Sabtu, 25 Mei 2013 - 15 Rajab 1434 H 14:34:57 WIB
INTERNASIONAL

Malaysia Gelar Serangan Fajar

Gerilyawan Sulu Terdesak ke Pantai

Padang Ekspres • Rabu, 06/03/2013 11:04 WIB • • 1371 klik

Tentara Malaysia bersiap naik helikopter untuk menyerang gerilyawan Kesultanan S

Lahad Datu, Padek—Pertempuran antara pasukan Malaysia dan gerilyawan Kesultanan Sulu asal Filipina benar-benar tidak seimbang. Untuk meng­hadapi kelompok bersenjata yang tak sampai 300 orang, Malaysia menge­rahkan tujuh batalyon tentara (sekitar 7.000 personel) yang mulai menyerbu dini hari kemarin. Serangan itu juga didukung kendaraan lapis baja dan jet-jet tempur dari udara.

 

Pesawat tempur Malaysia mulai meraung-raung di angkasa sebelum pukul 07.00 waktu Sabah melakukan serangan besar ke Kampung Tanduo, Lahad Datu. Dimulai dengan serangan bom dari jet tempur F-18 dan disusul dengan pesawat Hawk. Untuk mem­bor­bardir gerilyawan Sulu, Angkatan Uda­ra Malaysia mengerahkan tiga pesawat F-18 dan lima Hawk.

 

Tak hanya dari udara, bom­bardir juga diikuti tembakan artileri dari darat.

 

Saking dahsyatnya, ledakan terdengar hingga 20 km dari kampung Tanduo. Setelah gem­puran udara usai, disusul sera­ngan darat dari pasukan ko­mando Malaysia VAT-69 dan tentara gabungan. Warga setem­pat melihat beberapa truk mi­liter dan kendaraan lapis baja terlihat menyisir desa mulai pukul 08.30. Serangan darat itu dilakukan untuk melokalisasi para gerilyawan supaya mundur ke tepian pantai timur Sabah tempat di mana mereka men­darat 11 Februari lalu.

 

Kepala Polisi Malaysia Ins­pek­tur Jenderal Tan Sri Omar Ismail menjelaskan, serangan berhasil memukul mundur para penyusup keturunan Kesul­tanan Sulu itu. “Tidak ada kor­ban dari pihak Malaysia,” ujar­nya dalam jumpa pers di ka­wasan Felda Sahabat Lahad Datu kemarin.

 

Setelah serangan udara, lanjut dia, aparat keamanan Malaysia sekarang melakukan penyisiran dan pencarian dari rumah ke rumah di kampung Tanduo. Dia belum memastikan apakah ada korban dari pihak penyusup Sulu. Menurut dia, operasi di Kampung Tanduo belum berakhir. “Kami hendak memastikan bahwa kondisi keamanan di Sabah terkawal (terjaga) dan menegakkan mar­wah (kehormatan) negara Malaysia,” katanya.

 

Polisi Malaysia juga me­ngirimkan tim penyapu untuk menambah kekuatan di Kam­pung Tanduo, Felda Sahabat blok 17. Satu peleton polisi khusus dari Criminal Investigation Division Royal Police Malaysia mendarat di Lahad Datu sore kemarin (5/3). Mereka satu pesawat dengan JPNN meng­gunakan penerbangan Malaysia Airlines (MAS) 3662 dari Kota Kinabalu dan mendarat sekitar pukul 17.15 waktu Sabah (selisih 1 jam dari Jakarta).

 

“Kita bertugas membantu kekuatan yang sudah ada di Felda Sahabat 17,” ujar seorang polisi dengan name tag Ibrahim di saku kanannya setelah men­da­rat di Bandara Lahad Datu. Hanya Ibrahim yang mengena­kan seragam resmi. Anggota yang lain tidak berseragam.

 

Mereka mengenakan kaus hitam bertuliskan Special Investigation Division dan sebagian yang lain berkaos Crime Scene Investigation Royal Police Malaysia. Mereka rata-rata be­rambut panjang, bertopi, dan berkacamata hitam. Bahkan ada yang menggunakan anting di telinga. “Tidak boleh foto kami,” kata Ibrahim saat JPNN menge­luarkan kamera.

 

Dalam struktur polisi Malaysia, Special Investigation Division juga disebut D-09 dan CSI D-10. Personelnya cukup unik karena dipilih dari polisi yang berkemampuan melakukan pe­nya­maran. Peralatan yang diba­wa cukup banyak. Terlihat satu tumpuk besar rompi anti­peluru/kevlar, peralatan identifikasi tempat kejadian perkara, dan senjata yang dibawa dalam tas-tas panjang.

