Jum'at, 18 April 2014 - 17 Jumadil Akhir 1435 H 09:58:50 WIB
PRO SUMBAR

Longsor di Agam, 11 Tewas, 9 Hilang

Banjir Bandang Hantam Malalak

Padang Ekspres • Senin, 28/01/2013 11:01 WIB • GUSTI AYU GAYATRI & YUHARNEL • 2947 klik

Kampung Dadok, Kenagarian Sungai Batang rata dengan tanah usai dihondoh longsor

Agam, Padek—Hujan yang mengguyur Kabupaten Agam sepanjang Sabtu (26/1) sore hingga malam, me­­nye­babkan longsor di Kampung Dadok, Kena­ga­rian Sungai Batang, Keca­matan Tanjungraya, Ming­­gu­ ( 27/1) sekitar pukul 05.30 WIB. Longsor me­nim­bun 12 unit rumah yang dihuni 28 jiwa. Se­be­las orang dilaporkan tewas, 9 hilang, dan 8 orang selamat.

 

Tim Search and Rescue (SAR) bersama Badan Pe­nang­gulangan Bencana Daerah (BPBD) Agam akan me­lanjutkan pencarian korban, pagi ini.

 

Pemerintah Kabupaten (Pem­­kab) Agam menetapkan status tang­gap darurat selama tujuh hari.

 

Jasad korban pertama kali di­temukan pukul 11.00, yakni Nur­sinah, 65, Martini, 60, Tara­judin, 65, Asril St Nurdin, 68, Ju­lianti, 26, dan Aldi, 9. Pada pukul 16.00 WIB, tim evakuasi berhasil me­ngevakuasi Rosda, 55. Ter­ak­hir, pada pukul 17.30 WIB, tim eva­­kuasi berhasil menemukan em­­pat jenazah lainnya; Indah, 9, Di­la, 8, Erni Astuti, 38, Juliardi, 25.

 

Seluruh korban ditemukan ter­timbun longsor. Pencarian kor­ban dihentikan pada pukul 17.45. Isak tangis keluarga kor­ban pecah saat melihat ang­gota ke­luarganya dimasukkan ke kan­tong mayat.

”Dua rumah di antaranya tak ber­­penghuni,” kata Kepala Pe­lak­­sana Badan Penang­gulangan Ben­cana Daerah (BPBD) Agam, Bambang Warsito.

 

Sekadar diketahui, Kam­pung Dadok, Jorong Tanjung­sa­ni ada­lah zona merah alias rawan ben­cana. Gempa tahun 2009, dae­rah ini juga ditimbun long­sor. Mujur tak ada korban jiwa saat itu.

 

Tim evakuasi dari SAR gabu­ngan BPBD Agam, TNI, Polri, PMI, Tagana, Basarnas serta BPBD dari Bukittinggi, Padang­pan­jang, Pariaman, Padang, So­lok Selatan, serta BPBD Sum­bar melakukan penggalian secara paralel menggunakan alat berat. Polres Agam juga mengerahkan dua ekor anjing pelacak untuk mem­bantu evakuasi.

 

“Evakuasi cukup sulit dilaku­kan, karena jalan menuju ke lo­kasi bencana, berat. Korban yang ditemukan dalam keadaan ter­timbun, kemungkinan se­dang tertidur,” tambah Bam­bang.

 

Pantauan Padang Ekspres di lokasi kemarin, masyarakat berbondong-bondong melihat proses evakuasi korban meski jalan menuju lokasi terjal. Jarak antara jalan raya Lubukbasung ke lokasi longsor sekitar 5 km.

 

Kendaraan roda dua dan roda empat baru bisa masuk ke lo­kasi, setelah satu unit ekska­va­tor dikerahkan untuk mem­ber­sihkan material longsor yang me­nutupi jalan menuju lokasi ben­cana. Jalan baru bisa dilewati ken­daraaan pada pukul 12.15. Un­tuk bisa menembus ke lokasi d­­e­ngan berjalan kaki, dibutuh­kan waktu hampir dua jam. 

 

Asnidar, saksi mata, menu­tur­kan, musibah tersebut terjadi se­kitar pukul 05.15.  Kala itu, dia ba­ru usai Shalat Subuh. Tiba-tiba saja, ia merasakan ada  ge­taran kuat, lebih dahsyat dari gempa 2009. “Saya merasakan ru­m­ah saya terangkat. Saya lang­sung ambil anak saya dan ber­lari ke luar rumah dalam ke­ada­an gelap gulita. Dari arah bela­kang rumah, saya mende­ngar je­ritan minta tolong. Saya tak be­rani melihatnya karena takut long­sor susulan,” ucapnya.

 

Paginya, Asnidar kaget me­nyak­sikan rumah tetang­ganya telah rata dengan tanah. “Posisi ru­mah saya memang di keting­gia­n, dibanding 12 rumah yang ter­timbun itu,” ujar ibu dua anak itu.

