Jum'at, 25 April 2014 - 24 Jumadil Akhir 1435 H 07:35:16 WIB
PRO SUMBAR

Karena Miskin, Anak Diambil Teman Majikan

Perjuangan Seorang Ibu Mencari Buah Hati yang Hilang

Padang Ekspres • Senin, 31/12/2012 13:03 WIB • GUSTI AYU GAYATRI - Padang • 921 klik

Nengsih tak pernah lelah mencari putrinya, Fitria Handayani.

Hati ibu mana yang tak perih, jika harus dipisahkan dari anak kandungnya. 18 hari sudah  Nengsih mencari putrinya, Fitria Handayani, tapi belum berhasil. Wanita berusia 38 tahun ini harus terpisah dengan putrinya karena kemiskinan yang mendera.

 

Dalam doanya, Nengsih ber­ha­rap bisa dipertemukan gadis kecil­nya yang baru berusia 2 tahun 3 bulan. Se­jak diadopsi teman maji­kannya, Neng­sih tak tahu keberadaan sang buah hati.

 

Di pengujung tahun 2012, Nengsih me­nahan kerinduan ingin berjumpa bi­dadari kecilnya. Di rumah shelter Pu­sat Pelayanan Terpadu Pember­dayaan Pe­rempuan dan Anak (P2TP2A) Sum­bar di Padang, warga Muaralabuh, So­lok Selatan ini tiada henti berdoa bisa bertemu dengan anak ketiganya.

 

Saat ditemui Padang Ekspres di ru­mah shelter P2TP2A Sumbar, akhir pe­kan lalu, Nengsih bercerita keped­i­han­nya. Pada suatu hari, suami­nya pa­mit ke luar rumah. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan tahun, “Bang Toyib” tak pulang-pulang.

 

Hingga ia mendapat kabar, suami­nya berada di Padang. Nengsih pun mencari suaminya ke ibu kota Sumbar, wa­lau ia tak tahu di mana suaminya ting­­gal. Sesampai di Padang, hidupnya ter­­lunta-lunta, hingga akhirnya ters­e­sat di depan Kantor Pol PP Padang.

 

Karena dikira gelandangan dan pe­ngemis (gepeng), Nengsih dan anak­nya ditangkap Pol PP, meski ak­hirnya dilepaskan kembali. Selama ber­kelana, be­runtung Nengsih berte­mu seseorang yang baik hati, bersedia menolong dan me­­nampungnya. Perempuan itu ber­na­ma Yet. “Selama setahun, saya tinggal di rumah shelter P2TP2A. Hingga kemudian, saya dapat kabar suami saya telah menikah lagi,” tutur wanita berkulit hitam itu.

 

Selama di shelter, Nengsih dan ketiga anaknya diberi makan dan pakaian. “Dia (Yet, red) peno­long saya selama di Padang. Se­telah setahun di Padang, tentu su­dah banyak orang yang saya ke­nal. Saya tak mau selamanya meng­gantungkan hidup dengan Yet. Saya mau cari uang sendiri untuk memberi makan anak-anak saya,” ucapnya.

 

Hingga kemudian, seorang te­man yang baru ia kenal me­nga­­jaknya untuk bekerja di ru­mah­nya sebagai pembantu. Neng­s­ih pun menyetujui taw­a­ran tersebut. Sejak itulah, dia ting­­gal di rumah temannya ter­se­­but bersama ketiga buah hati­nya. “Sebelum berangkat, saya minta izin ke Yet. Saya katakan, saya ingin mencari uang sendiri. Yet meminta saya untuk tak segan-segan ke rumah, jika saya butuh pertolongan,” kenangnya.

 

Tiga hari bekerja sebagai pem­bantu, datang teman maji­kan­nya meminta mengasuh anak­nya. Perasaan Nengsih kala itu antara rela dan tidak rela. Dia rela karena sadar tak mampu mencukupi kebutuhan anak-anaknya. Namun di dalam hati, dia tidak ingin berpisah dengan si bungsu.

 

“Saya bingung kala itu. Kalau saya tak serahkan, nanti majikan ma­rah. Saya masuk ke kamar. Se­telah itu, saya kembali ke ruang tamu. Ketika itu saya men­dengar mereka bicara agar ti­dak memberitahu alamatnya kalau jadi anaknya diambil,” tutur Nengsih.

 

Meski belum ada perse­tu­juan dari Nengsih, sete­ngah m­e­maksa sang majikan dan te­mannya meminta Nengsih me­nandatangani kertas berma­terai sembari memberi uang sebesar Rp 1 juta. “Saya terpaksa mem­bia­rkan anak saya dibawa pergi. Sa­ya tak mau tanda tangani surat itu karena saya anggap sama saja menjual anak saya. Tapi, uang itu dipegang majikan saya,” bebernya.

