Rabu, 16 April 2014 - 15 Jumadil Akhir 1435 H 12:17:11 WIB
INTERNASIONAL

Logo Negara Palestina Hanya Berlaku Terbatas

Cegah Konflik dengan Israel, Tak Dipakai untuk Dokumen

Padang Ekspres • Rabu, 09/01/2013 12:30 WIB • • 680 klik

Ramallah, Padek—Presiden Palestina Mahmud Abbas, 77, cepat menyikapi pengakuan PBB atas kedaulatan tanah airnya. Kemarin (8/1), tokoh yang akrab disapa sebagai Abu Mazen itu menerbitkan dekrit tentang perubahan nama ne­geri­nya dari Otoritas Palestina menjadi Negara Palestina.

 

Bersamaan itu, dilun­cur­kan logo baru. Bentuknya tidak jauh berbeda, yakni burung Elang Saladin. Logo Negara Palestina berupa bendera war­na-warni (merah, hijau, putih, dan hitam) Pan-Arab dalam perisai yang dibawa burung elang. Hanya, pada logo lama (Otoritas Nasional Palestina) terdapat tulisan As-Sultah Al-Filastiniyyah dalam bahasa Arab di bagian bawah. Pada logo Negara Palestina, tulisan itu berubah menjadi Filis­ti­niyyah.

 

Dalam keterangan res­mi­nya, Abbas menegaskan bah­wa nama baru tersebut tidak akan tercantum dalam do­ku­men-dokumen resmi. Paspor atau kartu identitas milik war­ga Palestina tetap akan me­ng­gunakan nama lama. Abbas pun menempuh kebijakan itu demi menghindari konflik dengan Israel. Sebab, jika hendak bepergian, warga Pa­les­tina harus lebih dulu me­le­wati perbatasan Israel dan menunjukkan kartu identitas mereka.

 

“Pada akhirnya nanti, pe­me­rintah (Palestina) tidak mau menciptakan masalah bagi rakyatnya,” tutur Nour Odeh, jubir Abbas. Karena itu, dia hanya mengubah pena­ma­an Palestina pada level paling sederhana. Misalnya, dalam korespondensi dengan negara-negara sahabat atau yang men­du­kung kedaulatan Palestina dalam pemungutan suara PBB pada November tahun lalu.

 

Omar Awadallah, pejabat pada Kementerian Luar Negeri Palestina, mengatakan bahwa pihaknya sudah mengimbau negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Palestina untuk mengubah dan mengganti logo. Namun, pemerintahan Abbas juga tak memaksa. Norwegia, Swedia, dan Spanyol yang November lalu mendukung Palestina dalam forum PBB pun tetap menggunakan nama lama.

 

Sejauh ini, baru empat negara yang menggunakan nama Negara Palestina. Yakni, Brasil, Kostarika, Nikaragua, dan Honduras. Keempatnya merupakan negara-negara di Benua Amerika. Tiga di anta­ranya negara di Amerika Te­ngah, dan satu lainnya (Brasil) Amerika Latin (Selatan).

 

Negara-negara lainnya be­lum melakukan penyesuaian. Beberapa negara malah me­nen­tang penggunaan nama baru tersebut. Dua negara yang menolak mengadaptasi nama baru tersebut adalah Israel dan Amerika Serikat (AS).

 

Jubir pemerintah Israel Mark Regev mengungkapkan kemarin bahwa dekrit Abbas tak akan mengubah apapun. “Seharusnya, daripada mela­ku­kan tipu muslihat seperti ini, Palestina berunding dengan Israel untuk mengupayakan solusi terbaik dalam konflik ini,” komentarnya. Menurut dia, hanya melalui perun­di­ngan lah, solusi mengenai dua negara untuk dua masyarakat akan tercapai.

 

Sayangnya, sejauh ini, pe­run­dingan damai Palestina dan Israel yang diprakarsai AS tidak pernah berakhir dengan kesepakatan. Bahkan, selama empat tahun terakhir ini, per­un­dingan itu mogok. Sebab, Abbas dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Ne­ta­nyahu selalu memiliki pen­dapat berbeda soal per­sya­ra­tan terbentuknya dua negara. Apalagi, Israel menolak pe­ne­tapan batas wilayah sesuai kesepakatan 1967.

 

Karena tak pernah men­ca­pai kata sepakat dengan Israel melalui dialog damai, Abbas pun berusaha menempuh jalur lainnya dalam rangka me­wu­jud­kan cita-cita terbentuknya negara Palestina. Salah satu caranya adalah membawa per­soalan tersebut ke forum PBB. Jadi, Abbas mendapat banyak dukungan untuk mendirikan negara Palestina.

 

Senada dengan Regev, Ju­bir Kementerian Luar Negeri AS Victoria Nuland pun me­ngaku keberatan dengan dek­rit Abbas dan logo baru ter­sebut.

 

“Anda tak bisa mencipta­kan sebuah negara hanya ber­bekal retorika atau logo dan nama. Sebuah negara ha­nya bisa terbentuk melalui pe­run­dingan bilateral,’’ ke­cam­nya. 

 

Kemarin Washington la­ng­­­sung mengutus David Hale, utusan damai PBB un­tuk Timur Tengah, ke Pa­les­tina. Dia dijadwalkan bertemu dengan para petinggi Pa­les­tina hari ini (9/1). Mereka akan banyak membahas ten­tang dekrit Abbas yang sudah didahului dengan beberapa langkah praktis lain, seperti mengimbau media untuk me­nuliskan kata Negara Pa­les­tina dan bukan Otoritas Pa­lestina dalam pemberitaan mereka. (AP/CNN/hep/dwi)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Presiden Baru, Pesawat Baru

AKHIRNYA Indonesia memiliki pesawat kepresidenan. Pesawat jenis Boeing Business Jet 2 (BBJ2) 737-800 kebiru-biruan itu kini sudah parkir di Base Ops Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta. Momentum datangnya pesawat kepresidenan itu juga tepat, yakni saat Indonesia menghadapi suksesi kepemimpinan. Pesawat yang memiliki rentang sayap 35,79 meter, tinggi 12,50 meter, dan panjang 38 meter tersebut akan dinikmati presiden ketujuh Republik Indonesia.

TNKB Belum Tersedia

Direktorat Lalulintas Polda Sumbar minta maaf atas belum tersedianya Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB). Kalau nanti TNKB sudah dikirim dari Korlantas Mabes Polri, pemilik kendaraan bermotor tidak perlu lagi membeli, sehubungan sewaktu membayar pajak perpanjangan STNK dan kendaraan baru sudah dibayar. Sekaitan dengan hal tersebut seluruh anggota Polantas di Polda Sumbar tidak perlu mempermasalahkan ada TNKB yang mati.

Selasa, 15 April 2014

Caleg Cemas Dicurangi

Indak usah dicamehan lai, Pak.......................!

 

Apoteker masih Terabaikan

Jan lo sampai tebang pilih, Pak.......................................!

 

UN Dipantau CCTV

Tapi baa kok bisa juo siswa caliak kunci jawaban tu, Pak.....................!