- 13:09 WIB
- 13:12 WIB
- 13:12 WIB
- 13:11 WIB
- 13:10 WIB
- 13:01 WIB
- 13:06 WIB
- 12:56 WIB
- 12:59 WIB
- 12:58 WIB
Hari Ini Solar Rp 10.700
- Truk Barang Dilarang BBM Subsidi | - Antrean Panjang di SPBU Rawan Ricuh
Padang Ekspres • Jumat, 01/03/2013 12:03 WIB • TIM PADEK • 2548 klik

Padang, Padek—Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar beberapa hari belakangan, nampaknya bakal berlangsung lebih lama. Apalagi terhitung mulai hari ini (1/3), pemerintah resmi menerapkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM No 1 Tahun 2013 tentang Pengendalian BBM Bersubsidi, dan Pembatasan Kuota Bahan Bakar Solar pada Kendaraan Barang Roda Empat. Bahkan, Pertamina sudah mengurangi kuota solar 8 persen, sehingga mengakibatkan kelangkaan solar di seluruh SPBU Sumbar dan Sumut sebesar 244.340 kiloliter.
Permen ESDM itu mengharuskan mobil barang dengan jumlah roda lebih dari empat untuk pengangkutan hasil perkebunan, pertambangan dan kehutanan, terhitung mulai 1 Maret 2013 dilarang menggunakan solar bersubsidi (selengkapnya lihat grafis). SPBU-SPBU harus melayani kendaraan di atas roda empat, yang mengangkut hasil perkebunan, pertambangan dan kehutanan, pada pompa minyak nonsubsidi per liternya Rp 10.700.
Staf Migas di Bidang Ketenagalistrikan dan Migas, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar, Jon Khamberli menyebutkan, salah satu SPBU di Dharmasraya secara khusus melayani solar nonsubsidi. “Di Padang, setahu saya juga ada satu di Bypass. Untuk lebih lengkapnya tanyakan ke Pertamina. Tapi, umumnya setiap perusahaan pertambangan, kehutanan, dan perkebunan, sebenarnya punya bak penampungan sendiri untuk BBM nonsubsidi. Jadi, tak perlu mereka membeli BBM ke SPBU, karena mereka bisa beli BBM langsung ke Pertamina,” ungkapnya.
Jon menilai, munculnya kelangkaan solar beberapa hari belakangan akibat panic buying (aksi borong solar) jelang pemberlakuan Permen ESDM No 1 Tahun 2013. Jon memperkirakan dua atau tiga hari ke depan pasokan solar kembali normal. Ini setelah Pertamina berjanji menambah pasokan BBM sesuai pertemuan dengan Dinas ESDM Sumbar pagi kemarin. “Mulai hari ini (kemarin, red), Pertamina sudah menambah pasokan solar per hari ke SPBU sebesar 20 persen,” sebutnya.
Tambahan 20 persen itu, katanya, di atas pasokan normal solar tiap harinya. Biasanya, Pertamina menyalurkan 900 kiloliter (kl) solar per hari ke seluruh SPBU di Sumbar. Namun, mulai kemarin Pertamina menyalurkan sekitar 1.100 kl solar. Tapi, kata Jon, langkah tersebut diambil hanya sebatas mengatasi kelangkaan solar. Artinya, jika situasi sudah normal pasokan kembali seperti biasanya, 900 kl per hari.
Meski begitu, Jon mengaku heran tetap terjadi panic buying. Sebab, jauh-jauh hari sudah disosialisasikan Permen ESDM No 1 Tahun 2013 kepada pengusaha jasa transportasi maupun perusahaan-perusahaan dari tiga bidang tersebut (perkebunan, pertambangan, dan kehutanan). “Ini lepas dari mentalitas konsumen sendiri, tetap berkeinginan membeli sesuatu secara lebih murah agar dapat untung besar,” tutur Jon.
Stiker Belum Dipasang
Namun, kesiapan pemerintah daerah melaksanakan Permen ESDM No 1 Tahun 2013 ini, tampaknya belum berjalan seperti harapan. Pasalnya, pemerintah daerah belum memasang stiker nonsubsidi terhadap kendaraan pengangkut hasil tambang, kebun dan hutan. Padahal, ketentuan itu sudah tertuang dalam peraturan BPH Migas Migas No 3 Tahun 2012. “Ini agar petugas SPBU tahu, mana truk pengisi BBM subsidi dan nonsubsidi,” kata Sales Representative PT Pertamina (Persero) Wilayah VIII Sumbar, Ziko Wahyudi.