 

Setiap hari, Nengsih terus menanyakan keberadaan anak­nya pada sang majikan. Namun, tak pernah diberitahu. Setelah 10 ha­ri dia bekerja, Nengsih pun di­usir dari rumah tersebut de­ngan diberi uang sebesar Rp 1 juta.

 

Ibu tiga anak ini tak pernah le­tih mencari anaknya. Ia pun me­n­gadukan persoalan yang di­hadapinya ke Polda Sumbar. Saat itu, anggota Polda Sumbar m­e­nyarankannya ke P2TP2A Sumbar.

Hatinya bertambah miris ketika orang meragukan Fitria Han­dayani adalah anaknya. “Saya punya bukti akta kelahi­ran­nya. Saya yang mengan­dung dan menyusuinya selama 2 ta­hun 3 bulan. Payudara saya su­dah bengkak karena tak lagi me­nyusui,” tuturnya sembari me­merah ASI.

 

”Saya hanya ingin tahu di ma­na keberadaan anak saya. Saya ingin tahu dia sehat atau sa­kit. Batin saya sebagai ibu tak bisa menahan kerinduan terha­dap anak,” ucapnya sem­bari menyeka air mata.

 

Uang Rp 1 juta tersebut di­ti­tip­kannya kepada salah se­orang pol­wan di Polda Sum­bar. “Saya mem­berikan uang itu ditemani P2TP2A. Saya takut memegang uang itu. Nanti uang itu hilang atau terpakai. Bahkan saat anak saya kedua minta uang jajan, saya tak mau memberikan uang itu. Biarlah dia menangis minta jajan dari pada uang itu harus saya berikan. Saya ingin, anak saya kembali,” ucapnya.

 

Sekretaris  P2TP2A Daslinar ke­tika dikonfirmasi, mengaku te­lah memberikan pendam­pi­ngan pada  Nengsih selama dita­ngani Polda Sumbar.

 

Ketika Padang Ekspres me­ng­on­firmasi kejadian itu pada Yu­liati, mantan majikan Neng­sih itu menyangkal telah me­ngangkat Nengsih sebagai pem­ban­tu rumah tangga. “Me­mang Neng­sih yang saya kenal ber­nama Linda itu, pernah tinggal di rumah saya beberapa waktu lalu. Tapi tidak sebagai pemban­tu, hanya karena kasihan dengan nasibnya yang menjanda,” kata Yuliati.

Yuliati beralasan hanya seba­gai penghubung ketika teman­nya mengambil anak Neng­sih. “Yang mengambil anak Nengsih itu temannya Eli,” imbuhnya.

 

Eli sendiri adalah teman satu kantor Yuliati di Pol PP Padang.

 

“Saya menawarkan teman saya untuk mengambil anak angkat, dia pun setuju. Makanya, saya pertemukan teman saya itu de­ngan Nengsih di rumah Yu­liati,” terang Eli ketika dikon­firmasi Padang Ekspres.

 

Mengenai uang yang dibe­rikan temannya itu, Eli mengaku ha­nya uang basa-basi kepada Nengsih. “Setelah menerima uang dan melepas anaknya, Neng­sih berjanji akan menan­datangani surat perjanjian, dan tidak akan menuntut di kantor saya, Senin (10/12), tapi ia tidak pernah datang,” ulas Eli.

 

Eli sendiri berencana mem­pertemukan Nengsih dengan te­mannya yang membawa anak Nengsih. “Hingga sekarang, te­man saya itu belum mau me­ngang­kat anak Nengsih sebelum per­­janjian dengan Nengsih di­tan­­datangani,” ujarnya.

 

Eli pun bingung dengan si­kap Nengsih. “Jika Linda (Neng­sih, red) ingin mengambil anak­nya, kenapa ia tidak men­datangi saya ke kantor. Saya kan bisa memanggil teman saya itu untuk dikembalikan. Teman saya juga tidak terima dengan tuduhan seperti itu,” tuturnya. (mg18)

[ Red/Administrator ]

Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama
*dibutuhkan
e-Mail
*dibutuhkan
Komentar
Security Code

Kacamata Kuda KPK

KRITIK dan pujian selalu datang bersamaan setiap kali Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membuat ”kejutan” baru. Termasuk ketika menetapkan mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo sebagai ter­sangka dalam kasus pajak yang terjadi pada 2004.

Belum Terima Elpiji

YTH bapak Wali Kota Padang yang baru. Kami warga RW 6, Guo Kuranji sampai sekarang belum menerima paket gas elpiji 3 Kg. Tolong di percepat karena minyak tanah harganya sudah naik.

Kamis ,24 April 2014

Tunggu SK Mendagri

Lai ndak ka ta undur lo tu Pak, dek KPK lah manyasar Mendagri lo..........!

 

14 Warga Digigit Anjing Gila

Iah gawat mah pak,lai aman Pak..................................................?

 

UN SLTP, Padang Target Jawara

semoga lah pak, asa ndak pakai jimat se.....................................!