Rabu, 16 April 2014 - 15 Jumadil Akhir 1435 H 20:03:35 WIB
BERITA DAERAH

Kota Payakumbuh

Pagar Pembatas Jalan Soedirman Akhirnya Dibongkar

Dulu untuk Ketertiban, Kini untuk Atasi Kemacaten

Padang Ekspres • Berita Peristiwa • Senin, 25/02/2013 14:00 WIB • FAJAR RILLAH VESKY • 1066 klik

Pagar pembatas jalan di depan Ramayana

Bagi warga Kota Payakumbuh, pagar pembatas jalan di depan Ramayana, tentu sudah tidak asing lagi. Pagar yang dibangun Dinas Perhubungan pada era kepemimpinan Josrizal Zain-Syamsul Bahri  dengan harapan bisa menertibkan arus lalu-lintas itu, sejak Sabtu (23/2) lalu,  telah dibongkar oleh petugas suruhan Dinas Perhubungan pada era kepemimpinan Riza Falepi-Suwandel Muchtar, dengan alasan mengatasi kemacetan.

 

Sama dengan pemba­ngunan­nya pada tahun 2009 lalu, pem­bong­karan  pagar pembatas jalan yang terbuat dari stainless steel tersebut, me­nuai pro dan kontra di tengah-te­ngah warga.

 

Bahkan di Grup BlackBerry Messe­nger Warga Gonjong Limo Pa­dang, foto pembongkaran pagar ter­sebut, menjadi foto yang paling ba­nyak dikomentari sepanjang Ming­g­u (24/2) siang.

 

”Baru satu tahun dibangun, di­bongkar lagi. Siapa yang benar dan sa­­lah? Ataukah tidak ada peren­ca­naan?” tulis Nur Kolis, Sekretaris Gon­jong Limo Padang yang menaut­kan foto tersebut. ”Buang-buang ang­garan pak. Anggaran Rp2 miliar ter­b­uang. Satu  batang besi stainless steel tersebut, harganya sama de­ngan 1 ekor kambing etawa," ko­men­tar Mulyadi, Ketua HIPMI Lima­pu­luh Kota yang tinggal di Kelu­rahan Ibuah.

 

Sekadar diketahui, saat pagar pem­batas Jalan Soedirman di depan Plaza atau Ramayana Payakumbuh di­bangun tahun 2009 silam, Mul­yadi memang termasuk aktifis yang pa­ling rajin mengkritisinya pem­ba­ngunan­nya lewat media-massa. Pe­ngusaha properti itu menilai, pem­bangunan pagar pembatas jalan ter­sebut mu­bazir bagi anggaran dae­rah.

 

Tidak hanya Mulyadi, anggota DPRD Sumatera Barat Supardi yang saat itu menjabat sebagai Ketua Ko­misi C DPRD Payakumbuh,  ikut pu­la mengkritisi pembangunan pa­gar pem­batas Jalan Sudirman. ”Ja­lan  mul­tifungsi kok dibelah? Ada-ada saja,” ujar Supardi, seb­a­gaimana di­tu­­lis Padang  Ekspres 23 Juli 2009.

 

Senada dengan Supardi, intelek­tual muda Payakumbuh Haji Desra, pe­r­nah pula menyorot pem­bangu­nan jalan tersebut. ”Dulu, zaman wali kota Darlis Ilyas, telah dibangun jalan dua jalur, kemudian dibongkar Se­karang, kok dibangun lagi? Pada­hal, proyek ini dibiayai APBD. He­n­dak­nya, proyek APBD ber­manfaat un­tuk rakyat. Bukan untuk kepen­tingan sesaat, aparat,” ujar Desra saat itu.

 

Sementara, Dinas Perhubungan Pa­­yakumbuh yang saat itu dijabat Har­­­mayunis menyebutkan, pem­ba­ngu­nan pagar pembatas Jalan Soe­dir­man atau pekerjaan jalan dua ja­lur tersebut, selain dilakukan un­tuk menertibkan arus lalu lintas dan  mempercantik keindahan kota, juga di­laksanakan Dinas Perhu­bungan atas rekomendasi Tim Penilai Waha­na Tata Nugraha Pusat.

