Minggu, 20 April 2014 - 19 Jumadil Akhir 1435 H 12:43:09 WIB
NASIONAL

Rani Mengaku Ditangkap di Lobi Hotel

KPK Pastikan Periksa Mentan

Padang Ekspres • Rabu, 06/02/2013 11:18 WIB • • 1635 klik

Maharani

Jakarta, Padek—Maharani Suci­yono, perempuan yang ikut ditang­kap KPK bersama ter­sangka suap Ahmad Fathanah akhirnya mun­cul ke publik. Dia mengklarifikasi in­formasi yang beredar soal kebe­radaan dirinya dan Fathanah di Hotel Le Meridien.

 

Didampingi pengacaranya, Wisnu Wardhana, dan salah se­orang keluarganya bertemu war­tawan di Hotel Nalendra Jaka­r­ta, tadi malam. Gadis 19 tahun itu me­nutup kepalanya dengan kerudung war­na cokelat. Klarifikasi diawali per­nyataan Wisnu.

 

Menurut Wisnu, perkenalan Rani dan Fathanah diawali di sebuah  resto­ran di Senayan City, mal di sebe­lah Universitas Moestopo. Saat itu Rani sedang makan ber­sama be­berapa te­man.

 

Fathanah yang juga ada di res­toran yang sama, rupanya ke­pincut dengan Rani. Namun, dia tidak berani berkenalan ka­rena gadis berkulit putih itu t­i­dak sendirian. “Dia menitipkan se­carik kertas ke pelayan resto­ran untuk diberikan kepada Rani,” ujar­nya. Pasca menerima kertas yang ternyata berisi nomor telepon dan nama Ahmad itu, Rani pun mengirim SMS.

 

Setelah itu, mereka janjian bertemu di hotel Le Meridien. Ver­si Wisnu, Rani datang sekitar pu­kul 18.30 lalu mengobrol di kafe yang ada di lobi hotel terse­but. Fathanah bercerita kepada Rani jika dia seorang pengusaha. Sebagai bukti, dia mengeluarkan sebuah kartu kredit yang bertu­liskan namanya.

 

Sejurus kemudian, Fathanah me­nyodorkan uang Rp 10 juta ke­pada Rani. Gadis itu sempat ka­get, dan sempat bertanya un­tuk apa uang tersebut. Fatha­nah menjawab, uang itu sebagai hadiah perkenalan. Rani bahkan sempat curiga, dan menanyakan apakah uang itu asli. Setelah diyakinkan, dia pun menerima uang tersebut, hingga akhirnya mereka berdua digerebek KPK.

 

Selama Wisnu memberikan pernyataan kepada wartawan, Rani hanya terdiam. Sesekali dia tersenyum.

 

Di akhir kalimatnya, Wisnu me­negaskan jika pemberitaan se­putar Rani tertangkap di da­lam kamar hotel adalah tidak be­nar. Wisnu juga sempat me­nun­juk­kan secarik surat yang dit­ulis Ibu Rani yang sangat terpukul de­ngan peristiwa itu. Rani bu­kan­lah perempuan panggilan.

 

Menurut pihak keluarga, karena Rani masih muda dan belum memiliki pengalaman, dia pun menerima begitu saja uang Rp 10 juta itu. Rani bahkan tidak tahu berapa jumlah uang tersebut, dan dia baru tahu saat diberi tahu penyidik KPK. Dia juga baru tahu jika Fathanah terkait dengan mantan presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq setelah diperiksa di KPK.

 

Kemudian Rani ikut angkat bicara. Dia minta maaf kepada ibu­nya, karena pemberitaan se­putar dirinya sangat meng­ganggu psikologis sang ibu. Dia juga minta maaf kepada pihak kampus tem­pat dia kuliah. “Rani juga minta maaf ke masyarakat In­donesia, terutama kaum pe­rem­puan, jika ada pemberitaan yang negative ten­tang Rani,” tu­turnya.

 

Dia menuturkan, pada da­sar­nya dia berpikir positif saat memu­tuskan mendatangi kafe di hotel Le Meridien. “Masa ke­na­lan aja nggak boleh,” tutur­nya. Na­mun, dia tidak sampai ber­tanya lebih jauh soal Fathanah, dan dia tidak tahu kalau Fatha­nah meru­pakan orang dekat to­koh PKS.