Pertamina, tambah Ziko, telah menyerahkan sepenuhnya pemasangan stiker itu kepada pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah. Langkah pemerintah daerah ini ditunggu Pertamina, sebagai pedoman operator SPBU dalam menyalurkan BBM di SPBU. Bila tidak juga, operator SPBU kesulitan mengatur pengisian bahan bakar kendaraan di lapangan.
Pertamina sebagai perusahaan penyalur BBM, menurutnya, tidak lagi menyalurkan solar subsidi kurang dari kuota pemerintah. Pertamina akan menyalurkan BBM subsidi sesuai kuota dan melalui outlet solar nonsubsidi seharga Rp 10.700 seliter. “Pertamina mengharapkan seluruh truk pengangkut pertambangan, kehutanan, dan perkebunan dapat beralih ke solar nonsubsidi,” katanya.
Untuk Sumbar, katanya, Pertamina menyediakan 1.100 ton solar nonsubsidi tiap hari. Tapi penjualan saat ini, masih kurang laku akibat belum adanya penanda atau stiker Pertamina juga berjanji akan menambah outlet solar nonsubsisdi, terutama di area pertambangan, kehutanan, perkebunan, dan jalur lintas area tersebut. “Outlet solar nonsubsidi akan ditambah. Agar tidak terjadi lagi namanya antrean,” katanya.
Picu Kericuhan
Kemarin (28/2), kelangkaan solar masih berlangsung hampir merata di daerah. Bahkan di SPBU Mataair, situasi sempat memanas dan berakhir ricuh antara petugas SPBU dan sopir truk saat pengisian BBM.
Andri, 37, misalnya, komplain saat pengisian BBM dibeda-bedakan petugas SPBU. Truk di depannya dapat jatah 100 liter, tapi dia hanya mendapat 33,4 liter. “Saya tidak terima, karena tidak disamakan jumlah pengisian. Juga, diberlakukan pada puluhan truk berada di belakang,” tegas pria anak tiga itu.
Syaf, 50, sopir truk lainnya, sudah tiga hari tidak dapat solar. Meskipun begitu, kemarin dia hanya mendapat jatah 33,4 liter atau sekitar Rp 150 ribu. “Kami setuju subsidi dicabut, seperti di Provinsi Jambi. Tapi harus dijaga jangan sampai langka agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat,” kata Syaf dan diamini belasan sopir angkot.
Kepala SPBU Mataair, Anton membenarkan terjadi kericuhan antara petugas SPBU dan sopir truk karena diberlakukan pembatasan kuota. Khusus truk tronton diberlakukan pengisian 100 liter solar, truk biasa 50 liter. Karena stok menipis diberlakukan pengisian solar Rp 150 ribu, agar truk lain juga dapat BBM.
Kondisi serupa terjadi di Pariaman. Dari tiga SPBU di Pariaman, tak satu pun memiliki cadangan solar. Padahal, kebutuhan solar di Pariaman di masing-masing SPBU berkisar 6 hingga 7 ton sehari. Pengelola SPBU Toboh Kuraitaji, Yet, menyebut masih memiliki 7 ton solar. Namun karena dua SPBU lainnya tak memiliki stok, SPBU-nya diserbu pengguna solar sampai sore kemarin. Dalam sekejap, stok solarnya ludes.
“Kami sudah order kembali hari ini (kemarin, red). Orang Pertamina menjanjikan malam ini solar masuk. Mudah-mudahan saja ditepati, sehingga tak terjadi kelangkaan dan kasihan masyarakat,” ujarnya.
Sedangkan di SPBU Jati, tak jauh dari Terminal Jati, stok solar sudah habis sejak dua hari lalu. Pengelola SPBU, Gusnaidi mengaku sudah berkali-kali memesan kepada Pertamina untuk segera mengisi solar, namun hingga kini belum dipenuhi.
Sumbar Bisa Lumpuh
Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Padang, Yul Akhyari Sastra mengaku, kelangkaan solar di hampir seluruh daerah khususnya Padang, di luar-dugaan. “Pertamina sedang meneliti, penyebab kelangkaan BBM di Sumbar. Apakah ada indikasi penimbunan BBM atau tidak ataukah pengurangan kuota,” ujarnya.