 

Hingga tadi malam suasana kota Lahad Datu sangat sepi. JPNN yang berkeliling kota melihat toko-toko tutup lebih awal. “Biasanya pukul 9 masih buka, bahkan sampai jam 10 malam. Tapi sekarang jam 6 juga sudah tutup,” ujar Salim Nurdin, warga Lahad Datu yang mene­mani JPNN. Restoran cepat saji yang biasanya buka 24 jam juga menghentikan layanan sejak pukul 7 malam. “Kita berharap kondisi segera pulih. Kami tak ingin berterusan, kita percaya askar,” katanya.

 

Salim mengaku masih punya darah Sulu dari kakeknya. Na­mun sejak kecil dia sudah men­jadi warga Lahad Datu. “Kami menyebutnya Suluk, tapi saya tidak setuju dengan apa yang dilakukan saudara-saudara di Kampung Tanduo itu,” katanya. Dia mengaku sangat mencintai Lahad Datu dan Sabah. “Keluar­ga kami berada di sini sejak kecil. Anak-anak kami bersekolah di sini,” katanya dengan logat Sabah yang kental.

 

Kemarin di Kinabalu pim­pinan keturunan Sulu dalam wadah Tawau Sulu Bajau Cultural Association yang dipimpin Abdul Ali Erilis menyatakan kesetiaan pada Sabah. Mereka menghadap Datuk Musa Aman, Chief Minister Sabah dan mene­gaskan 300 ribu keturunan Sulu di Sabah mendukung peme­rintah Malaysia.

 

Sejak pertempuran pecah pada Jumat (1/3) pekan lalu, sudah 27 nyawa melayang di Sabah. Sebanyak 14 di antaranya adalah orang Sulu, tujuh aparat Malaysia, seorang pemilik ru­mah tempat Agbimuddin Kiram (pemimpin pasukan Sulu di Sabah) menginap di Desa Tan­duo, dan seorang imam asal Fili­pina beserta keempat putranya.

 

Di Manila, Filipina, juru bicara Kesultanan Sulu Abra­ham Idjirani membantah pasu­kannya di Sabah telah terdesak. Mengutip laporan ABS-CBN, pasukan Sulu di Sabah masih hidup dan belum menyerah. Namun diakui, kelompok Sulu harus mundur meninggalkan posnya untuk mencegah jatuh korban lebih banyak lagi. Saat ini, tambah Abraham, pengikut Sulu masih utuh di wilayah persembunyiannya. Dia lang­sung menyamakan perseteruan Malaysia dan Sulu bak kisah pertarungan Daud dan Goliath.

 

Tokoh Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) Habib Hashim Mudjahab menam­bahkan, sekitar 10 ribu loyalis Sultan Sulu mulai berlayar me­nuju Sabah. Mereka akan ber­tempur membantu rekannya yang kini digempur tentara Malaysia. Mudjahab mengatakan, mereka siap berkorban nyawa untuk membela kehormatan dan harga diri Kesultanan Sulu. “Mereka sangat ingin membela Kesultanan Sulu,” ujar Mud­jahab seperti dikutip situs Global Nation Inquirer kemarin.

 

Kata Mudjahab, 10 ribu pengikut Sultan Sulu mulai berlayar dari wilayah Basilan, Sulu, Tawi-Tawi, dan Zamboa­nga di Filipina Selatan menuju Sabah pada Senin (4/3) waktu setempat. Mereka berlayar de­ngan perahu kecil sehingga tidak dapat dideteksi aparat Malaysia. “Blokade kapal tidak akan meng­halangi pergerakan mereka. Kami dengan mudah masuk Sabah dan membaur dengan warga sekitar,” imbuhnya. Ri­buan pengikut Sultan Sulu itu mayoritas anggota MNLF yang sudah berpengalaman perang gerilya melawan tentara Filipina. (rdl/gen/oki/jpnn)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Tak Lulus UN, bukan Berarti Kiamat

Kabar gembira bagi Sumbar. Tingkat kelulusan ujian nasional (UN) SMA sederajat tahun ini, meningkat dibanding tahun lalu. Hanya 230 dari 68.045 peserta yang dinyatakan gagal. Secara nasional, tercatat 8.851 siswa dinyatakan tidak lulus atau persentase kelulusan UN menurun 0,02 persen dibandingkan tahun lalu. Beruntung, persentase kelulusan siswa SLTA di Sumbar mengalami peningkatan 0,32 persen dibanding tahun lalu. Jika tahun lalu kelulusan 99,40 persen, kini menembus angka 99,72 persen.

Bikin Depo Gas di Padang

Karikatur: Ferdie

Kepada Yth Manager Pertamina unit pema­saran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga  mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.

Sabtu, 25 Mei 2013

Konvoi-Coret Baju Sulit Dibendung

Anak didik kini mada-mada..................!

 

Lagi, Bukittinggi Terbaik Sumbar

Lai ndak adoh nan coret baju..................?

 

Nilai UN masih Meragukan

Baa baitu, caliak kunci  tu.............................?