukan M Djamil. Kami baru pulang dari Jakarta dan HD kebetulan di RSCM Pusat kami rasakan disana layanan sangat bagus, perawatnya ramah-ramah, mereka diajarkan ilmu psikologi untuk melayani pasien tidak seperti di M Djamil yang perawatnya tidak familiar, terutama yang berinisial D, amat kasar mulutnya sama pasien. Jadi kalau masih tetap begini pelayanan M Djamil kami yakin tidak akan dapat untuk menjadi status layanan internasional. Semoga para pimpinan memperhatikannya. Wasaallam pasien HD, Selasa-Jumat CC Ibu kepala Dinkes Sumbar

Selasa, 18 Juni 2013

PPS Rawan Diintervensi

Paralu dijago bana tu.........................!


Sumbar Kecipratan Rp48 M

Lai ndak digigik mancik pulo beko tu....!


Tower Tumbang, Listrik Padam

Apo dek itu lampu acok mati kini...............?