Bila tidak segera diatasi, mantan anggota DPRD Sumbar ini berkeyakinan bakal berdampak luas. Sopir kehilangan pekerjaan, dan angka pengangguran bertambah. Dampak lainnya, ekonomi Sumbar bakal mandek dan terhambat. Hasil hutan, perkebunan dan tambang mengalami penurunan, begitu juga penghasilan masyarakat. “Bila ini terjadi, ekonomi Sumbar akan lumpuh,” tegasnya.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumbar, Muzakir Aziz mengatakan, seharusnya tidak terjadi pelarangan pemakaian BBM jenis solar. “Kita tidak bisa memprotes pemerintah, soal kebijakan pengendalian penggunaan BBM. Namun, yang jelas mengganggu ekonomi warga,” kata Muzakir Aziz.
Ketua Organda Sumbar, Budi Sukur juga mengeluhkan langkanya solar. Biasanya mobil angkutan hanya memakan waktu tiga hari di jalan. Namun sejak seminggu belakangan, mereka menghabiskan waktu hingga lima hari di jalan.
“Langkanya solar sangat besar pengaruhnya bagi angkutan barang, terutama yang ke luar provinsi. Satu mobil bisa menanggung rugi Rp 750 ribu hingga Rp 1,5 juta per hari, jika terlambat mengirim barang kalikan saja berapa mobil yang beroperasi dalam sehari. Belum lagi mobil yang membawa sayuran dan buahan. Jika terlalu lama di jalan, maka sayuran dan buahan tersebut rusak,” keluhnya.
Dengan kondisi ini, Budi berpendapat lebih baik harga BBM dinaikkan asal stok cukup. “Bagi pengusaha angkutan yang terpenting adalah kelancaran pengiriman barang. Jika terlambat sehari saja, bisa rugi besar,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Cabang Indomarco, Redding mengaku hingga kini kelangkaan solar belum berdampak terhadap pendistribusian barang. “Mudah-mudahan masalah ini cepat teratasi, agar tidak merugikan pengusaha,” harapnya.
Sulitnya mendapatkan solar, juga mengancam kelancaran distribusi kebutuhan pokok dan operasional beras dan telur di Limapuluh Kota. Novia Risman, salah seorang pengusaha peternakan ayam petelur, mengaku mulai merasakan dampak kelangkaan solar sejak dua hari terakhir. “Pengendalian BBM oleh pemerintah saat ini, mengancam kelancaran usaha kita,” ungkap bos PS Usaha Kita itu.
Polisi Berjaga di SPBU
Guna menghindari kemungkinan tak diinginkan, Kabid Humas Polda Sumbar AKBP Mainar Sugianto mengatakan, seluruh Polres telah diminta untuk mengamankan SPBU. “Sejauh ini masih aman dan terkendali. Siang tadi (kemarin, red), di sejumlah SPBU mulai tersedia solar sehingga penumpukan kendaraan mulai berkurang,” ujar Mainar kemarin (28/2).
Polda mengingatkan pengelola SPBU tidak menjual solar lewat jeriken. Meski terjadi kelangkaan, Mainar mengklaim belum menemukan indikasi penimbunan solar.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Sumbar, Arkadius berencana mengundang dinas terkait guna membicarakan kelangkaan solar. “Kita akan lihat beberapa hari ini ,” ujarnya. (kid/mg20/nia/cip/cr3/fdl/bis)
[ Red/Administrator ]
HIRUK pikuk ujian nasional (unas) seolah tidak ada habisnya.
Ketika publik menanti sikap tegas pemerintah seiring dengan amburadulnya pelaksanaan Unas 2013, muncul keputusan lain yang tak kalah mengejutkan. Yakni, sikap tegas pemerintah menghapus unas untuk level sekolah dasar (SD) dan sederajat. Ya, mulai tahun depan tidak ada lagi unas bagi siswa SD!
![]()
Kepada Yth Manager Pertamina unit pemasaran gas Sumbar, kami masyarakat sebagai pemakai gas elpiji untuk rumah tangga, café, retoran, hotel dan industri rumah tangga mengusulkan kepada PT Pertamina unit pemasaran gas Sumbar untuk membuat DPG di Kota Padang (seperti DPO BBM yang telah ada di Bungus Teluk Kabung. Dimana selama ini para distributor gas elpiji mengisi gas di Pekanbaru/Dumai Riau yang membutuhkan cost yang mahal dan tinggi.
Wako: Tertibkan Baliho
Mada bana, sapu habih se lai ..........!
Polda Diminta Usut Temuan BPK
Lai ndak adoh main mato ......................?
Kapolres Bantah Pembunuh 2 Gadis Kabur
Bisa lo nyo luluih di lubang mancik tu........?