 

Korban lainnya yang sela­mat, Mariani, 52, menceri­takan, saat itu sedang memasak di da­pur. Tiba-tiba terdengar suara ge­muruh dari arah perbukitan. T­a­pi, Mariani tetap terus mema­sak. Dia baru kaget ketika rumah ka­yu­nya bergetar. “Saya lang­sung membangunkan suami dan anak-anak. Rumah sudah ber­­guncang. Kami langsung ke luar rumah,” kata Mariani, ber­syukur dia sekeluarga selamat.

 

Korban selamat lainnya, Nur­hayati, 50, tidak kalah trau­ma­nya. Bagaimana tidak, dia harus kehila­ngan anak, menantu dan tiga cucunya. Hingga kema­rin, belum satu pun jasad keluar­ga­nya dite­mukan. Rumah Nur­ha­yati berada 300 meter terpi­sah dari rumah anak, menan­tu dan cucunya di lokasi longsor. Be­gitu mendengar teriakan long­sor, Nurhayati berge­gas me­nuju rumah anaknya. Na­mun na­has, rumah anaknya su­dah rata dengan tanah.

 

Anto, 31, korban lainnya, kemarin siang dirujuk ke RSUP M ­Djamil. Korban menderita ce­dera kepala, patah di lengan ka­nan dan luka lebam.

 

Wali Nagari Sungai Batang, Ah­sin Dt Bandaro Kayo menye­but­kan, banyaknya korban jiwa ka­rena masih tertidur lelap. “Kor­ban meninggal telah disha­lat­kan dan dimakamkan,” ujarnya.

 

Efek Gempa 2009

 

Manager Pusdalops Penang­gu­la­ngan Bencana BPBD Sum­bar, Ade Edwar menga­takan, lo­k­asi longsor adalah zona me­rah. “Lokasi tersebut bukan tempat hu­nian layak bagi masyarakat. Gem­pa 2009 lalu, juga longsor di sana. Pemerintah sudah be­ren­cana memindahkan warga di salingka Danau Maninjau, tapi lokasi pemindahan hingga kini belum ada. Longsor di Kampung Dadok, masih efek dari gempa 30 September 2009,” katanya.

 

Atas musibah itu, Pemkab Agam menetapkan tanggap da­rurat selama tujuh hari. “Hari per­­tama, kami akui proses eva­kua­­si belum maksimal. Pada hari kedua ini, proses evakuasi akan lebih maksimal. Bantuan kini telah mulai mengalir. Supa­ya lebih terarah, kami akan buat nan­ti satu komando untuk dis­tri­bus­i bantuan,” ujar Kabid Ke­darurutan BPBD Agam, Ri­naldi.

 

Data BPBD Agam, tujuh mo­tor juga tertimbun. Longsor juga mengakibatkan padi seluas tiga hektare, jagung 1 haktare dan kasang tanah 1 haktere ter­timbun. Diperkirakan keru­gian mencapai Rp 500 juta lebih. Longsor dipicu hujan deras yang mengguyur Agam selama tiga hari berturut-turut.

 

Jalan Sicincin-Malalak Putus

 

Masih di Agam, galodo meng­­­­­hantam Malalak, Keca­ma­tan Simpang Ampek Koto. Pu­lu­han rumah masyarakat te­ren­dam. Banjir bandang tak hanya me­­nerj­ang permukiman masya­ra­­kat, namun juga merusak me­ru­sak 10 hektare sawah, meng­ha­nyutkan dua sepeda motor dan beberapa ternak.

 

Darmeli, 53, meng­ung­kap­kan, banjir ban­dang terjadi Sab­tu (26/1), sekitar pukul 21.00. “Saat kejadian, saya habis Shalat Isya. Tiba-tiba terde­ngar suara ge­muruh dari bela­k­ang rumah. Setelah saya lihat, ternyata air se­tinggi empat meter menerjang ru­mah warga di sepanjang Ba­tang Sungai Simpang Mala­lak,” tutur Yuli­mar, 52, warga lainnya.

 

Camat Ampekkoto, Herman me­ngatakan masih mendata jum­lah korban dan kerugian. “In­formasi yang saya dapatkan, ha­­nya satu rumah yang rusak,” ka­ta Herman.

 

Akibat banjir bandang, jalan Si­cincin-Malalak putus. Sa­tu jem­batan penghubung ha­nyut se­­hingga tidak bisa di­lintasi ken­da­raan. “Jemba­tan yang pu­tus itu bukan jem­ba­tan uta­ma, dan un­tuk se­men­­tara dipasang jem­batan da­rurat agar warga tidak teri­so­lir dan anak-anak bisa seko­lah,” ujar Ade Edward.

 

Untuk material longsor yang me­nimbun badan jalan Sicincin-Ma­lalak, Dinas Pekerjaan Umum (PU) Agam dan provinsi masih melakukan pembersihan.

 

Akibat putusnya akses trans­por­tasi itu, sekitar 200 kepala ke­luarga (KK) di Nagari Suba­rang Balingka terisolasi. (*)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!