 

Soal pemberian uang, dia sa­ma sekali tidak mengetahui jum­lah maupun tujuan pem­berian itu. Fathanah hanya mengakui jika itu sebagai hadiah perke­na­lan sehingga dia mene­rimanya. “Ngga munafik ya, uang, siapa sih yang ngga mau dikasih uang,” lanjutnya.

 

Kemudian, dia juga mene­gas­kan jika Fathanah dan diri­nya sedang berdua di lobi hotel sa­at penyidik KPK datang. Bu­kan di kamar. “Saya sangat ter­pu­kul, mental saya, jujur saya ti­dak kuat,” katanya. Dia akhir per­nyataannya, dia mengatakan jika hanya sebentar berada di kafe tersebut, sekitar satu jam.

 

Pernyataan Rani berten­ta­ngan dengan informasi yang di­sampaikan KPK. Versi KPK, mereka ditangkap di kamar hotel sekitar pukul 22.00. Artinya, Ra­ni sudah bersama Fathanah se­lama tiga setengah jam sebe­lum digerebek. Padahal, Rani me­ngatakan jika dia hanya seki­tar satu jam bersama Fathanah.

 

Ketenangan Rani mem­be­ber­kan kronologi kisah­nya pa­da malam penangkapan Fatha­nah itu juga berbeda 180 derajat de­ngan kondisinya usai men­jalani pe­meriksaan di KPK selama ham­p­ir 30 jam pada Kamis pe­kan lalu. Rani tampak linglung ketika diantar keluar gedung KPK oleh sejumlah penyidik dan petugas keamanan KPK sekitar pukul 02.30. Dia juga tampak menutupi wajahnya dengan rambut dan tasnya. Foto Rani yang mengenakan kaus hitam dan rok mini berwarna biru de­ngan muka kusut itu meng­hiasi halaman depan koran-koran edi­si Sabtu (2/2).

 

Janji Kooperatif

 

Sementara itu, tersangka kasus suap terkait kuota impor daging sapi Arya Abdi Effendi berjanji bakal kooperatif dengan penyidik. Namun Direktur PT Indoguna Utama, perusahaan importer daging sapi tersebut masih belum menjelaskan detail dugaan suap senilai Rp 1 miliar tersebut. “Nanti apabila sudah tiba waktunya akan kami papar­kan. Kami akan kooperatif,” kata pe­ngacara Arya, Harry Ponto, usai mendampingi kliennya yang diperiksa selama tiga jam di Gedung KPK Jakarta, kema­rin.

 

Ia berharap pengungkapan ka­sus ini bisa memperbaiki biro­krasi pemerintahan ke de­pan. Sambil menebar se­nyum, ia cu­kup percaya diri dengan cela­na jeans robek yang ia kenakan.

Dalam dugaan suap terkait kuota impor daging, KPK mene­tap­kan anggota DPR Luthfi Ha­san Ishaaq sebagai tersangka. Pe­­netapan Luthfi sebagai ter­sang­ka dilakukan setelah KPK me­nang­kap tangan Ahmad Fa­tha­nah, orang dekat Luthfi, mene­rima uang Rp 1 miliar dari dua direktur PT Indoguna Uta­ma, Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi.

 

Kemarin KPK masih meme­riksa para pegawai dan pimpi­nan di PT Indoguna Utama. Ke­marin KPK memeriksa Direk­tur PT Indoguna Soyaya Effendi. Dua pegawai perusahaan terse­but juga diperiksa, yakni Lina (resepsionis) dan Deby (sekre­taris pribadi Arya).