 

Setelah mendengar semua kriti­kan masyarakat dan meminta tang­ga­pan pemerintah kota, Komisi C DPRD pada tahun 2009 mere­ko­men­dasikan penghentian pem­ba­ngunan pagar pembatas Jalan Soe­dirman. Tapi, karena tender sudah dilakukan dan rekanan sudah mulai be­kerja, pembangunan yang dihen­tikan hanya dari bundaran pusat kota atau depan eks Kantor Bupati L­i­mapuluh Kota sampai simpang Mas­jid Ansharullah Muham­ma­diyah.

 

Sedangkan dari depan Bank Na­ga­ri sampai Simpang Menteng atau de­pan mall Payakumbuh, pemba­ngu­nan pagar pembatas jalan tetap di­lanjutkan oleh pemerintah kota. ”Habis, kalau dipaksakan dihentikan se­­muanya, tentu  rekanan yang su­dah terlanjur mengerjakan jalan dua ja­lur tersebut  akan rugi dan meng­gu­gat pemerintah kota,” begi­tu k­o­mentar Supardi, 2009 silam.

 

Hampir dua tahun setelah peris­tiwa tersebut, pagar pembatas Jalan Soe­dirman, akhirnya benar-benar dibongkar. Hanya saja, tidak semua mas­yarakat sependapat dengan pem­bongkaran tersebut, termasuk Mul­yadi yang dulu pernah mengkiri­tisi­nya.  ”Pasang, bongkar, bangun, lalu robohkan, nampaknya menjadi ke­biasan baru,” komentar  Mulyadi, Minggu sore.

 

Mulyadi juga mempertanyakan, ting­kat urgensi pembongkaran pa­gar pembatas jalan tersebut. "Ke­napa anggaran pembongkaran pem­b­a­­tas jalan itu tidak dipakai untuk mem­­perbaiki irigasi yang rusak? Atau untuk membantu pelajar dan ma­­hasiswa Payakumbuh tidak mam­­pu? Ah, entahlah,” ujar Mul­yadi tidak habis pikir.

 

Disisi lain, Kepala Dinas Perhu­bu­ngan dan Komunikasi Pay­a­kum­buh Adrian menyebut, pem­bongka­ran pagar pembatas Jalan Soedir­man, dilakukan untuk menga­tasi ke­m­acetan. ”Selama ini, terutama pa­da hari-hari libur serta pada jam pa­dat, ruas jalan di depan Rama­yana, sering macet. Karena, di kawasan itu, juga terdapat perempatan jalan me­nuju SD dan SMP Islam Raudha­tul Janah,” ujar Adrian dalam siaran pers yang diterima Padang Ekspres, Minggu sore.

 

Selain mengatasi kemacetan, pembongkaran jalan itu menurut Adrian juga dilakukan untuk me­me­n­uhi permintaan publik dan pe­rantau. ”Dalam pertemuan Wali Ko­ta Riza Falepi dengan perantau Gon­jong Limo Pekanbaru Desember 2012, banyak perantau meminta pemko untuk membongkar median jalan tersebut. Karena, pagar stainless steel  yang tingginya mencapai 1,5 meter lebih itu, menganggu pan­dangan pe­ngemudi. Karena itu, pem­ko res­pon­sif dengan permin­ta­an mas­yarakat dan perantau,” sebut Adrian.

 

Menurut Adrian,  pagar  stainless steel yang dibongkar,  bukan ti­dak bermanfaat atau menjadi ba­rang rongsokan. Melainkan, dipin­dah­kan untuk pagar lingku­ngan SMAN 4 Payakumbuh di Kelurahan Pa­dang Tangah Koto nan Ampek, Ke­camatan Payakumbuh Barat. “Ter­hadap pembongkaran pagar dan pemindahan stainless steel  ke SMAN 4 Payakumbuh, juga teklah di­koordinasikan dengan pihak ter­kait,” jelas Adrian. (***)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!