 

Juru Bicara KPK Johan Budi SP mengatakan memang masih be­lum memeriksa pihak-pihak dari Kementerian Pertanian, ins­tan­si yang berkuasa merek­o­men­dasikan kuota impor da­ging. KPK memerlukan in­for­masi untuk pengembangan pe­nyi­dikan kasus suap itu.”Yang di­­usut KPK adalah terkait du­ga­an suap, apakah dalam kasus ini ke­mudian perlu (memangil Men­­tan) tentu dipanggil saat nan­ti diperlukan,” kata Johan ke­pada pers, di kantor KPK, di Ja­karta, Selasa (5/2). Yang jelas, kata Johan, KPK tidak akan ber­henti pada empat tersangka yang su­dah ditahan saat ini. “KPK be­lum berhenti di empat ter­sang­ka itu,” tegasnya.

 

Hanya saja Johan mengaku be­lum mengantongi jadwal pang­­gilan pemeriksaan atas Men­­tan. Johan juga masih bung­k­am tentang peran menteri yang juga kader PKS itu dalam ka­sus dugaan suap hasil operasi tang­­kap tangan itu. Dise­but­kan­nya, kemungkinan Suswono dipang­gil pekan ini atau pekan depan.

 

Johan hanya bisa memas­ti­kan bahwa kasus duga­an suap yang menyeret Luthfi memang me­­­nyangkut bidang kerja Ke­men­­tan. “Itu pula kenapa penyi­dik meng­ge­ledah Kementan,” pa­parnya.

 

Penetapan kuota impor da­ging dilakukan dalam rapat di ting­­kat Menko Perekonomian. Pu­­tusan dalam rapat tersebut di­la­­­­kukan berdasarkan reko­men­da­­si dari Kementan. Re­komen­da­­si itu didasarkan pada data su­plai sapi lokal berbanding ke­b­u­tu­han domestik.

 

Setelah ada keputusan kuota im­por di tingkat Menko Per­eko­nomian, Kementan mem­bagi-ba­gi kuota tersebut kepada pe­ru­sahaan importer. Dari reko­men­d­asi Kementan itu, Kemen­da­g akan menerbitkan izin kuota im­por. Tahun ini, alokasi kuota da­ging impor mencapai 80.000 ton (total, termasuk sapi hidup), atau dipangkas 5.000 ton diban­ding­kan kuota tahun lalu. Untuk kuo­ta impor daging sapi beku, ja­tah impor tahun ini mencapai 32 ribu ton. PT Indoguna men­da­patkan kuota 3.000 ton atau se­kira 10 persen dari pangsa im­por daging sapi.

 

SBY Janji Panggil Mentan

 

Presiden Susilo Bambang Yu­dhoyono ikut angkat bicara ter­kait kasus korupsi impor da­ging sapi yang melibatkan Luth­fi. SBY memastikan akan me­manggil Mentan Suswono yang di­duga memiliki keter­kaitan de­ngan kasus terse­but, sepu­lang­nya dari kunjungan di luar negeri.”Begitu sampai di tanah air, saya akan panggil Mentan. Sa­ya akan tanyakan secara lisan un­tuk memperoleh jawaban se­jujurnya, kemudian juga saya akan minta jawaban tertulisnya,” kata SBY dalam jumpa pers di Ho­tel Hilton, Jeddah, Arab Sau­di, Senin (4/2), sebelum bertolak dari Jeddah ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah umrah.

 

SBY melanjutkan, pemang­gi­lan atas Mentan ini sudah per­nah dilakukan sebelumnya. Pre­si­den RI keenam itu pernah me­manggil mantan Menpora Andi Ma­lara­ngeng ketika yang ber­sang­­kutan terkait dalam kasus ko­­rupsi Ham­balang. SBY menegaskan, me­kanis­me akan bekerja di ka­binetnya. Yak­ni dipanggil, minta penje­la­san lisan dan tertulis. Sele­bihnya, akan men­yerahkan se­mua prosesnya ke KPK.

 

Terkait rencana pemang­gi­lan dirinya, Men­tan Sus­wo­no menyatakan kesiapan un­tuk me­menuhi panggilan Pre­siden ter­kait dugaan korupsi kasus kuota impor daging sapi yang ter­j­adi di Kementeriannya. “Saya siap di­panggil Presiden. Saya akan be­berkan semua kasusnya se­cara mendetail,” kata Suswono sa­at ditemui selepas Rapat Ko­or­­­dinasi di Kantor Kemenko Pe­re­­­konomian, kemarin. (sof/jpnn)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!